3/18/2018

SINOPSIS Live Episode 1 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Live Episode 1 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Live
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Live Episode 1 Part 2

Terlihat sebuah pengamanan lalu lintas dan seorang Polisi tampak memberikan pengarahan melalui talkie. Polisi itu juga memberikan pengarahan langsung kepada bawahannya agar berjaga dengan baik sehingga tidak terjadi hal yang tak terduga. Selain berjaga, para Polisi juga bergantian untuk makan malam dipinggir jalan dan di bawah hujan salju.


Seorang Polis i bernama Yeom Sang Soo (Lee Kwang Soo) tampak mengambil jatah makan malamnya, lalu duduk di bawah pohon. Sambil menahan dingin, ia kemudian mulai menyantap makanannya.


Tidak jauh dari tempat Sang Soo duduk, seorang Polisi wanita bernama Han Jung Oh (Jung Yu Mi) juga sedang menyantap makan malamnya dengan lahap. Ia menatap Sang Soo dengan tajam.


[Episode 1]


Di restoran, seorang pria yang sedang menyapu berusaha membangunkan pelanggan yang masih tertidur. Ia berteriak dengan keras, namun mereka tidak juga bangun. Jung Oh yang sedang mencuci piring menyuruh si pria agar menyenggol mereka, tapi tetap tidak berhasil.


Jung Oh itu melihat jam yang hampir jam enam pagi dan mengatakan bahwa hari Minggu ini ia libur dan seseorang bernama So Jeong akan menggantikannya.


Pria itu mengatakan bahwa dua tamunya meminum lima belas botol, jadi mereka tidak juga bangun. Jung Oh itu menyuruhnya agar menyenggol dengan lebih keras.


Setelah mengunci restorannya, Jung Oh menghubungi Polisi dan mengatakan bahwa ada orang mabuk yang duduk di jalanan di Persimpangan Hyuna di Seongbin-dong, padahal banyak mobil yang melintas disana. Kemudian Jung Oh berlari pulang.


Sesampainya di rumah, Jung Oh langsung bersiap menyiapkan sarapan. Namun, ia tidak sengaja menjatuhkan berasnya sehingga membangunkan orang yang ada di rumah. Ia mengatakan bahwa ia sedang mencuci beras dan menyuruh orang itu untuk tidur lagi.


Dengan berhati-hati, Jung Oh masuk ke kamar dan mematikan televisi yang masih menyala. Ia juga menutup tirainya dengan perlahan. Ia menyuruhnya ibunya tetap tidur, tapi ia malah menginjak ibunya. Ibunya terbangun dan memukulnya dengan kesal, kemudian ibunya menarik kembali selimutnya.


Jam setengah sembilan pagi, Jung Oh sudah selesai mandi dan mengeringkan rambutnya. Ia mengecek kertas yang tersimpan di atas laptopnya.


Di dinding, terlihat banyak catatan penyemangat untuk dirinya sendiri. 


Setelah merapikan CV-nya, Jung Oh kemudian menyetrika pakaiannya walaupun sebelumnya sudah rapi.


Sambil menyetrika ia berkata pada ibunya yang berada di kamar sebelah untuk sarapan sup pasta kedelai yang sudah ia buat. Karena ibunya tidak merespon, Jung Oh pergi menemuinya.


Ia meninggalkan setrika tepat di ujung bawah kemejanya. Namun ketika ia menutup pintu, setrika itu terjatuh.


Ibu Jung Oh mengatakan bahwa ia harus bertemu klien sebelum berangkat kerja. Jung Oh bertanya apakah kliennya akan daftar asuransi. “Aku harus menemuinya dulu, baru bisa tahu!” kata Ibu Jung Oh dengan keras. Jung Oh meminta ibunya jangan kesal begitu. “Aku tidak bisa menahannya.”


Jung Oh bertanya apakah ibunya sudah minum obat, tapi ibu bilang gangguan paniknya tidak akan pernah sembuh. Jung Oh tetap mengambilkan obatnya dan meminta ibu meminumnya. Ibu terpaksa meminum obatnya, tapi ia tetap menolak untuk sarapan karena harus segera pergi.


Ibu bersiap pergi dan mencium bau tidak enak. “Ah, supnya!” kata Jung Oh lalu pergi ke dapur dan dia mendapati supnya sudah gosong. Ia lalu kembali menemui ibunya.


