3/01/2018

SINOPSIS Radio Romance Episode 10 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Radio Romance Episode 10 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Radio Romance Episode 10 Part 1

Pak Kim tidak mengangkat telepon dari Tae Ri, karena ternyata dia sedang bersama Lee Gang di suatu cafe. Lee Gang mendengar kalau Pak Kim sudah menjadi manajer Soo Ho sejak Soo Ho kecil dan bertanya sudah berapa lama itu.


Lee Gang: “Apa itu sebelum tahun 2006?”
Pak Kim: “Apa yang ingin kau tahu?”
Lee Gang: “Aku sedang mengecek fakta tentang dirinya.”
Pak Kim: “Ngomong-ngomong, apa kau tahu kalau dia akan mulai syuting drama?”


Lee Gang bilang ia belum mendengar apa-apa dari Soo Ho. “Akan sulit baginya untuk siaran radio. Aku sudah bukan manajernya lagi, jadi aku tidak bisa membantu. Aku khawatir. Bisakah kau membantunya untuk mengurus acara siarannya?” kata Pak Kim. Lee Gang bertanya apakah itu sudah diputuskan.


Soo Ho sendiri sedang bersama DJ Moon dan bertanya bagaimana caranya menjadi DJ yang baik dan ingin mempelajarinya dari DJ Moon. “Bukankah kau kesini untuk bertanya tentang Song Geu Rim?” tanya DJ Moon lalu tertawa. “Bagiku, kau terlihat seperti sedang mengejarnya karena kau menyukainya. Kau ingin memenangkan hatinya, jadi kau ingin mempelajari tentang radio. Apa aku benar?” Soo tidak menjawab.


DJ Moon lalu mengatakan kalau radio itu kehidupan itu mirip. Ia menyarankan agar mencurahkan segalanya, hingga akhirnya para pendengar juga menunjukkan sesuatu padanya. DJ Moon lalu meminta tolong Soo Ho agar memberikan beberapa lembar naskah dan mengatakan kalau Geu Rim akan jatuh cinta pada Soo Ho karena naskah itu.


Soo Ho: “Apakah wajar bagi seorang penulis menghabiskan waktunya seharian bersama bosnya untuk menulis?”
DJ Moon: “Ya, bisa saja. Istriku juga seorang penulis. Aku melihatnya setiap kali siaran, dan akhirnya kami menikah.”
Soo Ho: “Kau seorang DJ, bukan? Aku juga DJ. Seorang DJ dan seorang penulis?”
DJ Moon: “Haha... ya.. hahaha..”


Soo Ho baru saja keluar dari studio dan bertemu dengan Lee Gang yang bertanya dengan serius padanya. Lee Gang bilang mereka berada di tim yang sama, jadi Soo Ho harus mengatakan yang sebenarnya. “Apa kau akan melanjutkan siaran? Ah, biar kuganti kalimatnya. Apa kau berhenti siaran radio demi drama?” tanya Lee Gang serius.


Soo Ho: “Tidak.”
Lee Gang: “Oke. Seperti yang selalu kita lakukan, kita akan mempercayai kata-katamu.’


Tae Ri kesal karena Pak Kim terus mengabaikan teleponnya. Begitu melihat Pak Kim keluar dari apartemennya, Tae Ri langsung menghampirinya.Tae Ri muncul di depan Pak Kim dan memukul kap mobil Pak Kim.


Pak Kim sangat terkejut melihat Tae Ri ada disana. “Kemapa kau terus mengabaikan teleponku?!” teriak Tae Ri kesal. Pak Kim lalu keluar dari mobil dan bertanya apa yang Tae Ri lakukan disana. “Ini salahmu karena mengabaikanku!” Pak Kim menatap Tae Ri dengan prihatin.


Tae Ri dan Pak Kim lalu pergi ke bar. Tae Ri menceritakan kalau Nyonya Nam tidak memberikan drama itu padanya. “Sudah kubilang jangan membuat keributan! Aku tahu ini akan terjadi! Aku sudah memperingatkanmu. Beberapa foto seperti itu tidak berguna1” kata Pak Kim.


