3/13/2018

SINOPSIS Mother Episode 14 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 14 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 13 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 14 Part 2

Sesuai permintaan ibunya, Hyun-jin melakukan wawancara secara formal, 


“Berdasarkan tuduhan ibu kandung Kim Hye Na... Kang Soo-jin adalah putri angkat Anda. Apa benar?”

“Aku memang... tak melahirkannya dari rahimku sendiri... amat disayangkan, memang. Tapi memang benar, dia adalah putriku...”

“Jadi, kenapa Anda secara sukarela meminta untuk diwawancarai?”

“Berdasarkan yang dikatakan ibu Hye Na... menurut dia, Soo Jin-ku... hidupnya sangat enak sebagai putri aktris glamor... tapi, dia (Soo Jin) berniat memiliki anak dari keluarga yang tak punya uang... jadi dia menculik seorang anak dan kabur. Dan aku mau perlihatkan pada semua orang kalau bukan itu sebenarnya. Aku mau beri tahu semuanya, seperti apa Soo Jin itu...”


“...Soo Jin-ku, adalah korban KDRT. Ibu kandungnya tak mampu membesarkannya... jadi dia ditelantarkan di sebuah tempat. Namun, dia memiliki harga diri yang lebih besar daripada orang lain....”


“.... Dia punya kepribadian yang kuat yang takkan membiarkannya tunduk pada siapapun. Aku mencoba membesarkannya untuk menjadi orang yang kuinginkan, tapi tak berhasil ....”

“.... Soo Jin, ditelantarkan di bawah pohon depan panti asuhan dan dia tidak pernah lupa akan hal itu. Dia tumbuh besar sendirian, hingga menjadi wanita yg pemberani, namun kesepian dan tak punya uang sepeser pun. Namun, Soo Jin-ku, yang tumbuh besar seperti itu, mengulurkan tangannya pada anak lain ....”


“.... Ada beberapa orang yang menganggapi bahwa seseorang hanya bisa dianggap ibu... jika dia melahirkan anak dari rahimnya sendiri. Tapi seorang wanita menjadi ibu, saat dia mengorbankan semuanya dan mendedikasikan dirinya sepenuhnya pada seorang anak. Ibu kandung Hye Na hanya melahirkan anak itu saja. Tapi dia bukan seorang ibu. Soo Jin-lah... ibunya yang sebenarnya...”


Soo-jin diinterogasi oleh detektif. dia memilih untuk tidak membela dirinya dan mengakui seluruh kesalahannya,

“Anda menyuruh anak itu ke pelabuhan, untuk membuatnya tampak seolah dia mati?”

“Iya..”

“Kenapa Anda melakukannya? Apa karena Anda mengasihani anak itu? Anda takut ada yang akan terjadi padanya jika Anda membiarkannya?”


Enggan menjawab pertanyaan itu, Soo-jin malah bertanya mengenai tas yg dibawanya tadi, “Itu punya Yoon... Bukan... Itu punya Hye Na. Anda harus memberikannya pada Hye Na. Ada bajunya di dalam tas itu... dan mainannya, serta makanannya”

Sayangnya, tas itu dijadikan barang bukti. Maka tak bisa diambil dan diberikan pada orang luar begitu saja,

“Kaian akan menyadarinya, setelah kalian melihatnya. Bahwa pakaian itu, dan mainan itu.. bukanlah milikku tetapi milik Hye-na. Jadi, bisakah berikan itu pada Hye Na?”


Hye-na sendiri, akhirnya dibawa ke sebuah panti sosial tempat anak-anak terlantar tinggal. ketika ditanya siapa namanya, Hye-na dengan jelas menyebutkan ‘Kim Yoon-bok’ dan itu membuat petugas agak kebingungan. Karena yg tertera dalam berkas adalah ‘Kim Hye-na’


Pengacara yg dikirim Young-shin, datang menemui Soo-jin, “Jangan katakan apa pun hari ini. Anda bisa beristirahat di pusat penahanan. dan berbicara dengan mereka besok, kalau sudah baikan. Jadi jangan khawatir. Kami usahakan supaya Anda dinyatakan tidak bersalah.” Paparnya

“Aku... bisa divonis tidak bersalah?”

