3/18/2018

SINOPSIS Live Episode 1 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Live Episode 1 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Live Episode 1 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Live Episode 1 Part 3

“Ibu sudah kirim uangnya? Berapa banyak?” tanya Sang Soo.


“Ibu cuma bisa mengirim delapan juta won. Cuma segitu uang ibu. Mau bagaimana lagi? Kau mau ibu mencopet? Jika kau sangat menyukai uang, kenapa tidak sekalian kau jual ibu saja?” tanya Ibu Sang Soo (Yum Hye Ran) yang baru saja keluar dari ATM.


Ibu Sang Soo yang bekerja sebagai petugas kebersihan berkata kalau ia memang sudah tidak punya uang lagi, lagipula kakak Sang Soo juga akan mengirim uang untuk Sang Soo. Ibu menyarankan agar Sang Soo membatalkan tabungan rumah barunya saja.


Sambil membersihkan toilet, Ibu Sang Soo menggerutu, “Setiap kali menabung, uangku selalu diambil olehnya seolah itu uang miliknya. Dasar anak nakal.”


“Aku sudah mengirimkan tujuh juta won. Ya, aku gagal menabung karenamu,” kata seorang pria yang sepertinya adalah Sang Joon, kakak Sang Soo (Kim Tae Hoon). Ia tampak merapikan kotak-kota ke dalam lemari.


“Sang Joon, susunlah penyimpanannya juga,” kata seorang wanita dan Sang Joon mengiyakannya. Sang Joon ingin menutup ponselnya karena mau pulang cepat untuk menemui Jin Hui, tapi Sang Soo mengatakan bahwa seharusnya pihak apotek tidak menyuruh sales farmasi untuk menyusun penyimpanan mereka. Sang Joon mengatakan bahwa itulah alasan dia berharap Sang Soo menjadi wiraswasta saja.


Di ruang penyimpanan, Sang Joon menerima telepon dari Jin Hui, “Jin Hui, sebentar lagi aku sampai. Sebentar... Apa maksudmu tidak bisa bertemu? Kencan buta? Kenapa kau menangis? Bukankah kau menyetujuinya karena orang tuamu?”


Sang Soo berteriak kegirangan sampai membuat orang-orang di sekitarnya risih. Ia meminta orang yang bicara dengannya di ponsel itu agar mengirimkan uangnya dan datang ke klub. Ia kemudian menghubungi atasannya, “Pa, apakah batas waktu pembelian sahamnya besok jam 10 malam? Temanku juga akan beli. Tentu, aku akan berusaha.”


Di dalam kereta, Sang Soo menghubungi temannya yang lain dan berkata kalau ia sudah lama putus dari Seo Yung. Di kereta itu juga ada Jung Oh dan Yeong JI yang duduk tidak jauh dari tempat Sang Soo berdiri.


Jung Oh sedang membaca lowongan kerja yang membutuhkan banyak wanita, tapi Yeong Ji bilang sebaiknya mereka tidak menjadi sales karena sangat sulit.


Sesuai rencana, malam harinya Sang Soo pergi ke klub. Teman-temannya memujinya karena Asng Soo bisa menggoda wanita. Sang Soo lalu mengajak mereka untuk mengikuti ronde dua ke bar di seberang jalan bersama para wanita yang tadi digodanya.


Tapi ternyata Sang Soo meminta agar mereka patungan. Temannya mengeluhkan kenapa harus ke bar, tidak ke ke kedai tenda saja. Sang Soo bilang mereka patungan 50 ribu dulu, dan jika tidak cukup ditambah lagi 30 ribu. Seorang temannya tidak mau ikut karena para wanita itu peminum berat dan akan membuang uang mereka.


Seorang teman yang lain mengatakan bahwa mereka memang tidak sebaiknya menjadi mangsa wanita lalu mengambil uang patungannya lagi. Sang Soo yang merasa dihina dan menjadi marah. Ia berkata bahwa ia memang menginginkan wanita, ia juga mengeluhkan dirinya yang sudah melakukan berbagai pekerjaan dalam tiga tahun tapi tidak ada hasilnya.


