3/25/2018

SINOPSIS Mother Episode 16 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 16 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 16 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 16 Part 3

Pada akhirnya, mereka sampai di depan panti tempat Hye-na tinggal. Dengan sangat berat hati Soo-jin harus melepas kepergian Hye-na, tepat di depan matanya. Tentu, hatinya tak rela.. namun, inilah kenyatanaan yg harus mereka jalani. 


Untuk yg terakhir kalinya, Soo-jin memeluk Hye-na dengan sangat erat. Matanya berair.. suaranya bergetar.. tapi dia masih sanggup mengucapkan isi perasaannya yg sangat bersyukur karena telah dipertemukan dengan seorang anak seperti Hye-na, 

“Ibu sangat senang bertemu denganmu. Ibu sangat senang bisa menjadi ibumu. Berkatmu, Ibu akhirnya menjadi seorang ibu... dan Ibu bertemu dengan ibunya ibu,  serta bisa menjadi anaknya sekali lagi. Suatu saat nanti, Kita pasti akan bertemu lagi. Jika kita berjalan lurus, mengikuti bintang-bintang.. pastilah waktu yang kita habiskan bersama akan menjadi pemandu jalan untuk kita..”


Hye-na benar-benar terharu namun dia berusaha keras untuk tidak menangis. Dia berlari meninggalkan Soo-jin, tapi langkahnya terhenti di depan gerbang. 


Dia menoleh, dan menunjukkan senyuman indahnya sambil berteriak: “Oh ya, Ibu! Aku sayang Ibu!!!”

“Ibu juga menyayangimu... Yoon Bok-ku...” jawab Soo-jin

--[ Dua Tahun Kemudian ]--


Yi-jin membeli bangunan bekas pasti tempat Soo-jin tinggal semasa kecil.


Sesuai permintaan mendiang ibunya, dia merawat anak-anak terlantar disana. Hobinya untuk memasak dan mewarat anak kecil, bisa tersalurkan.. dan hal itu membuatnya sangat bahagia,


Hyun-jin telah menerbitkan sebuah buku berjudul ‘Kekerasan pada Anak dan akibatnya’. Secara khusus, dia memberikan buku itu, langsung kepada Jae-bum ahjussi yg kini menjadi koki di sebuah kedai seafood.

“Sekarang kamu menjadi penulis?”

“Lebih tepatnya jurnalis daripada penulis”

“Aku bukan pembaca, jadi tak banyak buku yang sudah kubaca. Tapi aku pasti perlu membaca ini”

“Bukalah halaman pertama”


.... Teruntuk ayahku, Park Jae Bum. Dari Kang Hyun Jin ....


Membacanya, membuat Jae-bum terharu, “Berkatmu, aku sudah jadi ayah dari seorang jurnalis..”


Pulang kerumah, Hyun-jin lansgung menunjukkan bukunya kepada Yi-jin. Nnamun, yg pertama Yi-jin perhatikan, adalahfoto Hyun-jin: “Hei, harusnya kau tata rambutmu dulu sebelum memfotomu. Kau seperti anak yang sakit-sakitan..” komennya

“Aku sibuk. Aku harus menulis buku dan jadi relawan. Jadi freelancer juga sibuk”

“Kau harus cari cara buat bahagia. Kau menyesal tak bekerja di surat kabar lagi?”

“Kurasa gaya hidup ini cocok untukku. Aku bisa santai, dan tidak terburu-buru seperti sebelumnya. Kau tahu aku suka meluangkan waktu dengan banyak hal”


Dalam salah satu bagian, Hyun-jin membahas kasus Yoon-bok dan itu membuat Yi-jin penasaran, “Apa kabar Yoon Bok baik-baik saja?”

“Dia baik-baik saja... tapi ibu di drumahnya, begitu ketat sampai aku tak berhasil wawancara dengannya. Aku sangat penasaran... sampai aku ke sekolahnya dan mengawasinya dari jauh”

“Bagaimana dia?”


Hyun-jin menunjukkan rekaman yg dia ambil, ketika Yoon-bok pulang sekolah: “Bukankah Yoon Bok selalu lompat-lompat saat dia di rumah kita? Melihat dia hanya berjalan sendiri seperti itu... membuat perasaanku tak tenang. Dan dia juga kelihatan murung..”

