4/23/2018

SINOPSIS Live Episode 11 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Live Episode 11 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Live Episode 11 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Live Episode 11 Part 3

Man Yong menatap Sam Bo. Pengacara mengatakan bahwa yang dilakukan Man Yong adalah tindakan seorang anak yang belum dewasa. “Dia bukan anak biasa. Dia mempekerjakan anak di bawah umur untuk menyerang Polisi. Dia punya motor yang tidak terdaftar dan memimpin organisasi pencurian,” kata Sam Bo.


“Dia ini tersangka. Aku akan pastikan dia menebus kejahatannya. Saat lukaku nanti tidak lagi terlihat, aku mungkin menyesal tidak mengabaikan masalah ini sebagai perbuatan remaja yang tidak mengerti. Namun, pertimbangan itu belum ingin kulakukan. Aku dan rekanku akan membuat surat permohonan agar Man Yong dihukum,” lanjut Sam Bo.


Ketua Yu mengajak mereka bertemu di pengadilan dan mengatakan bahwa dipukuli oleh remaja bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan. “Ayah Man Yong, kumohon pada Anda, Demi Man Yong, berjanjilah dan berjuanglah sampai akhir melawan Poliis,” kata Sam Bo.


“Saat Man Yong ketahuan merokok, dia memohon agar tidak memberitahu ayahnya. Dia pasti putus asa, tapi aku tidak mendengarkannya. Ayahnya memukulnya saat dia berbuat kesalahan dan dia bertemu Polisi yang mengabaikan permintaannya. Dia mungkin membenci orang dewasa. Namun, aku akan mengerahkan segenap kekuatanku agar dia dihukum sepantasnya.”


Man Yong menangis. Sam Bo melanjutkan perkataannya, “Dia perlu belajar, bahwa setiap perbuatan pasti ada akibatnya. Namun, aku ingin Anda, ayah Man Yong, untuk memikirkan masa depannya dan memohon agar dia mendapat hukuman yang lebih ringan.”


Sam Bo juga mengatakan bahwa ketika Polisi dan orang lain tidak peduli pada Man Yong, ia berharap Man Yong memiliki ayah yang selalu mendukungnya. Ia lalu pergi.


Han Sol mempersilakan Man Yong pulang dan datang lagi besok. “Ayo,” ajak Ketua Yu sambil memukul lengan Man Yong, tapi Man Yong diam saja dan masih menangis. Pengacaranya lalu membantu Man Yong berdiri dan membawanya pergi.


Han Sol bilang itu sebuah adalah kesalahan orang dewasa. “Pulanglah, Hyungnim. Kau kelihatan pucat,” kata Kyung Mo lalu meninggalkan ruang rapat lebih dulu.


Setelah Kyung Mo pergi, Han Sol kembali terlihat menahan sakit yang sejak tadi ia rasakan.


Sam Bo bertanya kenapa Hye Ro repot-repot mengantarnya pulang. “Ingin saja. Aku tidak bisa tidur,” kata Hye Ri lalu memainkan ponselnya. Sam Bo bertanya kenapa Hye Ri menghubunginya.


Hye RI menunjukkan ponselnya dan menunjukkan nama kontak Sam Bo yang ia tulis ‘Mentor Pertamaku’, padahal sebelumnya ia menulisnya sebagai ‘Mentor Tua’. “Maaf, karena kau punya mentor tua sepertiku,” kata Sam Bo.


“Benar juga,” kata Hye Ri lalu menggenggam tangan Sam Bo yang langsung melepaskannya. “Anda seperti ayahku. Kita boleh bergandengan tangan,” rajuk Hye Ri.


Hye Ri malah menggandengan tangan Sam Bo dan meletakkan kepalanya di bahu Sam Bo. “Anda benar-benar seperti ayah bagiku,” kata Hye Ri. Sam Bo lalu minta diantarkan Sujeong-dong. “Kenapa kesana?”


Sam Bo: “Aku akan mengantarmu pulang.”
Hye Ri: ”Mentor, kapan Anda pensiun?”
Sam Bo: “Sepertinya tinggal 32 hari lagi.”


Jang Mi sedang minum anggur sendirian. Tidak lama kemudian Yang Chon datang dan langsung masuk ke kamar Dae Gwan.


Yang Chon mengeluhkan Dae Gwan yang selalu tertidur saat belajar. Ia kemudian menggendong Dae Gwan dari meja ke kasurnya.


Yang Chon ingin mematikan laptop Dae Gwan, tapi malah terkejut sendiri. “Ah, kaget aku!” Ia langsung menutup laptopnya. “Anak ini menonton film porno? Aiyoo.. Aiyoo.. Kaget sekali aku.” Yang Chon marah, tapi ia hanya memukul pant*t Dae Gwan saja, lalu keluar. 


Yang Chon lalu akan masuk ke kamar Song Yi. “Jangan bangunkan dia. Nanti dia kesal,” pesan Jang Mi.


Yang Chon melihat luka di tangan Song Yi, lalu langsung keluar lagi.


Yang Chon bertanya pada Jang Mi tentang luka di tangan Song Yi. “Dia bilang tangannya tergores ketika bertengkar dengan pacarnya,” kata Jang Mi. Yang Chon menanyakan alasan pertengkarannya. “Mana aku tahu. Dia bilang tidak apa-apa dan aku tidak perlu khawatir. Dia bilang itu urusannya.”


