5/06/2018

SINOPSIS My Mister Episode 10 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 10 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 10 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 10 Part 3

Ji-an berdiri sendirian di dkat rel kereta, sengajamenunggu Dong-hoon berjalan pulang lewat sana..


Ketika mendengar langkah Dong-hoon yg makin dekat, Ji-an lansgung menghampirinya untuk memberikan sebuah tas..

“Ini apa?” tanya Dong-hoon

Tak menjawabnya, Ji-an malah bilang: “Nenekku... sudah bisa pergi ke panti..”, lalu dia berjalan pergi


Tapi Dong-hoon mengehntikan langkahnya dengan bertanya: “Berapa banyak utangmu? Aku cuma tahu saja... kalau kau punya hutang. Utangmu berapa?”

“Sudah kulunasi semuanya tadi”

“Kau serius sudah melunasi semuanya?”

“Sudah semuanya. Tanya saja sama si bajingan itu!”


Esok paginya, Dong-hoon membantu Ji-an untuk mengantar neneknya ke panti jompo. Padahal kondisi badannya masih memar.. namun Dong-hoon tetap bersusah payah menggendong nenek hingga masuk taksi.


Sepanjang jalan, nenek tersenyum dan menggenggan tangan Ji-an..


Sesampainya di panti, mereka menerima sambutan yg hangat dan ramah. Dong-hoon mengantar nenek ke kamarnya, sementara Ji-an mengurus administrasi terlebih dahulu.


Suster menjelaskan, bahwa di tempat ini tak ada yg bisa menggunakan bahawa isyarat. Tapi sepertinya hal itu tak terlalu bermasalah, karena nenek masih bisa menulis..


Dong-hoon pergi ke minimarket, membeli beberapa makanan rinagn.. untuk kemudian, dia simpan di kamarnya nenek.


Nenek mengambil buku dan pena, lalu dia menuliskan sesuatu untuk Dong-hoon: 


‘Kurasa akhirnya aku bisa beristirahat dengan tenang, saat nanti ku menutup mata. Aku sudah tenang sekarang, karena orang sebaikmu ada di sisi Ji-an ku’


Nenek sangat berterimakasih pada Dong-hoon, dia menggenggam tangannya.. dan tersenyum dengan begitu tulus padanya..


Ternayta.. sedari tadi, Ji-an yg berada di balik tembok.. hanya bisa terdiam, ememrhatikan interaksi diantara mereka.


Karena semua urusannya telah selesai, Ji-an pamit pada neneknya. Mereka tak mengatakan apa pun.. hanya saling tatap penuh makna.


Meski demikian, suasana haru terasa begitu kental pada momen itu..


Berjalan pulang, Ji-an sengaja melangkah lebih cepat meninggalkan Dong-hoon..


Maka Dong-hoon mengejarnya, lalu memberinya pesan yg sangat panjang: “Jika bajingan itu menyiksamu lagi... langsung telepon aku. Ada lebih dari 30 orang di kompleks kita yang akan datang berlari... setelah kau menelepon. Kalau kau mau 100 orang, maka 100 akan datang. Ayahku alumni angkatan 23 SD Hoogye. Kakakku angkatan 60, dan aku angkatan 63. Dan ayahnya temanku senior di SD-ku. Dan semua ayah kami dan teman kami itu teman sekelas. Begitulah kompleks rumah kita. Kami bahkan tidak perlu menyeberangi jembatan untuk saling bertemu. Kami semua saling mengenal. Kakak iparku adalah teman sekelasku waktu sekolah. Ada banyak orang yang akan datang jika kau menelepon. Hubungi aku kapan saja. Jangan sampai kita dihajar saat menjalani hidup kita. Karena itu membuatku kesal. Kau juga harus hidup lebih nyaman mulai sekarang. Lakukanlah apa keinginanmu, dan makanlah apa yang ingin kaumakan. Seringlah bergaul sama orang-orang kantor. Kalau kau dekat sama mereka, itu takkan membawa pengaruh buruk...”


