3/25/2018

SINOPSIS Mother Episode 16 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 16 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 16 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 16 Part 4

Pulang dari sekolah, Hye-na diperkenalkan dengan sepasang suami-istri yg akan menjadi orang tua barunya. Ibu panti, memberitahunya bahwa malam ini, Hye-na akan menginap di tempat mereka..


Tetapi Hye-na kelihatannya tak bahagia.. wajahnya datar, tak ada sedikit pun senyuman di bibirnya~


Diam-diam, Soo-jin memerhatikannya dari kejauhan. Dia tak sempat berbincang dengan Hye-na, karena Hye-na pergi dengan menaiki mobil.. 


Alhasil, Soo-jin hanya bisa bertemu dan berbincang dengan ibu panti, yg  sepertinya begitu tiidak suka akan kedatangannya,

“Maaf sebelumnya, tapi saya hanya ingin bertemu dengan Hye-na, sekali saja...”

“Kenapa? Apa hakmu menemuinya?!”

“Saya hanya ingin menanyakan kabarnya...”

“Dia baik-baik saja!”


“Maaf, tapi... mereka tadi siapa?”

“Hye Na akan diadopsi. Mereka sangat baik... dan bilang mereka ingin menjadi orang tua Hye Na”

“Kenapa Anda menyerahkan Hye Na untuk diadopsi?”

“Ada enam anak di rumah kami. Setiap anak yang datang punya masa lalu yang sedih. Tapi semua anak itu seperti anak kecil. Mereka tersenyum, mereka bermain... mendapat masalah, maupun dimarahi. Tapi Hye Na terlalu baik. Dia pendiam, dan tidak menimbulkan masalah. Dia mandiri. Dia bahkan memotong kuku adiknya. Jadi setiap kali aku menatapnya, aku jadi sangat kesal. Aku ingin menyerahkan dia ke keluarga yang akan menyayangi dia. Sangat sulit bagiku mencarikan orang tua baru untuknya. Orang-orang itu lebih siap membesarkan anak itu daripada kau. Jadi jangan khawatirkan dia lagi... dan uruslah urusanmu sendiri. Kalau kau datang ke sini lagi, akan kulaporkan kau ke polisi...”


Mendengar penjelasan itu, tentunya membuat Soo-jin bersedih. Namun apalah daya, karena dia tak bisa berbuat apa pun untum mentangnya~


Calon orang tua baru Hye-na, sangatlah baik dan juga mapan. Mereka mengajak Hye-na, makan malam di restoran mewah.. dan membelikan makanan favorit Hye-na, yaitu pizza. 
Tapi.. meski demikian, Hye-na tetap menunjukkan wajah yg murung. Dia tak mau tersenyum atau bahkan mengatakan sepatah kata pun..


Ketika sendiiran, Hye-na melihat foto Soo-jin. Dalam benaknya, dia berkata: “Tersenyumlah, Ibu! Suatu hari... kita pasti bisa bertemu lagi...”


Soo-jin menceritakan kondisi Hye-na pada kedua adiknya, yg langsung sepakat mengomentari bahwa hal itu tidaklah tepat. 

“Aku tidak yakin, apa anak sensitif seperti Yoon Bok...  bisa menghadapi banyak ibu yang berbeda. Bagaimana jika aku mengadopsi dia, dan kakak yg membesarkannya?” ujar Yi-jin

“Kurasa, masalahnya tak sesederhana itu. Nanti suamimu bagaimana...” tutur Soo-jin, yg kemudian mengungkapkan bahwa diirnya punya niatan untuk mengadopsis Hye-na.

