4/03/2018

SINOPSIS Live Episode 5 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Live Episode 5 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Live Episode 5 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Live Episode 5 Part 4

Hye Ri menerima laporan dari seorang supir taksi yang datang ke Kantor Polisi. Supir taksi itu mengeluhkan penumpangnya yang sudah diantarkan ke tempat tujuan, tapi tidak mau turun. Penumpang itu malah memaki dan meludah padanya.


Supir taksi menunjuk penumpangnya dan merasa penumpangnya kurang waras, karena terus saja menatap ponselnya.


Sam Bo mengecek penumpang itu, lalu menutup pintunya dan masuk ke Kantor Polisi. Hye Ri merasa heran kenapa Sam Bo meninggalkan pelaku begitu saja. Hye Ri lalu mendekati si penumpang.


Hye Ri menjelaskan kesalahan penumpang itu dan memberitahu jika penumpang tidak bekerja sama, maka ia akan menariknya secara paksa. Penumpang tetap tidak menjawab. “Aku akan menghitung sampai lima,” kata Hye Ri. Penumpang itu mengibaskan tangan Hye Ri yang sejak tadi memeganginya. “Aku akan menghitung sampai lima. Satu, dua, tiga, empat,..”


Sam Bo yang datang bersama Seung Jae menyuruh Hye Ri berhenti menghitung. Ia memasangkan selimut ke bagian bawah tubuh penumpang itu dan Seung Jae mengajaknya ke kamar mandi. Penumpang masih terdiam. Seung Jae menjelaskan bahwa celana penumpang basah dan bisa membuatnya terkena flu. 


Seung Jae dan Sam Bo berhasil membujuk penumpang keluar dari taksi. Hye Ri melihat penumpang memakai sepasang sepatu yang berbeda dan dia juga mengompol.


Sam Bo mengelap kursi penumpang dan memberi tahu supir taksi bahwa penumpang tadi menderita gangguan mental. Ia meminta supir menganggapnya sebagai sebuah perbuatan baik dan memberikan uang untuk mencuci mobilnya.


Sam Bo menegur Hye Ri yang harusnya menganalisis kasus terlebih dulu saat menerima laporan. Ia bilang tidak seharusnya Hye Ri kehilangan kesabaran seperti itu. “Apa kau tidak sadar kalau dia tidak normal? Ponselnya dikalungkan di leher, sepatunya tidak sesuai, dan dia tidak mengerti apa yang kita katakan. Dia juga meneteskan air liur. Dia jelas tidak normal,” kata Sam Bo.


Hye RI menolak penggunaan kata ‘tidak normal’ dan lebih memilih kata disabilitas. Hye Ri menggerutu lalu pergi. “Astaga, setidaknya dua tahu sesuatu,” gumam Sam Bo.


Di ruang makan, Sang Soo sedang melamun, sedangkan Jung Oh sedang makan mie. Hye Ri datang membawakan snack untuk Jung Oh. Jung Oh tidak peduli dan tetap melanjutkan makannya.


Hye Ri mendapat video call dari ayahnya di jam 5 pagi dan itu membuatnya sangat senang. Ayahnya mengangkat tangan kirinya yang ditutupi sarung tangan karena lukanya dulu. Ia senang melihat Hye Ri memakai seragam Polisi. Hye Ri lalu memperkenalkan teman-temannya kepada ayahnya.


“Pria tinggi ini tinggal di lantai bawah tempat tinggalku,” kata Hye Ri. Sang Soo lalu memberikan salam.”Gadis ini adalah teman sekamarmu. Dia bisa menjadi sedikit angkuh.” Jung Oh yang masih marah menjauhkan dirinya dari jangkauan kamera ponsel Hye RI. “Ayah, ibu sedang apa? Bagaimana dengan Tae Yang dan Hye Min?” Ayahnya bilang mereka masih tidur, lalu mengakhiri pembicaraan mereka.