“Mungkin ada sesuatu yang membuat dia kesal?”

“Kita jangan memberi tahu Unni dulu, ya?”


Soo-jiin sendiri, masih menikmati hidupnya sebagai seroang peneiti burung, Dia bahkan, mengajak anak-anak untuk melihat burung, dari tempat favoritnya..


Soo-jin menerima e-mail dari seniornya, yg mengabari bahwa atasannya sangat menyukai laporan penelitian Soo-jin. Ketika masa percobaannya telah habis, Soo-jin bisa memberitahunya, supaya dibantu mengurus segalanya untuk bisa pindah dan bekerja di Selandia Baru, “Ini kesempatan terakhirmu. Aku tidak akan bisa memberi kesempatan ini lagi....”

Hal itu merupakan berita bahagia, tapi entah kenapa... wajah Soo-jin tak terlihat bahagia, karenanya~


Soo-jin pulang dan telah ada Jin-hong yg sedang potong rambut, padahal belum genap sebulan dia melakukannya...

“Rambutku tumbuh lebih cepat di musim semi. Aku datang ke sini karena rambutku sangat sulit diatur. Penata rambut terbaik di negara ini ada di sini, jadi aku bisa apa?” kilahnya


Soo-jin tersenyum, kemudian bercerita: “Hari ini aku... ada yang mau kusampaikan. Aku akan... pergi ke Islandia! Seniorku sudah meyakinkan Direkturnya dan dia sangat menyukainya. Sekarang, masa percobaanku sudah berakhir... jadi dia akan merekrutku


Berduaan saja, Jin-hong menemani Soo-jin jalan-jalan kecil di pesisir pantai, “Kamu benar-benar ingin pergi???” tanyanya

“Aku akan pergi sangat lama. Ke tempat yang jauh, dan cuacanya dingin.... Aku tak tahu kenapa aku sangat ingin pergi ke sana..”

“Selamat. Karena, kurasa ini akan menjadi... perjalanan yg sangat berarti bagimu..”

“Itu sangat berarti buatku. Terima kasih. Aku sepenuhnya menyadari kalau kesempatan ini tidak diberikan kepadaku... hanya karena prestasiku semata..”


“Saat pertama kali melihatmu... aku merasa seolah telah melihat seekor burung langka terbang di depanku. Aku tidak bisa mendekatinya... atau memegangnya. Aku hanya bisa melihat dari jauh, dengan napas tertahan. Dan kemudian, burung itu mengepakkan sayapnya sekali lagi... dan terbang sangat jauh di depan mataku. Saat itu... membuatku sangat kecewa... Namun, masih terasa menyenangkan untuk dilihat. Kau tahu yang kumaksudkan? Kurasa tak apa bagimu untuk bahagia. Jangan tinggalkan apapun, dan pergi saja. Lakukan yang terbaik... dan berbahagialah”


“Bahagia? Entahlah. Aku merasa seperti itu hanya sekejap saja terjadi. Sesuatu yang cepat membuat momen lain yang... lebih lama lebih tertahankan, tapi... Tapi ada yang lain... yang lebih penting bagiku daripada kebahagiaan”

“Maksudmu Yoon Bok?”


“Bukankah itu aneh? Semua momen menyakitkan... yang kualami dengan anak itu... jauh lebih berharga bagiku... daripada momen bahagia dalam hidupku”


Ketika senja tiba, Soo-jin duduk disamping ibunya.. yg menceritakan perasaannya: “Aku khawatir... kamu tidak akan bisa pergi. Karena seorang ibu tidak bisa meninggalkan anak mereka. Karena, meski kau tidak bisa menahan perasaan itu... perasaanmu selalu fokus kesana. Soo Jin. Lakukanlah segalanya, sesuai dengan kata hatimu”


“Aku harus menemuinya...  setidaknya sekali saja, dengan mataku sendiri... dan menanyakan kabarnya apa dia baik-baik saj? Aku hanya perlu menemuinya sekali saja. Karena kurasa aku tidak akan bisa pergi, dalam kondisi yg seperti ini...”
Advertisement


EmoticonEmoticon