4/03/2018

SINOPSIS Live Episode 5 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Live Episode 5 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Live Episode 5 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Live Episode 5 Part 3

Jung Oh tampak sibuk melayani pelanggan di cafe sendirian. Kemudian ibu datang dan meminta maaf karena terlambat . Ibu bilang sangat banyak yang datang ke dokter hari ini. Ibu kemudian menyuruh Jung Oh pergi dan berpesan agar datang ketka hari libur kerja saja.


Jung Oh bilang kalau ibunya bekerja dengan benar, maka ia tidak akan perlu datang jauh-jauh dari Seoul untuk menjaga cafe padahal sudah lelah bekerja. Ibu tidak merespon dan hanya memakai celemeknya. Jung Oh juga mengomel bahwa ibu harusnya membersihkan dapur.


Ibu menyuruh Jung Oh berhenti saja jika terlalu lelah bekerja. Padahal ibu yang sakit-sakitan seperti dirinya dan orang-orang lain saja tetap bekerja. Jung Oh melepaskan celemeknya, mengambil jaket dan tasnya, lalu pergi. Tapi dia kembali lagi.


“Bagaimana jika aku berhenti bekerja karena merasa kelelahan? Apa ibu bisa membayar pinjaman untuk sewa cafe-nya? Pekerjaan yang sama seperti orang lain? Selain Polisi, siapa lagi yang melihat orang mati? Apa ibu tahu betapa melelahkannya itu?” kata Jung Oh, lalu pergi tanpa menunggu jawaban ibu.


“Dia selalu mudah tersinggung akhir-akhir ini.  Lagipula dia tidak terlalu menghasilkan banyak uang,” gumam ibunya sedih.


Ayah Yang Chon berjalan kaki menuju rumah sakit.


Di ruang ganti, Sang Soo ingin menyampaikan pendapatnya tentang hubungan Yang Chon dan ayahnya. “Jangan bicara jika itu bukan tempatmu,” kata Yang Chon. Tapi Sang Soo tetap mengatakan bahwa sikap yang Chon terlalu kasar pada ayahnya. “Jangan ikut campur dan berbuat baik sajalah pada ayahmu.”


Sang Soo: “Aku tidak punya ayah untuk diperlakukan dengan baik. Dia sudah meninggal.”
Yong Chan: “Bagaimana dia meninggal? Dia pasti masih muda jika masih hidup.”
Sang Soo: “Tabrak lari. Pembunuhnya tertangkap dan dia seorang Polisi. Lucu bukan?”


“Apa itu benar?” tanya Yang Chon. Sang Soo mengangguk. “Aku bertanya hanya karena khawatir. Apa kau menjadi Polisi untuk membalas dendam?” Sang Soo menatapnya tajam.


Di ruang gym, Sam Bo berolahraga dengan sangat keras padahal napasnya sudah tersengal-sengal. Baru saja selesai dengan threadmill, Sam Bo langsung angkat beban. Yang Chon menyuruhnya beristirahat.”Aku akan beristirahat ketika aku mau!” kata Sam Bo kesal lalu pergi.


“Kebanggan yang tidak berguna,” gerutu Hye Ri sambil menatap mentornya. “Aku sangat membencinya.” Hye Ri kemudian meninggalkan ruang gym juga.


Myung Ho bertanya pada Yang Chon tentang Sam Bo yang pernah mendaftar ke Unit Kejahatan dengan Kekerasan 5 tahun lalu. “Aku mengatakan padanya agar tidak kesana karena dia terlalu tua. Aku tahu kenapa dia seperti itu padaku,” kata Yang Chon. Ia lalu bicara pada Kyung Mo, “Kau dan Han Sol juga konyol. Divisi Patroli Hongil terkenal dengan banyak kasus, kenapa kalian menerimanya? Kalian harusnya mengirimnya ke daerah pedesaan yang sepi. Bagaimana jika pria itu memetahkan beberapa tulangnya atau terluka? Apa kalian akan bertanggung jawab?”


Kyung Mo bilang ia tidak perlu melakukan itu, karena Sam Bo bisa menjaga dirinya sendiri. “Bukan begitu, Hyung Nim?” kata Kyung Mo pada Sam Bo yang masuk lagi ke ruang gym.


Sam Bo bertanya apakah umurnya pernah menyusahkan Yang Chon atau Divisi Patroli. Ia mengingatkan bahwa Yang Chon juga tidak akan muda selamanya. “Ayolah.. Kau mentor pertamaku. Aku hanya khawatir padamu dan aku ingin kau tetap aman,” kata Yang Chon. Sam Bo meminta Yang Chon tidak mencampuri hidupnya, lalu pergi.


Min Seok bilang kondisi psikologis Sam Bo tidak baik, karena dia akan segera pensiun dan anak laki-lakinya baru saja bercerai. Jong Min mengatakan bahwa mereka yang akan segera pensiun mengalami stres yang sama dengan penderita kanker dan meminta Yang Chon memahami kondisinya.