Hye Ri duduk di samping Sang Soo dan membukakan snack yang ia bawa tadi. Ia bertanya kenapa Jung Oh tidak menyapa ayahnya. Jung Oh mengambil snack itu dan memakannya. “Aku sedang tidak mood untuk menyapa ayahmu, aku tidak sempat makan malam dan mentorku embuatku memarkirkan mobilnya agar dia bisa tidur, dan kita punya banyak kasus. Yang kulakukan hanyalah memberikan tiket denda pelanggaran lalu lintas,” kata Jung Oh.


Jung Oh juga bilang kalau ibunya yang punya gangguan panik mengabaikan telepon darinya karena sedang marah. Hye Ri mengerti bahwa melihat TKP pembunuhan membuat orang trauma. Jung h menghentikan makannya dan menatap Hye Ri.


 “Aku juga pernah melihat orang yang dipenuhi darah, jadi aku tahu bagaimana rasa traumanya. Ayahku cacat. Dia kehilangan tangannya. Aku melihat itu terjadi,” kata Hye Ri. Jung Oh tidak bisa berkata apa-apa, karena dia sangat terkejut. “Maaf karena aku menyebutmu perhitungan dan menjengkelkan.” Ia lalu pergi.


“Sampai bertemu dua hari lagi,” sapa Myung Ho pada Hye Ri. Myung Ho melihat Jung Oh sedang makan mie, lalu duduk di kursi yang sebelumnya diduduki Hye Ri. Ia menanyakan bagaimana perasaan Jung Oh sekarang.


Jung Oh: “Aku hanya...”
Myung Ho: “hanya apa? Katakan padaku.”
Jung Oh: “Sejujurnya, aku pikir kau akan memarahiku ketika mendengarnya, karena kau sangat kompeten, dan kau punya banyak pengalaman seperti di Unit Kejahatan dengan Kekerasan. Tapi menjadi Polisi itu menyeramkan. Hari ini, sepanjang hari aku hanya memberikan tiket denda lalu lintas. Aku mengeluh kepada Sersan kang dan bertanya kenaoa kami tidak melaporkan kasus, tapi terus terang, aku menjalani hari yang rileks. Bukankah aku pemalas?”


“Tidak,” kata Myung Ho sambil tersenyum dan memakan snack. “Sebenernya, kasus pembunuhan juga menakutkan bagiku. Aku yakin semua Polisi merasakan hal yang sama, walaupun mereka tidak mengatakannya.” Myung Ho lalu melihat Han Sol dan Kyung Mo masuk ke ruang makan dan bertanya, “Kepala dan Kapten, kasus pembunuhan membuat takut, bukan?”


“Tidak, aku tidak takut. Kenapa? Apa kau takut, Jung Oh? Solusinya mudah. Berhenti saja. Bagaimana kau menjadi Polisi jika kau takut? Pulanglah ke rumah dan jaga anak-anak,” jawab Kyung Mo lalu pergi. (haha.. Myung Ho salah pilih orang)


Han Sol tertawa dan mengatakan kalau Kyung Mo memang brengsek. Myung Ho berbisik pada Han Sol bahwa Jung Oh memerlukan hiburan sungguhan setelah kasus pembunuhan yang terjadi tempo hari. “Apa yang Kapten Eun katakan tidak salah. Bagaimana bisa menjadi Polisi jika takut?” kata Jung Oh.


Han Sol meminta mie Jung Oh dan duduk di depannya. Han Sol tersenyum dan memperbolehkan Jung Oh merasa takut, tapi dia mengingatkan bahwa warga boleh menghindar jika merasa takut, tapi mereka sebagai Polisi harus tetap menyelidiki semua kasus walau itu membuat mereka takut. Ia meminta Jung Oh memilih.


Jung Oh meminum airnya dan berkata dengan yakin bahwa ia akan tetap menyelidiki kasus yang membuatnya takut. Ia lalu pergi meninggalkan ruang makan.


“Itu menakutkan. Ya, tentu menakutkan,” gumam Han Sol lalu memakan mie-nya, tapi mengeluarkannya lagi. “Ah, panas.”


