4/10/2018

SINOPSIS My Mister Episode 5 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 5 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 5 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 5 Part 3

Di Rooftop, dua orang pegawai tengah mempergunjjingkan sosok Manajer Park: 

“Jika itu aku, aku pasti sudah pergi. Aku akan mengundurkan diri saat juniorku menjadi CEO. Direktur Park dulu satu-satunya orang yang... melindunginya, tapi dia tidak punya siapa pun sekarang. Mereka itu sama saja menyuruhnya berhenti aku sampai kasihan padanya, aku tak tahan lagi...”

“Apa kau benar-benar mengira Park Dong Hoon akan berhenti?”

“Mau taruhan? Dia pasti takkan berhenti. Dia pasti akan terus kerja disini sampai mati. Dia pernah kehilangan kesempatan untuk berhenti..., dan sekarang dia kehilangan kesempatan lagi! Jadi kalau dia berhenti sungguhan, dia pasti tak punya apa-apa lagi. Makanya penting membuat penilaian yang cepat...”


Dan pada waktu yg bersamaan, Dong-hoon bersama pegawai lainnya lewat sana dan mendengar semunya.. mereka kesal, ingin melabrak pegawai itu, namun Dong-hoon menahannya~


Malam hari, saatnya pulang kantor.. Bawahannya, mengajak Dong-hoon untuk minum-minum di kedai bareng mereka, tapi Dong-hoon menolak: “Aku sudah ada janji” ucapnya

“Ayolah, minum bersama kami, bukannya menangis sendirian di suatu tempat!”

“Serius! Aku sudah ada janji. Kalian saja yang pergi...”


Ternyata, janjinya Dong-hoon adalah bertemu dengan Direktur Park,

“Kau harus menjalani hidup seperti Direktur Yoon. Kau harus bergantung pada orang yang punya kekuasaan, walau mereka lebih muda darimu. Dan mematuhi seseorang yang merupakan atasanmu... walau mereka naik jabatan duluan. Tapi kau terlalu polos...”

“Aku tidak membencinya karena dia naik jabatan duluan. Dia bahkan punya gelar MBA... jadi tidak ada yang salah dia naik jabatan duluan”

“Terus, kenapa hubungan kalian berdua jelek sekali?”

“Karena bajingan itu melukai hatiku. Kejadiannya musim semi lalu...”


‘Dia mendadak bersikap ramah terhadapku. Saat itulah aku ada firasat... bajingan itu pasti telah melakukan hal yang sangat kubenci. Seolah-olah dia baru saja masuk setelah menghinaku’ 


“Dia bersikap ramah terhadapku beberapa kali lagi ketika dia habis dari makan siang. Tapi aku tidak menyapanya karena itu membuatku merasa jijik. Hubungan kami tidak lancar saat itu.. tapi itulah sebabnya hubungan kami makin parah”

“Jadi... alasan hubungan kalian berdua parah sekali, karena dia bersikap ramah terhadapmu? Kau pasti sangat membencinya. Lihatlah ini... dan lihatlah apa yang telah dia perbuat terhadapmu...”


Ji-an tengah menguping obrolan Dong-hoon, dan tiba-tiba ada telpon masuk dari Ki-bum: “Tadi ibu kontrakan datang. Kau menunggak berapa bulan? Ibu itu juga melihat nenekmu. Dan menyuruh kau pindah sekarang. Tapi aku memohon pada dia, memberimu waktu beberapa hari lagi...”


Ji-an menelpon Joon-young, yg saat ini tengah berduaan dengan Yeon-hee. Awalnya Joon-young ingin mengabaikannya, tapi ketika Ji-an menelpon ke nomor rahasianya, dia pun bangkit dan mengangkatnya..


Melihat gelagat aneh Joon-young, membuat Yeon-hee curiga, “Itu ponsel rahasia. Seharusnya tidak ada orang lain yang memanggil nomor itu selain aku. Kenapa? Siapa itu? Kau tidak hanya menggunakan ponsel itu untuk menghubungiku? Apa kau bicara rahasia sama orang lain, selain aku?”

“Tidak ada yang terjadi di antara kami”

“Dia pria atau wanita?”

Joon-young tak menjawabnya dan langsung berjalan pergi, begitu saja~~


Ji-an bertemu dengan Joon-young di tempat yg sangat sepi. Dia memperdengarkan, rekaman pembicaraan Direktur Park yg telah memberikan rincian panggilan telpon Joon-yong kepada Dong-hoon...

