3/07/2018

SINOPSIS Mother Episode 12 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 12 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 12 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 13 PREVIEW

Ternyata 20 tahun yg lalu.. disaat masih remaja, Soo-jin penah datang ke kuil ini dan bertemu dengan biksu yg sama. Dulu, dia ingin menginap, tapi dilarang.. dengan alasan yg sama, yakni perempuan tak diizinkan bermalam karena takut ada rumor tidak enak yg tersebar di masyarakat.


Biksu bertanya, kenapa Soo-jin ingin menginap disini? Soo-jin bilang, dia ingin menjadi seorang biksu, “Aku pernah tinggal di panti dekat sini dan selalu mendengar bunyi lonceng di pagi hari.. Dan dengan cara menjadi seorang biksu, kuharap aku bisa melepas ikatanku dengan ibu angkat dan ibu kandungku..” paparnya

“Bersujudlah sebanyak 108 kali, dan renungan perkataanmu matang-matang. Kalau kamu tertidur ketika melakukannya, maka aku akan membiarkannya untuk bermalam disini..” jawab Biksu


Kembali ke masa sekarang, Soo-jin terus memohon untuk diizinkan menginap, “Anakku telah tertidur dan aku tak tahu mesti pergi kemana lagi..” ucapnya pilu

“Rupanya, sekarang kamu telah menjai seorang ibu..”


So-jin, diizinkan tidur dalam sebuah kamar yg lumayan nyaman dan ada penghangat ruangannya.

“Di kuil kami, ada dua biksu lain dan dua murid laki-laki. Mereka semua sedang berlatih dalam ketenangan, jadi kau harus tenang, ya. Dan jangan lupa sarapan sebelum pergi” jelas pak Biksu

“Tidak, terima kasih. Aku bertreima kasih bisa menginap di sini.” Jawab Soo-jin

“Tidak, terima kasih. Aku bertreima kasih bisa menginap di sini. Makanan di kuil kami benar-benar enak, jadi banyak orang datang kemari untuk makan.  Jika kau berterima kasih, ada kotak sumbangan di aula Budha. Hanya memberitahumu saja..” papar Pak Biksu


Setelah biksu pergi, Soo-jin terduduk lemas sambil memeluk Hye-na. Malam semakin larut dan mereka pun berbaring tidur..


Hingga tiba-tiba, Hye-na terbangun dalam kondisi gelisah dan matanya yg berkaca-kaca,

“Ada apa, Yoon Bok? Apa kau mimpi buruk?” tanya Soo-jin


“Ibu. Aku bermimpi ibu mati. Paman mencekik leher ibu tapi tak ada yang datang. Jadi aku sangat sedih. Aku... aku seharusnya tidak memanggil ibu untuk datang ke tempat paman berada. Aku seharusnya tidak ingin pergi ke Islandia bersama ibbu. Aku seharusnya tidak berharap bahwa Bu Guru adalah ibuku...” jelas Hye-na dengan suara yang bergetar menahan tangis

“Tak apa.. lagipula sekarang, ibu masih hidup ‘kan..” ucap Soo-jin

“Bu.. Bolehkah aku... menangis?” tanya Hye-na

“Tentu saja.. sekarang aku akan memelukmu dan kita bisa menangis bersama..” jawab Soo-jin  dengan saura lembutnya


Tangis Hye-na akhirnya pecah, sambil terisak dia bercirita mengungkapkan bagaimana perasaannya saat insiden tadi, ” “Kupikir aku benar-benar akan mati. Padahal, aku berusaha terus memikirkan hal-hal yang kusuka. Tapi tidak ada yang terlintas dalam pikiranku kecuali wajahmu, bu. Bagaimana jika Ibu datang dan melihatku mati? Bagaimana jika dia menangis setelah melihatku mati? Memikirkan hal itu, sangat menyedihkan dan menakutkan. Jadi, aku menangis. Paman memberitahuku dia akan membunuhku jika aku menangis...”


Mendengarnya, Soo-jin tak berkomentar apa pun dan langsung menarik Hye-na kedalam pelukannya dengan begitu erat~


Pak Biksu membuka ponselnya, lalu melihat berita mengenai Soo-jin dan Hye-na. Ekspresinya biasa saja, dan dia tak berkomentar apa pun.


Esok paginya, Detektif Chang ditemani juniornya datang ke kuil. Mereka bertemu dengan Pak Biksu, untuk menayakan keberadaan Soo-jin, bahkan sampai menunjukkan fotonya.


Akan tetapi, Biksu berbohong.. dia bilang, tak ada yg datang ke tempat ini dan menegaskan bahwa wanita memang dilarang menginap disini~


Berikutnya, detektif Chang bertanya pada penghuni kuil. Namun ternyata, tak ada satu pun dari mereka yg mengenal atau pun pernah melihat sosok Soo-jin.


Kebetulan, sekarang adalah saatnya sarapan.. maka detektif Chang ikut makan bersama dengan yg lain. Para siswa yg tengah menginap di kuil, sibuk memperbincangkan berita mengenai penculikan Hye-na.. mereka berpihak pada Soo-jin, karena berita tersebut menjelaskan bahwa Ibu kandung Hye-na yg telah menjadi komplotan si penculik.


