4/03/2018

SINOPSIS My Mister Episode 3 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 3 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 3 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 3 Part 3

Direktur melaporkan hal yg barusan dilihatnya kepada Joon-young, “Padahal mereka bukan perempuan. Apa yang mereka lakukan di toilet? Pasti mereka merencanakan sesuatu. Direktur Park bersekutu dengan Park Dong Hoon dan merencanakan sesuatu. Aku yakin 100 persen”
“Apa yang mungkin mereka rencanakan? Mereka itu cuma mencari tahu saja. Siapa yang mengirim uangnya? Apakah lebih baik jika aku tahu siapa yang mengirimnya atau tidak?”
“Terserah Anda, Pak”
“Jika itu perusahaan teknik...”
“Aku tidak akan pernah berurusan dengan perusahaan teknik, bangunan, atau keamanan.  Apalagi aku juga ahli teknik. Perusahaan outsourcing (penyalur tenaga kerja) yang mengirimnya....


.... Perusahaan itu mengumpulkan orang dan memasukkan orang ke perusahaan kita. Perusahaan itu jadi perantara dan dapat bayaran. Lebih dari 100 orang yang dimasukkan ke perusahaan kita” (beberapa diantaranya adalah Ji-an dan kakek Choon-dae)


“Seperti apa Bos perusahaan itu?”
“Dia agak preman tapi setia. Dia pasti takkan mengadukan kita. Menurut dia, uang lebih penting. Dia sangat jujur kalau soal uang”
“Baguslah. Kapan-kapan, ayo kita makan bersama”


Tiba-tiba, ponsel Joon-young berdering. Dia menerima kabar,, bahwa Presdir Jang sekarang tengah berkunjung ke kantor..

Beliau, berbincang dengan Direktur Park yg ditugaskan untuk menjadi perwakilan perusahan dalam rapat dengan perusahan dari China. Rapat itu sangat penting, maka semuanya perlu disapkan dengan matang.


Perdir Jang kemudian menghampiri Dong-hoon, “Kau punya waktu malam ini? Aku mau traktir makan malam. Suasana hatiku sangat baik karenamu beberapa hari terakhir ini. Kau suka makanan apa?” tanyanya

Dong-hoon terdiam.. sejenak dia melirik Ji-an, lalu berkata: “Aku sudah ada janji penting hari ini. Aku mohon maaf”

“Mau bagaimana lagi. Jadi kabari saja, kalau kau ada waktu, ya. Aku tak apa. Aku punya banyak waktu...”


Presdir Jang berjalan pergi.. dia tak marah sedikit pun, justru dia memaklumi dan merasa bangga dengan sikap Dong-hoon yg tegas.


Berjalan kembali ke ruangannya, Joon-young sempat melirik Ji-an dan juga Dng-hoon.. dia tak mengatakan apa pun, namun dia teringat perkataan Ji-an yg berjanji untuk membantunya memecat Direktur dan Manejr Park..


Pulang kerja.. Ji-an berjalan duluan, sementara Dong-hoon mengikutinya dari belakang.


Meskipun Ji-an yg sampai duluan, tapi tak lama kemudian Dng-hoon datang untuk menepati janjinya, yakni mentraktirnya makan.


Beberapa saat suasana terasa begitu hening, karena Ji-an sibuk menghabiskan makanannya.. dan Dong-hoon hanya melihatnya.

Hingga kemudian, Dong-hoon bertanya: “Kau tinggal dimana?”


“Di belakang SD Anhan. Benar. Itu kompleks perumahan yang sangat buruk...”

“Apa pekerjaan ayahmu?”

“Ahjussi sendiri, apa pekerjaan ayahmu? Aku tidak penasaran sama sekali dengan pekerjaan ayahmu. Aku penasaran kenapa kau menanyakan itu”

“Aku cuma bertanya saja. Makanya kenapa kau menanyakan sesuatu seperti itu?”

“Orang dewasa memang menanyakan hal-hal seperti itu sama anak-anak”

“Kau rupanya ingin tahu apa aku berasal dari keluarga yang baik atau buruk. Kau mau mengetahuinya lewat bertanya apa pekerjaan ayahku?”

“Aku minta maaf”

“Tidak sopan menanyakan pertanyaan seperti itu.”

“Ya, memang tidak sopan. Aku belum pernah menerima suap sebelumnya. Aku tadinya tidak ada rencana menyimpan uang itu. Aku hanya sesaat, mengalami konflik batin. 50 juta won itu jebakan. Uang itu dimaksudkan untuk menyuapku dan memecatku”


“Siapa yang melakukannya?”

“Mana aku tahu siapa..”

“CEO Do Joon Young?”

“Tahu darimana?”

“Kau terlihat ramah dengan Direktur Park, jadi pasti bukan dia. Berarti orang yang bertentangan denganmu. Namun Direktur Yoon pasti takkan merencanakan seorang diri. Berarti tinggal CEO Do Joon Young”

“Kenapa Do Joon Young yang melakukannya?”

“Entahlah. Menurutmu kenapa? Kau tidak bisa memikirkan alasan apa pun?”


“Dia pasti tahu aku tidak menyukainya”

“Kenapa kau tidak menyukainya?”

“Apa kau perlu alasan untuk tidak menyukai seseorang? Aku hanya tidak menyukainya saja”

“Selalu ada alasan jika kau memikirkannya”

“Ada beberapa orang juga yang tidak memikirkan... alasan mereka tidak menyukai seseorang”

“Kau pasti sangat membencinya. Pasti kau sangat sengsara sekali melihatnya berhasil”

“Semua orang yang kubenci kelihatan berhasil semua”

“Bisakah kau membenciku? Dengan rasa yang sangat benci dan tanpa batas? Rasa benci yang teramat sangat. Maka aku juga akan membenci Ahjussi... dengan teramat sangat...”


