3/05/2018

SINOPSIS Mother Episode 11 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 11 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 11 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 12 Part 1

Soo-jin merekam suaranya, untuk dikirmkan pada Hye-na.. begitu pun sebaliknya. Mereka sama-sama merekam cerita anak kelinci yg ingin melarikan diri..


Namun ada hal yg janggal, karena salah satu bagian diubah oleh Hye-na. Ketika seharusnya, dia menyebut kata ‘burung’ saja, dia malah menyebut ‘burung siapa’, yakni nama burung yg sebelumnya pernah diceritakan Soo-jin pada Hye-na ketika mereka menginap di panti..


Hal tersebut, dikuatkan ketika mendengar bagian akhir dari rekaman suara Hye-na. Dongeng anak kelinci, ditutup dengan kisah yg menceritakan bahwa anak kelinci itu akan berubah menjadi seorang anak kecil.. maka ibu kelinci, akan menjadi seorang ibu yg membuka lebar-lebar tangannya untuk memeluk sang anak.. 


Seol-ak berkomentar, “Tak mungkin kamu menjadi seroang ibu. Karena hal terbaik yg bisa dilakukan seorang anak nakal adalah mati. Jika tidak, maka ibunya yg akan mati!”

Bersamaan dengan itu, rekaman suara ‘burung siapa’ terdengar jelas, mengiringi ucapannya.

Soo-jin melihat rekam jejak truk Seol-ak yg terlacak oleh GPS. Dan teryata, beberapa hari yg lalu.. Seol-ak memang pernah mendatangi panti tempatnya tinggal dahulu~


Di tempat lain, Yi-jin menangis seorang diri.. dia bingung, mesti berbuat apa. Namun pada akhirnya, dia nekat melaporkan insiden ini, kepada pihak polisi.


Detektif Chang yg masih sibuk mencaritahu tentang Bu Nam, mendappatkan telpon dari atasannya yg menginformasikan laporan yg baru saja dibuat oleh Yi-jin selaku adik dari Soo-jin, “Dia bilang.. Kim Hye-na diculik oleh pacar ibu kandungnya. Kau sudahttahu ‘kan, yg mana orangnya..”

“Iya.. Namanya Seol-ak.. dan dia punya riwayat kriminal berupa tindak kekerasan..”


Setelah Seol-ak melilit tubuh Hyena dengan lakban, Hye-na megatakan dirinya ingin buang air kecil.


Seol-ak membawanya ke dalam kamar mandi, kemudian mendudukannya di bathub. Hye-na menggelengkan kepala, dia tak bisa pipis karena badannya terkekang.


“Kamu tahu kenapa aku belum membunuhmu? Karena kamu tak pernah menangis.. tapi pada hari itu, untuk pertama kalinya kamu menangis. Seharusnya kamu telah mati, tapi wanita itu menemukanmu di kresek sampah. Sekarang peraturannya masih sama. Kalau kau menitikan air mata.. maka saat itu juga, kau akan mati!” papar Seol-ak yg tentunya membuat Hye-na berusaha keras menahan tangisnya


Dalam perjalanan, Jin-hong memberi saran supaya Soo-jin melaporkan insiden ini pada pihak polisi. Karena dia rasa, hal ini terlalu berbahay untuk diatngani orang biasa seperti mereka..

Namun Soo-jin membahas rekaman suara Hye-na yg terdengar begitu yakin, seakan dia tahu bahwa dirinya akan diselamatkan olehnya~

“Dia masih kecil.. dan anak kecil, memang selalu percaya pada  ibunya..” komen Jin-hong


Sesuai dugaan Soo-jin, Hye-na memang sangat yakin bahwa Soo-jin akan datang dan menyelamatkannya. Hal itu, Hye-na katakan langsung pada Seol-ak..

“Kamu bilang.. ibumu akan datang kesini?”

“Iya..”

“Menarik.. kamu kira, apa yg harus kuberikan padanya, ketika dia datang kesini?”


Terdengar.. suara Hye-na yg kencing di celana. Spontan, Seol-ak menyebutnya menjijikan dan langsung menyemprotnya dengan air dingin.


Detektif berhasil melacak keberadaan Jin-hong, yg kebetulan tengah berada dengan pemilik ponsel yg disebut sebagai ‘ibu’ di kontaknya. Bergegas, mereka pun berangkat menuju lokasi tersebut..


Seol-ak menyeret Hye-na untuk masuk kedalam ruang bawah tanah yg sangat gelap, dimana terdapat banyak poster buatan anak kecil yg berisi ungkapan kekesalan mereka pada orangtua yg telah mencampakannya.