“Kita bisa membantah tuduhan mereka. Kita punya banyak argumen yang bisa kami gunakan di pengadilan. Jika Anda menulis pernyataan permintaan  maaf dan surat permohonannya disetujui... maka kemungkinan itu bisa terjadi.”

“Kurasa aku tak bisa. Aku tak mau menulis pernyataan maaf. Dan takkan mengajukan surat permohonan. Aku hanya ingin menebus kesalahanku”


Detektif Chang dipuji oleh atasannya, atas keberhasilannya menangkap Soo-jin. Dan karena telah mengakui semua kesalahannya, maka saatnya mereka menyerahkan kasus ini ke pihak kejaksaan. Nmun detektif Chang rau, dia masih ingin menginterogasi Soo-jin.. karena masih ingin tahu, apa alasannya melakukan hal ini..


Setelah memastikan, bahwa Hye-na adalah nama asli, pemilik panti langsung mengajak Hye-na berbicara,


“Kenapa... kamu bilang namamu ‘Yoon Bok’, Hye Na?”

“Karena... Aku lebih suka Yoon Bok daripada Hye Na.”

“Selama 25 tahun belakangan, Ibu merawat... anak-anak yang tak terhitung jumlahnya. Tapi Ibu tak pernah lupa nama mereka, dan Ibu memanggil mereka pakai nama mereka. Itu karena sebuah nama adalah hal yang sangat penting. Kau tak bisa menjadi anak lain yang bukan Hye Na. Jadi kau harus menghargai namamu sendiri. Mengerti, Hye Na?”


Ja-young berbicara pada pengacaranya, bahwa dia ingin persidangan diadakan secara terbuka dihadapan publik.

“Apa? Kurasa itu bukan ide bagus, menimbang citra publik Anda sekarang ini. Masyarakat biasanya mengambil keputusan... sebelum persidangan dimulai. Alangkah baiknya untuk tetap melakukan sidang tertutup saja.”

“Bu Pengacara. Aku mau bilang sesuatu pada semua orang. Meski aku dipukuli sampai mati... aku mau mengatakan yang ingin kukatakan sebelum aku mati.”

“Apa yang ingin Anda katakan?”


“Orang-orang bilang... aku hanya tergila-gila pada seorang pria. Sejujurnya... aku sangat takut ditinggal sendirian di dunia ini hanya bersama anakku, dan aku tidak ingin hidup seperti itu. Satu-satunya yang berada di sisiku saat itu hanyalah pacarku. Menurut Anda apa yang akan Anda lakukan... jika Anda kebetulan berada dalam situasiku? Keadaan Anda bisa lebih baik dariku?”

“Baiklah. Kita coba saja. Satu-satunya hal yang bisa mengubah pikiran orang... adalah sebuah cerita...”


Hye-na ingin ke toilet, dan petugas panti menunggunya diluar. Tapi tujuannya bukan untuk BAK atau BAB, melainkan untuk membuka surat yg diberikan Soo-jin, yang isinya..


‘.... Yoon Bok aaa, Kalau kamu membuka surat ini, itu berarti kita telah berpisah. Kamu pasti sangat terkejut. Kamu pasti sangat ketakutan. Kamu tidak terluka, 'kan? ...`


`... Mulai sekarang, kamu akan bertemu dengan banyak orang asing. Orang-orang akan selalu bertanya padamu. Mereka akan membuatmu melakukan hal-hal yang tidak kamu inginkan. Mereka bahkan mungkin membuatmu membicarakan hal yang tak mau kamu bicarakan. Dan karena itulah Ibu menulis surat ini padamu. Supaya kamu akan teringat Ibu. Jadi, kamu bisa mengingat betapa pentingnya kamu bagi Ibu. Maka akan menjadi lebih mudah bagimu untuk memastikan dirimu sendiri. Kau harus berdiri tegak dan melihat mereka secara langsung supaya kamu menyadari betapa besarnya kasih sayang yang kamu terima ...’


