4/03/2018

SINOPSIS Live Episode 5 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Live Episode 5 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Live Episode 4 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Live Episode 5 Part 2

Sang Soo mengikuti Yang Chon dan mendesaknya ke dinding. Dia bilang dia tidak peduliapapun lagi, karena bagaimanapun dia akan dipecat. “Tuan Oh Yang Chon...” kata Sang Soo lalu terdiam dan menatap tajam Yang Chon. Yang Chon membalas tatapannya sebentar, lalu tertawa.


“Apa selanjutnya? Setelah Oh Yang Chon, apa lanjutannya. Kau menarik bajuku. Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” kata Yang Chon santai. Sang Soo ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi.


Yang Chon memukul kepala Sang Soo. Ia memarahi Sang Soo karena Sang Soo tidak tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Yang Chon bilang Sang Soo harus berpikir dengan benar. Ia bilang Sang Soo seperti ikan hairtail (layur) yang ingin ia goreng dan makan. Ia tidak percaya Sang Soo adalah rekannya.


Sang Soo meminta Yang Chon menjawab pertanyaannya sebelum pergi. Padahal Yang Chon melihat kedatangan ayahnya dan mengomel, “Kenapa kau berjalan kaki di tengah malam?! Naiklah taksi jika tidak ada bus! Apa kau berjalan kaki selama tiga jam dari rumah sakit kesini?! Apa kau tidak punya ongkos taksi?!” Ayahnya tidak peduli dan berjalan masuk ke dalam rumah. “Apakah Jang Mi tidak memberikanmu uang?!”


Yang Chon lalu berteriak menyuruh Sang Soo pulang. Sang Soo lalu mengakui bahwa ia tidak tahu kenapa nilainya rendah. “Senin lalu. Juga dua minggu lalu, Hari Selasa, Rabu, dan Sabtu, kau terlambat saat apel selama 5, 3, 7, dan 4 menit,” kata Yang Chon.


Yang Chon bilang tindakan Sang Soo menangkap anggota kongres sudah benar sesuai prosedur, tetapi tidak seharusnya Sang Soo mengatakan maaf pada Yang Chon karena sudah menangkap mereka.


Sang Soo merasa pertanyaannya tentang mana yang lebih penting antara menyelamatkan bukti atau nyawa orang belum terjawab. Sang Soo yang merasa dirinya benar, lalu meludah ke tanah dengan kesal, kemudian pergi.


Di dalam rumah Yang Chon bertanya apakah ayahnya selalu pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Ayahnya tidak menjawab. Yang Chon mengecek plastik yang dibawa ayahnya dan bertanya kenapa ayahnya membeli ikan hairtail. Kali ini ayahnya menjawab, “Aku ingat dulu ibumu menyukainya, jadi ketika aku melihatnya, aku membelinya.”


Ayahnya lalu menyalakan TV. “Sejak kapan ayah peduli... Ayah seharusnya tidak memukuli ibu dulu,” kata Yang Chon yang kemudian menutup pintu kamar untuk menyiapkan ikannya.


Yang Chon kemudian dikejutkan dengan masuknya Sang Soo tanpa permisi. Ia bertanya apa yang Sang Soo lakukan. “Apa aku bisa menginap? Bus terakhir sudah pergi dan tidak ada taksi di area ini. Terlalu jauh untuk berjalan ke pinggiran kota dan cuacanya dingin,” kata Sang Soo.


Yang Chon: “Apa kita teman?!”
Sang Soo: ”Bukan, tapi tetap saja. Ini terlalu dingin. Izinkan aku menginap semalam saja.”


Sang Soo lalu membuka pintu kamar dan memberi salam pada ayah Yang Chon dan memperkenalkan dirinya. Ia juga meminta izin untuk menginap disana dan mengatakan alasannya.


Yang Chon tidak percaya apa yang baru saja terjadi. Ia memperhatikan Sang Soo dan ayahnya, lalu menutup pintu kamarnya.


Sambil mencuci ikannya, Yang Chon menggerutu bahwa Sang Soo sudah kehilangan akalnya dan dia tidak pernah bertemu orang brengsek seperti Sang Soo sebelumnya.