“Minta 50.000 won, Ibu. Sudah kubilang aku mau ke bursa kerja di Seoul. Nanti kuganti kalau sudah gajian,” kata Jung Oh tapi ibu diam saja. “Berikan saja uangnya. Kenapa ibu menatapku? Mau bagaimana lagi.” Ibu lalu membuka dompetnya dan memberikan uangnya pada Jung oh.


Jung Oh bertambah kesal, karena kemeja bolong karena terkena setrika. Ia lalu mencabut kabelnya. “Tak ada yang beres sama sekali,” gumamnya hampir menangis.


Bersamanya temannya yang bernama Yeong Ji, Jung Ho tampak berlari di stasiun kereta bawah tanah. Tapi kemudian Jung Ho mengambil arah yang berbeda.


Yeong Ji: “Mau kemana?!”
Jung Oh: “Kamar mandi!”
Yeong Ji: “Gila kau, kan ada kamar mandi di bursa kerja!”
Jung Oh: “Kau harusnya bilang dari tadi!”


Jung Oh berlari lagi dan hampir menabrak Sang Soo yang tampak sibuk membawa dua buah galon air.


Sang Soo berlari dan menyerahkan galon itu pada rekannya. Ia kemudian berlari lagi ke arah ia datang tadi.


Suasana di Bursa Kerja 2014 itu sangat sibuk. Beberapa orang masih melihat daftar pekerjaan, ada juga yang sudah melakukan walk-in interview, dan ada yang masih bersiap diri di toilet sambil berlatih memperkenalkan diri.


Jung Oh juga sudah mengganti pakaiannya dan berlatih wawancara di depan cermin. Setelah melakukannya beberapa kali, Jung Oh bersiap pergi.


Tapi kemudian, ia bertabrakan dengan sesama pelamar kerja hingga pakaiannya kotor terkena tumpahan kopi. Jung Oh hampir menangis kesal. Ia meminta di penabrak memberikan bajunya karena ia harus wawancara dalam 10 menit dan akan dikembalikan jika sudah selesai.


Yeong Ji lalu mengambil tempat sampah dan meminta mereka semua agar tidak berjalan sambil membawa kopi. Akhirnya para pelamar membuang kopi mereka.


Di bilik toilet, Jung Oh mengganti pakaiannya sambil menahan tangis.


Saat akan diwawancara, Yeong Ji memberikan sebotol minuman untuk pewawancara. Tapi pewawancara itu bilang ia tidak boleh menerimnya. Terpaksa Yeong Ji menyimpannya kembali.


Seorang pelamar yang duduk di tengah berkata dengan yakin bahwa ia akan tetap bekerja walaupun sudah menikah. Sedangkan Jung Oh berkata kalau dia tidak akan menikah dan akan berkontribusi pada perusahaan.


Saat ditanya apakah pelamar bersedia jika seniornya di kantor memintanya mengurus masalah pribadi. Pelamar di tengah langsung pergi, sedangkan Jung Oh terdiam. Saat pewawancara akan mencatat, Jung Oh berkata, “Saya akan menganggap itu sebagai minat baik. Saya akan membantu urusan pribadi mereka dan menanyakan tentang peraturan pekerjaan atau semacamnya.”


Di meja berbeda, Jung Oh mengatakan bahwa walaupun ia tidak kuliah di universitas terkenal, IPKnya tinggi dan dia bersedia jika hanya berstatus magang.


Pewawancara mengatakan bahwa tidak ada program magang di perusahaannya dan ia tampaknya lebih tertarik pada pelamar yang duduk di pinggir, karena ia lulusan universitas terkenal. Jung Oh melakukan protes dengan mengatakan bahwa di web perusahaan itu menampilkan bahwa mereka akan menerima pegawai dengan latar belakang pendidikan dimanapun.


Setelah menyebut pewawancara itu brengsek, Jung Oh pergi dan bergumam bahwa ia akan menulis semua yang ia alami di website Kementerian Ketenagakerjaan.


Sementara itu, Sang Soo tampak sibuk mendorong galon sambil menerima pesanan galon di ponselnya melalui handsfree. (Pekerja galon aja pakai jas ya, hehe..)


