3/27/2018

SINOPSIS Live Episode 4 PART 4

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Live Episode 4 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Live Episode 4 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Live Episode 5 Part 1

Jung Oh dan Tim Myung Ho mengadakan rapat di sebuah cafe. Mereka memeriksa rekaman CCTV, foto korban dan TKP. Won Woo mengatakan bahwa pada malam itu, suami korban pergi bekerja sebagai penjaga keamanan untuk shift malam.


“Dia pergi bekerja jam 9.02. 30 menit lebih lambat dari biasanya. Si pacar istri itu datang ke rumah dua menit setelah suaminya pergi.”


“Sepertinya dia memang ada di dekat situ dan datang langsung setelah korban menelepon. Atau memang begitu rutinitas mereka. Tetangga mengajukan laporan pada jam 9.02, lima menit setelah si suami pergi.”


Han Pyo: “Tetangga bilang kebisingan berlangsung selama satu jam. Tapi tidak berisik lagi, lima menit sebelum kita datang ke lokasi, jadi pukul 9.15. Jika begitu, artinya...”
Won Woo: “Korban.. bisa saja berdebat dengan suami atau pacarnya.”
Myung Ho: “Han Jung Oh, bagaimana pendapatmu?”


Jung Oh bilang rekaman CCTV ketika mobil si suami putar balik sangat menganggunya. Won Woo bilang si suami harus mengurus sesuatu dengan kliennya. Won Woo mengatakan bahwa tempat pertemuan dengan kliennya itu bisa ditempuh dalam waktu dengan berjalan kaki dan jika berlari hanya butuh waktu satu atau dua menit.


“Sebentar,” kata Myung Ho. “Bagaimana jika dia pulang ke rumah dan bukannya menemui klien, lalu membunuh istrinya?” Jung Oh bilang si suami sudah menduga perselingkuhan istrinya selama tiga bulan terakhir. Tapi ia penasaran kenapa si suami yakin perselingkuhan akan terjadi malam itu.


Jung Oh: “Sang suami putar balik pada jam 9.04.”
Seung Jae: “Si pacar memasuki rumah jam 9.03. Jadi waktunya bertabrakan.”
Jung Oh: “Dia tadinya mau berangkat kerja, tapi kenapa tiba-tiba... Bagaimana dia tahu? Kenapa dia putar balik saat si pacar memasuki rumah?”


Mereka kemudian menarik dugaan bahwa kemungkinan si suami menyiman kamera tersembunyi di rumahnya dan memantaunya melalui ponselnya. Mereka menduga, kalau kamera itu masih berada di rumah, karena si pelaku pasti langsung melarikan diri ketika mendengar bunyi sirine.


“Ayo kita ke mobil,” ajak Seung Jae lalu menutup laptopnya. Semua anggota melakukan hal yang sama dan merapikan barang-barang mereka.


Myung Ho menyuruh Jung Oh pulang, tapi Jung Oh menolak dan ingin ikut. Myung Ho bilang ia tahu Jung Oh terkejut, karena dia jika terkejut karena melihat mayat berlumuran darah seperti itu. Ia bilang ia mengizinkan Jung Oh ikut rapat hari ini, karena ia tahu Jung Oh tidak akan bisa tidur. “Jadi, pulang dan tidurlah,” kata Myung Ho.


“Sunbaenim, kasus seperti ini jarang terjadi, bukan?” tanya Jung Oh. Myung Ho tidak menjawab dan pergi lebih dulu.


Jang Mi tampak menyukai aksesoris yang dijual di pinggir jalan. Tapi kemudian ia meletakkannya lagi dan pergi.


Ia kemudian masuk ke arena permainan capit boneka. Ia mencoba berkali-kali, namun terus gagal. Ia mendapat telepon dari Yang Chon, tapi ia mengabaikannya dan lanjut bermain lagi.


Yang Chon bertanya pada Song Yi apakah ibunya selingkuh, karena tidak juga pulang. “Sebentar lagi aku bekerja paruh waktu. Dae Hwan ada di perpustakaan. Untuk apa ibu pulang? Ayah saja tidak pernah angkat telepon saat bekerja,” kata Song Yi yang sedang makan.


Yang Chon meminta Song Yi menghubungi ibunya dengan ponsel Song Yi. Song Yi mencoba menghubungi ibunya dan baru dua kali dering, Song Yi bilang ibunya tidak mengangkat teleponnya. Yang Chon lalu duduk di hadapan Song Yi.


Yang Chon: “Kenapa kau dingin pada ayah? Kau dan dae Hwan. Kenapa kalian sangat dingin pada ayah?”
Song Yi: “Kami tidak bersikap dingin pada ayah, kami hanya merasa canggung.”
Yang Chon: “Kenapa kau merasa canggung dengan ayahmu?”


