4/15/2018

SINOPSIS My Mister Episode 6 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 6 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 6 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 6 Part 3

Sang-hoon tak bisa menghhubungi Dong-hoon yg pergi begitu saja.. 


Ki-hoon benar-benar menganggap, alasan Dong-hoon pergi adalah karena tak mendapatkan overan bola. Maka dia pun memarahi, para remaja yg berada di laparangan: “Dasar kalian ini. Hei! Aku tahu kalian jago main sepak bola. Aku tahu!!! Tapi tak mudah bagi seorang karyawan, keluar hari Minggu pagi! Dia keluar pagi-pagi biar bisa main bola... tapi kalian bahkan tak oper bola ke dia!”

Namun salah seorang remaja, dengan sinis menjawab: “Ya, aku mengerti. Kakakmu kerja di perusahaan besar. Dan aku menganggur!”


Perdebatan itu, memancing emosi dari kedua belah pihak. Mereka hampir ssaling pukul satu sama lain, tapi para ajushi mencoba untuk melerainya.


Anak-anak SD yg jadi lawan main mereka bermain sepakbola, dimarahi oleh pelarihnya yg tiba-tiba datang kesana: “Siapa yang memberitahu kalian, kalau kalian boleh bermain... dengan beberapa klub sepak bola tanpa izin? Sudah kubilang pemain sepak bola terbaik boleh saja... tidak terluka dalam pertandingan internasional tapi mereka bisa terluka saat mereka latihan berlari! Kalian pikir orang-orang itu mematuhi aturan ketika mereka bermain!!!”

“Tidak..”

“Bisa-bisanya kalian bermain sama orang yang sudah minum miras pagi-pagi? Siapa yang menyuruh kalian kemari?”

“Ayahku...” jawab seroang anak

Pelatihnya bertanya: “Yang mana ayahmu?”


Anak itu menunjuk, kearah ajusshi yg tengah menyeret Sang-hoon dan Ki-hoon berjalan meninggalkan lapangan. Namun ajusshi itu, tak menghiraukannya, dia memilih untuk bergegas pergi.. karena tiba-tiba datang mobil patroli polisi.


Saat polisi turun dari mobil, para ajusshi telah berhamburan pergi, dan hanya ada Jae-chul disana,

“Anda dilarang minum alkohol di sekolah!”

“Kami tidak minum...”

“Terus botol apa itu?”

“Aku tak minum!”


Ki-hoon, Sang-hoon dan seorang ajusshi, berhasil kabur lewat gerbang belakang. Tapi ada insiden kecil, karena jaket Ki-hoon tersangkut di sela-sela pagar..

“Istriku meneleponku... Matilah aku sekarang..” keluh seorang ajusshi


Tinggallah Sang-hoon dan Ki-hoon.. mereka berjalan melewati banyak orang, dalam kondisi jaket Sang-hoon yg ada robekan sedikit, hingga busa-busa beterbangan disekitarnya.. yg nampak terlihat seperti banyak bunga-bunga berguguran~


Sambil jalan, mereka masih mencoba terus menghubungi Dong-hoon.. namun tetap tak ada jawaban~


Dong-hoon sendiri, tengah berdiri di samping pembatas jembatan Sungai Haan. Dia tak mengatakan apa pun.. hanya terdengar bunyi helaan nafas yg begitu panjang dan melelahkan..


Ji-an yg bisa memantau dan melacak keberadaannya, menjadi panik. Bdia berlari menaiki bis menuju lokasi tempat Dong-hoon berada..

Detik demi detik, terasa begitu mendebarkan. Namun, ketika posisi Ji-an makin dekat, tetibaterlihat Dong-hoon mulai berpindah posisi.


Turun dari bis, Ji-an berlari secepat yg dia bisa.. Namun, betapa lega hatinya.. ketika dia melihat Dong-hoon berjalan menuju rumahnya dan ada Sang-hoon serta Ki-hoon yg menghampirinya.

“Kemana saja kau?”

“Kenapa telepon kami tak diangkat?”

“Memangnya kau anak kecil? Marah karena bolanya tak dioper ke kau?”

Dicecar banyak pertanyaan seperti itu, Dong-hoon memilih untuk tidak mengatakan apa pun~


Yeon-hee menemani Joon-young ke tempat perkemahan. Disana, Joon-young sibuk menyiapkan tungku api, dengan alasan presdir sangat suka hal itu, “Dia biasa ke tempat seperti ini saat musim dingin... dan menyalakan api. Yang dia lakukan seharian cuma menyalakan api. Dia bahkan tidak mau gerak sedikitpun, kalau api sudah nyala. Dan dia juga tidak mengatakan apa-apa...” jelasnya

“Kurasa dia orang yang mudah termenung dengan pikirannya sendiri”

“Termenung apaan. Dia cuma melakukan kebiasaannya saja. Kebiasaan dia dulu saat jadi anak desa...”

Yeon-hee menghirup udara segar, lalu tersenyum dan berkomentar: “Senang sekali bisa keluar seperti ini setelah tiap hari di dalam ruangan”


Namun kemudian, dia mulai bertanya mengenai sosok orang yg menelpon Joon-young via telpon rahasianya, “Siapa itu? Siapa orang yang menelepon waktu itu? Kau langsung pergi setelah dapat telepon itu”

“Dia itu, perempuan yang bekerja untukku agar Dong Hoon Sunbae dipecat”

“Perempuan? Apakah dia? Yang kau suruh aku mencaritahu tentang dia? Yang pernah bunuh orang”

“Benar..”