Tae Ri bertanya lalu apa yang harus ia lakukan. Tae RI bilang ia masih ingin berakting dan tetap populer dan tidak bisa melakukan hal lain. Pak Kim bilang kalau dia jua tidak berdaya dan tidak bisa membantunya. Dan walaupun ia bisa membantu, ia juga tidak ingin membiarkan Tae Ri berbuat sejauh itu. “Kau punya rekamannya! Kau punya rekaman Soo Ho bahwa Nyonya Nam bukan ibu kandungnya. Aku tahu kau memilikinya,” kata Tae Ri.


Pak Kim menatap Tae Ri dengan bimbang. Di satu sisi ia memang menyukai Tae Ri, tapi dia juga tidka mau berkhianat pada Soo Ho.


Sementara itu, di rumah Soo Ho terlihat banyak orang yang sedang merapikan barang-barang dan Soo Ho sendiri sibuk dengan ponselnya. “Kenapa dia tidak pernah mendengarkanku? Kenapa dia tidak mengangkat ponselnya?” keluh Soo Ho.


Lee Gang sedang membaca naskah Geu Rim yang kalimat pembukanya membahas tentang scene pertama dalam drama yang sangat penting. Lee Gang bertanya apa yang ingin Geu Rim sampaikan dengan kalimat pembuka itu. “Kita bertemu dan berpisah dengan orang lain. Hidup kita seperti sebuah drama. Itulah kenapa aku rasa itu bagus untuk menjelaskan tentang makna pertemuan daam hidup kita,” jawab Geu Rim.


Lee Gang mengatakan bahwa dia sama sekali tidak mengerti apa yang Geu Rim tulis. “Kau bis? Apa naskah ini mengatakan sesuatu padamu?” tanya Lee Gang. Geu Rim menundukkan kepalanya. “Hey, bagaimana seorang DJ mengatakan kalimat yang tidak dia mengerti? Bagaimana dengan para pendengarnya?” Geu Ri menganggukkan kepalanya. Lee Gang mengembalikan naskah itu dan bertanya, ”Apakah kau tahu kenapa aku mempekerjakanmu?” 
Flashback..


“Ibu, langitnya terlihat sangat menakjubkan sekarang. Biru, biru muda dan putih terlihat lukisan di udara. Inilah kenapa aku merasa nyaman ketika melihat ke langit. Apa yang harus kulakukan? Lebih baik aku menghubungimu, bukan?” kata Geu Rim kepada ibunya melalui ponselnya.


Geu Rim sedang berbaring di kursi taman stasiun radionya. Lee Gang juga asedang melakukan hal yang sama sambil menutup mukanya dengan kertas. Ketika mendengar Geu Rim menggambarkan langit dengan sangat baik, Lee Gang bangkit dan melihat langit yang dimaksud Geu Rim.


Lee Gang mengatakan yang yakin kalau Geu Rim sebenarnya bisa melakukannya. “Lakukanlah dengan cara yang bisa kau lakukan. Kau bicara dan menulis seakan kau sedang melukis. Bagaimana jika kau menulis emosimu dengan cara itu? Dapatkah kau melakukan itu untuk besok?” tanya Lee Gang. Geu Rim menganggukkan kepalanya. “Bagus.”


Dalam perjalanan pulang di bus, Geu Rim tampak murung dna menyandarkan kepalanya di jendela. Ia kemudian mengambil buku catatannya dan menulis sesuatu.


Bukan ide naskah yang ia tulis melainkan, “Kenapa aku memelu Ji Soo Ho?” Ia masih mencari alasan kenapa 12 tahun lalu dia memeluk Soo Ho dan juga setelah siaran di sekolah Dong Goo, serta saat di bukti sebelumnya.


Geu Rim turun dari bus dan berjalan ke arah kantornya. Ia mendapatkan kalimat pembuka untuk naskahnya, “Apa artinya memeluk seseorang?”


“Aku tidak ingin dia bersedih,” ketik Geu Rim di laptopnya. “Aku ingin dia berhenti menangis.” Geu Rim mengingat lagi pelukan yang dia  berikan saat di bukit.


Ia lalu mengecek ponselnya dan melihat ada 15 panggilan tak terjawab dari Soo Ho. Ia lalu menghubunginya balik dan Soo Ho langsung mengangkatnya. “Halo?” sapa Soo Ho. Geu Rim bertanya apakah mereka bisa bertemu sebentar saja. Soo Ho bergegas pergi ke KBC dan menemui Geu Rim di sudut favoritnya. 


