3/25/2018

SINOPSIS Mother Episode 16 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 16 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 15 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 16 Part 2

Di pagi hari, Soo-jin mencari Yoon-bok yg tak tidur disampingnya. Dia mencari, hingga masuk kedalam kamar ibunya.. 


Betapa kaget, sekaligus hancur hatinya.. ketika Soo-jin melihat Yoon-bok yg masih tertidur lelap, disamping ibunya yg kita tahu telah tiada..


Diam-diam, Soo-jin menggendong Hye-na.. kemudian menidurkannya di kamarnya...


Sekarang, seluruh anggota telah berkumpul, dalam kamar Young-shin. semuanya bersedih.. mereka menangis.. terutama Yi-jin, yg paling tak kausa memendam kesedihannya.


Soo-jin menelpon panti, untuk meginformasikan bahwa dirinya tak akan bisa mengantar Hye-na pagi ini, “Saya berencana... mengantar Hye Na kembali ke sana, tapi pagi tadi Ibu saya meninggal. Jadi hari ini agak berat mengantar Hye Na ke sana. Besok lusa akan saya antar dia kesana. Terima kasih atas pengertiannya..”


Tebangun dari tidurnya, Hye-na lansgung berjalan menuju kamar Young-shin. Dari ambang pintu, dia melihat orang-orang yg terdiam dan menangis..

Hye-na tak bertanya apa pun, dia melanjutkan langkahnya, hingga akhirnya berhenti tepat disamping tempat tidur Young-shin.


Sejenak terdiam.. Hye-na memerhatikan wajah neneknya, kemudian menyadari apa yg telah terjadi. Perlahan matanya mulai berkaca-kaca, tapi kemudian dia melepas kalungnya untuk dia kembalikan pada pemiliknya,


Dengan suaranya yg bergetar, Hye-na berkata: “Nenek, Terima kasih atas semuanya. Aku akan mengembalikan kalung keberuntungan Nenek. Karena keberuntungan yang Nenek berikan padaku... aku bisa sampai di sini dengan selamat. Sepertinya... Nenek lebih banyak butuh keberuntungan daripada aku sekarang. Selamat tinggal, Nek...”


Sontak saja, melihat tingkah Hye-na.. berhasil membuat tangis yg lainnya pecah seketika~


Esok harinya, keluarga mengadakan prosesi pemakanannya. Jelas terlihat, raut kesedihan yg teramat mendalam.. tapi mereka sadar, bahwa ini memang sudah ditakdirkan.


Anak-anak, tiba-tiba menaruh surat yg  mereka tulis disamping wadah abu neneknya. Ji-in bertanya, “Itu apa?”

“Yoon Bok Unni bilang, kami harus tulis surat buat Nenek..” jawab Tae-mi


“Nenek memang  tidak bisa membaca surat lagi... tapi jika kita menulis surat... kita tidak akan merasa sedih, dan kita tak begitu merindukannya. Noona bilang begitu....” jelas Tae-hoon


“Wahh.. sekarang kalian menyebutt Yoon-bok sebagai kakak kalian??” tanya Hyun-jin

“Ibu bilang aku sekarang boleh memanggilnya kakak..” jawab Tae-mi


Dari tempat pemakaman, Soo-jin dan Hye-na langsung pergi ke stasiun untuk memesan tiket kereta menuju Mooryung.


“Ibu. Apa aku harus kembali? Kita tak bisa kabur saja?”

“Mungkin selama tiga jam... kita masih bisa kabur..”


Dalam kereta, Hye-na bertanya: “Menurut Ibu dia akan mengenali kita?”

“Entahlah. Kalaupun tidak, jangan terlalu kecewa..”

“Meski dia tak kenal kita tak apa. Karena, kita bisa menjadi dekat lagi..”


Ternyata, mereka mengunjungi panti jompo, tempat Bu Clara tinggal. Hye-na menyapanya dengan riang.. tapi sesuai dugaan, Bu Clara sama-sekali tidak mengenali mereka. Satu-satu hal yg masih dia ingat, adalah bagaimana caranya mereka bermain sambung kata.