“Kau sama saja membuat suamiku dalam bahaya! Teganya kaukasih tugas seperti itu ke seorang wanita yang berbahaya seperti dia? Siapa yang tahu dia akan berbuat apa? Dia itu tidak waras!”

“Mana bisa aku minta bantuan sama orang waras buat mengerjakan tugas itu, padahal tugas kerjaan itu pun sangat gila?”

“Jadi dia dalang atas kejadian yang menimpa Direktur Park juga, 'kan?”

“Semuanya sudah selesai. Kau sendiri bilang Dong Hoon Sunbae akan segera berhenti. Yang perlu kulakukan sekarang cuma menangani perempuan itu diam-diam.”


Yoo-ra mendatangi tempat kerjanya Ki-hoon bersama dengan beberapa orang temannya, yg ternyata.. dulu sama-sama pernah bekerja dalam produksi film bersama dengannya.

Namun karena Ki-hoon tak ada disana, maka Yoo-ra menelponnya untuk bertanya dia dimana. Daari belakaganya, seseorang tertawa dan berkomentar: “Daebak, dia dulu bertingkah sok hebat, sekarang dia kerja seperti ini?”


Ki-hoon jelas mendengar kalimat sindiran itu, maka dia pun memutus telponnya sambil menggerutu kesal: “Awas saja akan kubalas mereka di kehidupan selanjutnya...”

“Kau sungguh ingin terlahir kembali?” 

“Tentu saja! Karena aku sadar, kalau kehidupanku yg sekarnag telah benar-benar handur! Tapi, di kehidupan selanjutnya, aku akan sangat sukses dan menginjak-injak mereka! Jadi tunggu saja nanti!”

“Orang-orang yang menertawakanmu di kehidupan masa lalumu, sampai kau bilang ke mereka, ‘Sampai ketemu di kehidupan selanjutnya’... Merekalah orang-orang itu”

“Eih.. Mana mungkin!”

“Jangan-jangan, memang begitu..”

“Tidak mungkin aku akan bertemu mereka di saat aku sangat tidak siap, dalam keadaan payah seperti ini! Mereka bertemu denganu, cuman di kehidupanku yg sekarang! Aku yakin itu!”


“Hancurkan orang-orang yang kau temui dalam hidupmu yang sekarang. Jangan mau terlahir kembali”

“Tapi agak sia-sia juga kalau kita tak terlahir kembali”

“Kenapa sia-sia?”

“Jika kita tidak terlahir kembali, terus... apa lagi yang kita lakukan? Kita pasti akan sangat bosan”

“Apa menurutmu hidup ini menyenangkan?”

“Menyenangkan! Hanya saja aku tidak punya uang!”


Yoo-ra mendatangi bar-nya Jung-hee untuk mencari Ki-hoon, tapi ternayta di atak berada disana~


Jung-hee mengatakan, kalau Ki-hoon mungkin sedang berama dengan kedua kakaknya.

“Oh, jadi dia tiga bersaudara, ya? Kukira dia anak tunggal...” ujar Yoo-ra

Jae-chul menyapa Yoo-ra dengan sangat antusias, “Hai.. senang bertemu denganmu. Kamu Choi Yoo-ra yg aktris itu ‘kan? Katanya kau tinggal di Kamar 401 di Dongbang Apartments”

“Anda tahu darimana?”

“Kita padahal hampir bertemu. Aku dulu membersihkan tangga di sana, tapi kerjaan itu sudah kuwariskan ke Ki Hoon. Aku sampai takjub kau itu manusia atau bukan... karena kau sangat cantik! Kau masih minum banyak?”

“Aku tidak minum banyak-banyak lagi”

“Kenapa? Kau berhenti minum?”

“Tidak... Sekarang, walaupun aku tak minum, suasana hatiku sangat bagus”

“Kenapa?”

“Entah. Suasana hatiku yah bagus saja...”


Jung-hee menebak, “Karena Ki Hoon gagal?” tanyanya

“Entahlah..” ajwab Yoo-ra

Jung-hee tersenyum, “Aku memahami perasaanmu. Aku juga punya kenalan yang seperti itu. Seorang pria yang kuharap dia gagal total, dan akan menangis padaku suatu hari nanti. Semoga dia kena penyakit!”

“Kita sehati!”  balas Yoo-ra dengan senyuman manisnya


Dalam perjalanan pulang, Sang-hoon meneglurh: “Kalau tadi aku makan banyak, harusnya 'kan perutku sakit. Tapi kenapa punggungku yang sakit?”

“Karena kau sudah tua”

“Kau ini! Kau selalu beralasan kalau aku sudah tua! Aku saja belum setengah jalan menjalani hidup pengangguran”


Ki-hoon menyuruh mereka pergi duluan, karena dia ingin beli rokok dulu. Maka tinggallah Sang-hoon dan Dong-hoon yg berjalan berdampingan,

Melihat raut wajah Dong-hoon yg sangat lesu, membuat Sang-hoontersenyum dan berkata: “Kau kehabisan tenaga? Katanya pria itu mengalami pubertas dua kali. Pertama, saat mereka banyak tenaga... dan kedua kalinya saat tenaga mereka habis. Jangan mencoba mempertahankan tenagamu saat tenagamu mau habis. Tak enak dilihat. Yang ada kau akan frustrasi. Kumpulkan saja tenagamu dengan tenang. Jangan mencoba melakukan semuanya seperti caramu yang dulu. Bergerak saja perlahan. Semua orang begitu...”
Advertisement


EmoticonEmoticon