4/20/2018

SINOPSIS Mystery Queen 2 Episode 16 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Mystery Queen 2 Episode 16 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mystery Queen 2 Episode 15 Part 4

“Apa kau yakin itu Go Si Hwan? Dimana tadi tempatnya?” kata Sung Woo di ponselnya sambil terburu-buru keluar dari Kantor Polisi. “Seperti apa tubuhnya ketika dia ditemukan?


“Go Si Hwan?” gumam MC Jay yang mendengar perkataan Sung Woo.


Tim forensik sudah mulai mengecek mayat Si Hwan.


Di dalam mobil ditemukan briket batu bara yang sudah terbakar habis dan selembar surat wasiat di jok penumpang.


“Belum lama ini dia minum bersamaku. Dia bukan orang yang akan melakukan hal ini,” kata MC Jay lalu menangis. Polisi Kim menatapnya prihatin. Tidak lama kemudian, Seol Ok dan Detektif Ha datang.


Seol Ok langsung melihat Si Hwan dan menangis. Detektif Ha juga merasakan kesedihan yang sama dan berusaha menenangkan Seol Ok. Seol Ok berkata, “Aku tidak percaya ini. Kau bilang kita akan menangkap pelakunya bersama-sama.”


Seol Ok: “Mobil. Briket batu bara. Surat wasiatnya. Bunuh diri. Metode yang sama dengan sebelumnya.”
Det. Ha: “Bunuh diri: Si Hwan bahkan tidak punya mobil. Bunuh diri apanya? Ini tidak masuk akal.”


Detektif Ha lalu meminta Detektif Lee untuk mengecek kepemilikan kendaraannya terlebih dulu. “Baik, Pak,” kata Detektif Lee lalu pergi.


“Tidak ada yang bisa melihat apa yang terjadi di dalam mobil yang juga anti suara ini. JIka kau bisa menghindari CCTV, maka ini akan menjadi tempat yang sempurna untuk membunuh,” kata Seol Ok.


Pria bertopi rajut menghapus sidik jari di handle pintu mobil lalu mengambil briket batu bara yang ia simpan di bagasi, lalu menyalakan apinya. Setelah itu, ia meletakkan briket batu bara yang sudah menyala di dalam mobil.


“Ruang di dalam mobil sempit. Hanya butuh sedikit tenaga dan biaya untuk menghapus semua buktinya. Itulah kenapa selama ini dia tidak tertangkap,” kata Seol Ok.


Sung Woo bertanya apakah maksud Seol Ok pernah ada hal sama yang terjadi. “Pembunuhan dibuat menjadi bunuh diri. Seorang perencana profesional ada di belakang ini,” kata Seol Ok. Sung Woo menyebut Seol Ok memiliki imajinasi yang liar, lalu pergi.


Seol Ok: “Ini metode yang sama.”
Det. Ha: “Ini benar-benar sama dengan insiden tahun 2007.”
Seol Ok: “11 tahun lalu.”
Det. Ha: “Di Gongpyeong Hill di Sinim-dong.”


Itu adalah kasus yang membuat orang tua Seol Ok tampak seperti bunuh diri.


“Sekretaris Kim terlibat dalam masalah ini,” kata Detektif Ha yakin.


Ji Seung sedang bicara di ponselnya, tapi Joo Seok terus saja mnta dikeluarkan darisana. “Ya. Dia ingin bicara denganmu sendiri,” kata Ji Seung di ponselnya. Ia lalu menyerahkan ponselnya pada Joo Seok. Sekretaris Kim bilang bahwa ia mendengar kalau Joo Seok membuat masalah lagi.


“Banyak detektif berkumpul disana. Itu berarti kau tidak membuat kesepakatan dengan mereka dengan baik. Apa kau benar-benar Sekretaris Kim?” kata Joo Seok.