Yang Chon: “Yeobu.. Noona.. Kenapa kau sedih?”
Jang Mi: “Entahlah. Aku merasa sedih malam ini.”
Yang Chon: “Mau kunyanyikan sesuatu? Biasanya kau tidur nyenyak, jika aku menyanyi.”
Jang Mi: “Boleh.”


Yang Chon bernyanyi. “Oh Yang Chon, ibumu. Biarkanlah dia mati terhormat,” kata Jang Mi. Yang Chon mulai bernyanyi lagi, lalu berbaring di lantai. “Ayahmu benar. Tak ada yang bisa kita lakukan untuk ibumu. Demi ketenangan kita, dia pakai alat bantu pernapasan dan berbaring di ranjang.” Yang Chon tetap bernyanyi. “Kau tidak kasihan pada ibumu? Dokter juga menyarankan begitu. Dia tidak bisa bernapas, jadi kita harus merelakannya.”


Yang Chon masih bernyanyi. Jang Mi menuangkan anggurnya lagi dan berkata, “Pertimbangkanlah itu.” Jang Mi kemudian menyimpan gelasnya.


Jang Mi berbaring di sebelah Yang Chon yang masih saja bernyanyi. “Anak-anak perempuan terus diperkosa di pegunungan itu. Tapi, tersangka tidak meninggalkan jejak. Aku sedih. Aku pastiakan menua. Dulu aku bertekad menangkap tersangka setiap kali aku dihadapkan dengan kasus seperti ini. Tapi belakangan ini, aku jadi tidak semangat. Haruskah aku mengundurkan diri jadi Polisi? Kau punya penghasilan, jadi haruskah aku menjadi ibu rumah tangga saja?” cerita Jang Mi dengan mata terpejam.


Yang Chon mencium kening Jang Mi dan bernyanyi lagi hingga Jang Mi tertidur lelap.


Keesokan paginya, Yang Chon bangun lebih dulu dan menyiapkan sarapan dan meninggalkan pesan. “Yeobu, aku akan mempertimbangkan saranmu soal ibu. Kau harus sarapan.”


Yang Chon melihat ayahnya sedang bekerja di ladang. Ia tampak sangat sedih.


Sang Soo mengatakan bahwa memang ada ibu tunggal yang bisa membesarkan anaknya seperti Ibu Jung Oh, tapi ia setuju dengan Myung Ho bahwa Seul Gi mungkin akan lebih baik jika tinggal di panti. Jung Oh tidak terima. Sang Soo bilang akan lebih baik jika ibu kandung Seul Gidatang ke panti setiap minggu, daripada ibu kandungnya menceraikan suaminya karena hidupnya akan menjadi sangat berat.


Sang Soo bilang dulu dia jarang dirawat oleh ibunya dan dia tidak tahu akan jadi apa sekarang jika bukan karena kakaknya. Ia juga bilang kalau ibunya dulu pecandu alkohol, dan dia berharap masuk panti agar bisa makan tiga kali sehari. Ibu keluar dari kamar mandi.


“Jung Oh, Sang Soo, kenapa kalian terlihat sangat serius?” tanya ibu, tapi tidak ada yang menjawab. “Kalian pacaran?”


“Tentu, sebentar lagi,” kata Sang Soo percaya diri. Ibunya memukul Sang Soo dan Hye Ri hanya tersenyum geli. Sang Soo lalu membukakan ginseng merah untuk ibunya dan mengeringkan rambutnya. “Ibu dengar percakapan kami?” Ibu bertanya percakapan apa itu. “Ganti bajulah. Setelah itu, kita makan.”


Ibu lalu membuka ginsneg merah lagi dan memberikannya pada Sang Soo. “Jung Oh.. pacaranlah dengan Sang Soo. Aku juga ingin punya menantu sepertimu,” pinta ibu tapi Jung Oh tidak menjawab. “Dasar sombong.”


Hye RI: “Ahjumma, kalau aku?”
Ibu: “Berhenti makan dengan jarimu! Jorok, tahu!”
Hye Ri: “Hahaha..”


Setelah ibu masuk ke kamarnya, Hye Ri bersyukur ibu tidak mendengar perkataan Sang Soo yang dulu ingin tinggal di panti asuhan karena pasti ibunya akan sangat sedih. Hye Ri juga bilang bahwa pendapat Sang Soo dan Myung Ho tentang Seul Gi ada benarnya. Ia meminta Jung Oh untuk mengirimkan informasi panti asuhan pada ibu Seul Gi.


Jung Oh hanya menyiapkan 3 mangkok nasi. Ia bilang ia akan menelepon Myung Ho untuk meminta maaf dan juga akan mengirimkan informasi panti asuhan pada ibu Seul Gi. 


Hye Ri bilang Sang Soo malah sudah membantu saingannya, karena setuju dengan pendapat  Myung Ho. Ia bilang Sang Soo harusnya setuju dengan Jung Oh dan membuat Jung Oh dan Myung Ho saling berdebat. “Aku tidak bisa berbohong,” kata Sang Soo. Hye Ri bilang Sang Soo akan melajang selamanya, jika Jung Oh dan Myung Ho semakin dekat.


Advertisement


EmoticonEmoticon