Hye Ri kesal karena setiap hari ia harus membersihkan toilet. Ia mengambil air di ember dan membanjur airnya ke lantai dengan kasar, sampai hampir mengenai Jung Oh. Hye Ri juga kesal karena setiap hari hanya berurusan dengan orang mabuk dan mengeluarkan tiket parkir.


Jung Oh berpesan agar Hye Ri membersihkan saja lantainya dengan benar sampai kering, karena jika ada orang mabuk masuk kesana dan terpeleset, maka akan ada kecelakaan besar, seperti yang diharapkan Hye Ri. Hye Ri marah karena ia menganggap Jung Oh tidak percaya kalau ia bisa membersihkan dengan baik.


Jung Oh menatapnya. “Apa yang kau lihat? Kau kira hanya kau yang pintar disini,” kata Hye Ri lalu lanjut mengepel lagi. “Bayangkan jika kau harus berurusan dengan mentor tua dan remaja pemabuk setiap hari.” Ia juga meminta Jung Oh agar tidak mengambil kasus penting untuk dirinya sendiri saja.


Lama-lama, Jung Oh kehilangan kesabarannya. Ia melemparkan voucher hadiah atas prestasinya menangkap pelaku pembunuhan kepada Hye Ri. Ia bilang jika bisa memilih, lebih baik ia tidak menghadapi kasus dimana banyak darah dan nyawa orang hilang.


Hye Ri mengingat saat dirinya kecil menyaksikan ayahnya mengalami kecelakaan kerja yang mengakibatkan luka parah pada tangan kirinya. Ayahnya berteriak menahan sakit,sedangkan Hye Ri terus menangis.


Hye Ri mendengarkan Jung Oh yang mengatakan bahwa ia sadar bahwa sebagai Polisi ia sudah diberitahu bahwa hal semacam itu bisa terjadi kapan saja, Tapi Jung Oh tidak pernah berpikir bahwa ia akan melakukan itu.


Jung Oh lalu pergi ke atap untuk menenangkan dirinya. Tidak lama kemudian, Hye Ri datang dan mengajaknya pulang. Karena Jung Oh diam saja, akhirnya Hye Ri pergi.


Hye Ri berpapasan dengan Myung Ho, tapi tidak menyapanya sama sekali. Myung Ho lalu melihat Jung Oh yang sedang berdiri sendirian. 


Sang Soo ingin mematikan televisi, tapin Yang Chon melarangnya, karena itu bisa membuat ayahnya terbangun. Sang Soo akhirnya hanya mengecilkan volumenya saja. Sang Soo lalu melihat beberapa penghargaan milik Yang Chon.


Sang Soo: “Kau mendapat sebuah penghargaan.”
Yang Chon: “Aku menerima lebih dari satu penghargaan.”
Sang Soo: “Hal yang paling kusukai di piagam Kepolisian adalah bahwa kewajiban Polisi adalah melindungi nyawa dan harta milik warga.”


Yang Chon bertanya apa maksudnya membicarakan itu di tengah malam. Sang Soo bertanya apa yang salah dengan kejadian ketika dia memprioritaskan nyawa orang lain dibandingkan bukti tadi. Ia bilang tidak ada seorang pun yang memujinya, padahal dia sudah menyelamatkan nyawa orang lain, bahkan Yang Chon tidak bicara padanya, dan Kapten Tim Forensik juga memukul Yang Chon .


Yang Chon menghela napas panjang dan berkata bahwa dia memang pantas ditampar. Yang Chon bilang seharusnya mereka bergerak berpasangan dalam keadaan darurat, tapi ia mengabaikan aturan itu. ‘Seberapa bodoh pun rekan kita, rekan tetaplah rekan. Aku salah sudah mengabaikanmu. Jika aku mendengarkan, maka kau bisa menyelamatkan nyawa dan aku menyelamatkan bukti. Kita akan membunuh dua burung dengan satu batu dan menyelesaikan semuanya sesuai pedoman. Bukankah kau pikir begitu?” kata Yang Chon.


