5/06/2018

SINOPSIS My Mister Episode 10 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 10 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 10 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 10 Part 4

Para petinggi menjenguk presidir yg tengah dirawat di Rumah Sakit. Presdir berkata: “Aku tak percaya aku harus mengalami ini. Padahal aku tidak punya anak buat mewarisi perusahaanku... jadi kenapa kalian repot-repot kesini?”


“Ada banyak orang yang bisa mencari nafkah karena Anda, Pak presdir..” ujar Direktur Eksekutif Wang


“Aku pasti akan mengurusi urusanku secara beraturan. Ada banyak yang perlu kuurus. Tapi aku tidak mau melakukannya. Siapa yang akan untung jika semuanya berjalan seperti ini? Kaukah yang untung? Kenapa aku harus khawatir, padahal aku akan segera mati?”


“Saman adalah perusahaan yang Anda bangun dari nol. Dan orang yang bisa merencanakan masa depan Saman hanyalah Anda. Cepatlah sembuh, dan kembalilah.... agar Anda bisa merancang masa depan perusahaan. Anda pasti akan cepat sembuh. Jangan khawatir, dan banyaklah istirahat, Pak...” tutur Joon-young


Sikap Joon-young tadi, menajdi bahan guyonan para petinggi ketika mereka makan siang, 

“Dia sama saja menuntut Ketua untuk kasih warisan sama dia sebelum mati. Dia sudah seperti pengemis saja...”

“Apa dia benar-benar bilang begitu? Dia rupanya suka cari muka juga, lebih parah malah daripada aku..”


Tak lama kemudian, Dong-hoon bergabung bersama dengan mereka..


Joon-young nampak resah, dia berkirim pesan dengan Ji-an:

‘Park Dong Hoon kemana?’

‘Makan’

‘Sama siapa?’

‘Direktur Eksekutif Wang dan gerombolannya’

‘Hari ini, aura Park Dong Hoon kelihatannya bagaimana? Apa ada yang mencurigakan dengannya?’

‘Tidak tahu’


Saat itu juga, Joon-young langsung meminta Ji-an keluar.. makan bersama dengannya..13


“Terus dengarkan dia. Kau bisa menguping dia secara langsung juga, 'kan? Sepertinya mereka berkumpul bersama buat merencanakan sesuatu!” perintah Joon-young


Ji-an mengeluarkan ponselnya dan membiarkan Joon-young mendengar obrolan antara Park Dong-hoon dengan petinggi kantor lainnya..


“Pihak lawan tahu nilaimu lebih bagus terkait kinerjamu. Masalahnya sekarang adalah wawancara. Kau harus berhasil wawancaranya. Mereka akan mewawancaraimu selama tiga jam, tapi jangan takut. Mereka akan menanyakan banyak hal dan melakukan segala macam hal untuk menyudutkanmu. Tapi kau jangan terlalu emosi. Mereka akan menanyakan banyak hal yang berbeda...”


“Mereka saja berkomentar kenapa aku menyekolahkan anakku di sekolah swasta. Saat kinerjaku diulas, ada temanku yang jadi direktur di Hyunjin. Tapi mereka memakai alasan itu kalau aku bertemu dengan temanku itu... dan mengatakan kami bersekongkol bersama. Dan berencana untuk membuat bisnis kita merugi. Aku sampai tak habis pikir”


“Mereka juga pasti akan berkomentar kenapa kau terluka pas main bola. Pasti mereka berkomentar kau berkelahi sama orang. Tapi, ada apa dengan wanita itu? Si karyawan kontrak. Sepertinya ada rumor soal kalian berdua...”


Dong-hoon kaget dengan pertanyaan itu, maka Direktur yg lain komentar: “Lihatlah. Jika sikapmu nanti begini saat wawancara, tamatlah sudah”


“Selama tiga hingga empat hari, kita akan pesan kamar hotel dan latihan wawancara, jadi kau jangan kerja lembur terus. Dan bilang ke bawahanmu kau pulang cepat karena kau lelah. Dan rahasiakan ini, paham?”

“Baik..”

“Jika menurutmu tak masalah kau tak jadi direktur..., maka sebaiknya kau berhenti sekarang. Jika kami memaksa seseorang melakukan ini dan tidak sesuai dengan keinginannya.. maka kami juga yang repot. Kau harus 100% melakukan ini. Putuskan bagaimana perasanmu soal hal ini, dan beri tahu kami. Maka, yang perlu kami lakukan hanyalah membuat rencana”


“Aku harus menjadi direktur. Ibuku menyemangatiku.. agar putranya bisa sukses naik jabatan. Dan kakakku senang karena dia tidak perlu khawatir... kalau tak ada orang yang datang melayat ibuku kelak. Dan istriku... sudah lama menderita, jadi aku ingin meringankan penderitaannya. Aku sebelumnya tak ingin menjadi direktur karena aku tak ingin bersaing... Tapi aku tidak bisa hidup di zona nyamanku selamanya. Jadi aku ingin menjadi penyerang untuk pertama kalinya. Aku ingin berhasil!”

“Apa itu saja? Kau lupa satu hal... Alasan yang sangat penting kenapa kau harus menjadi direktur... Do Joon Young!”