“Karena kita jarang bertemu. Waktu aku masih kecil, sampai sekarang pun, kita jarang sekali bertemu,” kata Song Yi. Yang Chon berkata bahwa ia sangat mencintai anak-anaknya sambil menunjukkan foto mereka di ponselnya. Ia bilang kalau ia selalu menatap foto itu dan menciumnya.


“Aku tidak marah. Aku hanya merasa lebih nyaman jika ayah tidak di rumah,” kata Song Yi yang membuat Yang Chon sedih. Yang Chon tidak sengaja menumpah susu yang diminumnya. “Susunya tumpah kemana-mana. Jorok sekali.”


Song Yi lalu masuk ke kamarnya dan Yang Chon meminum susunya lagi.


Yang Chon kemudian pergi ke rumah sakit dan bertanya apakah diam-diam Jang Mi pergi kesana dan memberikan makanan. Ayahnya menunjukkan kertas pesan dari Jang Mi yang berisi, “Kurasa aku akan menangis kalau aku melihat ayah. Aku hanya ingin menyapa ibu. Aku belikan kesemek kering. Makanlah itu, agar pencernaan ayah lancar.”


Yang Chon ikut memakan kesemek itu, lalu menatap dua kasur yang tadinya ditempati oleh kedua mertuanya. “Waktu mertuaku meninggal, apa mereka mati dengan rasa damai?” tanyanya. Ayahnya bilang sudah terlambat menanyakan itu.


Jang Mi duduk di taman dan melihat sebuah keluarga yang harmonis berjalan melewatinya. Jang Mi menatap mereka dengan sedih.


Sang Soo dan Hye Ri sedang berolahraga malam.


Jung Oh menerima telepon dari Myung Ho yang mengatakan bahwa semua orang di kantor sangat senang, karena mereka berhasil menemukan kamera tersembunyinya. “Dimana kameranya?” tanya Jung Oh.


Myung Ho: “Di dalam kotak kabel. Kotak sistem TV kabel. Kau mungkinan nanti akan mendapat pujian dari Komisaris Polisi. Dia mungkin akan mengatakan ‘baguslah’ dan memberimu sertifikat hadiah 50.000 won.”
Jung Oh: “Pujian memang hal bagus.”
Myung Ho: “Kenapa kau belum tidur?”


Jung Oh mengatakan bahwa yang lain sedang berolahraga, sedangkan dia sedang mendengarkan musik. “Kau minum berapa banyak?” tanya Myung Ho. Jung Oh bilang ia sudah minum sebotol soju. “Kalau begitu, minumlah setengah botol lagi lalu tidurlah.”


Jung Oh bertanya berapa lama dia akan merasa seperti itu. Myung Ho menjawab, “Agak lama. Tapi minum-minumnya hanya malam ini saja. Dan malam-malam lainnya, dengarkanlah musik seperti sekarang. Kapanpun kau teringat soal kasus itu, dengarkan saja musik. Tidurlah.”


Jung Oh lalu masuk ke dalam rumah. Ia mengambil sebotol soju dan menuangkannya segelas. Ia lalu meminumnya sambil mendengarkan musik dari ponselnya.


Sambil berolahraga, Sang Soo mengingat saat Yang Chon memarahinya karea tidak bekerja sesuai buku pedoman. Tapi di lain waktu, Yang Chon juga memarahinya, padahal dia sudah mengikuti buku pedoman. “Dia selalu tidak konsisten. Dasar muka dua,” gumamnya.


Keesokan harinya, Yang Chon dan Sang Soo pergi ke daerah pinggiran kota untuk menangani laporan. “Ada orang?” panggil Yang Chon. “Kami menerima laporan. Tuan Kim Sang Chul? Kakakmu, Kim Yeong Chul, khawatir karena dia tidak bisa menghubungimu sejak kemarin. Anda di rumah?”


Yang Chon membuka beberapa ruangan, tapi tidak menemukan apapun. Ia lalu memakai sarung tangannya, begitu juga dengan Sang Soo. Ia meminta Sang Soo memeriksa bagian rumah yang lain.


“Kami dari Kepolisian,” kata Yang Chon sambilmembuka pintu kamar. Ia menemukan matras dan bekas makanan yang berantakan. Televisi juga masih menyala, tapi tidak ada siapapun disana. Disana juga tergeletak botol obat yang sudah kosong. Yang Chon lalu mendokumentasikan semuanya dengan kamera ponselnya.


Yang Chon lalu keluar rumah ketika mendengar teriakan Sang Soo bahwa ada orang yang sekarat. Sang Soo terlihat menarik seorang pria yang tidak sadarkan diri. “Dia masih hidup,” kata Sang Soo lalu menekan dadanya dan mengeluarkan sesuatu dari mulut korban. “Kirim tim medis. Rute 34,42 Jeongwang Munjigi. Ada orang keracunan karbon monoksida, kirim ambulance,” kata Sang Soo dengan radio panggilnya. Yang Chon lalu melihat sekeliling.