Selesai mengantar galon, Sang Soo masih sibuk mengurus dokumen, lalu kembali ke mejanya dan masih bicara melalui handsfree. Ia terus mempromosikan air mineralnya yang sudah disetujui BPOM dan dikembangkan oleh Dokter Yang.


Sang Soo bahkan makan masih sambil bekerja. Selesai bekerja, ia kemudian mencatatkan hasil penjualannya


Sang Soo lalu berkata pada temannya bahwa ia akan membeli 100 saham. Temannya merasa berat karena harus bekerja lembur dan harus membeli saham juga. Sang Soo menguatkannya bahwa dengan begitu gaji mereka akan naik menjadi 2 juta won per bulan dan akan menjadi pemegang saham.


Hidung Sang Soo mimisan yang sepertinya disebabkan karena ia bekerja terlalu keras. Ia mengatakan bahwa itu bukan mimisan pertamanya.


Di kedai, Jung Oh mengumpulkan uang dari semua temannya yang akan dipakai untuk membayar makan malam mereka. Mereka berdebat perbedaan pria dan wanita dalam mendapatkan pekerjaan.


Seorang pria meminta uangnya dan berkata kalau ia yang akan membayar sisanya. Jung Ho kecewa karena pria itu mendapatkan tawaran pekerjaan dari Win & Real, padahal dia juga melamar di tempat yang sama. Pria itu mengatakan mungkin karena pria lebih mudah disuruh daripada wanita.


Jung Oh mengucapkan selamat. Pria itu juga tidak tahu kenapa ia yang diterima karena nilai TOEIC dan Speaking Jung Oh lebih besar. Pria itu menduga alasan ia diterima adalah karena ia pria dan kesabarannya terlatih melalui wajib militer. Jung Oh bilang wanitalah yang lebh sabar karena harus menahan nyeri menstruasi setiap bulan.


Jung Oh lalu pergi dan Yeong Ji mengikutinya, sedangkan pria tadi masih sibuk dengan ponselnya. “Hyung, jangan main ponsel terus,” kata seorang pria lain.


Malam harinya Jung Oh dan Yeong Ji menginap di sauna. Mereka berharap bisa berhasil dalam wawancara esok hari. Jung Oh bilang besok ia ada empat wawancara kerja dan bersedia jika ada tambahan.


Jung Oh sangat terkejut ketika menerima telepon dari ibunya yang ingin membeli sebuah kafe.


Ibu bilang kafenya tidak terlalu besar, tapi selama dua jam disana, ia merasa kafenya sangat laris. “Jung Oh, haruskah kita minta uang pada ayahmu? Jika kita berhasil mengelola kafe ini...” kata ibu.


Jung Oh bilang ia tidak punya ayah. Ia bahkan tidak tahu wajah ayahnya. “Satu darah, bukan berarti dia ayahku,” kata Jung Oh. “Tentu saja aku kesal. Saat aku SMA, kita meminta uang sekolah padanya, tapi orang itu memanggil ibu sebagai lintah darat. Aku belum lupa itu. Jangan temui dia. ”


Ibu kemudian berteriak kesal setelah mendengar kabar kalau Jung Oh belum berhasil mendapat pekerjaan, lalu menutup ponselnya dan pergi keluar kafe.


Jung Oh menghubungi ibunya lagi. Ia berkata bahwa ia pecundang, karena belum juga mendapatkan pekerjaan. Yeong Ji duduk di sampingnya dan membawakan minuman. Jung Oh berkata bahwa ia selalu berusaha untuk tidak menyerah di depan ibunya dan berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia pasti bisa jika berusaha.


Ibu bertanya kenapa Jung Oh melarangnya bicara dengan ayah Jung Oh yang kaya itu. “Aku ini anak hasil hamil di luar nikah!” kata Jung Oh sedih. Setelah mengatakan bahwa ia hanya bisa hamil di luar nikah, sedangkan Jung Oh punya ijazah sarjana, ibu menutup ponselnya.


Yeong Ji membukakan minuman kalengnya untuk Jung Oh. Jung Oh meminumnya dan berhasil menahan tangisnya. Yeong Ji mulai menyanyi dan menari untuk menghibur Jung Oh.


Jung Oh akhirnya ikut menari dan bernyanyi bersama Yeong Ji.


Mereka melanjutkan aksinya sampai ke area luar dan berteriak serta tertawa bersama.


Advertisement


EmoticonEmoticon