3/26/2018

SINOPSIS Misty Episode 11 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Misty Episode 11 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: jTBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Misty Episode 10 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Misty Episode 11 Part 2

Saat Tae Wook akan meninggalkan ruangan, Eun Joo menghentikannya dengan pertanyaan bagaimana kalau ini bukan kali pertama Hye Ran membunuh seseorang. Tae Wook hanya diam tercengang mendengarnya.


Di tempat lain, Hye Ran menemui Myung Woo. Mereka saling menatap dengan terharu.


Saat mengendarai mobilnya, Tae Wook teringat kembali saat dia mewawancarai Myung Woo yang melamar pekerjaan di kantornya. Waktu itu Myung Woo mengatakan dia membunuh seorang pria kaya yang melecehkan orang-orang lemah.

“Temanku adalah korbannya. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.”
Tae Wook masih ingat bagaimana Myung Woo tiba-tiba muncul melindungi Hye Ran ketika Eun Joo akan menusuknya. Ucapan Eun Joo kembali terngiang di kepala Tae Wook, Eun Joo mengtakan kalau Hye Ran adalah makhluk yang mutlak bagi Ha Myung Woo. Dan bagi Hye Ran, Ha Myung Woo adalah masa lalunya yang kelam.

“Kamu tidak akan bisa membuat Hye Ran melupakan Ha Myung Woo. Meski itu kamu, Tae Wook.”


Hye Ran dan Myung Woo berbicara di sebuah coffe shop. Sambil menahan tangis, mereka saling bertanya kabar. Hye Ran mengatakan dirinya sedang kacau, tapi menurut Myung Woo Hye Ran masih terlihat percaya diri dan luar biasa. Hye Ran pikir Myung Woo mengatakannya hanya untuk menghiburnya saja, tapi itu tetap menenangkan bagi Hye Ran. Myung Woo berpesan agar Hye Ran menganggap ini hanya sementara dan menggunakan waktunya untuk beristirahat. Hye Ran bertanya kenapa Myung Woo datang, sebaiknya dia melupakan segalanya dan melanjutkan hidupnya.

“Myung Woo. Jalanilah hidupmu setidaknya sekarang. Jangan kembali.”
“Apa kamu mencintai suamimu? Apa kamu benar-benar mencintainya? Bagaimana dengan dia?”
Hye Ran terdiam sambil menahan air matanya.


Tae Wook berada di ruang kerjanya di rumah, dia masih terus mengingat ucapan Eun Joo. Hye Ran juga begitu, pertanyaan Myung Woo masih terus terngiang di kepalanya. Dia melihat ke arah pintu ruang kerja Tae Wook dan 
mengetuknya.


Tae Wook melihat Hye Ran membuka pintu dan mengatakan Hye Ran sudah pulang rupanya. Hye Ran mengatakan “iya” bersamaan dengan pertanyaan Myung Woo “Apa suamimu juga mencintaimu?”


Flashback. Myung Woo sedang menunggu bus sekolah. Saat busnya datang, murid-murid lain segera berlari masuk ke dalam bus. Tapi Myung Woo berlama-lama dan sengaja mengikat tali sepatunya di pintu bus, hingga membuat sopir bus menggerutu karena kesal menunggunya. Sambil mengikat tali sepatu, dia terus menoleh ke belakang. Ternyata dia menunggu Hye Ran, dan tampak lega saat melihat Hye Ran berlari menuju Bus.


Di dalam bus mereka tidak mendapat tempat duduk, Myung Woo selalu melindungi Hye Ran yang akan terjatuh karena goncangan di dalam bus. Dia juga meminjamkan catatannya pada Hye Ran agar dia tidak kesulitan belajar. Narasi suara Hye Ran:

“Ha Myung Woo. Dia satu-satunya teman yang bisa kuandalkan saat aku sedih dan berjuang. Setia. Myung Woo tinggal bersama neneknya. Dia bercita-cita menjadi hakim untuk memenuhi keinginan neneknya. Sementara aku tinggal bersama ibuku, aku belajar segiat mungkin untuk lepas dari hidup yang melelahkan. Apa pun itu, aku baik-baik saja asalkan bisa kabur dari situasiku.”


Ibu Hye Ran memarahinya karena tidak mempunyai uang yang diminta Hye Ran untuk membayar biaya masuk universitas.

“Kita bahkan tidak mampu mati. Jangan harap bisa meminta ibu membayar biaya kuliahmu itu. Hiduplah sesuai dengan situasimu. Ibu sudah cukup bekerja mati-matian.”
Hye Ran tampak sangat sedih mendengarnya.


Dengan ragu-ragu dia berjalan di depan sebuah toko perhiasan dan perlahan membuka pintunya. Dia berusaha meminjam uang dari ahjussi pemilik toko perhiasan, Hye Ran berjanji akan mengembalikannya.

“Saat berkuliah, aku akan bekerja paruh waktu dan mengajar siswa lain. Aku akan menggantinya dengan bunga. Jadi, kumohon.”

“Baiklah. Kembalilah nanti saat aku hendak menutup toko. Sekitar pukul 21.00.”


Myung Woo menunggu di depan sekolah, sampai semua murid sudah keluar tapi Hye Ran tidak datang juga.


