2/22/2018

SINOPSIS Radio Romance Episode 7 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Radio Romance Episode 7 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Radio Romance Episode 7 Part 2

Geu Rim terkejut, karena ternyata Soo Ho memulai siarannya tanpa naskah. Soo Ho sudah menghafal naskahnya. Geu Rim menatapnya sambil tersenyum.


Lee Gang menyalakan lagu yang pertama. Ia lalu bertanya pada Hun Jung apa yang terjadi pada Geu Rim. “Aku tidak tahu, tapi sepertinya sekarang sudah semua sudah baik-baik saja,” kata Hun Jung.


Geu Rim bertanya apa yang baru saja terjadi. Soo Ho bilang ia sudah hafal semua bagian naskah tulisan tangan Geu Rim. Geu Rim tersenyum dan bertambah senang.


Sementara itu, Nyonya Nam menerima kiriman foto Soo Ho yang sedang berciuman dengan Geu Rim. Ia memasukkan fotonya lagi dan bertanya pada sekretarisnya bagaimana mereka bisa mendapatkan foto itu.


Sekretaris mengatakan bahwa amplop itu ada di kotak pos, jadi dia tidak tahu. Nyonya Nam memintanya mengecek rekaman CCTV dan melaporkan lagi hasilnya.


Nyonya Nam lalu memperhatikan website acara radio Soo Ho.


Karena keyboard komputernya tidak berfungsi, Geu Rim menggunakan laptopnya untuk memberi arahan pada Soo Ho. ‘Penemuan yang mendukung mimpi para anak muda,’ tulisnya. Itu adalah hadiah bagi penelepon yang sedang on air bersama Soo Ho, yaitu kosmetik yang sebelumnya mereka beli.


Geu Rim kemudian menginformasikan lagi bahwa mereka akan menghubungi Sang Goo sekarang. Geu Rim juga menunjukkan tulisannya pada Lee Gang. Lee Gang menganggukkan kepalanya dan memberikan kode pada Hun Jung untuk memulai sambungan teleponnya.


Soo Ho mulai menyapa Sang Goo, dan hampir saja berbicara kasar. Ia sadar dan memulai memperbaiki cara bicaranya. Soo Ho memberitahu Sang Goo banyak yang mengirimkannya hadiah. Ia lalu bertanya apa yang akhir-akhir ini Sang Goo kerjakan. “Aku menulis surat untuk temanku. Aku akan memberikan padanya ketika dia kembali,” kata Sang Goo.


“Tapi paman, bagaimana dengan orang yang kau ceritakan telah pergi itu?” tanya Sang Goo dan membuat Soo Ho terkejut. “Aku harap orang itu tidak pergi,” kata Sang Goo lagi.


Pak Kim dan Jason juga mendengarkan Sang Goo yang berkata, “Kau bilang ada seseorang yang kau suruh pergi.” Soo Ho berpura-pura tidak mengerti maksud perkataan Sang Goo. “Aku harap paman juga akan menemui orang itu dan memintanya agar tidak pergi.” Soo Ho melirik ke arah Geu Rim. “Katakanlah ‘jangan pergi’, daripada ‘pergilah’, oke?”


Jason, Hun Jung, dan Lee Gang tertawa, tapi tidak begitu dengan Pak Kim.


Setelah acara selesai, Tim Lee Gang saling berterima kasih, karena siaran mereka berjalan dengan baik. Hun Jung membanggakan dirinya, karena  ia memilih lagu yang sangat bagus. Tiba-tiba Drought datang dan meminta Geu Rim mengikutinya.


Geu Rim kemudian melihat lembaran naskahnya sedang berada di tangan beberapa asisten penulis. Ia mendengar Nona La berkata, “Semuanya dengar. Apa yang kubilang tentang naskah bagi seorang penulis. Itu adalah hidup kalian!”


Geu Rim lalu mengambil naskahnya dan terlihat sangat kesal. Ia bertanya kenapa naskahnya bisa ada disana. Nona La berpura-pura tidak tahu.