Sang Soo: “Dua bulan lalu aku diputuskan pacarku.”
Teman: “Kau bilang itu karena prinsip kalian berbeda.”
Sang Soo “Kau percaya itu?! Dia mencampakkanku karena aku tidak punya apa-apa. Hey, sialan. Dua bukan ini aku bekerja lembur tanpa istirahat. Apa yang harus kutertawakan tanpa wanita? Tidak bolehkah aku bersenang-senang bersama wanita?”


Temannya itu bilang Sang Soo masih lebih baik darinya karena menjadi pemagang,sedangkan dia tidak memiliki pekerjaan sama sekali. Sang Soo bilang karena itulah dia ingin menghibur temannya, tapi temannya bilang ia tidak butuh belas kasihan dari Sang Soo, lalu pergi.


Tapi karena tidak terima Sang Soo menyebutnya punya masalah rendah diri, temannya kembali lagi dan menghajar Sang Soo. Sang Soo akan membalas, namun kedua teman yang lain berusaha melerai mereka.


Dan pada akhirnya, Sang Soo yang pergi ke ronde dua dan tertawa bersama tiga wanita yang temui di klub sebelumnya. Sang Soo kemudian harus keluar untuk menerima telepon dari atasannya. Kesempatan itu dimanfaatkan para wanita untuk menambah minuman mereka.


“Ya, Pak. Tepat sekali waktunya. Baguslah. Sampai nanti,” kata Sang Soo lalu menutup ponselnya.


Sang Soo kemudian terlihat masuk ke dalam toilet dan memanggil nama Hyeong Wook dan berhasilkan menemukannya dalam salah satu bilik toilet. Hyeong Wook ternyata adalah teman yan tadi bertengkar dengannya. Hyeong Wook bilangia sepertinya tidak bisa dapat pekerjaan lagi.


Sambil memasangkan celana Hyeong Wook, Sang Soo mengeluh kalau para wanita itu minum terlalu banyak dan bisa menghabiskan uangnya, jadi ia akan mengajak mereka kabur. Ia lalu menggendon Hyeong Wook pergi.


Sang Soo mengajak Hyeong Wook agar lain kali mencari wanita baik di klub, karena yang tadi mereka temui itu keterlaluan dan tidak sesuai tipe mereka. “Aku ingin menemukan wanita yang bersedia membayar setengah dari tagihan minuman,” kata Sang Soo.


Sang Soo kemudian menerima telepon, “Ya, ibu? Pergelangan kaki? Telepon saja hyung. Tidak diangkat? Hyeong Wook sedang mabuk berat. Telepon saja taksi. Ibu?” Sang Soo lalu berjalan ke arah sebaliknya.


“Kenapa kau menggendong Hyeong Wook?” tanya ibu yang baru keluar gedung dengan menggunakan kruk. Sang Soo bilang Hyeong Wook sedang mabuk. “Kalian ini memang tidak berguna.


Ibu terlihat sedih ketika temannya bertanya, “Kau anaknya? Yang sales farmasi atau yang penjual air mineral?” Setelah Sang Soo menjawab, anak teman ibu datang menjemput.


Teman ibu bilang anaknya adalah PNS yang bekerja di kantor wilayah. Teman ibu juga mengatakan bahwa anaknya selalu menjemputnya setiap malam, karena khawatir dengan keselamatan ibunya. Ibu hanya tersenyum melihat temannya pulang naik mobil pribadi. Mereka bertiga lalu duduk di halte. 


Sang Soo: “Kenapa meneleponku padahal ibu bisa naik bus?”
Ibu: “Mana bisa ibu membawa tas dengan kruk begini?”
Sang Soo: “Ibu iri pada ahjumma itu? Ibu iri karena anaknya PNS? Kalau begitu, tinggal saja bersamanya.”