“Paman.. aku takut..” ucap Hye-na

“Aku penah tinggal ditempat seperti ini.. makanya aku tahu, kalau ana-anak selalu menunggu ibunya, namun tak ada ibu yg pernah datang menjemputnya..” papar Seol-ak


“Apakah. Ibunya paman, menelantarkanmu ditempat yg seperti ini juga?” tanya Hye-na

“Ibuku? Ibuku.. adalah ibu yg sangat hebat. Dia bersih dan tidak berisik.. serta aromanya sangat wangi..” jelas Seol-ak


Dulu.. pada suatu malam, Seol-ak kecil terbangun karena ibunya bertengkar dengan ayahnya via telpon. Ibunya tak ingin bercerai, kalaupun iya.. setidaknya dia ingin berbicara secara lansgung dan bukan via telpon sepreri ini.


Ketika ibunya hendak pergi Seol-ak menghampirinya dan bertanya: “Ibu mau kemana?”

“Tunggu saja dirumah, kamu bisa menonton TV..”

“Bagaimana kalau ibu tak akan kembali?”

“Seol-ak aa.. kita harus membuat ayah kembali pulang. Kita tak akan bisa hidup tanpanya.. atau ibu akan mati..”

Mata Seol-ak berkaca-kaca.. dan ibunya langsung membentaknya, sehingga membuat Seol-ak berusaha keras menahan tangisnya.


Seketika, setelah ibunya pergi. Seol-ak lansgung melempar bola bisbol ke arah pintu, kemudian tangisnya pecah, “Jangan pergi.. dan tinggalkan aku sendirian..” gumamnya


Kepada Hye-na, Seol-ak menjelaskan bahwa ibunya adalh sosok yg baik sekaligus jahat..


Hal tersebut, terjadi.. karena ibunya selalu memarahinya dan menyebutnya menjijikan karena melihat mainan Seol-ak yg berantakan, serta Seol-ak yg tak sengaja kencing di celana.


Tanpa rasa kasihan, sang ibu menyeratnya ke kamar mandi dan memandikannya secara paksa..


Seol-ak menangis, sambil mengucap kata maaf. Namun lagi-lagi, ibunya memarahinya dan menyuruhnya untuk tidak menangis!

“Seol-ak aaaa.. haruskah, kau dan aku.. kita mati saja sekarang?”

“Tidak.. ”


Dengan kasar, ibunya menarik baju Seol-ak lalu berteriak mengatakan: “Kubilang, hidupku sangat berat hingga rasanya ingin mati! Dan sekarang, kau ingin bertahan hidup sendirian? Memangnya, kau bisa hidup tanpa ibu? Jawablah! Memangnya bisa?!”

Enggan menjawabnya, Seol-ak hany abisa bergetar dengan air mata yg terus mengalir tak terhentikan~


Esok paginya, Seol-ak terbangun dan melihat banyak makanan leza yg telah tersadi di meja makan. Hal itu, membuatnya menganggap kalau ibu yg baik kembali muncul..


Namun betapa kagetnya dia, ketika menemukan ibunya yg telah terdiam kaku.. karena gantung diri dalam lemari~


“Jangan menangis.. semenjak saat itu, aku tak pernah menangis lagi. Dan aku benci, melihat anak kecil yg menangis...” ungkap Seol-ak

“Paman.. aku tahu apa yg kamu pikirkan saat itu” ucap Hye-na, 


‘...Akan lebih baik, jika aku saja yang mati.. Andaikan ibuku masih bertahan hidup ...’

Hye-na akui, bahwa kalimat tersebut sering muncul dalam benaknya, ketika dia melihat ibunya yang meminum banyak pil hingga tak bisa bangun dari tidurnya, “Kurasa.. ibuku tak akan seperti itu, kalau tak ada aku di dekatnya. Kuharap, aku bisa menghilang saja..”


Setelah mengatakan itu, Hye-na menangis.. dan tentunya itu membuat Seol-ak marah, “Sudah kubilang, jangan menangis!”

“Tapi paman.. kamu juga menangis..” ucap Hye-na


Seol-ak tak berkomentar apa pun. Dia mengusap air matanya, kemudian membekap mulut Hye-na, menutupi kepalanya dengan kresek dan langsung menumpahkan bensin di seisi ruangan~


Di waktu bersamaan, Soo-jin dan Jin-hong tiba di panti. Turun dari mobil, Soo-jin langsung melihat sosok Jin-hong yg tengah berdiri di balik jendela..


Berusaha memberanikan diri, Soo-jin berjalan.. dan sesampainya di pintu, dia berhadapan lansgung dengan Seol-ak yg menatapnya tajam~
Advertisement

1 komentar:

Ditunggu kelanjutannya yah Mba..


EmoticonEmoticon