Dengan latar lagu Knockin’ on Heaven’s Door dari Bob Dylan yang diputar di radio, Hye Ran berada di toko perhiasan yang sudah tutup. Ahjussi itu terus memandang Hye Ran sambil meminum soju dan menyodorkan sebuah amplop berisi uang. Hye Ran berdiri di hadapannya sambil melirik ke amplop itu, tapi dia takut untuk mengambilnya. Ahjussi itu berdiri dan berjalan perlahan ke arah Hye Ran.


Myung Woo berlari tanpa berhenti di daerah pertokoan yang sudah sepi karena toko-toko sudah tutup.


Lagu Knockin’ on Heavens Door terus mengalun, ahjussi semakin mendekati Hye Ran yang tampak panik. Hye Ran berusaha melarikan diri tapi ahjussi menarik tangannya.


Hye Ran keluar dengan pakaian yang berantakan dan hampir bertabrakan dengan Myung Wooo yang akan masuk ke toko itu. Wajah Myung Woo menunjukkan dia sangat marah. Hye Ran berusaha menenangkannya dengan mengatakan tidak ada yang terjadi seperti yang dipikirkan Myung Woo. Tapi Myung Woo tidak menghiraukannya, dia meminta Hye Ran menunggu di luar.


Hye Ran mengikuti Myung Woo masuk ke dalam toko, dan sangat terkejut melihat ahjussi tergeletak di lantai dengan bersimbah darah. Myung Woo menjatuhkan pisau yang dipegangnya untuk menusuk ahjussi itu.


Dengan perlahan Hye Ran menceritakan pada Tae Wook bahwa setelah kejadian itu nenek Myung Woo menemuinya dan memberikan uang kuliah.

“Myung Woo meminta dia memberikannya kepadaku. Aku bisa berkuliah berkat uang itu. Terkadang, aku berpikir seperti ini. Kenapa dia tidak memercayai ucapanku? Sungguh tidak ada yang terjadi. Dia seharusnya memercayaiku. Dengan begitu, tidak akan ada yang mati. Dia juga tidak akan menjadi pembunuh. Maka hidupku akan sedikit lebih mudah.”

Tae Wook juga sama seperti Hye Ran, dia tampak terpukul dengan pengakuan itu. Dia bertanya apa hanya itu saja kisah Hye Ran dan Myung Woo, Hye Ran mengatakan hanya itu saja. Tae Wook hanya diam seperti tidak percaya tapi juga terpukul dan tidak tahu akan mengatakan apa. Saat Hye Ran keluar dari ruangan pun dia hanya menunduk.


Tae Wook menangis mengingat pengakuan Hye Ran tadi.
“Kenapa dia tidak memercayai ucapanku? Sungguh tidak ada yang terjadi. Aku mengatakan yang sebenarnya. Kenapa kamu tidak bisa memercayaiku? Dengan begitu, tidak akan ada yang mati.”
Dia juga teringat kembali bagamana Hye Ran berusa heras meyakinkannya dia tidak membunuh Kevin Lee.


Dari luar ruang kerja Tae Wook, Hye Ran mendengar Tae Wook melepar gelas. Dia mendekati pintu tapi mengurungkan niat membuka pintu ruang kerja itu. hye Ran hanya diam mendengarkan Tae Wook menangis terisak-isak.


Detektif Kang masih berada di kantornya, juniornya menawarkan untuk memberlikan ramen atau gimbap. Dia hanya diam saja tidak menjawab. Dia lalu bertanya bagaimana investigasinya pada Han Ji Won.


Flashback. Han Ji Won dengan yakin mengatakan dia tidak membunuh Kevin Lee, Detektif Kang lalu bertanya apa yang membuatnya yakin kalau Han Ji Won tidak melakukannya. 

“Aku dan dia berada di vila bersama sebelum kecelakaan itu terjadi. Bukan. Untuk lebih spesifik, aku sebaiknya bilang aku bersamanya sebelum News Nine meliput kasus antara Perusahaan Baja Hwanil dan Kaham. Dia keluar untuk menyelesaikan masalah itu saat melihat berita itu. Lalu aku dihubungi Seo Eun Joo. Dia mengamuk. Sejujurnya, aku penasaran selama ini. Kenapa polisi hanya mencurigai Go Hye Ran? Sebenarnya, Seo Eun Joo punya lebih banyak alasan untuk membunuh Kevin Lee. Dia mendapati suaminya berselingkuh. Dan bukan hanya satu, tapi dua selingkuhan. Lantas siapa yang paling ingin membunuhnya?”

“Seo Eun Joo tidak keluar setelah Go Hye Ran mengantarnya pulang pada pukul 01.00.”
“Bagaimana Anda bisa begitu yakin? Jika tidak terekam kamera CCTV, apa itu berarti aku di rumah? Hye Ran yang paling dirugikan dalam insiden ini. Dan dia lebih cerdas daripada siapa pun. Dia bahkan dinominasikan sebagai juru bicara Rumah Biru. Untuk apa dia membunuh?”
“Kenapa kamu sangat membelanya?”
“Aku reporter. Serta, aku pewarta News Nine saat ini. Aku mengatakan yang sebenarnya dengan rasa kewajiban.”
Advertisement

2 komentar

Alhamdulillah sudah dilanjut.. Semangat terus kak

Mba lanjut ya eps brikutnya.... terimakasih n smgat mba bwt sinop nya... :)


EmoticonEmoticon