4/03/2018

SINOPSIS My Mister Episode 3 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 3 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 3 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 3 Part 4

Tim Dong-hoon kembali ke kantor, bersamaan dengan waktunya istriahat siang. Beberapa pekerja, ada yg langsung pergi jajan, dan adapula yg mau membersihkan diri ke toilet.


Salah seorang pegawai yg dekat dengan Dong-hoon, minjam uang padanya untuk mentraktir kopi pegawai yg lain. Namun dia merasa penasaran akan satu hal terkait insiden suap kemarin, maka dia pun bertanya: “Kenapa Anda disuap pakai sertifikat hadiah, bukannya uang tunai?” (ohhh.. ternyata selain uang tunai ada sertifikat hadiah? Ku baru ngeuh, wkwk)

“Peraturan sangat ketat zaman sekarang. Tidak mudah mendapatkan uang yang tidak bisa dilacak. Kau bisa melakukannya jika kau membeli sertifikat hadiah dari perusahaan. Maka orang yang menerima suap tidak akan bermasalah. Makanya aku dikasih sertifikat hadiah. Aku saja mengira itu hadiah...” jelas Dong-hoon


Pertanyaan itu, membuat Dong-hoon menyadri hal yg sebelumnya tak dia sadari. Maka segera, dia pun menelpon Direktur Park, yg sekarang tengah rapat persiapan untuk presentasi dengan klien China besok.


Dong-hoon pergi menemui Direktur Park tanpa membawa ponselnya. Maka Ji-an, sengaja minta bantuan Ki-bum untuk menlpon ponsel Dong-hoon, supaya dia punya alasan untuk memberikan ponsel itu kepada Dong-hoon.


Ki-bum mnelpon Dong-hoon, dengan alasan parkir mobil.. padahal nyatanya, Dong--hoon tak membawa mobil. Tapi itu tak menjadi masalah, karena tujuan utamanya, hanyalah supaya Dong-hoon membawa ponselnya ketika bertemu dengan Direktur Park.


Tak-tik mereka berhasil.. karena ketika bertemu di rooftop, ponsell itu ada di dalam sakunya Dong-hoon.. maka JI-an, bisa menguping dengan sangat jelas, segala hal yg mereka obrolkan.

“Sertifikat hadiah itu pasti tidak dibeli pakai uang tunai juga. Mereka pasti belinya pakai kartu kredit perusahaan. Pasti tak sulit melacak kartu kredit yang kena biaya 50 juta won...”

“Baik, aku akan mencaritahunya...”

“Tak perlu, karena aku punya kenalan yang kerja di department store itu dan dia pasti akan membantuku”

“Walau kita tahu perusahaannya, apa mereka mau memberitahu siapa yang menyuruh mereka?”

“Mereka harus beritahu kita, kalau mereka mau hidup. Orang-orang pasti rela melakukan apapun kalau terpaksa...”


“Mampus dia, si Do Joon Young itu! Setelah kita menyingkirkannya... kita harus minum soju dan makan abalon di Pesisir Timur. Kita akan memandang lautan biru. Sudah berapa lama kita tak seperti itu? Padahal dulu udara di perusahaan ini cukup bagus. Kita akan berlibur dan bersenang-senang...” tutur Direktur Park dengan penuh rasa percaya diri


Bergegas, Ji-an menelpon Joon-young lewat telpon kantor. Dia menginformasikan segala hal yg baru saja dia dengar.. setelahnya, Joon-young langsung menelpon Direktur Yoon, dan memintanya segera menghubungi si pihak yg memberi suap.


Setelah ditelpon, ternyata memang sesuai dugaan Direktur Park.. pihak penyogok, membeli voucher belanja tersebut, dengan menggunakan kartu kredit milik perusahaan. Hal tersebut, membuat Direktur Yoon benar-benar panik.. karena kalau sampai ketahuan, maka orang satu perusahaan yg akan kena masalah...


Dong-hoon menemui Kakek Choon-dae.. dia memberikannya ‘hadiah’, karena menganggap kakek sebagai salah satu orang yg menyelamatkannya dari insiden tempo hari..


Kakek Choon-dae sempat menolak, namun Dong-hoon tetap memberikannya.. dan pada akhirnya, kakek menerimanya juga~


Dong-hoon berpapasan dengan Ji-an di dekat pantry, dia ingin mengatakan sesuatu.. namun Ji-an buru-buru pergi, dan hanya bilang kalau dia yg akan menghubunginya nanti.


Ternyata, Ji-an bergegas karena dia harus naik lift bersama dengan Joon-young, supaya bisa bicara berduaan saja,

Joon-young berkata: “10 juta won-mu sudah lenyap. Sebaiknya kau kabur”

“Sepertinya kucing tengah khawatir tentang si tikus...” ucap JI-an, yg kemudian menyuruh Joon-young untuk membawa ponsel ‘ilegal’ yg bisa digunakkan untuk berkomunikasi dengannya.


Sambil berjalan pulang, Ji-an berbicara dengan Gwang-il via telpon. Gwang-il bertanya: “Kau dimana selama ini?”