Soo Ho: “Kenapa kau selalu ingin bertemu disini?”
Geu Rim: “Tidak ada yang datang kesini pada jam ini. Ada yang ingin kukatakan padamu dan aku tidak punya tempat lain.”
Soo Ho: “Kau bisa datang ke tempatku.”


Geu Rim: “Kau selalu ingin aku datang kesana. Ini tidak seperti kita sedang berkencan, tapi ini selalu tempatmu atau tempatku. Kenapa kita selalu pergi ke rumah satu sama lain?”
Soo Ho: “Kita bisa berkencan saja. Pergilah denganku. Berkencanlah denganku.”


Soo Ho mendekati Geu Rim dan berkata, “Aku menyukaimu.” Geu Rim mengomel sendiri. “Apa aku mendapat perhatianmu sekarang?” Geu Rim mengiyakan. “Jadi, apa aku mengganggumu?”


Geu Rim: “Tidak, bukan berarti aku tidak menyukaimu.”
Soo Ho: “Jadi kau menyukaiku?”
Geu Rim: “Hm.. itu agak...”
Soo Ho: “Jadi maksudmu kau menyukaiku atau tidak menyukaiku?”


“Aku tidak tidak menyukaimu,” kata Geu Rim sambil tersipu. Soo Ho tersenyum bahagia, lalu mengajak Geu Rim pergi dan menggandeng tangannya.


Dan ternyata Soo Ho mengajak Geu Rim ke rumahnya dan makan ramen. Soo Ho merasa malu. Tapi kemudian Geu Rim berkata kalau rasanya sangat enak. Soo Ho lalu beralasan kalau banyak kamera yang mengikuti seorang bintang seperti dirinya.


Geu Rim bertanya apakah selama ini Soo Ho hanya berkencan di rumah dan di mobil saja. Soo Ho sampai tersedak mendengar pertanyaan itu. Soo Ho bertanya apa maksudnya. “Astaga, berapa umurmu?Apa salahnya pergi berkencan?” tanya Geu Rim. “Sebelum Tae Ri, apakah model? Atau penyiar?”


“Kau adalah satu-satunya,” kata Soo Ho yang membuat Geu Rim tersipu dan canggung. “Ayo makan.” Dengan gugup, Geu Rim menganggukkan kepalanya. Geu Rim sesekali mencuri pandang ke arah Geu Rim dan tersenyum. “Aku bilang makanah,” kata Soo Ho.


Sementara itu, Nyonya Nam membaca laporan dari Jason tentang Soo Ho, namun tidak disebutkan apa-apa tentang Geu Rim disana. “Aku berencana melakukannya sekarnag. Seperti yang kau tahu, waktu adalah kuncinya,” kata Jason. Nyonya Nam meletakkan sebuah amplop di atas meja disebelah laporan yang Jason buat dan bertanya apakah Soo Ho menyebutkan sesuatu tentang drama.


Jason mengambil amplop itu dan berkata, “Tidak sama sekali.” Ia memasukkan amplop itu di saku jaketnya. “Jika dia tahu kau memproses drama itu, dia akan menentangnya dan dia akan menjukkan banyak emosi berbeda. Aku sedang memperhatikan itu. Aku masih mengamatinya.”


Tiba-tiba Tuan Ji memaksa masuk dan bertanya apa yang sudah Nyonya Nam lakukan, karena Da Seul sedang mengancamnya sekarang. Nyonya Nam mengingatkan agar Tuan Ji tidak lepas kontrol dan meminta untuk membicarakannya nanti. Jason memperhatikan Nyonya Nam.


Tuan Ji: “Jika kau membuat masalah seperti itu, bagaimana aku mengatasinya?!”
Nyonya Nam: “Aku membuat masalah? Karena masalah yang kau timbulkan, kita... hah..”
Jason: “Aku pergi dulu.”
Tuan Ji: “Sial.”


Di luar ruangan CEO, Jason mendengar Nyonya Nam meminta agar Tuan Ji berhenti menyakitinya. “Kau sudah menyakitiku dengan Soo Ho. Sudah cukup!” Jason menarik napas panjang, lalu berjalan pergi.