“Park Dong Hoon punya riwayat panggilanmu sekarang... jadi jika dia menemukan nomor ponsel istrinya di sana, tinggal masalah waktu sebelum dia tahu tentang hubungan kalian berdua”

“Kau sungguh mengira aku akan begitu ceroboh? Nomor ponsel wanita itu tidak akan ada di sana”

“Bagaimana dengan nomor telepon kantornya? Pasti dia tahu nomor telepon kantor istrinya..”


“Dia menggunakan telepon umum kalau mau menelepon ke ponsel ini. Pastikan kau meneleponku dari telepon umum juga. Jangan panggil nomor ini dan tinggalkan bukti. Padahal kukira kau bisa mengunci mulutmu. Kukira akan ada kekacauan soal skandal yang melibatkan Manajer Park... saat aku pulang dari China. Tapi rupanya tak ada satu pun. Apa rencanamu gagal?”

“Bukankah ini lebih sederhana dan mulus daripada skandal? Dia berencana menjatuhkan CEO perusahaannya. Kurasa ini sudah cukup untuk membuatnya segera dipecat”

“Apa yang akan kau lakukan sama komplotanmu? Kau harusnya cari bukti dulu”

“Ada banyak orang yang akan mencarikan bukti buatmu, untuk harga yang tepat”


Sambil berjalan pergi, Ji-an menelpon Ki-bum: “Kirim rekamannya ke email Tim Pemeriksaan Internal” perintahnya


Saat itu juga, Ki-bum mengirimkan file rekaman tersebut kepada tim audit via e-mail.


Dan dalam perjalanan pulang, perlahan Dong-hoon membuka amplop berisi berkas panggilan telpon Joon-yooung.. dia menghela nafas panjang, karena tak menemukan nomor yg dia kenal~


Sesampainya di rumah, Ji-an kaget melihat nenek yg tidur di samping jendela. Dengan menggunakan bahwa isryarat, dia pun bertanya: “Kenapa Nenek di sana? Dingin di sebelah sana. Nanti Nenek masuk angin”

“Nenek menyuruh temanmu memindahkan Nenek di dekat jendela... siapa tahu nanti ada bulan. Tapi, ternyata nenek tak bisa lihat bulannya”


Bergegas, Ji-an pergi ke supermarket. Dia membeli beberapa bahan makanan, supaya bisa membawa kabur trolley-nya.


Kemudian, dia buru-buru berlari keluar. Ketika menyebrang jalan, dia sampai tertabrak oleh pengendara sepeda, hingga barang belanjaannya berceceran. Tapi dia bangkit lagi dan langsung berlari pergi.

Tanpa dia sadari, tomatnya jatuh.. kebetulan, Dong-hoon lewat sana dan melihatnya. Maka dia pun mengambilnya dan berniat mengembalikannya..


Dia berlari sambil berteriak memanggil nama Ji-an, namun dia malah kehilangan jejak~


Sabil terus menghubunginya Dong-hoon duduk di sebuah meja yg tersimpan di pinggiran jalan~


Tapi tiba-tiba, Dong-hoon mendengar suara gaduh dari dalam gang. Ketika dilihat.. ada Ji-an yg dari belakang terlihat tengah kesulitan membawa sesuatu.

“Kemana kau malam-malam begini? Kau mau pindahan? Kau bahkan tidak sadar kau menjatuhkan ini...” ujar Dong-hoon


Namun betapa kagetnya Dong-hoon, karena dihampiri, ternyata Ji-an tengah berusaha keras untuk membawa turun neneknya menggunakan trolley.


Tanpa bertanya apa pun, Dong-hoon lalu membantunya,


Tapi setelah dibantu, Ji-an malah berjalan pergi tanpa mengatakan apa pun, atau berterimakasih sesakli pun~


Sesampainya di tempat melihat bulan, Nenek bertanya: “Siapa orang itu tadi?”

“Orang kantor..”

“Dia orang baik, 'kan? Dia sepertinya orang baik...”

“Sangat mudah bagi orang yang punya uang... menjadi orang baik”


Karena hari semakin larut, maka Ji-an membawa nenek pulang. Dan disana, ternyata masih ada Dong-hoon yg menunggunya..


Tanpa perlu diminta, secara sukarela Dong-hoon mengggendong nenek hingga sampai membaringkannya dalam rumah.


Ji-an masih tak mau mengatakan apa pun, tapi dengan ramah nenek mengucapkan terimakasih menggunakan bahasa isyarat..


Sebelum pulang, Dong-hoon sempat berbicara pada Ji-an: “Kau cucu berbakti. Kau orang yg baik.. Aku pulang sekarang...”

Mendengar kalimat itu, seakan membuat Ji-an tersentak. Tapi meski demikian, dia memilih untuk tak mengatakan apa pun...
Advertisement

1 komentar:

terima kasih sinopsis nya ....menyentuh sekali yang eps ini ....


EmoticonEmoticon