4/03/2018

SINOPSIS Live Episode 6 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Live Episode 6 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Live Episode 6 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Live Episode 6 Part 4

Jang Mi membantu Yang Chon merapikan dasinya. Ang Chon bilang ia sudah mencoba memakainya sendiri, tapi tidak bisa, karena dia sudah terbiasa memakai dasi yang sudah terikat. Jang Mi bertanya kenapa Yang Chon memakai dasi, padahal mereka datang kesana untuk bercerai.


Yang Chon: “Kau tidak ingin mantan suamimu kelihatan keren?”
Jang Mi: “Kau memang keren.”
Yang Chon: “Aku… akan membuatmu menyesal meninggalkanku selama sisa hidupmu. ‘Tolong kembalilah padaku’. Aku akan membuatmu memohon padaku. Lihat saja. Aku pasti akan mewujudkannya.”


“Karena inilah aku menyukaimu,” kata Jang Mi sambil tersenyum. Yang Con bilang ia akan mengok anaknya kapanpun. “Kenapa kau tidak menengok mereka saat kita masih bersama?” Yang Chon berkata ia akan mengirim 70 persen dari gajinya setiap bulan. “Thank you, kalau begitu.”


“Tidak bisakah kita pertimbangkan ini lagi?” tanya Yang Chon yang membuat Jang Mi melirik sinis. “Ini yang kau benci dariku, bukan?  Oke.”

Tapi kemudian Yang Chon menyebut Jang Mi jahat. Ia bilang mereka sudah punya dua anak, jadi . seharusnya Jang Mi memperingatkannya terlebih dulu untuk berhati-hati sebelum meminta berceai, karena Polisi saja memberikan peringatan pada para penjahat. Yang Chon lalu memukul-mukul dadanya agar tidak menangis.


Yang Chon berharap dulu dirinya diberi tiga peringatan, misalnya saat Jang Mi merasa kesulitan mengurus anak-anak dan orang tuanya atau ketika dia merasa kesepian dan stress. Ia bilang ia sangat mencintai Jang Mi, tapi Jang Mi malah membencinya dan minta bercerai.


Jang Mi mengecek jam tangannya dan mengatakan bahwa waktunya sudah tiba. Yaang Chon berkata, “Kita hanya tidak akan tidur bersama lagi. Tapi kita akan selalu bertemu, walaupun tidak setiap hari. Aku akan berusaha yang terbaik untuk membuatmu mencintaiku lagi. Ayo masuk.”


Yang Chon berkata bahwa mereka sudah sepakat bercerai dan akan memberikan semua yang diinginkan istrinya dan putra mereka sudah mengerti situasinya walaupun masih dibawah umur, jadi ia meminta agar waktu pertimbangan dipersingkat menjadi satu bulan.


“Jika kalian punya anak, aturannya harus tiga bulan,” kata petugas pengadilan. Yang Chon meminta Jang Mi menunggu saja tiga bulan. Jang Mi tidak bisa melakukan apa-apa. Yang Chon lalu bertanya pada petugas apa tahap selanjutnya.


Para anggota berlatih menembak. Para senior selesai lebih dulu dan beristirahat. Han Pyo juga menyuruh Jung Oh dan Sang Soo agar beristirahat.


“Istirahatlah. Lenganmu tidak sakit?” tanya Sang Soo. Jung Oh bilang ia membutuhkan keterampilan itu, keterampilan yang akan membantunya mengingat pedoman dalam situasi apapun dan menembak objek bergerak baik lengan ataupun kaki, baik itu pistol kejut atau pistol sungguhan.


Jung Oh bilang ia sudah bohong kepada Pihak Pengawasan Internal dengan mengatakan bahwa ia mengingat setiap kalimat dalam buku pedoman saat insiden terjadi. Jung Oh bilang ia tidak mau berbohong lagi. Ia mengisi pelurunya dan memasang headphone dan kacamata pelindungnya lagi. Ia siap membidik.


Karena tidak mau meninggalkan Jung Oh, Sang Soo kembali ke bilik tembaknya dan mulai menembak lagi.


Hye Ri turun dari mobil dengan kesal. Ia bertanya kenapa Sam Bo masih berpikir kalau dia tidak bisa mengemudi dan memarkir.


“Lihatlah garis parkirnya,” kata Sam Bo. Hye Ri menghela napasnya.


Hye Ri mencobanya lagi dan kali ini Sam Bo mengawasinya dari luar. Hye Ri masih belum berhasil, karena ia tidak mempedulikan jarak parker, sehingga mobil di sebelahnya tidak akan bisa membuka pintunya. Sam Bo berkata bahwa Hye Ri menyetir dengan kasar dan menyuruhnya turun. Sam Bo lalu masuk ke mobil dan memarkir dengan tepat.


Hye Ri menyebutnya tidak penting dan bertanya apa hubungannya itu dengan tugas mereka sebagai Polisi, bahkan ia harus datang kesana sebelum jam kerjanya dimulai. Sam Bo bertanya apa yang penting bagi Hye Ri adalah membersihkan muntahan orang mabuk. “Pembunuhan,” kata Hye Ri.


