4/10/2018

SINOPSIS My Mister Episode 5 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 5 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 4 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 5 Part 2

Sambil nobar pertandingan bola, Ki-hoon yg terlihat setengah sadar karena pengaruh alkohol, mulai bercerita hal-hal aneh sekaligus miris tentang kehidupannya,

“Mau semiskin apapun aku... aku selalu memakai dalaman yang harganya lebih dari 10.000 won. Jadi seandainya aku harus mati hari ini, misalnya karena kecelakaan, atau saat dirampok, ketika orang RS menelanjangiku di rumah sakit, aku tidak akan malu. Makanya aku memakai dalaman yang mahal. Kalau Hyung, dalamanmu harga berapa?”


“Setelah kau mati, pakaian dalammu tak bisa diganti. Kenapa kau begitu mengkhawatirkan soal itu?”


Sejenak, obrolannya terpotong karena tim yg didukungnya mencetak gol. Tapi setelahnya, dia melanjutkan omongannya: “Maksudku uangku boleh saja kuhamburkan. Tapi aku memakai dalaman mahal setiap hari agar nanti saat 'ku mati, aku tak malu..., dan aku akan mati secara tragis namun terhormat. Jadi jangan malu akan diriku, ya? Aku pasti akan sangat bersedih jika kau malu akan diriku”


“Kata siapa aku malu karena dirimu?”

“Tapi, kenapa istrimu tidak tahu kalau aku tukang bersih keliling? Aku tadi meneleponnya..., dan dia bertanya kapan film-ku mulai syuting..”

“Aku tidak sempat memberitahunya”

“Kenapa tidak sempat? Kalian berdua itu sudah menikah! Kau melihat dia tiap pagi dan malam! Kau terlalu malu untuk memberitahunya? Kau terlalu malu memberitahu dia kalau Sang Hoon Hyung dan aku tukang bersih?”

“Sudahlah....”


“Hyung. Aku... ingin masuk saja ke kantong sampah. Semua yang pernah kulakukan saat berada di industri film... Cuman menunggu! Dan hanya menunggu! Meskipun sudah tua, aku masih saja dapat uang darimu... dan aku merasa seperti sampah, sampai rasanya aku ingin masuk ke kantong sampah. Ingat saat kau dapat sertifikat hadiah, dan memberikannya padaku? Aku tahu bahwa kau beli itu buat dikasih padaku. Karena aku akan merasa tak enak menerima uang darimu sepanjang waktu.. Aku sungguh, ingin membuat film yang luar biasa dan berperilaku benar, keren, untuk sekali saja. Tapi sekarang... aku ingin cari uang dan membelikanmu tuna, Hyung!”

“Traktir aku yang mahal, sialan!”


Karena hari makin larut dan pertandingan bola telah usai, Dong-hoon yg masih sadar mengumpulkan uang dari para ajusshi untuk membayar soju serta makanan yg mereka nikmati malam ini..


Setelah itu, dia menaruh uang tersebut dalam tempat penyimpanan, karena nampaknya Jung-hee sedniri telah begitu mabuk~ 

“Pastikan kau menghitungnya nanti. Pastikan kau mengunci tempat uangnya sebelum tidur. Jangan sampai dirampok lagi...” ujar Dong-hoon


Tapi ternyata, Dong-hoon meninggalkan syal-nya. Jung-hee menyadarinya, maka dia keluar dan mengembalikannya..


Melihat mereka berjalan pergi, Jung-hee begumam pelan: “Aku juga ingin pulang (kerumah)..”


Sambil jalan, Sang-hoon iseng bertanya: “Jangan marah padaku, tapi... aku cuma bilang begini karena aku sangat penasaran. Bagaimana keadaannya? Wanita yang dari tempat kerjamu?”

“Sudahlah, jangan bahas dia..”

“Mana mungkin aku tak bahas dia... padahal dia suka sama adikku..”

“Berapa kali harus kubilang kalau bukan seperti itu hubungan kami!”


Sang-hoon berceloteh: “Dia cantik, 'kan? Katakan saja kau pacaran sama dia! Kau selalu marah kapan pun kita bahas perempuan... Kita ini tiga bersaudara..., kita harus berpikiran terbuka kalau soal wanita. Karena kita tidak cukup bersenang-senang saat kita masih muda. Makanya kita jadi seperti ini sekarang, di usia segini.. Jika aku bereinkarnasi, aku akan dilahirkan kembali sebagai orang tanpa rasa malu! Aku akan hidup sesukaku. Aku akan tidur dengan banyak wanita! Setidaknya 20...”

Bicaranya terhenti, karena tiba-tiba muncul Ji-an yg berjalan dari arah berlawanan..


Dong-hoon menyapanya lalu bertanya: “Kamu darimana?”

“Aku akan... Kerja sambilan”

“Banyak juga pekerjaanmu. Kau pun kerja sambilan...”


Tak ada obrolan lain, mereka pun berjalan melewati satu-sama lain dalam suana yg terasa begitu dingin..

“Hei, hei, hei, hei... Itu dia, 'kan? Wanita yang waktu itu?” tanya Sang-hoon

“Aku sampai merinding melihatnya.. Waktu kemarin, ada aura aneh saat dia pakai kacamata hitam. Tapi sekarang karena dia tak pakai, aura dia dingin sekali” ujar Ki-hoon


Esok pagi.. ibu sengaja bangun untuk menyiapkan bekal makan untuk kedua putranya, yg tidur pun.. masih mesti dibangunkan olehnya secara paksa~


Dalam perjalanan menuju kantor, Dong-hoon berkirim pesan dengan Gyeom-deok (diksu dari klenteng)

‘Apa sangat tenang tinggal di kelenteng gunung? Aku menopang badanku, yang rasanya beratnya puluhan ribu geun dan aku akan pergi ke tempat kerjaku yang kubenci’

‘Badanmu itu paling beratnya cuma 120 geun. Kau hanya merasakan beratnya sebanyak itu saja’


Joon-young kembali dari China dengan membawa kabar baik, yakni keberhasilannya untuk membujuk pihak sana.. suapaya bersedia untuk bekerjasama dengan perusahaannya.


