4/15/2018

SINOPSIS Misty Episode 16 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Misty Episode 16 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: jTBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Misty Episode 16 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Misty Episode 16 Part 3

Pak Jang datang ke kantor sangat awal karena dia tidak bisa tidur, saat sedang menggantungkan mantelnya, dia melihat sesorang duduk di dalam ruang berita.


Pak Jang menghampirinya, ternyata itu adalah Hye Ran yang sedang mabuk. Pak Jang terkejut tapi dia meminta baik-baik agar Hye Ran segera pergi karena akan ada siaran berita jam 06.00. Dengan senyum yang dipaksakan, Hye Ran bertanya bukankan dialah pewarta yang terbaik. Pak Jang kebingungan mendengarnya, dia bertanya apakah Hye Ran sedang ada masalah atau apakah itu mengenai Yoon Song Yi. Hye Ran mengatakan sekarang dia tidak mempunyai teman minum karena Reporter Yoon sedang sakit. Pak Jang memintanya pulang untuk minum bersama suaminya di rumah, tapi Hye Ran malah menangis.


Pak Jang lalu duduk di sebelahnya, mendengarkan Hye Ran yang menangis dan juga tertawa saat bicara.
“Bagaimana aku bisa sampai di sini? Untuk menjadi yang terbaik, aku berlari kencang tanpa melihat ke belakang. Yang kulakukan hanya berusaha agar tidak tertinggal. Aku bekerja keras sebagai reporter dan pewarta. Kenapa semuanya salah dan hancur? Ada yang salah denganku?”
“Astaga. Berapa banyak dari kita yang hidup dan menyadari kesalahan sendiri? Kita menjalani hidup dengan meyakini bahwa yang kita lakukan sudah benar.”
“Begitukah? Itu terdengar menyedihkan.”
“Bukan menyedihkan, tapi adil. Kita hanya bisa hidup hari ini.”
“Pak Jang. Pernahkah Anda menyesal?”
“Menyesal? Penyesalan selalu datang belakangan. Yang kupikirkan hanyalah berita. Tidak ada yang berharga bagiku selain berita. Tidak ada yang menyenangkan atau pun bermakna. Kamu juga. Karena itu, kamu bisa sejauh ini. Hye Ran, hentikan dan bangunlah sebelum yang lain tiba. Jadilah gadis baik. Ayo.”


Pak Jang menyemangati Hye Ran agar dia bangkit, tapi Hye Ran masih saja duduk. Akhirnya Pak Jang membantunya membuang botol minumannya. Hye Ran menangis tersedu-sedu saat Pak Jang sudah pergi.


Hye Ran berjalan dengan gontai keluar dari gedung JCB, sambil terngiang bagaimana Eun Joo menyalahkannya atas apa yang terjadi. Karena hilang keseimbangan tasnya jatuh, ternyata Myung Woo datang membantunya membereskan barang-barang yang berserakan.


Myung Woo membantu Hye Ran berdiri, dia mengatakan datang untuk berpamitan dengan Hye Ran.
“Kamu tahu? Aku tidak menyesali pilihanku hari itu. Aku tidak pernah menyesalinya. Itu karena kamu layak. Kamu layak, Hye Ran. Jadi, jangan merasa bersalah kepada siapa pun. Ini bukan salahmu. Ini juga bukan karena kamu. Kita hanya menjalani hidup masing-masing. Eun Joo dan aku. Begitu juga Tae Wook. Aku pamit.”


Hye Ran tidak bisa mengatakan apapun, sampai Myung Woo pergi dia hanya bisa menangis sambil menggumamkan nama Myung Woo. Saat berjalan meninggalkan Hye Ran, dalam hatinya Myung Woo berkata “Hye Ran. Kurasa aku masih beruntung. Aku tidak punya apa-apa, tapi masih bisa memberimu masa depan. Perjalanan ini singkat, tapi menyenangkan bagiku. Jadi, jangan terlalu lama menangis.”


Keesokan harinya setelah tidak tidur semalaman, Tae Wook datang ke rumah orang tuanya. Ibunya pun terkejut melihat Tae Wook datang sepagi ini. Saat itu mereka baru akan sarapan, Tae Wook mengatakan dia ingin sarapan bersama mereka.


Di meja makan, ayahnya tidak berbicara tapi hanya terus memandang tajam Tae Wook, sepertinya dia tahu sesuatu terjadi pada anaknya. Ibunya bertanya di mana Hye Ran, kenapa dia tidak ikut padahal dia sedang cuti. Tae Wook mengatakan dia meminta Hye Ran beristirahat di rumah.


