3/29/2018

SINOPSIS My Mister Episode 1 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 1 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 1 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 1 Part 4

Yeon-hee dan Joon-young, menghabiskan waktu mereka untuk berkencan di pesisir pantai. Seakan lupa, akan statusnya.. mereka sangat mesra, bak pasangan remaja yg dimabuk asmara.. 


“Cepatlah menua. Karena aku juga akan begitu. Aku yakin saat kita sudah tua, kita tidak peduli apa kata orang. Mari kita berdua menjadi sesukses mungkin. Dan kemudian mari kita melikuidasi semuanya, dan tinggal di pedesaan...”

“Kamu pasti tidak akan ikut denganku jika aku memintamu ikut denganku sekarang. Kamu sendiri bagaimana?”

“Aku juga tidak akan pergi. Aku masih muda sekarang. Tak pernah kusangka aku menganggap diriku masih muda padahal sudah 40 tahun. Ketika aku melihat ahjumma saat umur 20-an, aku bertanya-tanya apa mereka masih jatuh cinta, dengan wajah tua begitu”


Kakak-beradik Park berkumpul dirumah, mereka berbincang sambil makan siang. Sang-hoon mengeluhkan kehidupannya di masa pensiun, yg sangatkah menyedihkan... bahkan, di pernikahan putrinya, hanya ada sua orang rekan kerja yg datang.


“Pasti nanti mereka juga bakal datang ke pemakaman Ibu!” tukas Gi-hoon


Bersamaan dengan itu, Ibu keluar dari kamar. Mendengar perkataan tersebut, membuatnya berkata: “Kalau sudah tahu tanggalnya, kasih tahu Ibu.. biar Ibu tidak cukup semangat menjalani hari yang sudah dekat kematianku...”


Kemudian, ibu memarahi Dong-hoon, menyuruhnya untuk tidak bergaul dengan kedua saudaranya yg sangat menyedihkan itu, “Jangan bergaul sama mereka berdua! Mereka itu pengaruh buruk buatmu. Dan ketahuilah bahwa hari dimana kau memutuskan tinggal bersama Ibu juga, adalah hari dimana ibumu akan mati!”


Disaat ibu mereka, tengah berada diluar.. Sang-hoon berpesan pada Dong-hoon: “Kau harus mempertahankan pekerjaanmu apapun yang terjadi. Setidaknya, sampai Ibu meninggal. Ibu kita yang malang. Dia harus menerima setidaknya satu karangan bunga yang bagus... karena ketika kau dipecat, maka hidupmu akan berakhir sepertiku..”


Pulang ke rumahnya, Dong-hoon langsung minum soju sendirian. Padahal Yoon-hee ada disana juga dan menawarinya makanan cemilan, tapi Dong-hoon bersikap acuh. Hubungan mereka, memang terlihat sangat dingin...


Di lapangan, udara sangat dingin.. akan tetapi Tim Dong-hoon harus memeriksa kontruksi bangunan yg sangat tinggi. Sialnya lagi.. drone yg biasa mereka gunakan, tidak bisa berfungsi karena cuaca,

Alhasil, Dong-hoon mesti memanjat naik secara manual. Sungguh, sebuah pekerjaan yg sangat berbahaya, bahkan hampir membuatnya kecelakaan karena terpleset.


Tapi syukurlah.. karena yg terjatuh, cuman peralatannya saja, sementara tubuhnya masih aman----


Kembali ke kantor, Dong-hoon sempat terdiam ketika melewati ruang kerjanya dulu. Belum dijelaskan dengan pasti, namun sepertinya.. dia dipindihtugaskan, bukan atas kehendaknya..


Saat menyeduh kopi di pantry, Dong-hoon melihat Ji-an yg sedang sibuk membereskan berkas. Dia pun membuka obrolan dengan bertanya: “Bukankah terlalu kejam membunuh seekor tawon? Apa hal yang paling parah yang pernah kau bunuh?”


“Manusia” jawab Ji-an dengan datarnya

“Hah? Manusia? Baiklah.. Maaf karena aku sudah berbasa-basi...” tutur dong-hoon yg kemudian berjalan pergi


Direktur Yoon berbicara dengan Joon-young. Mereka mendiskusikan strateginya untuk menghadapi pemilihan CEO yg akan berlangsung, kurang dari dua bulang kedepan. Semua petinggi, terutama Direntur Park dari kubu lawan, kelihatannya telah memiliki rencananya tersendiri.. dan jika tak ingin tersingkir, mereka pun mesti menyusun strategi...