Keluar dari toilet, Hye-na ditanya oleh pengasuhnya, “Mau Ibu panggil kau Yoon Bok? Saat kita berdua saja, tanpa ada orang yang melihat..”

“Tidak apa-apa, Bu. Meski semua orang memanggilku Hye Na... Aku masihlah Yoon Bok... bagi satu orang saja...” jawab Hye-na


Soo-jin akhirnya dipindahkan ke tahanan kejaksaan. Diluar, telah banyak wartawan yg menunggunya dan lansgung melontarkan berbagai maccam pertanyaan padanya,

‘Kenapa Anda menculik seorang anak?’

‘Anda menderita kelainan jiwa?’

‘Anda menculik anak itu karena penganiayaan yang Anda terima waktu kecil?’

Tak ada satu pun pertanyaan yg dijawabnya. Soo-jin memilih untuk diam seribu bahasa, dan buru-buru masuk kedalam mobil tahanan.


Berkat berita yg ditulis oleh Hyun-jin, serta pengakuan dari Cha Young-shin, perlahan publik mulai bisa memahami kondisi Soo-jin. Beberapa komentar, sampai mengatakan bahwa mereka mengerti mengapa Soo-jin nekat melakukan semuanya.

Dan setelah artikel mengenai Seol-ak dipublikasi, mungkin saja opini masyarakat akan berubah menjadi, “..karakter utama, yang merupakan korban KDRT, menyelamatkan seorang anak dari tangan pelaku kekerasan anak ..”


Young-shin diperiksa oleh Jin-hong, lallu dia mengungkapkan tekadnya untuk menjadi saksi dalam persidangan Ja-young, “Persidangan itu amat penting bagiku. Aku harus bersaksi. Mereka harus tahu ibu seperti apa Ibunya Hye Na... agar orang mengerti kenapa Soo Jin melakukannya.”


“Persidangan ini tidak kalah pentingnya daripada kesehatan Anda sendiri.” 

“Kita harus memenangkan persidangan ini agar perasaanku bisa lebih baik.”

“Melihat kondisi Anda saat ini, Anda bisa mendadak pingsan di sidang nanti.”

“Dokter Jung... Menjadi seorang ibu itu, berarti rela hidupnya tak terurus selagi membesarkan anak. Melahirkan dan membesarkan anak itu sendiri adalah tindakan yang tidak baik untuk kesehatan seseorang. Aku tak tahu berapa banyak lagi waktuku. Tapi aku harus memanfaatkan waktuku demi Soo Jin.”


Berpindah ke lapas, Ja-young menjelaskan pada pecangaranya, bahwa Hye-na adalah tipe anak yg penurut dan mudah diatasi, “Dia bukan orang yang gampang mengadu kalau dia dipukuli. Aku bisa  mengaku kalau aku memukulinya. Tapi dia pasti takkan mau mengakuinya. Dia bahkan berbohong agar menutupinya, meski aku tak menyuruhnya itu.”

“Kang Soo Jin merekam kesaksian Hye Na... dan mengirimnya pada Bu Song Ye Eun.”

“Itu karena Kang Soo Jin memaksanya untuk melakukannya! Tapi dia tidak akan bisa mengatakannya di depan orang lain.”

“Berarti masalah terbesar yang kita miliki... adalah bagian cerita tentang Lee Seol Ak...”


Pengara, menunjukkan artikel yg ditulis oleh Hyun-jin. Disana diceritakan secara rinci, bagaimana tingkah Ja-young serta Seol-ak yg tega menyiksa hingga menculik Hye-na.


