3/27/2018

SINOPSIS Misty Episode 12 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Misty Episode 12 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: jTBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Misty Episode 12 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Misty Episode 12 Part 4

Hye Ran meletakkan berkas yang ditolak oleh Pak Jang di mejanya, dia mengambil mantel lalu pergi begitu saja.


Lee Yeon Jung masuk ke ruangan itu sambil melihat keadaan di sekitarnya, saat tidak ada yang memperhatikan dia mengambil berkas dari meja Hye Ran lalu membacanya.


Tanpa disadari, Hye Ran kembali dan merebut berkas itu dari Lee Yeon Jung.
“Sedang apa kamu di mejaku?”
“Aku hanya... Aku hanya lewat.”
“Kalau begitu, lewat saja. Kenapa mengintip rencanaku?”
“Kamu tidak akan melaporkan itu, bukan?”
“Kenapa tidak?”
“Bahkan Pak Jang bilang rencana itu terlalu gegabah.”
“Kamu tidak hanya mengintip. Ternyata kamu juga menguping.”
“Bisa-bisanya kamu berkata kejaksaan berbohong soal saksi. Itu tidak masuk akal.”
“Aku tidak membunuh siapa pun, tapi aku ditahan tanpa surat dan didakwa. Kamu pikir itu masuk akal?”
“Ada saksi mata yang melihatmu membunuhnya.”
“Karena itu, aku ingin tahu pihak mana yang berbohong.”
“Maksudmu, suamiku berbohong hanya untuk menjatuhkanmu?”
“Aku tidak membunuhnya, tapi mereka bilang ada saksi. Artinya, salah satu berbohong, tapi yang pasti bukan aku. Jadi, siapa yang berbohong?”
“Kamu gila, ya.”
“Kamu tidak akan gila jika menjadi aku, Bodoh?”
“Apa? Bodoh? Bodoh?”
“Apa katamu? Kudengar kamu bahagia jika lingkar pinggangmu melebar. Itu bagus. Bagus sekali. Tapi dahulu, kamu reporter dan sekarang, kamu pewarta berita pagi. Kamu boleh mencintai suamimu, tapi ketahuilah mana yang benar. Paham?”


Hye Ran mengamati Lee Yeon Jung yang akan pergi keluar sambil menelepon suaminya.
“Sayang, ini aku. Aku ingin menemuimu sekarang.”


Jaksa Byun terkejut mengetahui Hye Ran menuduh saksi itu hanya karangan.
“Dia memberi tahu yang lain kalau itu bohong. Sepertinya dia sedang menyiapkan proyek untuk menantangmu. Kita harus bagaimana?”
“Saksi mata itu bukan satu-satunya bukti. Biarkan dia menyiarkannya. Dia hanya akan mempermalukan dirinya.”
“Kamu yakin dalam hal ini, bukan?”
“Riwayat Go Hye Ran sudah tamat. Kamu harus tahu itu.”
Lee Yeon Jung mengingatkan suaminya agar tetap berhati-hati karena Go Hye Ran sangat licik.


Karena merasa tersudut, Jaksa Byun melapor pada Kang In Han untuk mendapatkan solusi apa yang harus dilakukannya, tapi dia malah mendapat cemooh.
“Jaksa Byeon, tampaknya kamu lebih cemas dari dugaanku. Kamu menangani kasus pembunuhan, tapi selalu saja cemas. Bagaimana kamu bisa menangani kasus yang lebih besar?”
“Bukan itu maksudku.”
“Aku sudah menyiapkan dasarnya agar setidaknya kamu bisa menangani sisanya.”
“Aku mengerti maksud Anda. Aku akan menanganinya. Maaf membuat Anda cemas.”
Kang In Han mematikan teleponnya sebelum Jaksa Byun selesai bicara.


Tae Wook menjemput Hye Ran dari kantor dan mengajaknya ke sebuah tempat di tepi sungai. Tae Wook meminta Hye Ran agar jangan goyah karena pernyataan Jaksa, walapun hakim akan berusaha memahami posisi terdakwa. Hye Ran mencemaskan Tae Wook karena persidangan ini akan menyakiti perasaan Tae Wook lagi. Tapi Tae Wook tidak mempermasalahkannya.
“Apa pun yang orang katakan, tetaplah yakin seakan-akan kamu tidak peduli. Biar aku yang melakukan sisanya. Kamu hanya perlu memercayaiku.”


Hye Ran lalu bertanya satu hal, kenapa Tae Wook rela melakukan ini untuknya.
“Karena aku suamimu. Saat kita menikah, aku berjanji kepadamu akan selalu berada di sisimu saat senang, susah, berjuang, atau pun sakit.”
“Maafkan aku.”
“Tidak apa-apa.”
“Sejak dahulu dan sampai kapan pun, aku akan merasa bersalah kepadamu.”
“Tidak apa-apa.”
Kata-kata Tae Wook membuat Hye Ran tersentuh dan matanya berkaca-kaca.


Sambil mengamati Tae Wook dan Hye Ran dari dalam mobilnya, Baek Dong Hyun menelepon Eun Joo. Eun Joo bertanya di mana dia berada karena sangat mencemaskannya, Dong Hyun berbicara sambil menangis.
“Eun Joo, berbahagialah. Jae Young itu lelaki berengsek. Dia sangat baik kepadaku, tapi seharusnya dia tidak seperti itu kepadamu.”
“Kamu di mana? Ayo bicara.”
“Aku menelepon untuk mendengar suaramu untuk kali terakhir. Berbahagialah.”
“Dong Hyun!”
Baek Dong Hyun menangis terisak-isak, apa yang akan dilakukannya kemudian?


Tae Wook sudah bersiap untuk persidangan pertama hari itu, saat akan berangkat dia menerima pesan dari nomor tidak dikenal.
“Go Hye Ran tidak akan bisa menghadiri persidangan hari ini.”


Tae Wook berusaha menghubungi Hye Ran. Tapi Hye Ran tidak menjawab teleponnya karena tidak mendengar saat sedang mengeringkan rambut.


Sambil berlari keluar dari kantornya, Tae Wook terus menelepon Hye Ran. Hye Ran sedang bersiap, dia memakai kalung pemberian Tae Wook dan masih belum mengecek ponselnya.


Hye Ran akhirnya menghubungi Tae Wook, pada saat bersamaan di mendengar suara bel. Dengan panik Tae Wook bertanya di mana Hye Ran berada. Hye Ran masih di rumah dan berjalan menuju pintu depan. Tae Wook memintanya menunggu sampai dia datang.
“Ada apa?”
“Ikuti saja perkataanku. Jangan ke mana-mana. Jangan izinkan siapa pun masuk, ya?”


Karena Hye Ran mengira Tae Wook lah yang membunyikan bel, secara refleks dia membuka kode keamanan rumahnya. Dan terkejut karena yang membuka pintu adalah seorang pria dan bukan Tae Wook.
“Kamu mendengarkan aku? Halo? Hye Ran?”
“Ya, aku mendengarkanmu.”
“Aku menuju ke sana. Telepon aku jika terjadi apa-apa.”


Tae Wook sudah berada di samping mobilnya, tapi saat akan masuk ke dalam mobil Baek Dong Hye berteriak dan berlari ke arahnya sambil membawa sebuah balok kayu.
“Mati kamu!”
Dia memukul kepala Tae Wook hingga berdaran dan membuat Tae Wook tersungkur.
Advertisement


EmoticonEmoticon