4/04/2018

SINOPSIS Live Episode 6 PART 4

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Live Episode 6 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Live Episode 6 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Live Episode 7 Part 1

Han Pyo dan Myung Ho yang lain tampak mencari-cari sesuatu. Tim  Sam Bo dan Hye Ri juga datang untuk membantu. Mereka mengetuk semua pintu yang ada di jalur itu dan meminta penghuninya keluar.


“Tapi aku tidak menelepon Polisi,” kata seorang wanita yang berhasil Myung Ho temui. Myung Ho berterima kasih, lalu pergi menuju rumah lain.


“Kami menerima laporan. Apakah Anda mendengar ada perkelahian atau jeritan sekitar sepuluh menit lalu?” tanya Sam Bo. Wanita itu bilang tidak tahu, lalu langsung masuk ke rumahnya begitu saja.


Sam Bo bertanya apakah laporan dari SMS itu palsu, Hye Ri bilang ia juga tidak tahu. Han Pyo mengatakan bahwa dia sudah mengetuk 7 rumah, tapi tidak ada yang dibuka. Myung Ho menghubungi Han Sol dan mengatakan bahwa mereka sudah menelusuri areanya. Ia mengatakan bahwa lokasinya padat penduduk, jadi sulit menemukan pelapornya. Han Pyo mengatakan bahwa sejak ada tombol panggilan cepat ke Kantor Polisi, laporan penipuan meningkat 20 persen.


“Tapi ini bukan panggilan, melainkan SMS. Tolong selamatkan ibuku. Itulah isi SMS-nya,” kata Kyung Mo. Han Sol mengatakan bahwa mereka sudah menghubungi balik nomor itu, tapi ponselnya mati.


Sam Bo merebut ponsel Myung Ho dan merasa aneh, karena si pelapor meminta bantuan agar ibunya diselamatkan, tetapi tidak meninggalkan alamat dan nomor rumahnya. Kyung Mo khawatir, jika ada orang yang meninggal.


Jong Min mengeluh itulah kenapa untuk situasi darurat seharusnya pihak provider bersedia memebrikan informasi tanpa surat perintah. Han Sol bilang walaupun itu laporan palsu, tetap saja laporan. Jadi ia meminta Myung Ho menelusurinya area itu sekali lagi.


Han Sol lalu melihat botol minuman vitamin yang diberikan nenek. “Sam Bo Hyungnim! Kau tadi di Hongan-3 dong dekat Apotek Mom’s Hand, bukan?” Sam Bo mengiyakan. “Lee Han Soon. Cari tahu tentang Lee Han Soon. Ia lahir pada tahun 1981 atau 1982 pada 5 maret. Caritahu tentang dia.” 


Won Woo langsung mencari datanya. Kyung Mo bertanya bagaimana Han Sol bisa ingat. Han Sol bilang ia tidak ingat tahunnya, tapi tanggal lahir Han Soon, anak nenek, sama dengan putrinya.


Sam Bo lalu mengingat tentang cairan pembersih yang diambil oleh nenek dari panti sosial. “Produk pembersih. Beberapa tahun lalu, dia dan putrinya minum produk pembersih,” kata Sam Bo. Won Woo berhasil menemukan alamatnya. “Dia minum produk pembersih lagi!” Mereka bergegas menuju alamat yang disebutkan Won Woo.


Han Sol berlari menuju lokasi.


Myung Ho, Han Pyo dan Hye Ri mencoba melepaskan teralis besi.


Sam Bo menggedor pintu dan memanggil si nenek. Ia mendengar pecahan kaca, dan langsung pergi keluar.


Myung Ho baru saja memecahkan kaca jendela dengan melapisi tangannya dengan jaketnya. Mereka bertiga terkejut. Sam Bo datang dan masuk lebih dulu.


Mereka melihat si nenek itu sudah tergeletak dengan darah keluar dari mulutnya. Begitu juga dengan putrinya, Han Soon. “Susu.. Aku butuh susu,” gumam Sam Bo lalu pergi ke dapur untuk mencari susu.


Han Pyo mengecek denyut si nenek.


Myung Ho mengecek denyut Han Sol. Sam Bo datang dan menyingkirkannya. Ia  meminumkan susu pada Han Sol, tapi tidak berhasil. Han Pyo memanggil Sam Bo. “Awas!” kata Han Sol sambil mengibaskan tangan Han Pyo. “Han Soon, bangunlah..”