“Aku tak ingin dia terlibat dalam hidupku. Dan aku bahkan bertanya-tanya apa aku harus berhadapan dengannya. Menurutku aku terlalu baik kalau aku berencana untuk menjatuhkan orang seperti dia. Aku tak mau peduli apa bajingan seperti dia gagal atau tidak”


“Benar.. Si berengsek Do Joon Young itu memang tak pantas. Dia menikah dengan keluarga kaya... dan cuma meniru gaya hidup keluarga itu sebelum dia akhirnya diusir. Memangnya dia pikir dia itu konglomerat, apa? Beraninya dia! Menyedihkan sekali! Dia pasti tidak kompeten sampai dia diusir padahal baru setahun. Rupanya, dia selama ini selalu menyinggung kalau dia pernah di Samjeung. Apa dia itu tak punya urat malu? Apa yang bisa dibanggakan... padahal dia diusir secara memalukan. Bisa-bisanya dia berani menyodorkan kartu namanya?!” papar direktur Eksekutif Wang, yg seketika membuat Joon-young geram mendengarnya


Beralih dari penghinaan yg baru saja didengarnya, Joon-young kemudian bertanya pada Ji-an: “Bagaimana perkembangan antara kau dan Park Dong Hoon?”

“Lancar”

“Berapa kali kalian berdua bertemu?”

“Satu... atau dua kali...”


“Kau sudah menerima uangku. Kau sudah terima 10 juta won tapi kau cuma bertemu dengannya dua kali? Apaan kau ini, kau tak sanggup melakukannya? Kau... padahal sering makan sama dia, sebelum aku menyuruhmu. Dan pasti karena itu kau bingung sekarang. Karena kau tidak tahu mulai darimana! Kaupikir yang kulakukan cuma makan?”

“Kau lupa kejadian dua bulan lalu? Aku makan dan minum bersamanya, agar aku bisa menciumnya. Aku pernah melayangkan aksiku padanya dan hampir dipecat setelah diperlakukan seperti orang gila. Jadi kau sungguh mengira kalau aku bakal berhasil merayunya lagi?”

“Kalau begitu, kau seharusnya tak usah terima uangku! Kau harusnya bilang kau tak bisa melakukannya”


“Memangnya kau punya pekerja wanita yang bisa menggantikanku buat merayunya?”

“Waktumu tinggal 10 hari lagi. Apa rencanamu dalam 10 hari ini?”

“Aku akan berusaha...”

“Kasih hasilnya dalam dua hari!”


Joon-young berjalan pergi,, meninggallkan Ji-an yg nampak begitu tenang.. menikmati makanannya..


Ki-hoon dan Sang-hoon sedang bersih-berih di apartemennya Yoo-ra.. sengaja, Sang-hoon menekan bel kamar Yoo-ra, dan itu membuat Ki-hon marah.

Tapi Yoo-ra tak keluar.. karena nyatanya dia memang sedang tak berada di apartemennya.


Dalam perjalanan pulan, Sang-hoon terus menggoda Ki-hoon yg sangat jelas, keliahtan kalau dia merindukan sosok Yoo-ra yg akhir-akhir ini tak nampak mengunjunginya, seperti sebelumnya..


sesampainya di kantor, ada Yeon-hee yg datang dengan membawakan bunga sebagai simbol ucapan selamat atas usaha baru mereka..


Berbincang di dalam, Yeon-hee mencoba mengorek info tentang insiden yg membuat Dong-hoon babak belur. Tapi Sang-hoon pintar menutupi cerita yg sebenarnya, maka Ki-hoon tak sampai cerita apa pun..


Karena Yeon-hee ada disini, maka Sang-hoon menelpon Dong-hoon, mengajaknya makan malam bersama. Awalnya, Dong-hoon menolak.. karena malam ini dia ada janji makan bersama dengan para pegawainya. Tapi karena Sang-hoon terus memintanya, maka dia pun tak bisa menolaknya..


Sebelum pergi, Dong-hoon sempat menghampiri Ji-an dan memintanya secara lansgung, untuk ikut makan malam bersama dengan pegawai lainnya..


Dong-hoon pulang.. makan bersama dengan yg lainnya di rumah ibunya. Ibu sempat mengeluh.. karena tak menyangka, bahwa hingga putranya sebesar ini, dia masiih harus memasak makanan untuk mereka semua..


Apalagi, karena tingkahnya Sang-hoon yg tak pernah bisa lepas dari minuman alkohol.. Ibu angat kesal, namun tak bsia berbuat apa pun untuk melarangnya..


Dalam perjalan pulang, Dong-hoon dan Yeon-hee tak berbincang tentang hal apa pun.. tapi mereka, kompak menjawab pertanyaan dari kuiz yg ada si radio..


Ji-an mendengar mereka.. bahkan, dia berpapasan dengan mobil yg mereka tumpangi. Meski tak mengatakan apa pun, tapi ekspresinya menjelaskan.. bahwa perasaannya ‘cemburu’ saat itu..


Diam-diam Sang-hoon menyembunyikan uang dibawah lantai.. dia melakukannya dengan sangat hati-hati.


Tiba-tiba, masuklah Ki-hoon.. yg tentunya membuat Sang-hoon bergegas pura-pura tidur lagi. Untungnya, Ki-hoon tak memergoki apa yg dilakukakn Sang-hoon, karena dia terlalu antusias mengangkat telpon dari Yoo-ra..

Bahkan, setelah mendengar keluh-kesah Yoo-ra, Ki-hoon bergegas pergi keluar, mengatakan bahwa dia akan menemui Yoo-ra..


Karena Ki-hoon pergi, maka Sang-hoon bergegas melanjutkan ‘aksi’-nya. Setelah itu, dia berjalan keluar kamar, mengotak-atik pemansa ruangan..

Kebetulan, ibu lewat dan itu membuat Ki-hoon terperanjan kaget, “A.. aku.. cuman ingin memutar pemanas ruangan..” jelasnya kikuk

“Aneh kamu ini.. sikapmua seperti orang yg baru menyembunyikan uang saja..” celetuk Ibu
Advertisement


EmoticonEmoticon