5/09/2018

SINOPSIS My Mister Episode 11 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 11 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 10 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 11 Part 2

Pulang kerumah, Ji-an menyeduh kopi sambil mengingat kejadian barusan.. yg ternyata, memang sengaja dilakukannya uspaya tertangkap kamera suruhannya si Joon-young..


Pulang kerumahnya, Yeon-hee melihat sikap Dong-hoon yg naeh, maka dia lansgung bertana: “Kamu kenapa?”

“Tak ada apa pun.. aku hanya duduk disini, karena habis menelpon seseroang..” kilah Dong-hoon


Esok harinya, Ji-an datang bekerja seperti bisa.. beberapa kali, Dong-hoon melirik ke arahnya, namun ji-an bersikap acuh, seakan takk terjadi apa pun semalam.


Ketika tim Dong-hoon masuk ruang rapat, Ji-an menaruh surat di meja para pegawai.. langkahnya, terhenti di depan meja Dong-hoon. Tapi entah hal ap yg akan dilakukannya..


Saat kembali ke mejanya, Dong-hoon melihat slipper-nya tak ada di tas yyg sebelumnay diberikan Ji-an..


Ternyata.. JI-an mengambil slipper itu dan membuangnya ke tempat sampah~~


Malam hari, Dong-hoon bersama dengan ‘tim pendukungnya’ berkumpul di salah satu kamar hotel, untuk berlatih wawancara..

Lagi-lagi, yg pertama kali dibahas yaitu hubungan antara Dong-hoon dan Ji-an.. sebagian ada yg menganggap bahwa itu hal yg sepele, tapi sebagian tidak. Mereka memutar otak, mencari cara teraman untuk mengelak dari rumor itu..

Seorang direktur muncul dengan ide, kalau Ji-an itu lesbian.. yg lain punya ide, kalau Ji-an itu sudah puca paar atau bahkan sudah tunangan. Tapi mereka semua sadar, bahwa alasan itu terdengar sangat ‘amatir’ dan janggal.

“Untungnya dia tidak cantik. Kalau dia cantik, tamat sudah kita!” celetuk seorang direktur


Di waktu yg bersamaan, tim lawan pun tengah melakukan hal yg sama. Mereka sibuk mencari-cari kelemahan Dong-hoon.. dari mulai prijek yg tengah dikerjakannya hingga hubungannya dengan Ji-an.


Berikutnya.. Ji-hoon ditanya tentang alasannya memilih JI-an dan kali ini, dia menjawabnya dengan jujur.. yakni karena di CV-nya tertulis ‘lari’ sebagai hobi dan keahliann, “kupikir daripada pelamar yang memperoleh pengalaman tanpa mengetahui tujuannya, aku lebih baik memilih pelamar yang ahli pelari yang percaya diri...”

“Aish! Dasar! Mana boleh kau bilang begitu! Pihak pewawancara tidak mengerti! Cari alasan lain saja!” 


“Bagaimana kalau kita memecatnya? Itu 'kan cara termudah!”

“Tentu saja, kita akan memecatnya. Tapi, kalau sekarang kita memecatnya... nanti mereka tahu memang ada apa-apa di antara mereka”

“Kita tidak boleh memecatnya sampai kita cari cara buat membungkam dia!”


Di bar-nya Jung-hee.. Dong-hoon berkumpul dengan kakak dan adiknya. Sementara Ki-hoon hanya diam, Sang-hoon malah terus mengcceh tetnang usianya yg hampir menginak 50 tahun, tapi dia menyadari kalau hidupnya tak pernah melakukan apa pun yg berguna...


Setelah mendengar cerita kakaknya.. Dong-hoon berdiri diluar, memegang ponselnya namun tak melakukan apa pun.. dari dalam, Ki-hoon bertanyatanya, Dong-hoon sedang apa dan dia mengira Dng-hoon sedang merokok, “Kenapa dia terus merokok? Aku jadi khawatir..”

“Menurutku dia tidak merokok..” sanggah Jung-hee


Dalam kamarnya.. lagi-lagi, Sang-hoon menyembunyikan uang dibalik ubin. Dia melakukannya dengan sangat hati-hati, hingga tak ketahuan oleh siapa pun..


Ki-hoon masuk, tapi hanya untuk memeriksa ponselnya. yg ternyata masih belum mendapatkan balasan dari Yoora. Ibu menyadari sikapnay yg begitu lesu.. namun Ki-hoon, tak mau bcerita apa pun.


Saat pulang kerumah, ternyata telah ada Jung-hee yg pulang lebih awal. Dia bertanya pada Dong-hoon, “Kau sepertinya tidak minum-minum. Jadi kau tadi darimana?”

“Aku dari tempatnya si Jung Hee”

“Kenapa kau kesana kalau tidak minum-minum?”

“Lagipula apa gunanya pulang lebih cepat?”

“Aku selalu pulang telat karena aku tahu kau pasti minum-minum sama kakak dan adikmu. Aku bilang begini, bukannya mau berdebat denganmu...”

“Mulai sekarang, aku akan bertemu dengan mereka dua kali seminggu...”

“Termasuk klub sepakbola? Tidak ‘kan?”

“Bukan cuma kami bertiga saja. Semua teman masa kecilku juga sering ke tempatnya Jung Hee...”


“Aku tahu. Pergi saja. Aneh kalau kau tiba-tiba tak datang kesana. Tak apa. Kau boleh pergi. Semua orang yang kaupedulikan 'kan semuanya pada kumpul di tempatnya Jung Hee”

“Aku tak bermaksud bicara begitu. Maaf...”


Saat meliirk ponselnya, Yeon-hee melihat sms masuk dari Joon-young yg memintanya untuk telpon balik..


Yeon-hee menelponnya dan menegaskan bahwa Dong-hoon telah mengetahui semuanya. namun Joon-young, kekeh minta bantuannya.. dengan alasan, bahwa ini adalah permintaan Dong-hoon.

“Menurutmu, sampai kapan aku akan mampu seperti ini?! Sampai kapan menurutmu aku bisa bertingkah tanpa malu seperti ini di depan seseorang yang kuselingkuhi?!” ujar Yeon-hee


Dan ternayta.. sedari tadi, Dong-hoon mendengar obrolan mereka.. karena kebetulan, dia tengah menjemur pakaian di luar..


Dalam perjalanan menuju kantor, Dong-hoon banyak melamun sambil berkirim pesan dengan biksu Gyeomduk..

‘Aku memaksakannya. Aku memaksakan tetap berpegang pada perasaan yang ingin menghilang’

‘Sungguh kasihan perasaanmu itu. Jika aku jadi kau, aku akan membiarkan perasaanmu itu menghilang’


Maka bukanya pergi kerja, Dong-hoon malah pergi menuju klenteng tempat biksu Gyeomduk berada..


“Oh, kau sudah datang. Senang sekali melihatmu...”

“Aku iri sama udara disini. Sepertinya hidupmu baik-baik saja”


“Kau mau jadi biksu juga?”

“Bukannya ada batasan usia?”

“Batasnya 50 tahun. Jadi pertimbangkan baik-baik, ya...”
Advertisement


EmoticonEmoticon