Sam Bo bilang bukan  hanya pembunuhan yang ada pelaku kejahatannya. Dan seharusnya sebagai Polisi, Hye Ri tidak menginginkan adanya korban kejahatan, apalagi korbannya dibunuh. Hye Ri bilang maksudnya adalah ia ingin menangkap penjahat dan ia tidak mau menjadi seperti Sam Bo yang menghabiskan sisa hidupnya di Kantor Divisi Patroli yang aman-aman saja. 


Hye Ri: “Aku ingin menjadi seperti Petugas Myung Ho dan Letnan Oh yang Chon. Aku ingin ke Unit Kejahatan dengan Kekerasan, menangkap penjahat dan menerima banyak pnghargaan.”
Sam Bo: “Aku tahu kau tidak menyukaiku karena aku sudah tua. Tapi.. yang lain tidak menyukaimu karena kau seorang wanita.”
Hye Ri: “Aku juga tahu itu. Semua orang tidak menyukai Anda dan aku. Makanya kita bermitra.”


Sam Bo mengambil plastik berisi makanan dari dalam mobil, lalu pergi. Ia sedih mendengar perkataan Hye Ri. Hye Ri juga pergi kea rah yang berlawanan.


“Nenek itu berhenti hari ini,” kata wanita berompi ungu. Sam Bo terkejut. “Putrinya mengalami lemah otot atau semacamnya. Sejak beberapa tahun lalu, dia hanya bisa menggerakkan mulut dan tangannya.” Setahu Sam Bo dulu putrinya baik-baik saja.


Wanita lain berkata bahwa 20 tahun silam terjadi sesuatu pada putri nenek itu. Wanita berompi ungu bilang itu tidak ada hubungannya dengan penyakitnya dan berkata kalau nenek itu menderita demensia dan akan sulit baginya untuk merawat putrinya.


Sam Bo sekarang mengerti, kenapa nenek itu tidak mengenalinya saat berada di Kantor Polisi. Saat itu, sang nenek hanya mengingat Han Sol.


Wanita berbaju ungu merasa nenek itu aneh, karena nenek itu memberikan minuman bervitamin, tapi dia mengambil banyak cairan pembersih.


Mereka bilang seharusnya nenek juga membawa foto cucunya bersamanya.


Sam Bo berpamitan dan mempersilakan mereka menikmati makanan yang ia bawa dan juga menggunakan pembersihnya.


“Hei, Cheol Min! Turun dari sana!” kata seseorang pada seorang pelajar yang duduk di pinggir atap gedung. “Cheol Min. Bahaya. Turun.” Orang-orang di bawah meminta turun dan bicara di bawah saja.


“Kalian semua tenanglah!” kata seorang guru wanita kepada murid-muridnya. Ia lalu melanjutkan bicara di ponselnya, “Mereka sudah tenang.”


“Baguslah, Bu. Upaya bunuh diri merupakan kegelisahan. Kita tidak boleh membuatnya kesal, jadi Anda harus tetap di luar dan menyuruh semua orang pergi,” kata Min Seok kepada Ibu guru. Ibu guru lalu menyuruh murid-muridnya masuk dan meminta seorang guru pria untuk mendampingi mereka. “Anda perlu membuka gerbang sekolah Anda lebar-lebar, agar mobil kami bisa langsung masuk.”


Min Seok meminta Yang Chon dan Sang Soo untuk naik ke atap, sedangkan dia dan Seung Jae akan membantu paramedis untuk memasang matras. Mereka akan sampai dan mematikan sirinenya. Min Seok menambahkan bahwa pelajar itu menderita gangguan panic. Yang Chon mengerti.


Bapak dan ibu guru membuka gerbang SMA Yangyoung, lalu mobil pemadam kebarakan, ambulance dan mobil patroli masuk ke area sekolah. Para petugas bersiap.


Sambil membawa tali, Sang Soo dan Yang Chon langsung bergegas menuju atap.


Tim paramedis dibantu Seung Jae dan Min Seok segera menyiapkan matras.


Yang Chon: “Begitu kita sampai di atap, kita akan mengikat ini ke kiri dan kanan pintu.”
Sang Soo: “Ya. Aku ke kiri, Anda ke kanan.”
Yang Chon: “Ya. Kau ke kiri, aku ke kanan. Ikat tali dan tunggu perintah dariku. Jangan sampai kau menganggu anak itu. Bergeraklah secepat mungkin.”


Sang Soo bertanya bukankah anak itu akan selamat jika jatuh ke matras. Yang Chon bilang orang yang terjun ke matras belum tentu selamat, karena ia pernah melihat ada orang yang kepalanya pecah saat melakukan itu. Ia meminta Sang Soo tetap waspada.


Orang-orang di bawah terlihat sangat khawatir.


Min Seok menyalakan musik dari ponselnya dan menyambungkannya ke speaker. Ia berharap musik klasik itu dapat mengulur waktu.


Yang Chon dan Sang Soo yang sudah sampai di atap-atap, secara diam-diam mengikatkan talinya. Yang Chon berbisik bahwa pada hitungan kelima, mereka akan sama-sama berlari ke arah  Cheol Min.


Cheol Min berdiri dan orang di bawah semakin khawatir.


“Lari,” kata Yang Chon. Mereka berlari. Sang Soo berhasil memborgol kaki Cheol Min tepat waktu dan Yang Chon menarik kerah bagian belakang Yang Chon. Mereka bertiga terjatuh ke belakang.


Kepala Sang Soo terbentur!
Advertisement


EmoticonEmoticon