4/03/2018

SINOPSIS Live Episode 6 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Live Episode 6 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Live Episode 5 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Live Episode 6 Part 2

“Ayo kita makan di luar,” ajak wanita yang sebelumnya pingsan di warnet. “Ibu akan membelikan makanan kesukaanmu, pizza.” Anak itu sibuk dengan ponselnya dan berkata kalau dia tidak lapar.


“Ju Yeon.. Kalau kau tidak ikut, ibu akan pergi sendiri,” kata ibunya lalu mengambil jaketnya dan pergi. Tapi kemudian ibunya datang lagi dan meletakkan jaketnya.


Ia ingin meminum obatnya, tapi perhatiannya tertuju pada botol obat tidur. Sekilas ia melirik Ju Yeon. Ia lalu mengeluarkan banyak obat tidur itu, lalu mengambil air minum.


Agar wanita itu tidak menyerang orang lain dengan pecahan botol, Jung Oh terpaksa menembakkan pistolnya kejutnya. Nam Il datang dan sangat terkejut, apalagi ketika mendengar pria mabuk itu mengatakan bahwa istrinya sedang hamil.


Nam Il melihat alat tes kehamilan yang jatuh tidak jauh dari kakinya. Pria itu menangis dan memanggil-manggil istrinya agar segera sadar.


Karena shock, Jung Oh belum juga menurunkan pistol kejutnya. Nam Il memeriksa wanita itu, kemudian menghubungi melalui radio panggil bahwa ada wanita hamil berusia 40 tahun yang pingsan akibat pistol kejut Polisi dan kepalanya terluka. Ia minta dikirimkan paramedis.


Perlahan, Jung Oh menurunkan pistolnya. Napasnya terengah-engah.


Di ambulance, paramedis sudah memasangkan oksigen dan berusaha menghentikan pendarahan di kepala wanita hamil itu. Suaminya masih menangis meminta maaf dan meminta istrinya segera sadar. Nam Il mendampingi mereka dan ikut merasa sedih.


Sementara itu, Ibu Ju Yeon berjalan sendirian dan tampak sangat pucat. Ia menyandarkan dirinya dan menghubungi seseorang menggunakan ponselnya.


Mobil derek sudah datang dan membawa pergi mobil yang terlibat tabrakan. Sang Soo ada disana dan menerima telepon dari Jang Mi. Ia merasa heran kenapa tiba-tiba Ibu Ju Yeon ingin memasukkan anaknya ke panti sosial, pada sebelumnya bersikeras ingin merawatnya sendiri.


“Katanya dia ingin melihat putranya tersenyum seperti yang ada di video yang kau kirim,” kata Jang Mi. Seorang rekannya datang membawakan sebuah foto. “Semua ibu begitu. Ini semua berkatmu. Selamat bekerja.”


Rekannya bilang bahwa tempat prostitusi ilegal terdaftar atas nama orang yang ada di foto itu. Pria itu adalah tunawisma yang telah keluar masuk penjara karena mabuk, mengamuk dan mencuri barang-barang dari mini market.


“Tempat itu atas nama dia, tapi... bos prostitusi itu memakai nama lain. Bulan lalu di Jang-dong, tempat Kapten Oh dulu bekerja, mereka menemukan tempat lain yang tampaknya digunakan untuk prostitusi ilegal. Itu juga terdaftar sebagai kantor perusahaan atas nama seorang tunawisma. Polisi berusaha menyelidiki tempat itu. Kapten Lee Ju Yeong, bawahan Kapten Oh, yang menangani kasusnya,” kata rekan Jang Mi.


“Ju Yeong penanggungjawabnya?” gumam Jang Mi. Ia lalu meminta rekannya bekerja sama dengan tim itu. Rekannya mengerti. Jang Mi lalu mengambil foto korban.


“Dia berasal dari Kamboja. Aku mendapatkannya dari Kantor Imigrasi,” kata rekan Jang Mi sambil menunjukkan foto rekaman CCTV di ponselnya. Jang Mi menyimpulkan bahwa mereka orang yang sama. Ia lalu mengecek rekaman CCTV-nya.


“Dasar bajingan. Bisa-bisanya dia setenang itu setelah memperlakukan wnita seperti itu?” gerutu rekan Jang Mi. “Kita harus mencari bajingan itu.”


Mobil putih yang terlibat tabrakan juga sudah pergi dan tugas Sang Soo selesai. Ia mengambil ponselnya dan menonton rekaman Ju Yeon yang sebelumnya juga ia kirimkan pada Jang Mi untuk diperlihatkan pada Ibu Ju Yeon.”Ju Yeon! Rebut bolanya dari mereka! Ju Yeon! Lihat mata tim lawan!” kata Sang Soo di rekaman tu. Dan Ju Yeon terlihat tersenyum bahagia.


Sang Soo juga tersenyum senang menontonnya.


