4/01/2018

SINOPSIS My Mister Episode 2 PART 4

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 2 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 2 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 3 Part 1

Ki-hoon menelpon Dong-hoon, untuk memberitahukan bahwa rekan polisinya telah berhasil meneukam alamat Ji-an, “Dia tidak tinggal di Ganak-gu. Tapi di Dobong-gu.”

Namun, Dong-hoon berkata: “Uangnya sudah ketemu...” 

“Dimana? Pasti kau salah taruh, 'kan?”

“Park Dong Hoon, kau ini! Hei!”


Tak mau di omeli, Dong-hoon lansgung memutus telponnya dan itu membuat saudaranya merasa kesal,

Namun ibu datang dan lansgung memarahi mereka, “Dasar kalian ini! Kalian mau menghancurkan hidup saudaramu yang sudah baik itu?”


Berita mengenai tindakan Dong-hoon yg dianggap membuang uang sebesar 50 juta, menjadi topik pembicaraan di kantor. Para juniornya, mengagumi sikapnya.. namun Dong-hoon sendiri, tak merasa bahagia, karena ukan hal itu yg sebenarnya terjadi..


Ji-an tengah membagikan durat untuk para pekerja.. tak sengaja dia lewat mejanya Dong-hoon, dimana tersimpan ponsel yg terus berderin, karena ada panggilan masuk dari istrinya.

Namun ketika diperhatikan.. Ji-an menyadari sesuatu. Dia ingat, bahwa nomor istrinya Dong-hoon, adalah nomor yg sama.. dengan satu-satunya nomor telpon yg dia lihat dalam ponselnya Joon-young.


Untuk memastikannya, Ji-an lansgung mengecek ponsel Joon-young. Dan ternyata, dugadannya memasng benar~


Siang berubah jadi malam.. satu per-satu pegawai pulang. Dong-hoon menghampiri Ji-an dan menawarkan dirii untuk mentraktirnya makan malam.

“Aku tidak lapar...”

“Kalau minum? Suka kopi?”

Belum sempat mendengar jawaban dari Ji-an, Dong-hoon buru-buru pergi.. .karena Joon-young keluar dari ruangannya.


Melihat Joon-young, Ji-an langsung bertanya: “Mau dibelikan sandwich?”

Joon-young diam saja, maka Ji-an menjelaskan, “Ponsel itu ada di sakuku, jadi aku bisa menyerahkannya padamu. Tapi ada kamera CCTV. Tapi jika kau ingin aku menyerahkannya, akan kuserahkan sekarang!”

“Belikan aku aku kopi...” pinta Joon-young

Ji-an meminta uangnya, setelah itu dia berkata: “Beli sandwich saja karena aku belum makan”

“Silakan...” jawab Joon-young


Ji-an keluar sebentar untuk membeli makanan, kemudian kembali lagi untuk memberikan kopi serta ponsel ke ruangan Jon-young.

Joon-young bertanya: “Aku belum pernah melihatmu. Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku kerja disini...”

“Kerja macam apa?”

“Tugasku mengirim surat dan mengurus tanda terima. Aku melakukan apapun suruhan orang...”

“Kau karyawan kontrak?”

“Iya..”

“Kau pernah kerja apa saja? Tanganmu cekatan juga...”

“Kerja ini dan itu. Pokoknya yang bisa menghasilkan uang...”


“Aku penasaran kenapa Anda sangat ingin memecat seorang manajer... tapi akhirnya aku tahu, setelah melihat nomor teleponnya. Nomor telepon itu, rupanya tertulis "Istri" di ponselnya Manajer Park” ungkap Ji-an

“Dia teman seangkatanku waktu kuliah, dan dia pengacara. Aku meneleponnya karena aku butuh saran dari dia. Anggap saja seperti itu”

“Tapi kenapa Anda pacaran sama ahjumma? Dia cantik? Tapi tetap saja, dia ahjumma...”

Mendengar pertanyaan itu, sontak membuat Joon-young diam dan hal itu, menjadi bukti telak bahwa  dia memang memiliki hubungan terlarang dengan istrinya Dong-hoon.


Ketika Ji-an berjalan pergi, Joon-young memanggilnya: “Tunggu, kita bicara sebentar..”

“Syukurlah. Kukira Anda mungkin menyuruh orang buat membunuhku...”


Kaka-beradik Park, berkumpul untuk minum bersama. Ki-hoon beranggapan, kalau Ji-an menyukai Dong-hoon, “Dia tidak mencurinya buat dia simpan. Tapi dia mencurinya untuk menyelamatkanmu, lalu membuangnya”

“Dia pasti sangat mencintai dan menghormati manajernya” sahut Sang-hoon

“Kalian berdua ini sudah gila!”

 “Hyung, dia menyukaimu! Akui saja!”

“Apa dia cantik?”

“Dia itu masih muda! Masih anak-anak!”

“Hei, jujurlah. Kau pasti sering main mata 'kan di kantor?””


Dalam perjalanan pulang, Ki-hoon bercerita bahwa minggu depan, Sang-hoon akan pergi keluar kota untuk kerja, sementara dirinya akan kembali terjun ke dunia film, “Jika kau terima suap lagi, jangan terlalu dipikirkan. Tapi pikirkan saja kalau suapnya lebih dari 30 juta won...”

“Jika itu 30 juta, jangan serahkan uangnya. Jaga jarakmu dari si Ji-an. Wanita muda itu sangat sembrono. Kalau aku, tak apa  sama wanita muda. Karena, aku bahkan lebih sembrono daripada mereka”

“Dasar, kalian ini sudah gila..”

“Tapi Hyung... Jika jiwamu sudah tak berakhlak lagi, tamatlah sudah...”


Ketika menaiki subway menuju rumahnya, tiba-tiba Dong-hoon menerima pesan masuk dari Ji-an, yg isinya: ‘Belikan aku makan..’


Bergegas, Dong-hoon turun di perhentian terdekat, kemudian menemui Ji-an,

“Kau mau makan apa?” tanya Dong-hoon

“Makanan yang mahal...” jawab Ji-an


Maka Dong-hoon mentraktirnya makan di sebuah restoran masakan China, di ruang VIP.. yg pastinya lumayan mahal.


Sebelumnya, saat bertemu dengan Joon-young, Ji-an berkata: “Aku akan bekerja untuk Anda jika Anda membayarku”

“Pekerjaan macam apa?”

“Direktur Park dan Manajer Park... dua-duanya, akan kubuat  mereka dipecat, untuk Anda. Kau sudah lihat cepatnya aku berpihak ke siapa, dan cekatannya aku. Bukankah aku lebih baik daripada Direktur Yoon?”

“Bagaimana aku bisa mempercayaimu?”

“Buat apa pakai percaya segala?” Aku tinggal melakukannya saja”

“Kau mau apa sebagai imbalannya?”

“Bayar aku 10 juta won, per orang...”


Selsai makan, mereka pulang bersama.. bahkan duduknya pun sebelahan. Tetapi mereka tak mengatakan apa pun, kecuali kata ‘terimakasih’ yg diucapkan oleh Dong-hoon~~~
Advertisement


EmoticonEmoticon