Tiba-tiba, datang Biksu kepala.. dia menyapa mereka semua, lalu pamit karena harus pegi ke suatu tempat..


Detektif Chang bertanya, pada satu persatu biksu untuk memastikan jawaban dari Biksu kepala. Namun salah seorang biksu membantah pernyataan tersebut, dia bilang bahwa ada satu kamar yg biasanya ditempati oleh wanita yg menginap disini.


Mereka masuk ke kamar itu.. yg kondisinya telah kosong melongpong. Namun Detektif Chang sadar, bahwa ubinnya masih terasa hangat.. padahal menurut biksu yg bertugas, penghangat tak akan dinyalakan jika tak ada tamu yg menginap di dalamnya.


Bergegas.. detektif Chang dan juniornya mengejar Biksu Kepala yg telah pergi dengan mengendarai mobilnya. Mereka sampai minta bantuan pusat, untuk melacak keberadaan mobil tersebut.


Ternyata.. Biksu kepala, memang pergi dengan membawa Soo-jin dan Hye-na bersamanya. Dia tak mengajukan pertanyaan apa pun, dan malah meminta Soo-jin untul lanjut tidur dan beristirahat saja, supaya bisa melanjutkan perjalanannya dengan kuat.


Ketika dipindah sel tahannan, Ja-young sempat berteriak di hadapan seluruh wartawan bahwa Seol-ak tidak bersalah.. dia mati karena dibunuh penculik putrinya, yakni Soo-jin yg merupakan anak dari aktris Cha Young-shin.


Berita tentangnya, di tayangkan di seluruh acara berita nasional. Young-shin menontonnya, dia tak tahan.. jika Soo-jin disebut sebagai seorang penculik apalagi pembunuh..


Young-shin hanya peduli pada Soo-jin, hingga tak mempedulikan ucapan maaf dari Yi-jin. Niatnya, ingin mengadakan konferensi pers untuk menceritakan segala hal yg diketahuinya.. namun tiba-tiba, badannya kolap dan dia jatuh pingsan.


Polisi gabungan, berhasil menemukan keberadaan mobil kepala biksu. Mereka langsung membawanya ke kantor polisi, namun ternyata, tak ada Soo-jin atau pun Hye-na, dan hanya ada seorang biksu wanita, bernama biksu Ja-hye


Detektif Chang menginterogasi biksu kepala.. sekali lagi, dia menunjukkan foto Soo-jin dan Hye-na, lalu bertanya apakah benar, mereka tak datang ke kuil tadi malam? 

Karena Pak biksu diam saja, maka Detektif Chang memancingnya dengan menyinggung soal ubin kamar yg terasa hangat, padahal katanya tak ada yg menginap disana..


Beberapa saat diam, tapi akhirnya Pak Biksu memberikan sebuah jawaban yg logis (meskipun bohong), “Hari ini peringatan kematian Ibu dari biksu Ja Hye. Jadi aku membaca surat Buddhis semalaman dan keluar untuk menemuinya di pagi hari. 20 tahun lalu orang itu tinggal di kamar itu dengan putrinya untuk sebulan dan mereka pergi setelah tinggal di kamar itu sebulan. Jadi setiap peringatan, aku akan menyalakan pemanas ruangan...” jelasnya


Mendengar penjelasan itu, membuat detektif Chang kalah telak dan tak bisa mengajukan pertanyaan lainnya. 

“Apakah sikapku terlalu berlebihan?”

“Anda seperti ini, karena anda sangat ingin menangkap mereka..”


Karena berita mengenai kasus Hye-na yang semakin memanas dan simpang-siur, maka Detektif Chang mendapatkan tekanan dari atasannya. Dia memang telah bekerja dengan sangat keras.. Namun masyarakat tak melihat hal itu, mereka hanya melihat hasilnya.. 

Maka, jika tak ingin disalahkan.. kasusu ini harus segera dirampungkan. Jika detekti Chang tak sanggup, maka kasus ini bisa dialihkan ke tim lain.. yg artinya, usaha dia selama ini terbuang sia-sia.


Berpindah ke kediaman Bu Nam... disana, dia masih terlihat begitu sedih. Terlebih, setelah wajah Soo-jin, dipampang dalam setiap acara berita yg menyebutnya sebagai penculik Hye-na~


Soo-jin dan Hye-na mengenakan pakaian yg lumayan tertutup. Mereka turun dari bus, di tempat yg banyak sekali turis asing. Melihat wajah Soo-jin yg sengat gelisah, membuat Hye-na berkomentar: “Ibu. Jika berekspresi seperti itu, orang akan pikir sesuatu terjadi...”


Lalu dengan riangnya, Hye-na berkata: “Rasanya seperti kita benar-benar pergi ke luar negeri, kan?”


Setelah membeli tiket, mereka naik ke atas sebuah kapal feri...


Namun tanpa mereka sadari, ada beberapa orang polsii yg berkeliling sambil memeriksa satu demi satu wajah penumpang~


Advertisement


EmoticonEmoticon