Ibu bertanya kenapa Sang Soo tidak mau makan sejak semalam. Sang Soo bilang ia tidak punya selera makan. “Jika kau tidak makan, aku juga tidak akan makan,” ancam ibunya, lalu menutup pintu kamar mandinya.


Sang Soo tampaknya sedang murung. Ia lalu pergi ke kamar ibunya.


Sang Soo: “Baiklah, maafkan aku. Aku akan makan. Bangunlah. Ayo kita makan.”
Ibu: “Aku tidak mau makan.”
Sang Soo: “Ibu bilang ibu belum makan sejak shit pagi tadi. Bagaimana jika ibu sakit?”
Ibu: “Aku mengantuk. Tinggalka aku sendiri. Makanlah sesuatu lalu tidur. ”
Sang Soo: “Jangan tidur dulu. Aku akan menyiapkan makanannya.”


Sang Soo merapikan meja makan, lalu menatap sup yang sedang dimasak di dalam panci. Ia mengingat saat dirinya saat masih kecil yang menyiapkan makanan untuk ibunya.


Dengan hati-hati, Sang Soo kecil mengangkat pancinya dari kompor dan menyimpannya di meja.


“Ibu.. Aku memasak mie instan. Ayo kita makan mie instan,” kata Sang Soo sambil membangunkan ibunya. Lalu Sang Joon, kakak Sang Soo, pulang sekolah. “Wah, hyung..” Sang Joon membuka tasnya dan memberikan roti kepada Sang Soo


Sang Soo bertanya apakah teman kakaknya memberikan roti itu lagi. Sang Joon mengiyakan, tapi ibunya tba-tiba bangun dan melemparinya dengan botol plastik. Ibunya marah karena Sang Joo memukuli temannya dan mengambil uang mereka.


Sang Joon bilang itu karena dia dan Sang Soo kelaparan. Sedangkan ibunya yang tidak punya pekerjaan hanya minum-minum saja, sejak ayah mereka meninggal. Ibu memukulinya lagi. Sang Joon marah dan berkata kalau ibunya tidak punya hak untuk memukuli mereka.


Ibunya berhenti memukuli Sang Joon. Sang Joon bilang lebih baik ia tinggal di panti asuhan. Ia meminta agar ia dan Sang Soo dikirim saja ke panti asuhan. Sang Soo sedih dan mengejar kakaknya. Ibunya menangis.


“Kau pikir, aku tidak akan makan, bukan?” goda ibunya. Sang Soo bilang ia tahu kalau itu hanya tipuan ibunya agar dia makan. “Kau anak yang baik. Aku membesarkanmu dengan baik.” Ibu menyentuh kepala Snag Soo, tapi Sang Soo menghindar dan berkata kalau ia tidak menyukai itu. “Jangan jual mahal.”


Sang Soo yang sebelumnya selalu murung, seketika tersenyum bahagia, ketika mendapat telepon dari kakaknya. Ibunya bilang ia sudah bicara dengan Sang Joon beberapa hari yang lalu, jadi sekarang Sang Soo saja yang bicara padanya.


“Hei, hyung? Sudah lama,” Sang Soo menjawab teleponnya dan menjauh dari meja makan. Ia sangat senang.


Sang Joon: “Tentu saja, aku ingat hari itu.
Sang Soo: “Kalau dulu aku polisi, aku sudah menangkapmu. Hyung sudah 10 kali melakukan pencurian.”


Sang Joon: “Jangan begitu. Aku hanya melakukannya dua kali.”
Sang Soo: “Dua kali? Aku jelas-jelas ingat, setidaknya itu terjadi lima kali.”
Sang Joon: “Itu tidak benar. Aku anak yang baik. Lalu, apa yang terjadi dengan anak yang adai warnet?”


Sang Soo: “Aku tidak tahu. Aku tahu tidak ada yang bisa kulakukan, tapi aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya. Aku punya hyung saat ibu mengabaikan kita, tapi dia hanya sendirian. Anak-anak tidak bisa hidup sendirian.”


