4/01/2018

SINOPSIS My Mister Episode 2 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 2 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 2 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 2 Part 3

Interogasi terhadap Dong-hoon tiba-tiba dihentikan, namun dia tak mendapatkan penjelasan mengapa hal tersebut bisa terjadi.


Dia diantar kembali ke raungannya untuk mengambil barang-barangnya. Dong-hoon melwati Ji-an, bahkan dia sempat menggebrak mejanya, namun Ji-an tetap bersikap acuh dan tak memperdulikannya.

Dong-hoon ingin bertanya lebih lanjut, namun petugas menyuruhnya untuk segera pergi meninggalkan gedung perkantoran, dan tak perlu datang kerja hingga hasil investigasinya keluar.


Dong-hoon berdiri di halte.. dia merengung, teringat perkataan Sang-hoon yg menyuruhnya tidak dipecat setidaknya sampai ibu mereka meninggal.


Dong-hoon mendatangi kanntor istrinya, dan menceritakan insiden yg menimpanya, “Jika seseorang mengirimnya padaku, seharusnya sudah ada alamat pengirim. Tapi di situ tidak ada satu pun. Aneh sekali. Aneh, tapi... kenapa aku menjadi sasarannya? Aku yakin... Ada orang yang menginginkanku dipecat, dan mengatur semua ini. Tapi siapa? Dan kenapa? Padahal aku yakin betul menaruhnya di laciku. Tolong selidiki ini buatku. Pekerjakanlah orang dan jangan sampai menarik perhatian...”

“Tidak ada cara menyelidikinya. Tenanglah dulu untuk saat ini. Dan jangan gegabah. Pasti semuanya akan baik-baik saja.”

“Tapi... masalahnya... uang itu saja tak ada di aku.”


Setelah Dong-hoon pergi, Yooon-hee menelpon Joo-n-young lewat ponselnya, namun tak direspon.


Maka dia pun pergi keluar, dan menelponnya menggunakan tempon umum,

“Apa yang terjadi? Apa kau melakukan ini pada Dong Hoon?”

“Awalnya bukan seperti itu rencananya.”

“Kenapa kau ini? Kenapa kau sembrono sekali? Kau tak tahu kalau kau melakukan ini, kau juga dalam bahaya? Dong Hoon benar-benar panik sekarang. Dia tidak tahu siapa yang mengirimnya, atau alasannya...”

“Nanti saja bicaranya. Aku ada rapat”


Diadakan sebuah rapat darurat.. pihak Direktur Yoon, secacra bulat meyakini bahwa Dong-hoon menerima suap, maka dia harus dipecat.


Direktur Park berkata: “Tertulis di email kalau akulah orang yang menerima suap. Bukannya Park Dong Hoon. Tapi Park Dong Woon. Bukankah kedua nama itu mirip? Maksudku, aku maklum mereka salah mengira "Hoon" itu "Woon." Tapi kalau tulisannya "Direktur" bukan "Manajer", itu membingungkan? Di email yang melaporkan hal ini, jelas tertulis...  Direktur Park Dong Woon. Aku akan mencari tahu setiap perusahaan yang memberi 50 juta won. Dan ketika aku tahu siapa itu, maka kita akan tahu apa perusahaan itu bermaksud mengirimnya ke Park Dong Hoon... atau aku, Park Dong Woon...”

Penjelasan itu, sontak membuat pihak Direktur Yoon diam, tak bisa memberikan sanggahan maka rapat pun dianggap selesai,


Sambil berjalan pergi, Direktur Eksekutif  Wang berkata: “Jika semuanya berjalan lancar..., kita mungkin bisa membuat Do Joon Young dan Direktur Yoon dipecat”


Direktur Yoon berbicara dengan Joon-young dalam ruangan,

“Bagaimana dengan perusahaan yang menyediakan uang itu? Bisakah kita mempercayai mereka?”

“Anda tidak perlu khawatir tentang itu. Mereka pasti tidak akan mengkhianati kita. Aku yakin itu. Aku akan menghubungi Manajer Park, dan... menyuruhnya mengajukan surat pengunduran diri. Jika dia keluar atas kemauannya sendiri, pasti penyelidikan ini takkan berlarut-larut. Jangan khawatir. Aku mohon maaf. Tolong percaya padaku sekali ini saja...”


Karena tak bekerja, diam-diam Dong-hoon menunggu JI-an pulang dan membuntutinya dari belakang. Dia sangat berhaati-hati karena beberapa rekan kerjanya, juga melewati jalan yg sama..


Dalam situasi yg pas, Dong-hoon berhasil mendekati Ji-an yg masuk kedalam subway yg sangat penuh, karena sekarang memang jam-nya pulang kantor.

“Turunlah di stasiun berikutnya. Kita perlu bicara...” pintanya secara halus, namun diabaikan oleh Ji-an


“Turun, kubilang!” pintanya dengan pengucapan yg tegas

“Memangnya kenapa?”

“Di mana uang itu? Kau, 'kan? Dimana itu?”

“Aku membuangnya...”

“Kemana?”

“Tempat sampah....”