Perkataan Joo Seok membuat Bo Gook sangat marah. Ia berusaha menahan emosinya, “Kalau begitu apa yang kau ingin aku lakukan?” Joo Seok minta agar dia segera dikeluarkan. “Kau seharusnya tidak mengatakan itu jika kau adalah mahasiswa hukum. Kau tahu dengan baik bahwa itu tidak mungkin.


Joo Seok bilang dia tahu lebih banyak daripada apa yang Sekretaris Kim kira. Ia lalu melempar ponselnya ke meja.


Sekretaris Kim benar-benar marah. “Anak jaman sekarang tidak tahu berterima kasih. Mereka bahkan tidak bisa membereskan masalah mereka sendiri,” ujarnya.


Joo Seok bilang ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi disana, karena tidak ada kasur, bau dan kotor. Ia bilang jika Ji Seung tidak bisa mengeluarkannya, paling tidak ia bisa mendapatkan sel sendiri. “Jadi, kau ingin sel sendiri dan yang lain harus berdesakkan dengan lebih banyak orang?” kata Ji Seung. Joo Seok tahu kalau Ji Seung mengenal Kepala Shin dan memintanya melakukan sesuatu.


“Kyung Mi, kau tidak akan bisa menemukan sidik jari pembunuh,” kata Seol Ok.


Kyung Mi bilang seharusnya mereka menemukan sidik jari, karena Si Hwan tidak memakai sarung tangan.


Profesor Hwang selesai memeriksa dan berkata bahwa ia tidak menemukan sidik jari disana. Ini pertama kalinya ia melihat TKP sebersih itu. Kyung Mi terkejut karena dugaan Seol Ok benar. Seol Ok bilang itu karena pelaku tidak bisa memilih sidik jari mana yang harus dihapus. Kyung Mi bertambah terkejut, ketika ia tahu bahwa seseorang dengan sengaja menghapusnya.


Ji Seung berjalan di lorong Kantor Polis dengan sangat murung. Ia mengingat kembali percakapan terakhirnya tadi dengan Joo Seok.


“Detektif Ha Wan Seung adalah adikmu, bukan? Apa kalian berdua mempermainkan aku?” kata Joo Seok yang membuat Ji Seung terkejut. “Jangan tersinggung. Ngomong-ngomong, apa dia tahu banyak tentangmu? Aku akan mengatakan semuanya padanya, ketika aku di ruang interogasi.”


“Joo Seok terlihat sangat gelisah. Tolong temukan cara untuk menenangkannya,” kata Ji Seung di ponsel. Penampilan Ji Seung berantakan, tidak seperti biasanya. “Tidak perlu menjanjikannya untuk keluar. Baiklah.”


‘Maafkan aku. Aku membunuh Yoon Mi Joo,’ baca Detektif Ha.


Seol Ok menghampirinya dan menduga bahwa Si Hwan mengakui kejahatannya di surat wasiat itu, “Kenapa dan bagaimana dia membunuhnya, bagaimana dan dimana dia membuang mayatnya, dan kenapa dia membunuh dirinya sendiri pada ada di surat ini,” kata Seol Ok.


Sung Woo merebut bukti surat wasiat itu karena itu berarti melanggar hukum. Detektif Ha bilang Seol Ok bukan sedang membicarakan surat wasiat Si Hwan, melainkan surat wasiat dari kasus 11 tahun lalu.


Seol Ok: “Ini tulisan tangan ayahku. Tapi, ini bukan wasiatnya.”
Det. Ha: “Dia menulisnya sendiri, tapi ini bukan wasiatnya.”
Seol Ok: “Dia meniru tulisan orang lain. Ini menunjukkan bukti bahwa dia dibunuh.”


Sung Woo lalu mengingat laptop yang ditinggalkan Si Hwan di kamarnya, ketika Seol Ok mengatakan bahwa surat wasiat seharusnya dibuat dalam keadaan gelisah, sehingga tulisannya akan kacau. Tapi Detektif Ha bilang surat wasiat Si Hwan tertulis dengan rapi.