Anak kecil yang ibunya pingsan di warnet hanya duduk murung menyaksikan anak-anak sebayanya bermain bola di bawah hujan salju.


Bola menghampiri anak itu dan anak lain memintanya agar menendang bola itu. Dia menendangnya, tapi tetap tidak diajak bermain. Akhirnya dia duduk lagi.


Di rumah, Yang Chon bilang seharusnya mereka bicara di restoran yang bagus atau cafe. Ia mengajak Jang Mi keluar dan salju juga sedang turun. Jang Mi memberikannya sebuah amplop coklat.


Yang Chon membukanya daan membaca lembar pengajuan perceraian dan hak asuh anak. Ia langsung merobek dan melemparnya. Jang Mi memintanya agar ketika lain kali Yang Chon datang dan membawa berkasnya. Yang Chon bilang ia tidak setuju untuk bercerai dan mempersilakan Jang Mi untuk membawanya ke pengadilan.


Yang Chon mengambil air dari kulkas dan meminumnya. Ia lalu berkata bahwa hakim pun tidak akan memahami masalah mereka. Ia lalu duduk lagi di depan Jang Mi dan bertanya apa kesalahannya. “Apa aku memukulmu? Apa aku berselingkuh? Apa aku tidak menafkahimu?” tanya Yang Chon.


Jang Mi: “Hanya karena kau tidak memukul atau berselingkuh dariku, dan kau menghasilkan uang untuk keluarga ini, bukan berarti aku harus hidup dengan cara yang menyedihkan.”
Yang Chon: “Kenapa semua hal sangat rumit denganmu?! Aku mencintaimu dan aku bahagia.”
Jang Mi: “Aku tidak mencintaimu dan aku menyedihkan.”


Yang Chon pergi keluar rumah, tapi kemudian ia kembali lagi. Jang Mi bilang dia dulu berpikir bahwa ia harus hidup bersama Yang Chon, tapi sekarang ia berpikir berbeda. Ia bilang ia bisa hidup sendiri tanpa Yang Chon.


“Ketika aku melahirkan, ketika anak-anakku sakit, ketika aku mengurus orang tuaku yang mulai sakit-sakitan, membesarkan anak-anak kita, dan pemakaman orang tuaku. Aku bisa melakukkan sendiri, tanpamu. Tentu saja, akan menyenangkan jika aku memilikimu di sisiku, kapanpun aku ketakutan atau putus asa. Tapi, kau tidak pernah berada di sisiku. Tidak sekalipun. Kau brengsek,” kata Jang Mi.


Yang Chon menangis.  “Aku juga bekerja. Noona, aku tidak berkeliaran. Maafkan aku. Aku sungguh-sungguh.” Jang Mi bilang ketika ia menebarkan aku orang tuanya, ia juga melepaskan semua rasa cintanya pada Yang Chon.


“Aku tidak bisa hidup denganmu lagi,” kata Jang Mi dengan mata berkaca-kaca. Ia juga mulai menangis, “Selama ini aku baik padamu, bukan? Jika benar begitu, maka hal yang bisa kau lakukan adalah mengabulkan perceraian ini.” Jang Mi menghapus air matanya dan mengambil tasnya.


Jang MI: “Kau mungkin suami yang buruk, tapi kau Polisi yang hebat. Apa yang terjadi pada Ho Cheol sunbae, itu hanya kecelakaan.”
Yang Chon: “Kenapa kau membahas itu?”
Jang Mi: “Jika seseorang terjun ke laut walaupun dia mabuk, kau tetap harus menyelamatkannya karena kau adalah seorang Polisi. Kau tidak bisa bertanggung jawab atas kecelakaan.yang aneh. Polisi juga manusia. Aku tidak ingin kau merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Ho Cheol sunbae.”


Yang Chon menangis tersedu-sedu dan Jang Mi meninggalkannya. 
Advertisement


EmoticonEmoticon