Dalam perjalanan pulang, subway sangat penuh.. hingga penumpang terpaksa berdiri dalam kondisi berdesakan. Diam-diam, Ji-an meanfaatkan momen ini, untuk memasang alat penyadap di ponselnya Dong-hoon.


Seletelah turun dari subway, Ji-an kemudian menelpon Ki-bum untuk memastikan bahwa alat penyadar itu, telah berhasil terpasang.


Esok paginya.. Sung-hoon pulang kerumah. Niatnya ingin diam-diam, tanpa ketahuan ibunya, tapi akkhirnya sih ketahuan juga.


“Kenapa kau kesini? Ibu kira kau kerja freelance...”

“Aku tidak diterima. Karena kartu kreditku yang sudah mencapai limit”

“Kau kesana tanpa memberitahu mereka tentang itu dulu? Kau pergi ke Yeongjong-do tanpa memberitahu mereka, terus kau ditolak?”

Meskipun demikian, ibu tak marah dan tetap memberikan nasi hangat untuk Sung-hoon, “Menyekolahkan kalian sampai kuliah itu yang susah. Ibu punya tiga anak lelaki, sampai kadang ada ibu-ibu yang iri sama aku. Ibu khawatir jika aku membuat orang jadi iri takutnya anak-anak Ibu sendiri tidak berhasil. Jadi, Ibu berusaha sangat keras untuk tidak pamer ke orang-orang. Kalian itu belum berusia 50 tahun. Tapi siapa yang sangka, kalian masih makan di rumah orang tuanya? Jadi untuk apa gelar sarjana kalian itu?”


Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu.. Ki-hoon melihatnya, dan itu adalah penagih bayaran kartu kredit. Dia mencari Dong-hoon, tapi Ki-hoon berbong dengan berkata: “Dia tidak tinggal di sini. ”

“Istrinya bilang Park Sang Hoon tinggal di sini”

“Kenapa dia selalu menyuruh orang ke sini? Kubilang dia tidak ada di sini. Dia juga menyebabkan masalah uang bagi kami, makanya dia takut kesini. Dia bahkan tidak datang ke peringatan kematian ayahku. Kalau aku ketemu dia, kubunuh juga dia itu..”


Ki-hoon kembali duduk di meja makan.. tapi pria itu, berhasil melihat Sang-hoon. Niatnya.. ingin berakting seperti Ki-hoon, tapi ekspresi Sang-hoon sama sekali tak meyakinkan~


“Aku ini sampai rela menanggung malu dan aku akting dengan penuh penjiwaan. Tapi kau malah bersikap begitu? Jika aku membantumu, cobalah kau juga ikut bantu sedikit. Padahal kau selalu menonton drama, tapi cuma itu yang kau bisa?!”  gerutu Ki-hoon

Melihat mereka berdebat, malah membuat ibu kesal.. maka dia berteriak, menyuruh pria itu untuk membawa kedua putranya pergi saja..


Sang-hoon dan Ki-hoon mendatangi sebuah ruko, namun pemiliknya sedang tak berada di tempat.


Sesaat menunggu, tiba-tiba muncullah mobil mini yg berbelok dalam cara yg keliahtan sangat ekstrim, bhakn hingga mobilnya hampir terguling.


Ternyata, pengendara mobil itu adalah pemilik bisnis tukang bebersih bernama ‘suami-istri cleaner’. Dia berteman baik dengan Ki-hoon serta Sang-hoon.

Mereka merupakan para ajusshi yg tinggal di kompleks sama dengan nasib serupa.. yakni, sama-sama kehilangan pekerjaannya di usia tua.

“Kerjaan lancar?”

“Kotor sekali sampai tak tahan aku. Orang ada saja yg sampai BAB di tangga”

“Mana mungkin orang yang tinggal di sana. Paling itu karena ada orang lewat dan dia kebelet saja”

“Kenapa kau sendirian? Mana istrimu?”

“Dia menangis dan pergi waktu kami bersih-bersih. Aku dulu kerjanya ketua yayasan sekolah. Dia pasti menangis karena sekarang dia jadi istri tukang bersih-bersih”

“Tidak ada untungnya bekerja sepanjang hidup. Tapi dosa besar kalau tidak bisa cari uang sendiri zaman sekarang ini...”


Dong-hoon tengah bekerja di lapangan. Tiba-tiba, dia melamun karena teringat pada momen ketika dirinya sendiri, yg memilih Ji-an sebagai pekerja kontrak, karena dalam CV tertulis kalau hobinya ‘berlari’


Karena drone-nya sudah diperbaiki,perkejaan merka bisa diselesaikan dengan cepat. Sejenak, mereka sempat mengenag masa lalu... ketika belum ada teknologi, hingga membuat mereka semua mesti naik ke atas gedung dtinggi dengan membawa bekal makanan untuk dimakan diatas sana..


Dong-hoon tak sengaja melihat kaoos kaki salah seorang pekerjanya, yg sangat pendek padahal sekarang sedang musim dingin, “Hei, apa itu tren? Pergelangan kakimu nanti kedinginan”

“Bukannya ini seksi?”

“Seksi, apaan... Ayo cepat biar kita bisa pulang sebelum ada macet!”


Sementara itu, Ji-an yg tengah berada di kantor.. ternyata bekerja sambil menguping pembicaraan Dong-hoon, karena alat penyadap yg dipasangnya kemarin..

Ketika Dong-hoon mengkhawatirkanya pekerjanya yg mengenakan kaos kaki pendek, sejenak JI-an sempat terdiam.. karena menyadri bbbahwa kaos kaki yg dia kenakan, juga pendek~~~
Advertisement


EmoticonEmoticon