Inspektur Woo bertanya apakah pelakunya bunuh diri. “Dia bukan pelakunya dan dia tidak bunuh diri,” kata Seol Ok membela Si Hwan. Inspektur Woo melihat surat wasiat itu dan bilang bahwa itu metode lama. Seol Ok bilang itu juga metode yang dipakai 11 tahun lalu. Seol Ok bertanya kenapa pelaku menggunakan metode lama.


“Karena aku mengejar pelaku dengan metode itu,” kata Inspektur Woo.


Det. Ha: “Inspektur Woo, ini perbuatan Sekretaris Kim, bukan?”
Ins. Woo: “Sekretaris Kim?”


Inspektur Woo menatap mayat Si Hwan yang masih berada di mobil.


Sekretaris Kim berhasil memenangkan othello dengan mudah dan baginya itu tidak menyenangkan. Kepala Shin menawarkan bermain game yang lain. “Tidak. Ada seseorang yang ingin merasa nyaman di dalam sel. Berikan dia sel pribadi. Lagipula dia akan segera keluar,” kata Sekretaris Kim.


Kep. Shin: “Baik, Pak.”
Sek. Kim: “Biarkan dia makan makanan yang dia inginkan juga.”
Kep. Shin: “Baiklah.”


Sekretaris Kim menghubungi anak buahnya dan menyuruhnya mengantarkan makanan untuk Joo Seok. “Pizza, ayam, atau sushi. Dia bilang dia ingin makanan delivery. Berikan perhatian lebih padanya,” katanya penuh rencana licik.


Mayat Si Hwan sudah dibawa oleh ambulance. “Maafkan aku, karena kau harus mati seperti itu,” kata Seol Ok sedih dan merasa bersalah. “Maafkan aku. Aku akan menangkap pelakunya, bagaimanapun caranya. Aku tidak peduli siapa di balik ini semua. Aku akan pastikan, hal semacam ini tidak terjadi lagi.”


Detektif Ha mengajak Seol Ok pergi. Tapi kemudian dia berbalik lagi dan menghampiri Inspektur Woo.


“Bukankah ini saatnya kau memberitahu kami?” kata Detektif Ha. Inspektur Woo bertanya apa maksudnya. “Tentang Sekretaris Kim.” Insopektur Woo menatap Seol Ok. Mereka bertiga lalu pergi dalam satu mobil.


Inspektur Woo bilang cara Sekretaris Kim memanipulasi bukti sangat sempurna, tidak ada kesalahan sama sekali. “Ada.. satu kesalahan,” kata Seol Ok. “ Beberapa teman Si Hwan bermain-main dengan kamera tersembunyi. Mereka bukan teman dekat sebenarnya. Mereka bilang mereka menyimpan kamera untuk bersenang-senang.”


“Benarkah? Kapan mereka akan belajar?” gerutu Detektif Ha tentang kelakuan Gi Beom dan Dae Hwan.


“Si Hwan bilang ia tidak bisa menemukan kamera itu,” kata Seol Ok. Inspektur Woo bertanya-tanya apakah kameranya masih ada disana. “Kita belum tahu. Kita harus kesana dengan cepat.” Detektif Ha berharap aksi pelaku terekam di kamera. “Jika kameranya bekerja…” Detektif Ha berharap pelaku dapat terekam ketika mengetik surat wasiat karena ruangannya kecil. “Mengemudilah dengan cepat. Jika Sekretaris Kim menemukannya lebih dulu, maka bukti terakhir akan hilang.”


“Kamera tersembunyi?” gumam Sekretaris Kim yang ternyata menyadap pembicaraan mereka bertiga.


Pria bertopi rajut kembali ke apartemen Si Hwan dan berusaha menemukan kameranya. Setelah berhasil menemuka kamera itu, si pelaku bersiap pergi, tapi ternyata Sung Woo sudah ada disana.


Pelaku mengeluarkan pisau, tapi Sung Woo dengan cepat menodongkan pistol ke arahnya.


Tidak lama kemudian, Polisi menggiring penjahat itu ke Kantor Polisi.
Advertisement


EmoticonEmoticon