“Jadi, dimana Han Jung Oh sekarang?” tanya Yang Chon melalui ponselnya. Ia sudah menerima kabar tentang insiden pistl kejut Jung Oh. “Baiklah kalau begitu. Aku kesana sekarang.” Ia kemudian mengklakson Sang Soo yang berdiri di depan mobil patroli.


Sang Soo masuk ke mobil dan bertanya apakah ada kasus baru. “Ayo kembali ke kantor. Han Jung Oh menembak seorang wanita hamil dengan pistol kejut,” kata Yang Chon. Sang Soo terkejut. “Wanita itu di rumah sakit, tapi ia tidak sadarkan diri.” Sang Soo menyalakan sirine dan menjalankan mobilnya.


Wanita hamil dan suaminya sudah sampai di rumah sakit. Nam Il menatap mereka dengan kasihan. Perawat melarang suaminya masuk ke ruang operasi. Suaminya terduduk dan menangis.


Min Seok datang dan bertanya apa yang Nam Il lakukan saat kejadian. “Dia seharusnya tidak melakukan apa-apa. Dia malah bertindak sendiri. Auh..” keluh Nam Il.


Dengan tergesa-gesa, Han Sol keluar dari rumahnya. Ia kemudian pergi dengan taksi.


Han Sol masuk Kantor Polisi dengan tergesa-gesa, kemudian diikuti oleh Yang Chon dan Sang Soo. Para Polisi yang sedang melakukan pengecekan pistol melihat mereka dengan heran.


Si pria yang berkelahi marah-marah bahwa Polisi-lah yang menembak wanita hamil itu, bukannya dia. Jong Min membanting berkas dengan kesal dan berdiri. Ia berkata bahwa dia bukan menanyakan tentang pistol kejut,melainkan kasus penyerangan yang dilakukan pria itu. Jong Min duduk lagi dan bertanya siapa yang memukul pertama kali.


“Ahjushi, aku tidak tahu soal itu, tapi bajingan tua itu meninju pacarku duluan. Lihat saja CCTV,” kata si pacar. Si pria bilang dia akan menuntut pria mabuk itu dan juga Polisi. Pria itu juga merasa kalau dia dikeroyok. Si pria itu bertanya apakah Jong Min mengenal ayahnya.


“Wanita hamil yang pingsan itu bagian belakang kepalanya pecah 7 cm saat dia terjatuh dan kepalanya terkena pecahan cangkir di lantai. Operasi selesai.”


Sang Soo masuk ke ruang ganti wanita untuk menemui Jung Oh, tapi ia berhenti melangkah karena ada Myung Ho disana. Myung Ho menghampiri Sang Soo dan berkata, “Usaplah luka di wajah Han Jung Oh.” Lalu Myung Ho pergi.


“Dia sedang hamil, jadi tidak bisa diberi obat bius. Dia sudah sadar, tapi detak jantungnya tidak stabil. Dan aku dengan suaminya marah-marah karena kita menembak istrinya yang sedang hamil dan mengancam akan menuntut Han Jung Oh atas penggunaan kekuatan yang berlebihan. Saat ini, kita tidak tahu bagaimana keadaan bayinya.”


Sang Soo mengambil kotak P3K dan mulai membersihkan luka di wajah Jung Oh.


Yang Chon: ”Kenapa Han Jung Oh menembak wanita itu dengan pistol kejutnya? Dia tak tahu isi pedoman?”
Kyung Mo: “Hamilnya tidak kelihatan, kecuali si suami memberitahunya.”
Han Sol: “Katanya ada alat tes kehamilan di TKP. Itu berarti mereka tidak tahu apa dia hamil atau tidak.”
Kyung Mo: “Sebelumnya dia sudah melakukan tes, lalu membeli lagi untuk memastikan. Ini anak ketiga mereka. Dokter kandungannya sedang ke rumah sakit, jadi kita akan segera tahu.”


Han Sol berharap wanita itu sudah melewati trisemester pertamanya, karena jika tidak, efek pistol kejut itu akan sangat berbahaya. Sam Bo bilang ia sudah mengecek CCTV-nya dan memang Jung OH menembak wanita hamil itu. Kyung Mo bilang itu termasuk kecelakaan.


“Ho Cheol sunbae juga seperti itu, tapi Phak Pengawasan Internal menganggap aku yang bertanggung jawab soal itu,” kata Yang Chon. “Setelah adanya keluhan dan mereka mulai menyelidiki, mereka tidak akan berpihak pada kita.”


Myung Ho datang dan mengatakan bahwa saat Jung Oh menembakkan pistol kejutnya, ia tidak memperingatkan wanita itu terlebih dulu. Para senior tambah kebingungan. Sam Bo bilang itu adalah keadaan darurat yang memungkinkan seseorang tidak sempat memberikan peringatan dan tentang penembahakn di bahu yang seharusnya mengarah pundak, Sam Bo mengatakan bahwa memang sulit untuk menembak target bergerak.


