3/11/2018

SINOPSIS Cross Episode 12 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Cross Episode 12 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Cross Episode 12 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Cross Episode 12 Part 3

Sendirian di ruangannya, dokter Go menuliskan sesuatu dalam catatannya, ’15 tahun yg lalu,, golongan darah A resus negatif (-)’


Kemudian, dokter Go bertemu dengan dokter senior yg sepertinya dulu bekerja di RS Sunrim. Tak banyak hal yg mereka perbincangkan, akan tetapi dokter iitu sama-sama memiliki kecurigaan pada sosok Son sajang, “Mengapa seorang investor mengambil alih rumah sakit? Dia bilang kalau dia melakukannya untuk istrinya atau apalah. Tapi semua orang mengira ada alasan lain.”


Hyung-bum bertemu dengan Son Sajang, di wilayah padang ilalang yg sangat sepi dan tak ada orang lain lewat. Sesuai janjinya, dia memberikan buku tcatatan transaksi penjualan organ, lalu mendapatkan uang dalam jumlah yg sangat besar sebagai gantinya.


“Anda jadi jauh lebih kaya selama ini. Aku tidak berharap akan sebanyak ini.”

“Aku tidak memberikannya secara cuma-cuma. Aku memberikannya padamu agar Kau pergi.”

“Kenapa?”

“Kalau tidak cukup, Aku bisa memberimu lebih banyak. Asalkan Kau setuju untuk meninggalkan negara ini.”

“Oke, mari kita bicarakan itu setelah kita membuat kesepakatan.”


“Namanya Kang In Kyu.” Ungkap Hyung-bum, “Dia berada di tahun ke-4 residennya. Dia masuk ke Rumah Sakit Sunrim untuk mencari tahu siapa yang memerintahkan pembedahan ayahnya dan yang memiliki ginjal ayahnya. Dia bahkan bekerja di penjara tempatku di kurung sehingga dia bisa mencoba membunuhku.”

“Kau membocorkan informasi tentangku?”

“Kau anggap aku apa? Lee Gil Sang. Aku membunuhnya sebelum dia bisa mengatakan apapun. Sesuai permintaanmu. Itu sebabnya, jika Kau memberiku 10 kali dari jumlah ini... Aku juga akan mengurus dia.”

“Bagaimana caranya?”

“Bawa dia padaku. Dia adalah pegawaimu, jadi Kau bisa memanggilnya kapan saja Kau mau, ya kan?”


Tanpa Son sajang sadari, ternyata ada seseroang yg memomtret pertemuan mereka dari kejauhan..


Hari berubah gelap, dokter Go masih menyetir mobilnya serang diri. Namun itba-tiba, pandangannya kembali buram.. segera, dia menepikan mobilnya dan menelpon nonor darurat~


Beberapa saat kemudian, dokter Go telah dibawa ke RS Sunrim. Tim medis, melaporkan bahwa kondisi tanda vital normal, hanya saja pasien mengalami dehidrasi dan demam tinggi, serta tangan kanannya yg terus bergetar semenjak ditemukan di TKP.


Untuk memastikan penyebabnya, dokter Son buru-buru mengecek rekam medis dokter Go dari komputer. Namun ternayta, tak ada catatan apa pun disana~

“Tolong pindahkan dia ke sana dan siapkan infus. Dan tolong telepon Koordinator Go Ji In dari pusat transplantasi...” pinta dokter Son


Setelah mendengar informasi mengenai kondisi ayahnya, Ji-in bergegas pergi menuju UGD. Kebetulan, In-kyu berada di dekatnya dan melihatnya.. maka dia pun bergegas mengikutinya.


Dokter Son bertanya pada Ji-in, apakah dokter Go punya riwayat penyakit yg menjadi penyebab tangannya gemetar seperti itu?


Ji-in menjawab tak ada.. namun In-kyu segera menghampiri dokter Go dan memeriksa kondisinya dengan tangannya sendiri.


Tiba-tiba, In-kyu teringat pada obat yg seringkali dikonsumsi dokter Go, namun selalu disembunyikan ketia bertemu dengannya. 


Untuk memastikannya, dia pun mencari obat tersebut.. yg ternyata, merupakan obat untuk penderita penyakit Parkinson (berhubungan dengan saraf)


Ketika Ji-in tengah menemani ayahnya, datanglah dokter yg selalu memeriksa konndisi sang ayah. Mereka berbiara empat mata, dan dokter itu menjelaskan penyakit Parkinson yg diderita oleh dokter Go,

“Penyakit Parkinson? Sejak kapan? Seberapa parah?”