“Kau benar,” kata Sang Soo lalu kembali berbaring. Yang Chon bilang tidak ada anak didik yang bodoh, dan yang disalahkan adalah mentor mereka yang bodoh karena tidak bisa mengajari dengan baik. Ia bilang kejadian itu semua adalah kesalahannya, tapi sekarang mereka adalah tim. Sang Soo tidak menjawab. Yang Chon sangat kesal dan mengumpat.


“Aku juga merasa begitu,” kata Sang Soo sambil tertawa. Yang Chon kesal dan akan memukulnya, tapi kemudian dia ikut tertawa. Hubungan mereka sepertinya akan mulai akrab.


Sang Soo lalu bertanya kenapa Yang Chon tinggal dengan ayahnya padahal sudah menikah. Karena Yang Chon tidak menjawab, ia membalik tubuhnya.


Tapi Yang Chon ternyata sedang melotot padanya, Sang Soo lalu pura-pura tidur lagi.


Keesokan paginya, Yang Chon dan Sang Soo menyiapkan sarapan bersama. Sang Soo kemudian membawa mejanya ke kamar dan menyajikannya di depan ayah Yang Chon.


Ayah Yang Chon terlihat memakai koyo di kakinya. Sang Soo kembali ke dapur untuk mengambil nasi yang sudah disiapkan Yang Chon.


Setelah ayah memakan sesendok supnya, barulah Sang Soo dan Yang Chon mulai makan. Ayahnya makan sambil menonton televisi.


Yang Chon lalu melihat bungkus koyo dan tampak kesal. Ia lalu melarang ayahnya pergi ke rumah sakit. Ayahnya masih tetap menonton TV.


Yang Chon: “Kaki ayah sakit, bukan?”
Ayah: “Tidak. Aku baik-baik saja.”
Yang Chon: “Lalu kenapa ayah memakai koyo di seluruh tubuhmu? Kenapa kau harus berjalan lima sampai enam jam pulang pergi rumah sakit setiap hari? Itu buruk untuk kakimu. Naiklah taksi atau bus jika ayah ingin pergi ke rumah sakit hari ini. Mengerti? Mengerti?!”


Karena ayahnya tidak menjawab dan terus saja menonton televisi, Yang Chon kemudian mematikan televisinya dan berkata dengan keras, “Jangan pergi ke rumah sakit hari ini, mengerti?! Jika ayah tidak bisa berjalan karena lututmu bermasalah, maka Jang Mi dan aku harus menderita karena mengurus ayah!” Ayah meletakkan sendoknya. “Sejak kapan ayah menjadi sangat baik pada ibu? Apa ayah tahu kenapa aku menjadi Polisi? Untuk menangkap oran seperti ayah yang suka memukul orang lain.”


Ayahnya masih tidak merespon, lalu memakai kaos kakinya. Sang Soo merasa canggung, tapi ia tidak berkomentar. “Ayah dulu suka memukul ibu ketika mabuk, Apa bagusnya bebruat baik pada ibu sekarang, ketika ibu akan segera mati?!” kata Yang Chon.


“Apa gunanya membeli ikan hairtail ini?!” kata Yang Chon sambil mengangkat piringnya, bertepatan dengan Sang Soo yang akan menyumpit ikannya. Sang Soo tidak jadi makan ikan.


Ayah yang agak kesulitan berdiri lalu mengambil jaketnya. Yang Chon masih mengeluarkan keluh kesanya, “Sudah kubilang jangan beli peternakan itu, tapi kenapa ayah membelinya? Jika ayah tidak membelinya, ibu tidak akan pingsan saat sedang menyiangi rumput liar di bawah sinar matahari!”


“Pria macam apa yang bicara begitu banyak di depan meja makan?!” kata ayah dan membanting meja makannya. Sang Soo benar-benar tidak jadi makan ikan. Ayah lalu pergi.


Sang Soo membalik meja makannya da merapikan piring-piringnya. Yang Chon hanya terdiam.
Advertisement


EmoticonEmoticon