Yang Chon: “Apa kau merobek tali hijau ini? Kau sudah menyemprotkan air di TKP.”
Sang Soo: “Aku tadi dengar suara. Aku merobek talinya dan menyemprotkan air kalau-kalau ada kebakaran.”


“Siapa yang menyuruhmu berbuat seenaknya tanpa bertanya padaku dulu?!” teriak Yang Chon sangat marah. “Lalu ini bagaimana?!”


Sang Soo yang masih sibuk menyelamatkan korban menjadi sangat terkejut.


Ambulance sudah membawa korban ke rumah sakit. Tim forensik juga sudah mulai melakukan pemeriksaan.


Hye Ri dan Sam Bo tampak berjaga disana. Mereka mendengar yang Chon yang sedang ditegur


“Bisa-bisanya kau mengacaukan TKP seperti ini?! Kau dari sekian orang?! Kau itu sudah bekerja di forensik selama tiga tahun, tapi kau mengacaukan TKP seperti ini? Kaca sekali!” kata seorang Polisi dari tim forensik sambil menunjukkan tali hijau dari TKP.


Sang Soo juga ada disana. Dan dia mendengar mentornya dimarahi, karena kesalahannya. Ia juga mendengar Yang Chon meminta maaf.


“Jika pintu itu dikunci pakai tali dari luar, kau harusnya menyimpulkan itu upaya pembunuhan, bukannya bunuh diri. Seorang amatir saja pasti tahu,” kata si petugas forensik sambil mendorong Yang Chon dengan berkas di tangannya.


Sang Soo terlihat sedih. Polisi forensik bertanya apa yang akan mereka lakukan dengan bukti itu, karena sudah terkontamintasi dengan tangan Yang Chon dan TKP-nya penuh air. “Walau si korban masih hidup, kemungkinana dia juga takkan bisa bicara. Bagaimana jika korban tidak bisa memberikan pernyataan?” kata petugas forensik itu.


Forensik: “Bagaimana kita bisa menangkap tersangkanya?!”
Yang Chon: “Aku menemukan ada jejak kaki di rumah. Bukti lain pasti muncul.”
Forensik: “Kau ini...”


Petugas forensik itu bilang bahwa seharusnya kasus itu bisa selesai dalam setengah hari. Ia memukulkan berkasnya ke kepala Yang Chon. “Kau sudah mengacaukan segalanya, tapi kau masih saja membela diri. Aku akan melaporkan kalian berdua pada atasan kami karena mengkontaminasi TKP,” kata petugas forensik itu lalu pergi. Ia menggerutu kalau mereka sudah banyak pekerjaan, tapi malah ditambah lagi.


Di ruang ganti pria, Yang Chon pergi paling awal. Seung Jae menyuruh Sang Soo agar mengikuti Yang Chon. Min Seok berkata kalau ia mendengar nilai Sang Soo bulan ini sangat rendah dan terendah dari semua anak baru.


Sang Soo tidak menjawab. Ia membanting pintu lokernya dan pergi. “Dasar dia itu...,” kata Sam Bo.


Sang Soo menyusul Yang Chon ke halte bus dan meminta maaf. Ia bertanya bagaimana bisa menjadi Polisi hebat. “Jika kau ingin tahu itu, tanyakan saja pada Polisi hebat,” kata Yang Chon.


Bus Yong Chan datang dan dia langsung naik.


Yong Chan pulang ke rumah ayahnya.


Tidak lama kemudian, Sang Soo datang dengan menaiki taksi. Ia menggedor pintu luar dengan sangat keras, sampai anjing-anjing yang ada di sekitar sana menggonggong. Yang Chon keluar dan membuka pintu. Ia terkejut melihat Sang Soo ada disaa.


Yang Chon: “Kau mengikutiku pulang? Kau gila?”
Sang Soo: “Kenapa Anda tidak konsisten? Kenapa?! Anda menyuruhku melakukan semuanya menurut buku pedoman. Tapi juga menegurku karena pedoman itu. Hari ini pun, nyawa orang harusnya lebih penting daripada bukti.”


“Dia bisa mati jika kita mengamankan TKP!” teriak Sang Soo. Yang Chon bertanya apa Sang Soo ingin menantangnya, lalu akan kembali masuk ke dalam rumah.


Sang Soo mendorongnya ke dinding dan berkata, “Lagipula aku akan dipecat . Tak ada yang perlu kutakutkan lagi, Tuan Oh Yang Chon.” Yang Chon melihat tangan Sang Soo bergetar.


Advertisement

1 komentar:


EmoticonEmoticon