Direktur Yoon mengumpulkan ‘tim’-nya, dia cerita: “Kesepakatan dengan China, yang hampir batal karena Direktur Park... kini sudah diurus berkatku. Atasan sudah di pihak kita sekarang. Lima lawan empat sekarang, mereka yang empat!”

“Kita perlu mempekerjakan seseorang untuk mengisi posisi Direktur Park... dan memastikan bahwa CEO kita Do Joon Young terpilih ulang”

“Tetapi semua orang yang merupakan direktur potensial semuanya ada di pihakku. Berarti... ini enam melawan empat”


Di waktu yg bersamaan, pihak Direktur Eksekutif Wang, juga mengadakan rapat, “Siapa yang akan kita tempatkan duduk di sini (posisi yg ditinggal Direktur Park)?”

“Satu-satunya orang yang tidak memihak Direktur Yoon... hanya Manajer Park Dong Hoon”

“Tapi, apa ini akan berhasil? Ketika seseorang menjadi seorang direktur... yang paling penting adalah evaluasi atasan langsung. Tapi atasan langsungnya sendiri adalah Direktur Yoon”

“Mana mungkin Direktur Yoon akan memberinya evaluasi yang bagus”

“Do Joon Young itu benar-benar sangat cerdik. Dia memindahkan Manajer Park Dong Hoon, yang tadinya di Tim Perencanaan... menjadi Tim Inspeksi Keamanan. Otomatis, dia memindahkannya tepat di bawah kendali Direktur Yoon”

“Pada dasarnya, dia ingin Direktur Yoon menginjak-injaknya... sehingga dia tidak akan pernah naik jabatan”


Direktur Eksekutif Wang, telponan dengan Direktur Park, “Bagaimana dengan masalah di department store?” tanyanya

“Pihak mereka tidak bisa memberikan informasi pelanggan... kepada siapa pun selain seorang jaksa. Orang-orang di sini menyarankan... kita harus meminta jaksa untuk menyelidiki mereka karena menerima suap. Dan jika kita melakukannya, mereka akan mematuhi aturan”

“Tapi siapa yang setuju itu? Yang ada, itu malah merusak citra perusahaan”


Dong-hoon bersama tim-nya tengah serius melakukan pengecekan tehadapa kekuatan sebuah bangunan. Setelah dicoba berulang-kali, akhirnya dia menarik kesimpulan: “Ini tidak akan mampu menahan gempa berkekuatan enam SR”


Tapi tiba-tiba, muncul Direktur Yoon yg langsung memberikan komentar sinis: “Kau benar-benar berpikir Korea akan dihantam gempa berkekuatan enam SR? Katanya akan menelan biaya setidaknya 2M won untuk membuat gedung itu tahan gempa. Pemilik gedung sedang berusaha menjualnya secepat mungkin... dengan harga tertinggi. Jadi aku yakin pasti dia 'senang' melihat... laporan pemeriksaan keamanan menganjurkan dia harus menghabiskan banyak uang”

“Sebagai pemeriksa bangunan... adalah tugas kami untuk membuat penilaian suatu bangunan”

“Karena inilah kau masih saja jadi berada di posisi manajer! Kau hanya memikirkan pekerjaanmu!”


Wanita dari kamar 402, menggedor pintu kamar 401. Dia marah-marah, berteriak: “Jika kau muntah, harusnya kaubersihkan! Kau selalu begini! Bisa-bisanya kau terus muntah?  Aku tahu kau di dalam, jadi keluarlah!”


Dalam kondisi setengah sadar, wanita dari kamar 401 akhirnya membuka pintu, “Maaf. Nanti kubersihkan kalau sudah bangun...” ucapnya

“Orang-orang ini hanya datang seminggu sekali untuk melakukan pembersihan. Mereka tidak kemari buat membersihkan muntahanmu saja! Kenapa aku harus menelepon mereka tiap hari dan memohon mereka bersihkan ini?”

“Maafkan aku... Maaf...”

“Bukan kau saja yang yang tinggal di gedung ini. Kau harus mempertimbangkan orang lain yang tinggal di sini! Apa kau harus membuat suamiku mengumpat... sebelum dia berangkat kerja tiap pagi?”

“Ahjumma. Aku sungguh minta maaf, tapi aku tidak bisa menangani ini sekarang. Bisakah nanti saja memarahiku?”


Saat bersih-bersih, Ki-hoon sempat melihat wajah wanita itu.. namun dia tak komentar apa pun dan bergegas pergi setelah kerjanya beres.


Dalam mobil, Sang-hoon menggerutu kesal: “Lain kali jangan angkat telepon dari gedung ini. Bilang saja kita hanya akan datang ke sini hari Kamis!”


Tapi tiba-tiba, Ki-hoon malah turun dari mobil dan mendatangi kamar 401. Dia memberikan kartu namanya, sambil berkata: “Hubungi aku kalau kau muntah lagi, daripada dimarahi!”


Sejenak diam.. tapi kemudian wanita itu, seakan tersentak dan langsung berteriak memanggil Ki-hoon dengan panggilan: “Pak Sutradara?!”


Ki-hoon tak mau menjawab panggilannya. Dia malah buru-buru berjalan masuk ke mobilnya..

Sang-hoon bertanya: “Kaukenal dia?”

“Aku tidak mengenalnya...” jawab Ki-hoon dengan ketus
Advertisement


EmoticonEmoticon