“Dia sudah tahu sekitar 8 bulan yang lalu... tapi itu berkembang dengan cepat.”

“Harusnya kau memberitahuku kalau begitu!”

“Aku tidak punya pilihan. Karena ayahmu melarangku. Dia bilang dia cukup menyesal karena dia sudah banyak menyulitkanmu jadi dia tidak bisa bilang kalau dia sakit.”


“Ayahmu memang tak pandai dalam mengekspresikan perasaannya, tapi dia sangat mencintaimu. Bahkan saat dia tahu tentang penyakitnya... yg dia khawatirkan adalah dirimu. Jadi berbaktilah pada ayahmu.”


Dokter itu pergi, kemudian datanglah In-kyu yg lansgung duduk disebelah Ji-in.. menemaninya hingga merasa lebih tenang dan baikan.


“Sebenarnya... Aku sangat membenci ayahku. Aku memanggilnya ayah ceroboh yang mengabaikan keluarganya... dan hanya merawat pasiennya. Tapi ternyata, dia sangat peduli padaku. Meskipun dia sendiri, ternyata dalam kondisi sakit..” ungkap Ji-in


“Ketika mengetahui bahwa ayahmu mengadopsiku dan adikku, kamu pasti sangat kecewa ‘bukan? Sebenarnya, aku pun merasakan hal yg sama.. Tapi alasan dia mengadopsi kami... adalah karenamu. Dia bilang dia teringat putrinya... Saat dia melihat adikku yang sakit. Dia sangat merindukanmu... saat dulu dia tinggal bersama kami”


Hyung-bum menelpon seorang klien-nya yg membutuhkan liver dari golongan darah A resus negatif. Dia tanya, apa kliennya sudah menyiapkan uang sesuai dengan yg dia minta?

“Aku belum punya uangnya..”

“Hmm.. tak apa. Berikan saja, seluruh uang yg kaupunya dan aku akan segera menetukan tanggalnya..”


Ji-in menangis, meratapi kondisi ayahnay yg masih terbaring tak sadarkan diri.


Semetara itu, In-kyu tengah berada dalam ruangan dokter Go. Tak sengaja, dia melihat catatan serta riwayat pencarian dokter Go menegenai Son sajang dan direktur Lee yg tiba-tiba anik jabatan setelah adanya operasi transplantasi untuk pejabat pemerintahan. 

“Direktur Utama Son mengambil alih rumah sakit pada tahun 2004. Direktur Lee juga dipromosikan pada tahun 2004. Ayah terbunuh di tahun berikutnya...” gumam In-kyu


Tiba-tiba, ponselnya berdering.. karena ada telpon masuk dari On Hyun-woo, yakni si pondonor ginjal ilegal untuk Kongres Noh.

“Dokter, kurasa aku sedang sakit.. kau bisa datang kesini?”

“Apa yg kau rasakan?”

“Kepalaku pening, dan badanku menggigil.. serta sulit rasanya untuk bernafas..”

“Itu gejala gagal ginjal akut. Alamatmu dimana?”


Tak lama kemudian, In-kyu datang menjemput Hyun-woo kemudian membawanya ke Rumah Sakit. 


Sama seperti dugaannya, ternyata kondisi ginjal Hyun-woo memang sudah sangat memburuk..


“Apa Aku harus sering menjalani dialisis?”

“Dengan kondisimu saat ini... Kau harus melakukannya setidaknya 2x seminggu.”

“Lalu apa jadinya jika Aku lulus ujian pegawai negeri sipil?”

“Akan sulit bagimu untuk melaksanakan tugas.”

“Bagaimana jika...Aku melewatkan 1 sesi dialisis atau berhenti sama sekali?”

“Bisa bertambah buruk, bahkan jika Kau terus-menerus menjalani dialisis. Jika Kau melewatinya, jumlah sesinya akan meningkat. Dalam skenario terburuk... Kau akan membutuhkan transplantasi.”


Kebetulan, TV dalam ruang rawat menayangkan berita mengenai Kongress Noh, yg katanya akan mengajukan perubahan terkait UU tranplantasi organ. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, dia menegaskan bahwa diirnya ingin memperberat hukuman untuk orang-orang yg terlibat dalam bisnis ilegal tersebut.


Teringat obrolannya dengan In-kyu tempo hari, Hyun-woo kemudian bertanya, “Jika Aku harus bersaksi... apa orang itu dihukum?”

“Iya..”

“Akan kulakukan. Aku akan menerima hukumanku juga. Jika kita bisa menghukum orang-orang itu... Akan kulakukan.”
Advertisement


EmoticonEmoticon