Geu Rim berjalan-jalan melihat barang-barang baru di rumah Soo Ho. Ia bilang Soo Ho banyak perubahan dan itu menakutkan. Soo Ho lalu memberikan naskah yang sebelumnya dititipkan oleh DJ Moon. Melihat Soo Ho menengadahkan tangannya, Geu Rim bertanya, “Apa kau ingin kue?”


Soo Ho bertanya kapan Geu Rim akan menyelesaikan naskahnya. Geu Rim bilang itulah alasannya meminta bertemu dengan Soo Ho. Ia juga berkata kalau Lee Gang memintanya menulis sesuatu yang benar-benar dia rasakan.


“Tapi yang bisa kupikrikan sepanjang hari hanya dirimu,” kata Geu Rim yang membuat Soo Ho tersenyum senang. “Aku tidak menyadari, tapi ketika aku masuk ke rumahmu, aku harus membuka 4 pintu. Dan ibumu, Ceo Nam, sangat menyeramkan. Dan bagiku, kau adalah orang paling menyebalkan di bumi. Jadi kenapa aku memelukmu? Bukan hanya seklai, tapi dua kali. Kenapa aku melakukannya? Jadi aku aku memutuskan untuk bertemu denganmu dan mencari tahu apa yang kurasakan, lalu menulis lagi. Itulah kenapa aku datang, tapi...”


“Tapi jadinya kau berkencan denganku,”kata Soo Ho. “Aku rasa kau menyukaiku. Tulislah dengan jujur apa yang kau rasakan. Aku akan membacanya. Dan juga setelah acara siaran besok, berkencanlah lagi denganku.”


Geu Rim hanya tersenyum dan tidak menjawab.


Keesokan harinya di KBC, terlihat Manajer Kang yang sedang bicara di telepon dengan atasannya. “Ya, Pak. Tapi, Soo Ho belum mengatakannya,dan timnya juga belum tahu. Ya, ya, tentu saja. Kondisi  JH bagus. Tapi aku rasa menyingkirkan tim hanya karena Ji Soo Ho keluar itu berlebihan. Ya, ya, baik. Aku akan memanggil produser acaranya dan mengkonfirmasinya. Ya, baiklah.” Manajer Kang bingung dan bergumam bahwa dia tidak pernah merasa damai sekalipun.


Geu Rim datang dengan penampilan berbeda. “Song Geu Rim,” panggil Drought. Geu Rim menoleh. “Hey, Song Geu Rim.. Ada apa? Aku butuh penjelasan. Apa kauakan kencan buta?” Geu Rim hanya tersenyum.


Drought: “Kau bertemu dengan seseorang, bukan?”
Geu Rim: “Hm.. apa sejelas itu? Apa terlihat kalau aku berdandan?”
Drought: “Ini sangat jelas. Geu Rim memakai rok? Ayolah..”
Geu Rim: “Bagaimana ini?”
Drought: “Siapa dia? Kau memakai rok dan lipstick hanya ketika kau berkencan.”


Geu Rim tersenyum dan berkata, “Kau tidak boleh bilang pada siapapun? Janji?” Geu Rim ingin membisikkan sesuatu pada Drought, tapi Lee Gang datang dan mendekatkan telinganya juga. Drought menjerit kaget, begitu juga dengan Lee Gang.


Lee Gang lalu berkata pada Geu Rim kalau dia menyukai naskahnya, lalu pergi. Drought bertanya, “Bukan dia orangnya, kan?” Geu Rim menyebut Drought sudah gila. “Haha, maaf, aku tidak gila. Jadi siapa orangnya? Siapa?” tanya Drought sambil menggandeng tangan Geu Rim dan mengajaknya pergi.


Di toilet, Geu Rim memoles lipsticknya lagi. Dia mengingat ajakan kencan Soo Ho setelah selesai siaran nanti. Dia tersenyum.


Geu Rim akan masuk ke ruangannya. Lee Gang membuka pintu lebih dulu dari dalam. Lee Gang sempat melihat Geu Rim dari bawah sampai atas tapi tidak berkomentar tentang itu. “Ikut aku,” ajak Lee Gang.


Advertisement


EmoticonEmoticon