Dengan sedih ibu mengatakan bahwa teman kerjanya yang ia panggil unnie itu sebentar lagi akan mendapatkan kartu karyawan yang digantung di leher dan gajinya naik 120.000 won. Sedangkan ibu bisa dipecat dengan mudah, sedangkan temannya tidak karena akan segera menjadi karyawan tetap. Ibu bilang anak temannya yang PNS itu juga tidak akan mudah dipecat.


“Aku juga tidak. Aku sebentar lagi menjadi karyawan tetap,” kata Sang Soo. Ibu tidak merespon dan hanya mengatakan kalau bulannya sangat cantik. “Ibu yang lebih cantik.” Sang Soo kemudian mendapatkan telepon dari temannya.


Sang Soo kesal karena temannya tidak jadi berinvestasi dengan alasan itu adalah penipuan sistem piramida. Snag Soo mengatakan bahwa perusahaannya tidak ilegal, bahkan ibu dan kakaknya sudah mempertaruhkan tabungannya.


Keesokan harinya, Sang Soo masuk ke kantornya dan sangat terkejut, karena sudah tidak ada meja kerja disana. Ia bahkan melihat orang-orang bertengkar menanyakan uang mereka. Seorang ibu-ibu menyerang Sang Soo dan menanyakan uangnya.


Mereka semua akhirnya berakhir di Kantor Polisi untuk dimintai keterangan. Mereka sudah berinvestasi puluhan juta won. Sang Soo sudah terlalu putus asa hingga tidak bisa berdebat dengan ibu-ibu yang tadi menyerangnya. Ia lalu minta izin untuk mengangkat telepon.


“Hyung, dimana? Rumah? Kau kerja besok siang? Hyung. Begini, aku sebenarnya.. Apa? Kau akan ke Australia? Kenapa? Working holiday?” tanya Sang Soo heran.


Sang Joon sendiri sedang sibuk mengemas barang-barangnya. Ia berkata kalau lamarannya di ladang gandum Australia diterima. Ia lalu berkata bahwa pacarnya pergi kencan buta dengan pria yang bekerja di perusahaan besar dan sepertinya pacarnya menyukai pria itu.


Sang Joon: “Dia ingin putus denganku. Kalau aku tinggal disini, aku pasti susah melupakannya. Sang Soo, aku harus pergi sebentar.”
Sang Soo: “Lalu kapan hyung pulang? Kenapa tidak jawab? Apa kau takkan pulang? Kau meninggalkan kami? Kenapa kau meninggalkan kami? Pergi seperti itu sama saja dengan meninggalkan kami. Sama saja seperti membuang kami ke tong sampah.”


Sang Joon menatap foto keluarganya. Ia meminta Sang Soo memberitahukan pada ibunya bahwa ia sudah muak dengan negaranya dan Seoul, ia juga muak dengan pekerjaannya yang memakan waktu lebih dari 20 jam sehari.


Sang Soo mengusap air matanya saat kakaknya mengatakan bahwa ia merasa negaranyalah yang mengusirnya. “Hei, hyung.. hyung..” Sang Soo mencoba menghubungi kakaknya lagi, tapi tidak diangkat. Saking kesalnya, ia sampai melempar ponselnya.


Sang Soo kemudian melihat dua orang Polisi yang sednag membicarakan tentang rekannya yang berhasil menangkap penjahat. Pandangan Sang Soo lalu tertuju pada poster yang ada di mading Kantor Polisi berjudul ‘Penerimaan Aparat Polisi 2015’.


DI dalam kereta, Jung Oh juga membaca poster yang sama. “Jangan coba-coba. Ujiannya juga banyak. Saingannya pasti banyak. Aku tidak akan melamar,” kata Yeong Ji.


Jung Oh bilang PNS dipekerjakan berdasarkan nilai ujian mereka, tidak melihat kualifikasi lainnya, dan wanita bisa naik pangkat. Jung Oh tampak tertarik, lalu memotret poster itu.


Sang Soo terus menatap poster itu.
Advertisement


EmoticonEmoticon