“Banyak sauna di Seoul”

“Berarti kau tidak tinggal di sauna selama ini”

“Kau pintar juga. Kenapa kau bohong tentang tempat tinggalmu? Karena kau takut utangmu ditagih? Tetap saja, kau harus datang ke kontrakanmu dan terima suratmu! Apa salah pemilik kontrakan itu? Semua surat itu menumpuk... Pihak panti pun sampai mencari-carimu...”


Gwang-il tertawa, setelah melihat secarik surat berisi tagihan utang dari panti jompo, “Haruskah kubayar buat kau? 4,8 juta won.. Berarti jadi berapa nanti utangmu? Aneh, 'kan? Aku meminjamkan uang padamu, tapi kenapa rasanya aku malah menabung? Kau boleh kabur semaumu, tapi kau berada dalam genggamanku. Sebelum aku menyuruh anak buahku mengejarmu, serahkanlah dirimu padaku, jalang!”

Ji-an enggan berkomentar.. dia memilih diam, dan mengakhiti panggilan telpon tersebut~


Direktur Park akan bertemu dengan rekannya yg bekerja di departement store. Tapi secara diam-diam, Ki-bum dan JI-an merencanakan sesuatu terhadapnya..


Pertama-tama, KI-bum menyamar sebagai seorang tukang antar kimbap.. yg tujuannya untuk mencaritahu, ruangan tempat Direktur Park berada..


Setelah itu, dia pergi keluar.. bertemu dengan Ji-an kemudian berganti pakaian menjadi seorang pelayan. 


Ji-an masuk ke ruang kontrol, dan sengaja mematikan listrik seisi gedung. Sementara Ki-bum, memanfaatkan kesempatan ini, untuk menaruh bubuk obat tertentu, kedalam minuman milik Direktur Park.


Setelah tugas Ki-bum beres, maka listrik kembali dinyalakan. Direktur Park masuk lagi kedalam ruangan.. dia melanjutkan obrolannya dengan sobatnya, sambil meminum alkohol di yg tanpa dia ketahui, telah dicampur obat..


Pulang dari kantor, Dong-hoon mampir ke sebuah kedai untuk minum bersama dengan dua saudaranya. Sang-hoon sedikit menggodanya, dengan berkata: “Matamu pasti langsung terbuka lebar pagi-pagi, 'kan? Apa yang kalian berdua lakukan kemarin?”

“Dia masih kecil. Kau mau membicarakan anak orang seperti itu. Memangnya kau suka jika ada orang membicarakan anakmu seperti itu?”

“Kenapa kau jadi membandingkan seperti itu? Jika aku tidak bisa menghibur diri dengan menggodamu, aku harus senang-senang bagaimana? Juga, kalaupun kau tidak menyukainya, dia...”


Ji-an tengah bekerja menjadi buruh cuci.. dan dia menguping obrolan Dong-hoon. Ekspresinya, nampak dingin sekaligus kesal ketika dia mendengar mereka berbicara tentang tekad dan masalah.


Selesai bekerja.. tiba-tiba Bos Ji-an menyuruhnya menunjukkan isi tasnya. Ji-an tak melwan, dia pun mempelihatkan beberapa plastik berisi sisa makanan yg dia bawa..

Dan karena hal itu, bos-nya langsung memecat Ji-an dan menyuruhnya untuk tidak datang bekerja lagi, di kemudian hari. Ji-an tak membela diri, dia menerima keputusan itu dengan pasrah, bahkan tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Ketika Kaka-beradik Park hendak pulang.. datanglah istinya Snag-hoon, yg lansgung memarah-marahi mereka dan memberikan surat gugatan cerai kepada Sang-hoon.


Akan tetapi, Sang-hoon menolak.. dia bersikeras mengatakan bahwa dirinya akan melunasi utang, dan tak mau bercerai..


Sambil jalan pulang, Sang-hoon bercerita pada Dong-hoon: “Aku tidak akan pernah bercerai. Aku tidak akan punya uang dan aku akan kesakitan dimana-mana. Jika Ibu pergi (meninggal) dan Ki Hoon menikah... Aku akan selamanya sendirian sebagai pria tua. Walau aku kerjaanku hanya memungut sampah untuk didaur ulang... aku bisa hidup jika itu demi kami berdua. Jika dia melihatku menghasilkan satu juta won sebulan istriku pasti ingin bersamaku lagi. Sampai hari itu tiba, aku berencana mau cari wanita lain. Menarik sekali. Mengencani wanita lain....”

Tiba-tiba, matanya Dong-hoon mulai berkata-kaca, namun dia berkata: “Hidupku sudah hancur, jadi apa gunanya menangis? Hati Ibu kita pasti akan terus kesakitan...”


Dong-hoon telah tiba di apartemen tempatnya tinggal.. tiba-tiba, ada sms masuk dari Ji-an: ‘Keluar. Traktir aku makan.’


Dong-hoon membalas: ‘Ini sudah larut malam’

Setelah membacanya, Ji-an tak berkomentar apa pun. Tapi dia tetap diam, berdiri tepat di pinggir jalan raya~
Advertisement


EmoticonEmoticon