“Pokoknya, turun kau!” pinta Dong-hoon sambil menyret tangan Ji-an, namun Ji-an terus berusaha menepisnya


Orang-orang dalam kereta, melganggap Dong-hoon sebagai pria yg kasar.. maka mereka pun, mendorongnya hingga terjatuh keluar, di salah satu pemberhentian kereta.

Dong-hoon tak bisa melwan, karena dia kalah masa. Alhasil, dia pun kehilangan kesempatannya untuk bisa berbicara empat-mata dengan Ji-a.


Dong-hoon menelpon Ki-hoon, “Hei, kau bilang kau punya teman polisi, 'kan?”

“Ya. Kenapa?”

“Apa dia bisa menemukan uang yang hilang?”

“Tentu saja. Siapa yang kehilangan uang?”

“Aku..”

“Berapa?”

“50 juta..”


Mendengarnya, sontak membuat Ki-hoon marah sekaligus kaget. Dia pun menutup telponnya dan bersiap pergi. Bersamaan dengan itu, Sang-hoon pulang.. dia kebingungan dengan tingkah Ki-hoon, yg ketika ditanya tak menjawab karena langsung pergi.

Ibu yg berada disana, tak mengetahui pula.. sebenarnya ada masalah apa. Namun dia, segera memberitahu Sang-hoon, kalau Ki-hoon menemui Dong-hoon yg sekarang tengah berada di Stasiusn Bukcheon.


Kaka-beradik Park berkumpul untuk mendengarkan ceirta dari Dong-hoon, mengenai Ji-an yg mengambil uangnya,

“Kau yakin dia mengambilnya?”

“Itu hanya asumsi, tapi aku yakin 100 persen”

“Jawab yang jelas!”

“Maksudku, jika dia bawa lari uang itu, harusnya dia tidak usah masuk kerja. Tapi dia masuk kerja!”

“Aku juga pasti begitu, kalau aku jadi dia. Karena kalau kau tidak masuk kerja, berarti kaulah pelakunya”

“Jadi, berapa nomor telepon perempuan itu?”

“Mana aku tahu nomor telepon rekan kerjaku?!”

“Bisa-bisanya kau tidak menghafal satu pun nomor mereka?”

“Memangnya kau hafal? Kau saja tak tahu nomor teleponnya Ibu!”


“Apa kau capek jadi orang baik dan terhormat? Kami pesan padamu, kau harus mempertahankan kerjamu, dan jangan jadi seperti Hyung. Dan jangan sampai tak ada orang di pemakaman Ibu...”

“Padahal baru dua hari lalu, kami bilang itu padamu!”

“Kenapa kau mengira aku mengambil uang itu?  Kalian saja sudah tua, tapi mencuri uang pernikahan orang lain”

“50 juta won itu memang uang yang banyak. Tapi kita akan baik-baik saja tanpa uang itu... dan juga, aku akan mencari uang...”

“Kau pikir kami marah-marah begini karena uang itu hilang? Kita harus mengembalikan uang itu jika kita ingin dia tidak dipecat!”


“Aku sangat muak dengan kakak-kakakku ini!”

“Maka berhentilah menjadi adik kami lagi, berengsek! Siapa pula yang minta kau menjadi adik kami!”

“Mana bisa aku berhenti jadi adik, kalau aku belum mati?”

“Baiklah kalau begitu. Mati saja kau. Mati saja kau hari ini!”

“Hentikan!”


Meskipun sebelumnya bertengkar hebat, namun pada kahirnya Sang-hoon dan Ki-hoon bekerjasama untuk menintai setiap orang yg keluar dari stasiun bawah tanah.

Sungguh pekerjaan yg tak mudah, karena tingkah mereka malah membuat orangorang merasa takut padanya..


KI-hoon menerima telpon dari rekannya yg bekerja sebagia seroang polisi: “Hanya ada satu orang bernama Lee Ji An yang tinggal di Ganak-gu.”

“Baiklah, kirim aku alamatnya”

“Tapi masalahnya, umurnya tiga tahun!”

“Jadi bocah tiga tahun yang mencurinya? Kau bercanda? Apa ini lucu?”

“Ya tidak lah..”

“Cari tahu setiap orang bernama Lee Ji An yang tinggal di Seoul”

“Aku sibuk! Aku saja tidak bisa pulang!”

“Cari tahulah, sialan!”


Dong-hoon mencari Ji-an ke supermarket, tempat mereka berpapasan sebelumnya. Tetapi dia, tak menemukannya disana..


Ji-an sendiri, sekarang telah sampai di tempat tinggalnya Ki-bum, tempat nenek Bong-ae berada kini. 


Tanpa mengeluh.. atau mengatakan apa pun.. Ji-an menyiapkan makanan untuk nenek, lalu mencucikan pakaiannya, kemudian beristriahat dengan cara tertidur sambil duduk bersandar di tembok.


Sementara di rumah tempat Ji-an sebelumnya tinggal.. nampak Gwang-il yg tengah terduduk di samping meja, sambil memainkan lampu~
Advertisement


EmoticonEmoticon