Sam Bo menangis. Ia bertambah terpukul ketika Han Pyo mengatakan bahwa susu tidak bisa menetralkan asam hidrolik. “Lagipula.. dia sudah meninggal,” kata Myung Ho.


Sambil menangis, Sam Bo meminumkan susunya pada si nenek. Sementara itu, Myung Ho menghubungi kantornya untuk melaporkan kejadian dan minta didatangkan detektif dan tim forensic.


Han Sol datang dan tak bisa berkata apa-apa. Ia melihat ponsel di tangan Han Soon yang ia gunakan untuk meminta pertolongan atas ibunya. 


Sang Soo menyanyi dengan keras dan bahagia, padahal ada perbah di bagian belakang kepalanya. Yang Chon menatapnya dengan heran, tapi Yang Chon tidak peduli dan tetap bernyanyi. “Kau sepertinya senang sekali ya?” tanya Yang Chon. Sang So tertawa, dan akhirnya Yang Chon ikut bernyanyi dengan sangat bersemangat.


“Bukan Oh Yang Chon, tapi aku yang memborgol pergelangan kaki si pelajar itu. Pada saat bersamaan, Oh Yang Chon menarik anak itu. Aku pun jatuh memegang pergelangan kaki anak itu, Oh Yang Chon menaruh kakinya di bawah kepala si anak agar meminimalisir cedera pada kepala si anak,” cerita Sang Soo.


Sang So lalu dengan bangga menunjukkan luka di kepalanya.


Jung Oh, Seung Jae dan Woon Woo bertepuk tangan untuknya.


Setelah penyelamatan selesai dilakukan, Yang Chon dan Sang Soo berbaring lega. “Yeom Sang Soo, kau berhasil menyelamatkan anak ini,” kata Yang Chon. Sang Soo berteriak lega.


“Itu kerja sama yang keren. Legendaris,” kata Sang Soo memuji dirinya sendiri. Seung Jae lalu bertanya kenapa anak itu mencoba bunuh diri. “Dia menderita gangguan panik yang parah,” kata Sang Soo. Seung Jae berkata bahwa gangguan panik tidak bisa menyebabkan kematian dan menyebut anak itu gila karena mencoba bunuh diri.


Seung Jae terkejut karena Sang Soo dan Jung Oh sama-sama memarahinya. Sang Soo bilang sangat berat menanggung gangguan panik dan mereka merasa akan mati karena rasa takut yang dialaminya. Seung Jae kesal walaupun dia salah bicara, seharusnya para juniornya tidak bicara seperti itu padanya. Ia lalu pergi.


Jung Oh: “Kau tadi keren.”
Sang Soo: “Baik-baiklah pada ibumu. Gangguan panik itu memang menakutkan. Aku menyelamatkan orang hari ini. Rasanya luar biasa.”


“Lucunya,” gumam Jung Oh setelah Sang Soo pergi. Jung Oh lalu menghubungi ibunya, “Ibu masih marah? Kemarin ibu tidak mengangkat teleponku.”


“Dasar anak nakal! Ibu tidak angkat telepon karena aku kesal, bukannya marah. Kau waktu itu datang ke café tapi yang kau lakukan hanya mengamuk saja. JIka kau seperti itu, tidak usah datang kesini,” kata ibu. Jung Oh bilang ia sedang mengalami masa sulit, tapi ibu malah menyuruhnya berhenti saja dari pekerjaannya. “Ibu macam apa yang membiarkan anaknya mencari uang, padahal pekerjaannya menakutkan?”


Jung Oh memahami bahwa ibunya tidak ingin dia kesulitan. Nam Il datang dan mengajak Jung Oh berpatroli. “Ibu, aku harus pergi dulu.  Sudah, ya. Ibu, saranghae,” kata Jung Oh lalu menutup ponselnya.


“Saranghae, apanya? Harusnya kau jangan marah-marah pada ibu,” gumam ibu. Tapi kemudian ia tersenyum bahagia.


Nam Il bilang ia sudah bicara apda wanita hamil yang tertembak dan wanita hamil itu berterima kasih karena anaknya tidak jadi keturunan penjahat. “Berkat kita. Bukan, berkat kau, dia bisa menghindarinya. Bahkan si suami juga berterima kasih,” kata Nam Il. Jung Oh diam saja, tapi dia merasa lega. “Dia berencana mengaborsi anak itu, karena itu anak ketiga mereka, tapi dia mengurungkan niatnya karena kasus itu.”