Han Sol menjelaskan mengenai penggunaan Taser Gun (pistol kejut) kepada seluruh anggotanya. Ia berpesan agar menggunakan pisto kejut itu sesuai pedoman agar dapat melindungi korban, tersangka dan diri mereka sendiri.


Kyung Mo membantu menjelaskan bahwa mereka melarang penggunaan postol kejut ke arah jantung, kepala, wajah, dan alat kelamin. Mereka hanya diperbolehkan menyerang lengan dan kaki. Ia meminta mereka mengulangi instruksinya.


Hye Ri bertanya dengan suara pelan apakah Jung Oh masih marah padanya. Jung Oh berkata bawha ia sedang 
fokus pada pengarahan.


Han Sol berkata bahwa jarak tembak pistol kejut itu adalah 6,5 meter. Ia berpesan agar menggunakannya dengan benar dan yang paling penting adalah berlatih menembak target. Jong Min bilang mereka tidak akan sempat berlatih. Yong Chan menyarankan agar mereka berlatih dengan pistol BB di rumah. Mereka tertawa. Han Sol menyuruh mereka berhenti bercanda.


Han Sol: “Seberapapun lelahnya kita atau harus bepergian jauh untuk berlatih karena tidak ada sasaran di dekat kita, jika terjadi insiden....”
Yang Chon: “Jika kita mengejar pelaku kejahatan, negara kita tidak akan melindungi kita. Semuanya bergantung pada kita.”
Sam Bo: “Jadi berhenti mengeluh, kurangi tidur dan belanjaka uang kalian untuk berlatih. Mengerti?” 
Semua: “Ya, Pak!”


Kyung Mo juga berkata kalau pistol kejut itu tidak boleh digunakan kepada wanita hamil dan anak dibawah 14 tahun. Ia kembali meminta anggotanya untuk mengulangi pesannya.


Seorang wanita agak tua datang. Kyung Mo bertanya apa yang bisa ia bantu, tapi Han Sol langsung menyambutnya dengan akrab dan menyuruhnya duduk. Han Sol bertanya apa yang membawa wanita itu datang. “Tidak ada. Aku hanya ingin melihatmu,” kata wanita itu.


Sam Bo datang dan menyapa wanita itu dengan ramah. Ia bahkan langsung mengambil minuman yang dibawa olehnya. “Siapa kau?!” tanya wanita itu marah dan merebut kembali botol minumannya. “Ini hanya untukmu,” kata wanita itu pada Han Sol.


Han Sol: “Ibu, ini Letnan Lee Sam Bo.”
Sam Bo: “Apa kau tidak mengingatku? Kita saling menyapa di jalan beberapa hari lalu. Ini Sam Bo. 20 tahun lalu, aku dan Han Sol membawa Han Soon.”
Wanita: “Tidak ada yang terjadi pada Han Soon-ku! Tidak ada hal buruk yang terjadi padanya! Siapa kau berani bicara tentang han Soon-ku?!”


Wanita itu memaki Sam Bo, lalu pergi. Han Sol kemudian mengejarnya. Sam Bo masih bingung.


Kyung Mo lalu bertanya siapa wanita itu. “20 tahun lalu, ketika aku dan Han Sol disini, ada kasus dimana ayah tiri melakukan pelecehan seksual pada anak tirinya. Ibunya menyaksikan itu, lalu mereka berdua meminum cairan pembersih. Pemilik rumah melapor lalu kami datang. Wanita yang kau lihat tadi adalah ibunya. Kenapa dia tidak mengenaliku?” 


Hye Ri yang sejak tadi mendengarkan Sam Bo mendapat laporan tentang seorang ibu berusia 30-an pingsan di sebuah warnet dan ada anaknya juga disana.


Sebagai patroli terdekat, Yang Chon dan Sang Soo langsung menuju TKP. Yang Chon bertanya siapa yang melaporkannya.


“Laporan dibuat oleh pekerja paruh waktu berusia 22 tahun. Namanya Kim Yeong Nam. Korban seorang ibu berusia 30-an, tiba-tiba pingsan ketika sedang menggunakan komputer dan meninggalkan anaknya sendirian. Divisi wanita juga sudah dihubungi.”


Jang Mi sebagai perwakilan Divisi Wanita sudah datang dan memberikan snack kepada anak korban. Ia bahkan minta disuapi snack-nya untuk menjalin kedekatan.


Jang Mi melihat layar komputer yang digunakan korban untuk bermain game online. Disana tertulis nama pemain adalah Angel Ju Yeon, level 39. Sang Soo lalu datang dan mengatakan bahwa Yang Chon ingin menemui Jang MI dan sedang menunggunya di luar.


Jang Mi mengambil foto layar komputer dan berpesan agar Sang Soo selalu berada dekat dengan anak korban dan menyuruhnya mengambil gambar di sekitar sana baik secara keseluruhan ataupun close-up. Sang Soo mengerti.