Perawat menjelaskan, bahwa terkadang ada orang-orang datang menemui bu Clara. Tapi dia tidak bisa mengenal siapa pun Dia bahkan tidak mengenal para keponakannya.

“Apa keponakannya sering datang ke sini?”

“Sesekali mereka datang. Katanya mereka tak beruntung... karena panti asuhannya terbakar. Mereka datang menyuruhnya menandatangani beberapa dokumen, agar mereka bisa menjualnya”


Sambil jalan-jalan diluar, Soo-jin bercerita: “Bu Clara. Ibuku meninggal. Juga... aku sudah menemukan ibu yang lain. Ibu yang melahirkanku..”


Tiba-tiba, Bu clara menyebut satu kata yg berkaitan dengan Soo-jin, dan itu membuat Soo-jin terharu, hingga bertanya: “Anda mengingatku, Bu Clara? Aku Soo Jin...  Nam Soo Jin.... Anda yang membesarkanku. Anda bilang aku seorang Ibu...”


Namun ternyata, kata itu tak berarti apa pun.. Bu Clara hanya ingin bermain-main sambung kata, seperti biasanya. Hye-na dengan ceria brmain dengannya..


‘Yo-gu-roo-teu` (Yogurt) 

‘Teu-rae-in’ (Kereta) 

‘In-jeol-mi’ (Kue beras)

‘ Mi-an’ (Maaf) 

‘An-nyeong’ (yg bisa berarti Halo atau selamat tinggal)


Sejenak mereka semua diam, karena tak ada yg bisa mencari kata berawalan ‘nyeong’. Tapi kemudian, Soo-jin malah mengulang kata itu.. sambil menggenggam tangan Bu Clara, ‘an-nyeong’ ucapnya dengan suara yg bergetar


Meskipun hanya satu kata, namun maknanya sangat dalam.. disaat mengatakannya, Soo-jin memang benar-benar bermaksud untuk mengucpkan salam perpisahan padanya..


Dalam perjalnan pulang Hye-na duduk di kereta.. tapi pandangannya terus melihat keluar. Dalam benaknya dia berkata: “Selamat tinggal, Nenek. Selamat tinggal, Bu Clara. Selamat tinggal, Ibu... Ibuku yang paling kusayangi, dan sangat aku syukuri kehadirannya. Dan Yoon Bok, juga... selamat tinggal...”


Menengok ke arah Soo-jin, Hye-na bertanya: “Aku tahu... kemungkinannya sangat kecil, tapi aku ingin tahu apa kita bisa kembali seperti dulu. Aku khawatir Ibu melupakanku”

“Itu tidak akan terjadi..”

“Aku khawatir aku akan melupakan Ibu. Jika kita saling berpapasan di jalan... tapi tidak saling kenal, bagaimana?”

“Kita pasti akan saling kenal. Ibu pasti akan menemukanmu”


Kemudian, Hye-na memberikan buku catatannya pada Soo-jin, “Didalamnya, terdapat segala hal. Bukan sebatas hal yang kusuka... atau pun hal yang kubenci saja..” jelasnya


Perlahan, Soo-jin membukanya. Disana, Hye-na menggambar, boneka miniatur dirinya dari usia kecil hingga dewasa dan itu membuatnya terharu. “Kau menggambarnya bagus sekali..” puji Soo-ji dengan mata yg berkaca-kaca


“Aku akan berikan buku catatan ini pada Ibu. Karena aku... punya boneka nyata yang mewakili Ibu. Kalau Ibu simpan itu... Ibu takkan melupakanku, 'kan?”

“Yoon Bok-aaa.... Kamu tahu bagaimana burung yang bermigrasi mencapai tujuan mereka tanpa tersesat? Burung menggunakan rasi bintang sebagai pemandu mereka... ada yg namanya bintang Big Dipper, yg mengarah ke Bintang Utara... dan juga si Little Dipper dan Cassiopeia. Burung-burung mengikuti bintang itu hingga akhirnya sampai ke Kutub Utara. Burung belajar semua hal itu dari ibu mereka saat masih bayi, Bintang yang mereka lihat saat mereka masih bayi... menjadi pemandu mereka saat beranjak dewasa...” papar Soo-jin
Advertisement


EmoticonEmoticon