Myung Ho bilang jika Jung Oh tidak menembakkan pistolnya, maka wanita itu bisa dituntut atas pembunuhan atau percobaan pembunuhan. Sam Bo bilang jika kecelakaan itu, Polisi disalahkan, maka tidak akan ada yang mau menjadi Polisi. “Masalahnya... Pihak Pengawasan Internal hanya peduli soal pemberian peringatan sebelumnya dan bidikan yang bagus. Bukan Han Jung OH yang dipertaruhkan, tapi seluruh divisi. Jika suaminya menggugat...,” kata Kyung Mo.


Yang Chon bilang mereka akan menghadapinya langsung. Han Sol menerima panggilan di ponselnya dan menunjukkan pada yang lain, “Ini berarti... sudah ada keluhan yang diterima mereka. Berarti Han Jung Oh akan diselidiki. Yang Chon, periksa apakah Han Jung Oh tahu protokolnya, meskipun dia tidak memberi peringatan. Kyung Mo, cobalah kau tenangkan suaminya, meski ribut-ribut dengannya.” Kyung Mo langsung pergi


Han Sol menjawab ponselnya, “Ya, Kapten Kim. Apa?! Bagaimana aku melatih petugasku?! Hei, kau! Kau lebih suka dia membiarkan wanita itu membunuh pria itu?! Sudah bagus dia menggunakan pistolnya! Beraninya kau bilang begitu! Kau dimana, brengsek?!”


Myung Ho memberitahu Yang Chon bahwa dia akan pergi ke rumah sakit. Sam Bo berharap tidak akan ada masalah dengan bayinya, lalu ia pergi. Yang Chon meminum kopinya.


Sang Soo sedang mengobati tangan Jung Oh yang terluka terkena pecahan gelas. Jung Oh bertanya padanya bagaimana keadaan wanita hamil itu dan bayinya. “Kita belum tahu,” kata Sang Soo. Jung Oh bertanya apa mungkin mereka akan mati. “Kau tidak salah apapun. Kau sudah mengikuti pedoman. Kau hanya meleset menembak bahunya, padahal kau mengincar tangannya.”


“Entahlah,” kata Jung Oh hampir menangis. “Saat itu, isi pedoman tidak ada di pikiranku. Pikiranku kosong. Itu hanya refleks saja. Aku langsung menarik pelatuknya. Mata Sang Soo juga berkaca-kaca dan melarang Jung Oh memberikan jawaban seperti itu saat pihak Pengawasan Internal menginterogasinya, karena lencana Polisi Jung Oh bisa diambil.


Yang Chon datang dan bertanya apa yang seharusnya tidak Jung Oh katakan pada pihak Pengawasan Internal. Ia lalu mengajak Jung Oh ke ruang rapat.


Sang Soo dan Hye Ri menunggu di luar dan tampak khawatir.


“Besok pagi, saat mereka menghubungi dan menginterogasimu, jangan jawab kau lupa pedomannya. Kau tidak bingung. Kau punya rasa tanggung jawab dan mengikuti pedoman dengan membidik lengan wanita itu. Tapi tembakanmu meleset dan malah mengenai bahunya. Kau tidak salah apapun,” kata Yang Chon.


Jung Oh: “Tapi, itu bohong.”
Yang Chon: “Tidak juga. Terkadang, fakta lebih penting daripada kebenaran.”
Jung Oh: “Jadi, aku harus melupakan prosesnya dan bersyukur bahwa hasilnya tidak buruk?” 
Yang Chon: “Tapi itu tidak lebih parah daripada kau menyalahkan dirimu sendiri.”


“Kau bersedia menyerahkan lencanamu?” tanya Yang Chon. Jung Oh tidak menjawab, tapi matanya semakin berkaca-kaca. “Ya mungkin itu tidak parah juga. Kalau begitu, bisa-bisa anak baru lainnya yang kurang berbakat dan kurang pengalaman yang lupa pedoman dalam keadaan darurat, akan menggantikanmu.”


Jung Oh terisak dan mengatakan bahwa dia tidak memenuhi syrat menjadi Polisi hebat. Yang Chon menghela napas dan bertanya apa arti dari Polisi hebat. Yang Chon bilang ia sendiri tidak tahu apa Polisi hebat itu, tapi dia ingin Jung Oh bisa lebih dewasa saat ditempatkan disana.


Yang Chon memanggil Sang Soo dan menyuruhnya mengantarkan Jung Oh pulang. Hye Ri bilang Jung Oh khawatir dengan bayi wnaita itu, jadi ingin pergi ke rumah sakit. “Jangan kesana,” kata Yang Chon lalu pergi.


Hye Ri memeluk Jung Oh yang kini menangis. Sang Soo menatap Jung Oh dengan prihatin.


“Kau sudah di rumah sakit. Bagaimana keadaan bayinya? Dokter kandungannya bilang apa?” tanya Yang Chon melalui ponsel kepada rekannya yang sudah berada di rumah sakit.
Advertisement


EmoticonEmoticon