Setelah makan bersama, Tae Wook bicara berdua dengan ayahnya saja.
“Ada apa? Katakan, ada apa?”
“Sepertinya aku tidak akan bisa mengunjungi Ayah dan Ibu lagi.”
“Kenapa? Kamu mau pergi?”
“Ya. Kurasa begitu, tidak lama lagi.”
“Apa ini sesuatu yang harus kamu pertanggungjawabkan?”
“Aku... membunuh seseorang. Maafkan aku.”
“Kamu bodoh.”
“Aku sungguh menyesal.”
Ayah Tae Wook sebenarnya terpukul karena apa yang didengarnya, tapi ekspresinya masih saja dingin dan datar mendengar pengakuan Tae Wook.


Hye Ran menginap di rumah sakit, dia terbangun saat Reporter Yoon sadar. Hye Ran berniat memanggil dokter, tapi Reporter Yoon mencegahnya lalu bertanya di mana Tae Wook berada dan apakah Tae Wook mengatakan sesuatu pada Hye Ran.


Hye Ran berlari keluar dari kamar rumah sakit sambil menahan air mata.


Reporter Yoon menceritakan padanya kalau dia menemui Tae Wook di kantornya setelah bertemu Eun Joo. Tae Wook pun terkejut mengetahu reporter Yoon baru saja menemui Eun Joo.
“Tampaknya aku perlu mendengar penjelasanmu, Pengacara Kang. Bu Seo memberitahuku tentang kartu memori dari kamera dasbor. Apa semua itu benar? Kenapa kamu menghapusnya?”
“Aku hanya tidak suka orang lain melihat isinya.”
“Benar. Kurasa kamu tidak ingin itu terbongkar. Tapi sebagai pengacara Hye Ran, seharusnya kamu tidak menghapus semuanya seperti itu. Kamu tahu dia bisa saja dituduh membunuh padahal tidak bersalah.”
“Aku yakin karena Hye Ran tidak membunuh siapa pun.”
“Seakan-akan kamu tahu pembunuhnya. Omong-omong, apa kamu juga tahu bagaimana bros Hye Ran ditemukan di mobil Kevin Lee di lokasi kejadian?”
“Ya. Aku tahu.”


Hye Ran panik saat datang ke rumah tapi Tae Wook tidak ada di sana. Reporter Yoon mengatakan kalau Tae Wook berencana pergi ke suatu tempat berdua saja dengan Hye Ran.
“Dia juga bilang kalian tidak pernah melakukan perjalanan bersama kecuali untuk berbulan madu. Katanya dia ingin menyerahkan diri saat kalian kembali.”
Kata-kata Reporter Yoon terngiang di kepalanya, lalu dengan segera dia berusaha menelepon Tae Wook.


Hye Ran menemui Tae Wook di sebuah galeri seni, dia sedang berdiri melihat sebuah lukisan.
“Ini dibuat pelukis favoritku. Saat sedang sedih, aku menenangkan diri dengan melihat karya seniman ini.”
“Yeobo... Song Yi memberitahuku...”
“Kamu mau minum teh?” Tae Wook akhirnya memandang ke arah Hye Ran yang berkaca-kaca.


Pak Jung sedang duduk tertegun melihat dua buah tiket yang diberikan oleh Tae Wook.


Sebelumnya, Tae Wook memberikan untuk Pak Jung tiket yang dipesannya.
“Bagaimana jika kamu berlibur bersama keluargamu?”
“Kamu tidak perlu seperti ini.”
“Terima kasih atas kerja kerasmu. Aku tahu kamu bekerja keras walaupun gajimu kecil. Aku selalu bersyukur.”
“Karena kamu sudah memberiku tiket, aku akan menerimanya. Terima kasih. Omong-omong, apa sesuatu terjadi kepadamu?”
“Apa maksudmu? Semua baik-baik saja.”
“Kamu yakin?”
“Ya.”
“Baiklah, kalau begitu. Terima kasih untuk tiketnya. Tapi tidak akan langsung kugunakan. Akan kusimpan tiket ini. Jika tidak ada halangan sampai musim panas, aku akan pergi.”
“Tidak perlu begitu. Aku akan cuti untuk sementara.”
“Baik, beristirahatlah. Biar aku yang menjaga tempat ini. Pengacara Kang. Aku tidak akan mendengarkanmu kali ini.”
Advertisement


EmoticonEmoticon