“Kakak bahkan tidak diizinkan untuk mendekati dia... jadi mana mungkin?” tukas Hyun-jin


“Masa percobaanku sudah berakhir sekarang. Jadi pastilah mungkin. Aku harus mengadopsinya melalui proses adopsi umum... tapi yang terpenting adalah persetujuan dari wali sebelumnya. Jadi, dalam kasus Yoon Bok... karena ibunya kandungnya, tidak memiliki hak asuh... aku membutuhkan persetujuan dari ibu pantinya..” papar Soo-jin

“Apa syarat lainnya?” tanya Yi-jin

“Punya pekerjaan tetap. Finansial, dan status sosial yang bagus. Serta alasan untuk mengadopsinya...” jawab Soo-jin

“Kurasa kami bisa membantumu. Tapi, Bagaimana dengan riwayat kriminalmu?” tanya Hyun-jin

“Itu... yang bakal jadi masalahnya..” jawab Soo-jin


“Kita coba saja! Aku akan mencoba menulis artikel. Meski pengadilan tidak menerimanya... aku akan menulis artikel yang menjelaskan situasimu, lalu diterbitkan di internet!” ujar Hyun-jin

“Kamu mengorbankan segalanya demi Yoon Bok. Jika ada yang mengadopsi Yoon Bok... kamulah orang yang paling berhak mengadopsinya!” tegas Yi-jin


Berpindah ke panti.. Hye-na baru pulang, diantar oleh calon orangtuanya. Tapi tanpa alasan yg jelas, tiba-tiba Hye-na muntah..


Soo-jin berbicara dengan ibunya, untuk menjelaskan rencananya yg ingin mengadopsi Hye-na..

“Kamu takut?”

“Iya..”

“Walaupun begitu... kamu tetap akan melakukannya, bukan?”


“Selama dua tahun terakhir... Aku bertanya pada diriku sendiri. Jika aku bisa kembali ke saat itu... dan bertemu Yoon Bok lagi... apa kiranya yang akan kulakukan? Apakah aku akan meraih tangan anak itu dan melarikan diri lagi? Aku tidak pernah berkata tidak, sekali pun. Tapi... kali ini... aku ingin ini semuanya berjalan lancar. Aku ingin, kali ini semuanya berhasil...” ungkap Soo-jin


Di malam hari, diam-diam Hye-na pergi keluar untuk mengubur barang kenangannya bersama dengan Soo-jin.


Kemudian, Hye-na kembali ke panti.. dan lansgung pergi ke dapur untuk mengambil makanan dari kulkas. Ibu panti melihatnya, “Hye-na, kalau kamu lapar.. harusnya kamu bilang sama ibu..”


Ternyata, siang tadi.. mereka pergi ke dokter untuk memeriksakan kondisi Hye-na. Kepada ibu panti, Dokter menjelaskan: “Anak-anak yang tidak diterima oleh orang tua mereka.. terkadang menderita anoreksia. Mereka harus makan jika ingin bertahan.. tapi karena Hye-na tidak mau makan, dan terus muntah..., dia membahayakan dirinya sendiri untuk menolak orang tuanya...”


Ibu panti, sangat menyangi Hye-na. Tapi dia beingung.. dan tak tahu, bagaimana caranya untuk membuat Hye-na bisa bahagia..


Soo-jin berbicara dengan penagacara, dia bertanya: “Berapa besar kemungkinan aku bisa mendapatkan hak asuh atas Hye-na?”

“Secara statistik, kemungkinannya kecil. Masalah terbesarnya itu karena riwayat kriminal Anda. Kita harus memberi penekanan pada hubungan dekat Anda dengan Hye Na... dan menjelaskan situasinya. Tapi... setelah melihat-lihat berkas mendiang ibu Anda ketika mengadopsi Anda. Rupanya ibu angkat Anda pernah bercerai, dan memiliki... riwayat berkendara di bawah pengaruh alkohol. Kesehatan jiwanya pun tidak stabil. Banyak faktor yang menentang dia. Tapi karena dia yakin..., dia akhirnya berhasil... dan akhirnya dia diizinkan untuk mengadopsi Anda. Jika seperti itu..., keputusan pengadilan masih bisa dipertimbangkan. Dan karena Anda sudah menjadi ibu Hye Na..., aku yakin kita pasti bisa membujuk mereka. Anda tetapa ingin mencobanya, bukan?”