Anak kecil itu kecewa, ketika Sang Soo menolak disuapi snack olehnya. Sang Soo lalu mengambil ponselnya dan mulai mengambil gambar.


Sang Soo menemukan lembar resep untuk pasien atas nama Cho Hye Eun.


Yang Chon baru saja selesai memintai keterangan dari seorang saksi, ketika Jang Mi datang. Ia bilang ia sedang mengirimkan semua keterangan dari pekerja paruh waktu yang melaporkan kejadian. “Prakteknya, korban tinggal disini selama hampir 10 bulan. Dia tinggal di ruang belajar di belakang gedung ini,” kata Yang Chon.


Jang Mi bilang korban menderita depresi dan di tasnya ditemukan banyak obat dan juga menerima resep, tapi korban tidak mengkonsumsi obatnya. “Bagaimana dia mendapatkan uang untuk hidup?” tanya Yang Chon. Jang Mi bilang harga obat di resepnya 500 won dan itu didapatkan dari dana kesejahteraan pemerintah.


Jang Mi lalu menunjukkan foto di ponselnya. “Aku mengecek anak korban segera setelah sampai. Dia menderita kelainan senstitifitas parah. Dia tidak disiksa ibunya, tapi...” Perkataan Jang Mi terhenti, karena ia melihat anak itu datang bersama Sang Soo.


“Dia ingin pipis,” kata Sang Soo lalu masuk ke toilet. Jang Mi meneruskan kalimatnya bahwa anak itu tidak diurus dan telah diabaikan untuk waktu yang lama. Nama anaknya digunakan untuk karakter game-nya. Yang Chon bilang pengabaian juga termasuk penyiksaan.


Sang Soo membantu membuka dan menutup celana anak itu. Walaupun begitu, Sang Soo sama sekali tidak menunjukkan keramahan pada anak itu. Ia mendengar Jang mengatakan bahwa akan ada perwakilan dari yayasan sosial yang akan menjemput anak itu.


Dengan canggung, Yang Chon bertanya sampai kapan mereka akan bersikap seperti itu karena rasanya aneh dan menyebalkan. Jang Mi bilang caranya menghilangkan keanehan dan rasa sebal itu adalah dengan bercerai. Yang Chon mengajaknya bicara saat ia libur. Tapi kemudian Jang Mi menerima kabar bahwa orang dari yayasan sosial hampir sampai. Ia meminta Yang Chon pergi ke ruang belajar dan mengambil barang yang sekiranya diperlukan oleh anak itu dan ibunya.


Jang Mi menjawab teleponnya dan pergi. Ia tidak mempedulikan Yang Chon berkata, “Aku akan menghubungimu saat aku libur. Ayo kita habiskan waktu bersama untuk waktu yang lama. Ayo makan dan minum teh.” Sang Soo lalu membawa anak itu keluar.


Yang Chon: “Petugas dari yayasan...”
Sang Soo: “Sebentar lagi tiba. Aku dengar dari toilet.”
Yang Chon: “Apa kau juga dengar kalau istriku minta bercerai?”


Setelah menyerahkan anak itu kepada petugas yayasan, Sang Soo dan Yang Chon pergi ke ruang belajar. Mereka membagi tugas untuk mengambil gambar dan juga mengemas barang-barang.


“Astaga. Dia mengoleksi obat-obatan daripada meminumnya,” kata Yang Chon ketika mengambil gambar di ruangan itu. Sang Soo kesal karena menurutnya wanita itu akan dibebaskan dan hanya mendapatkan masa percobaan, lalu anak itu akan kembali diabaikan.


Sang Soo terus saja mengomel dan Yang Chon menyuruhnya diam karena suara Sang Soo masuk ke rekaman video yang dia buat. Yang Chon berpendapat bahwa baik atau buruknya orang tua, anak lebih baik tinggal bersama mereka dibanding tinggal di panti asuhan. Sang Soo masih tidak terima dan pergi lebih dulu. Sementara itu, Yang Chon masih mengambil gambar dan menemukan obat tidur yang disimpan secara terpisah.


Nam Il yang berpatroli bersama Jung Oh menegur sebuah mobil yang penumpangnya dan tidak memakai sabuk pengaman dan supirnya menyetir sambil menonton TV. Si penumpang meminta agar kali mereka dilepaskan, tapi Nam Il tetap meminta mereka menunjukkan kartu identitasnya.


Nam Il kembali ke mobil dan memutuskan untuk berjaga disana saja. Jung Oh mengingatkan bahwa tim diminta untuk membantu menangani seorang pemabuk. “Apa kau yang menentukan? Hari ini, kita akan stand by disini. Ini juga bekerja,” kata Nam Il.


Sebuah mobil patroli lain melintas dengan membunyikan sirinenya. “Kau lihat mereka? Mereka yang akan mengurus pemabuk di toko,” kata Nam Il. Jung Oh pasrah.


Advertisement


EmoticonEmoticon