Sedari tadi hanya diam, kemudian Ji-an mengungkapkan keresahannya: “Aku penasaran, apa ada orang yang mendekatiku... kalau tahu aku pernah bunuh orang. Orang-orang yang pernah dekat denganku saja, membatin... setelah mereka tahu orang seperti apa aku.”


“Jika kau tidak ambil pusing soal itu... maka orang lain juga tak ambil pusing. Dan jika kau menganggapnya serius... maka orang lain juga akan begitu. Begitulah biasanya. Kaulah yang bisa memutuskannya. Masa lalu... bukanlah masalah besar. Jika kau menganggapnya bukan masalah besar... maka itu bukan masalah besar. Hiduplah seperti arti namamu. Namamu itu bagus...” tutur Dong-hoon


“Kalau Ahjussi, apa arti namamu?”

“Tak ada arti apa-apa...”

“Namamu pakai huruf Mandarin apa?”

“Tulisan ‘Hoon’ ditulis dengan  huruf yang biasa dipakai di nama... dan ‘Dong’ artinya ‘kekuatan’....”


Mereka kemudian harus berlalri mengejar bus, yg lewat didepannya.. untunglah, keduanya mampu berlari dengan cpat, maka mereka tak ketinggalakn bus-nya.


Tanpa obrolann apa pun, mereka pun sengaja memilih kursi yg berbeda.. 


Yeon-hee bertemu dengan Joon-young. Dalam kondisi emosi yg masih sangat menggebu-gebu, dia mencecarnya dengan beragam pertanyaan seputar Dong-hoon: “Mereka tahu soal telepon umum itu. Yang kaumaksud itu si Dong Hoon 'kan yang tahu tentang telepon umum? Kenapa kau tidak memberitahuku? Kau 'kan yang berbuat begitu sama Dong Hoon? Kau 'kan yang menghajarnya?”

“Kenapa pula aku memukul Sunbae? Apa gunanya juga aku menghajar dia? Bukannya dia bilang, dia terluka saat main bola? Pura-pura saja tidak tahu! Itulah yang diinginkan Sunbae. Itulah permintaan Sunbae padaku... agar kau tidak pernah tahu tentang ini! Dan dia ingin aku putus baik-baik denganmu. Karena, pada hari kau tahu kalau dia sudah tahu... kau pasti akan berhenti hidup bersamanya. Aku sudah bilang ke dia, kita sudah putus, jadi berpura-pura sajalah kau tidak tahu, dan jalani hidupmu!” ujar Joon-young


Yeon-hee memilih untuk berjalan pergi. Kesal karena menunggu lift terlalu lama, maka dia memilih menggunakan tangga darurat.


Joon-young mengejarnya, maka dengan tegas Yeon-hee berkata: “Mana bisa aku begitu? Aku harus setegar apa biar bisa hidup seperti itu?”

“Itu yang diinginkan Sunbae!”

“Tidak, pasti itu yang kau inginkan! Pasti kau senang saat Dong Hoon bilang begitu. Pasti begitu! Pasti kau berpikir, 'Syukurlah aku berurusan sama Park Dong Hoon, yang idiot’. Tapi aku tidak akan diam saja. Aku akan menghancurkanmu!”


Kemudian,, Yeon-hee bergegas pergi mengendarai mobilnya..


Tiba-tiba, dia menghentikan mobilnya di bahu jalan.. dia menangis, mengingat begitu banyak hal buruk yg telah dilakukannya pada Dong-hoon..


Bersamaan dengan itu, Dong-hoon menelponnya. Namun Yeon-hee tak sanggup mengangkatnya.. dan hanya bisa menangis terisak..


Dong-hoon sendiri, tengah berada di rumahnya.. membersihkan ruangan, serta menjemur pakaian, seperti biasanya..
Advertisement


EmoticonEmoticon