“Surat permintaan maaf. Surat permohonan. Aku juga akan dapat pekerjaan baru. Aku akan berusaha semampuku. Tolong bantu aku...” pinta Soo-jin


Ibu panti menelpon calon ibu angkatnya Hye-na, “Mohon maaf, tapi saya ingin anda mempercepat adopsi Hye Na..”

“Apa ada masalah?”

“Menurutku aku tak bisa memenuhi semua tugasku pada Hye Na sebagai seorang ibu. Jadi, apa Anda bisa membawa anak itu lebih cepat dan merawatnya, bahkan sebelum proses adopsinya selesai?”


Tak lama kemudian, Hye-na dijemput.. dan Soo-jin memerhatikan memon itu dari kejauhan, tanpa sempat berpapasan dengan Hye-na~


Soo-jin mengajak ibu panti, untuk berbicra empat-mata dengannya. tanpa basa-basi, Soo-jin mengungkkapkan niatannya untuk mengadopsi Hye-na.

Namun, ibu panti menolaknya, “Kamu dinyatakan bersalah dalam persidangan... namun sepertinya kamu masih belum merenungkan perbuatanmu. Kang Soo Jin-ssi! Kamu tidak berhak menjadi seorang ibu! Aku tidak mau tahu apa yang kamu alami saat menjalani hidupmu... tapi orang tua harus melindungi anak mereka dari masalah mereka sendiri! Hye Na mengalami kesulitan menjalani hidupnya! Jadi kenapa dia harus mengalami banyak kesulitan lagi karena kau?”


“Aku minta maaf...”


“Cepat berdiri. Anak-anak pada melihat. Hal yang paling penting saat membesarkan anak... adalah keamanan. Jika anak tidak aman... kebahagiaan dan kesuksesan... itu semua tidak ada yang penting”

“Kamu benar. Aku juga merenungkan perbuatanku. Aku akan memastikan tidak ada hal seperti itu..., terjadi lagi, dan aku akan berhati-hati. Sungguh, aku akan sangat berhati-hati.”

“Menurutmu bisa dilakukan? Bagi seorang penculik mengadopsi anak?”

“Jika kau, wali sahnya, izinkanlah aku... mengajukan mengadopsi dia melalui prosedur adopsi normal”

“Hukum negara kita ini sangat kacau balau. Intinya, kau tidak bisa adopsi kalau aku tidak mengizinkannya, bukan?”

“Iya..”


“Kalau begitu, menyerahlah. Demi Hye Na. Aku sangat... ingin melihat Hye Na berada di keluarga normal!”

“Tapi, Bu. Kamu juga seorang ibu. Jadi tolonglah, pertimbangkan lagi. Bisakah dua orang, yang dulunya ibu dan anak... benar-benar terpisah? Bisakah orang yang dulunya seorang ibu... melupakan anaknya?”

“Jika kamu seorang ibu, maka kmau harus melupakannya. Demi anak itu”


“Apa Hye Na... pernah memanggilmu ‘Ibu’? Aku juga anak adopsi. Memanggil ibu angkatku dengan sebuatan ‘Ibu’... adalah hal yg sangat berat. Orang yang membesarkanku... orang yang menunjukkan kasih sayang terhangat... Butuh waktu 30 tahun bagiku agar aku benar-benar bisa memanggilnya ‘Ibu’. Kamu menyayangi Hye Na, bukan? Kau sangat mencemaskannya, bukan? Kamu tahu betul bagaimana anak itu, bukan? Dia tipe anak... yang menganggapku sebagai ibunya... dan tipe anak yang naik kereta api ke Seoul sendirian untuk menemuiku. Aku pasti akan merawat dia baik-baik. Aku akan menjadi ibu yang baik, sehingga aku bisa terus mengemban... tugas berat dan mengerikan menjadi seorang ibu.”


“Pulanglah. Aku ingin memberikan Hye Na ke ibu yang lebih baik darimu..!!!!”

Advertisement


EmoticonEmoticon