Nam Il minta maaf atas perkataannya tentang merendahkan derajat Jung Oh karena menyebut Jung Oh hanyalah Polisi wanita. Jung Oh bilang bukan itu yang membuatnya marah, melainkan perkataan Nam Il, bahwa jika ia berhenti maka hanya karirnya saja yang hancur, sedangkan Nam Il punya keluarga yang harus dinafkahi. Jung Oh bilang ia juga memiliki keluarga yang harus diurus, apalagi ibunya mengalami gangguan panik.


Nam Il memberikan permen karet untuk Jung Oh, bertepatan dengan laporan masuk tentang terjadinya perselisihan. Jung Oh menerima laporan itu dan mempersilakan Nam Il saja yang memakan permennya dan melarang Nam Il bicara tentang status kelamin lagi.


Di ruang belajar, sang Soo sedang tidur, sedangkan Sam Bo masih duduk lemas karena terpukul dengan kematin nenek dan Han Soon. Hye Ri datang membawakan kopi untuk Sam Bo dan menyampaikan pesan dari Han Sol bahwa Sam Bo harus pulang. Yang Chon kemudian masuk.


Yang Chon mengatakan bahwa Han Sol mengajak Sam Bo untukminum bersama. Ia lalu membangunkan Sang Soo dengan kakinya dan mengajaknya berpatroli.


“Hyungnim, keluarlah,” kata Myung Ho pada Sam Bo. “Hye Ri, kau juga pulanglah. Tim 2 akan datang lebih cepat.” Hye Ri lalu berpamitan.


Yang Chon membantu Sam Bo melepaskan jaketnya, dan Sang Soo yang mengantuk merapikan alas tidurnya. Sam Bo sama sekali tidak bersemangat.

Jung Oh dan Nam Il menuju lokasi perselisihan. Terlihat seorang pria mencurigakan yang akan masuk ke dalam mobil. Jung Oh melihat pria itu secara sekilas, tapi Jung Oh membiarkannya. Seorang pria datang lagi dan masuk ke dalam mobil yang sama.


Nam Il menangani perselisihan dan berkata bahwa seharusnya kedua pelaku dapat menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan Polisi. Mereka berdua ternyata meributkan masalah parker mobil yang terlalu dekat, sehingga salah satu mobil tidak bisa lewat.


Jung Oh mengingat rekaman CCTV kasus prostitusi illegal, dimana tersangka pria terlihat bingung, karena mobilnya tidak bisa lewat. Dan nomor plast mobil itu sama dengan yang dia lihat di gang tadi.


Jung Oh mengatakan pada Nam Il, bahwa dia ada urusan dan akan segera kembali. “Hei, Jung Oh.Hei! Hei!” panggil Nam Il, tapi Jung Oh tetap berlari pergi.


Jung Oh ternyata pergi ke apartemen tempat kasus prostitusi illegal terjadi. Ia melihat seorang pria memukuli tersangka di dalam mobil.  Saat melihat Jung Oh, tersangka itu langsung meminta pertolongan.


Jung Oh menyenter mereka dan membunyikan peluitnya sekencang-kencangnya.


Sang Soo dan Yang Chon menangani kasus seorang pelajar pria yang terluka.. 3 pelajar lainnya mengatakan bahwa pelaku bukan lagi teman mereka sejak korban putus sekolah. Yang Chon menyuruh mereka diam, dan meminta korban meludah karena melihat dua giginya copot. Korban juga mengeluh kakinya sakit.


“Itu dia!” kata seorang pelajar saat tersangka datang untuk melihat keadaan. Tersangka itu langsung melarikan diri. Sang Soo mengejarnya. Yang Chon melarangnya, tapi sang Soo tetap pergi. “Ayo kita lihat!” ajak seorang pelajar dan berlari mengikuti Sang Soo.


“Kenapa juga kau cari masalah?” kata Yang Chon pada korban. “Ayo berdiri. Jangan merengek.” Korban itu mengeluh kesakitan, tapi tetap berusaha berdiri.


Tersangka berlari sampai hampir tertabrak mobil. Ia sempat terjatuh, tetapi ia bangun lagi dan berlari. Sang Soo berhasil menangkapnya.


Tapi tersangka itu berusaha melepaskan diri dan malah melukai pelipis Sang Soo.
Advertisement


EmoticonEmoticon