“Si reporter melakukan investigasi yang sangat teliti... tentang pacar Lee Seol Ak sebelumnya. Semua pacarnya itu memiliki anak. Dan salah satu dari anak mereka ada yang meninggal. Dia juga memasukkan artikel kesaksian ibu Lee Won Hee, yakni salah satu anak yg meninggal karenanya..”

“Reporter Kang Hyun Jin? Dia pasti gila! Sejak dia mau nulis artikel, dia mengajukan pertanyaan padaku dan kujawab semuanya! Terus kenapa dia beraninya menulis artikel semacam ini? Wanita ini pasti dibayar oleh Kang Soo Jin, atau...”

“Jadi pada intinya, Anda tak mengetahui semua hal terkait kejadian ini? Tentang Lee Seol Ak yang menyiksa Hye Na. Tentang bagaimana dia membunuh anak-anak lain itu. Dan malam dia menculik Hye Na dan mencoba membunuhnya?”


Jelas-jelas, Ja-young menegtahui hal tersebut. Bahkan dia mendengarnya sendiri dari Seol-ak. Namun pa pengcara, dia berbohong dengan berkata: “Mana kutahu soal itu? Pacarku tidak pernah mencoba menyakiti Hye Na bahkan sekali pun! Bu Pengacara. Orang yang menculik Hye Na itu Kang Soo Jin Dan pacarku cuma mencoba mengembalikannya kepadaku..”


Hyun-jin dipuji oleh atasan serta rekan kerjanya, karena telah menulis artikel yg sangat unit dan akurat, hingga menggerakkan polisi untuk memulai investigasinya tentang kejahatan Seol-ak.


Kepala panti, berbincang dengan pengasuh anak-anak. Dia bertanya seputar kondisi Hye-na, yg sekarang terlihat lebih riang.


“Kelihatannya dia baik-baik saja. Kadang juga tidak. Kalau siang, dia sepertinya baik-baik saja. Dia makan dan bergaul dengan anak-anak lain.”


“Tapi di malam hari, nampaknya dia tidak bisa tidur, dan dia berkeliaran. Dia terus terbangun karena dia lagi mimpi buruk. Terapis memberitahu Hye-na untuk menceritakan semuanya, jika dia memang telah siap. Tapi setiap kali dia dibawa ke ruang terapi, dia hanya bermain di kotak pasir selama 50 menit. Para pembimbing bilang ini pertama kalinya mereka merawat anak seperti itu”


Ternyata, segala sikap yg ditunjukkan Hye-na.. sesuai dengan apa yg telah dituliskan Soo-jin dalam suratnya,


‘... Yoon Bok, Ini jauh lebih mudah dari yang kau pikirkan untuk bergaul dengan anak-anak lain. Kalau mereka minta tolong, bantulah mereka. Kalau mereka mau main denganmu, mainlah bersama mereka. Dan, ketika melihat anak yang menangis, katakan kalau semuanya baik-baik saja. Hal yang paling sulit adalah menyesuaikan diri sendiri. Maaf karena tak bisa bersamamu saat-saat ini. Ibu sangat minta maaf ...’


‘... Saat seperti itu, ibu biasanya membaca buku. Karena hal itu, takkan membuat ibu merasa kesepian ...’


‘... Menulis juga bagus. Minta pada gurumu untuk bawakan buku catatan dan pena dan coba menulis catatan harian. Menulislah bukan hanya hal-hal yang kau sukai saja tapi tentang hal-hal yang kau benci dan hal-hal yang membuatmu takut. Tuliskan semua hal yang tidak bisa kau ceritakan pada orang lain tanpa melupakan satu hal pun ... Dan juga, pikirkan kalau kita berdua pasti bisa bertemu lagi suatu hari nanti ...’
Advertisement


EmoticonEmoticon