Dengan cara yg ‘licik’, sepertinya mereka akan berusaha untuk menyingkirkan Direktur Park dari perusahaan ini.


Ibu menemui Dong-hoon.. untuk meminta izin, menggadaikan rumah yg dibelikan untuknya. Ibu bilang, dia butuh uang untuk diberikan pada Sang-hoon, yg hidupnya terlihat sangat melarat, “Ibu cuma mau meminjam 50 juta won saja ke pegadaian...”

“Rumah itu cuma 13 juta saat aku membelinya, jadi siapa yang mau meminjamkan 50 juta buat rumah itu?”

“Jadi, tidak mungkin ibu mendapatkan uang sebanyak itu?”

“Ibu 'kan butuh rumah. Biarkan saja...”

“Benar, tapi... anak Ibu menderita. Dia harus pergi jauh-jauh ke Yeoungjong-do kalau mau bekerja di pabrik limbah..”


Direktur Yoon, memaparkan sebuah projek yg agak bermasalah, kemudian bertanya tim mana yg sekiranya siap untuk meng-handle projek tersebut. 

Ketiga tim, sama-sama punya kesibukan yg luar biasa. Namun Tim 3, yg dipimpin oleh Dong-hoon.. setidaknya memiliki beban kerja yg lebih sedikit dari yg lainnya. Maka Direktur Yoon lansgung menunjuk tim tersebut,


Dong-hoon membela diri dengan menjelaskan: “15 kasus yang kami kerjakan cukup sulit. Kami memeriksa gedung 57 lantai,  pusat perbelanjaan besar, dan...”

Belum mendengar penjelasannya hingga akhir, Direktur Yoon tetap memutuskan bahwa Projek ini, akan dikerjakan oleh tim 3, TITIK!


Di supermartket, Dong-hoon bertemu dengan Ji-an yg tengah membayar belajaannya di kasir. Dia hanya membeli popok dewasa dan sebungkus tomat.. namun karena uangnya tak cukup, maka dia mengembalikan tomatnya dan hanya membeli popok saja..


Setelah Ji-an pergi, Dong-hoon bur-buru mengambil tomat itu, kemudian membayarnya. Dia pun berusaha untuk mengejar Ji-an, namun dia kehilangan jejaknya..


Sesampainya di depan rumah, Ji-an melihat Gwang-il yg mencoba untuk merengsak masuk ke rumahnya. Kali ini, Ji-an tak mengizinkannya dan dia lansgung menariknya dengan sekuat tenaga, sambil berkata: “Aku tidak suka kalau ada orang masuk ke ruang privasiku!”

“Bukannya aku sudah bilang... aku hanya akan melakukan hal-hal yang tak kau suka!” tukas Gwang-il yg kemudian menghajar Ji-an secara membabi buta.


Setelah Ji-an terduduk tak berdaya, Gwang-il berkata: “Hidupmu sudah hancur, jalang. Kau tidak akan pernah bisa  mengganti uangku. Dan kau hanya akan bisa membayar bunganya, selagi aku memburumu sampai akhirnya kau mati. Maka mohonlah agar aku membunuhmu. Dan lihatlah apakah aku akan membunuhmu...”


Mendengarnya, Ji-an malah tertawa dan berkata: “Kau menyukaiku, bukan? Kau memanfaatkan hutangku sebagai alasan buat mengikutiku dan kau berbohong soal ingin balas dendam, bukan?”


Perkataan Ji-an, makin membuat Gwang-il semakin emosi. Dia kemudian mendendang tubuh mungil Ji-an sambil berkata: “Kau punya nyali juga rupanya. Kau memintaku untuk membunuhmu, bukan?”


Dalam kondisi badannya yg ringkih dan babak belur, Ji-an masuk kedalam kamarnya.. namun tanpa mengatakan, atau bahkan mengeluhan apa pun.. dia tetap membantu nenek Bong-ae ke toilet serta menggantikan popoknya.


Setelah itu, dia melakukan rutinitas biasanya.. yakni minum kopi intanst, di pojokokan kamar yg gelap~~
Advertisement


EmoticonEmoticon