Seorang asisten penulis bertanya apakah Geu Rim menulis naskahnya dengan tangan. Nona La lalu mengatakan bahwa dia sedang mengajarkan agar penulis tidak ceroboh dengan naskahnya.


Soo Ho dan Lee Gang yang melintas disana melihat kejadian itu. Geu Rim meminta naskahnya dikembalikan. Lee Gang lalu menghampiri mereka dan mengambil salah satu lembar naskahnya.


“Berikan padaku,” pinta Lee Gang. Mereka diam saja. “Berikan padaku sekarang!” teriak Lee Gang. Mereka terkejut kemudian memberikan lembaran naskahnya pada Lee Gang. Ia lalu bicara pada Geu Rim sambil menyindir Nona La.


Lee Gang: “Apa kau bodoh? Kau juga seorang penulis. Kalian setara, tapi kenapa kau hanya berdiri seperti seorang pecundang? Aku tidak tahu siapa tikus yang merusak naskahmu.”
Nona La: “PD-nim…”
Lee Gang: “Terserah jika kau adalah seorang pecundang, tapi sebagai penulisku, jika kau menerima saja diperlakukan seperti itu, aku akan membunuhmu.”


Soo Ho masih memperhatikan Geu Rim setelah Lee Gang melemparkan naskahnya pada Nona La dan pergi.


Soo Ho: “Jika seorang wanita dalam bahaya, maka menjadi kewajiban seorang pria untuk membantunya, bukan? Tapi kenapa sebuah teguran malah membuatnya tersentuh?”
Jason: “Siapa? Kamikaze?”
Soo Ho: “Siapapun.”
Jason: “Apa yang kau lakukan untuk membantunya?”


Soo Ho lalu mengingat saat ia membantu menyingkirkan kepala Mi Nu dari dada Geu Rim, tapi kemudian dia mengatakan hal yang buruk.


Jason menyebut Soo Ho bodoh. Jason bertambah kesal saat Soo Ho bercerita kalau ia pernah dengan sengaja menyandung kaki Geu Rim sampai terjatuh. Sambil mengemudi, Pak Kim memperhatikan pembicaraan mereka berdua.


Lee Gang menemui Geu Rim di ruangannya dan bertanya apakah Geu Rim terluka. “Kalau begitu, berhentilah menjadi anak baru bagiku dan bagi orang lain. Dan aku memanggilmu anak baru bukan karena aku memandang rendah dirimu,” kata Lee Gang. Lee Gang juga memperbolehkan Geu Rim terus terlibat dengan Soo Ho sebagai penulis dengan DJ. “Tapi tidak terlibat sebagai seorang wanita.”


Di kamarnya, Soo sedang membaca buku sambil mendengarkan radio.


Seung Ho memuji kehebatan Soo Ho, tapi tidak begitu dengan Nona La. Nona La sampai memukul-mukul kepalanya kesal, karena Soo Ho ternyata sudah hafal semua naskahnya. Tiba-tiba Geu Rim datang dan ingin bergabung bersama mereka.


Geu Rim tersenyum dan memesan makanan dengan bersemangat. Nona La dan Seung Ho bertanya ada apa dengannya dengan heran, tapi Geu Rim tidak peduli. Mereka akhirnya minum dalam satu meja yang sama sampai hampir mabuk.


Geu Rim bertanya pada apakah Nona La tidak menyukainya. Geu Rim bilang saat menjadi asisten Nona La dulu, ia melakukan segala hal yang diperintahkan dan berkat itulah dia bisa sampai di posisi penulis utama. “Tidakkah kau bangga padaku?” tanya Geu Rim dan Nona La minum sambil mencibir. “Kenapa kau tidak mengajariku? Kenapa kau membiarkan penulis buruk ini tetap menjadi pecundang?”


Nona La bertanya apakah Geu Rim sudah mabuk. “Ya. Aku mabuk,” kata Geu Rim. “Ini bukan karena aku sangat menyukaimu atau menghormatimu, tapi aku selalu menganggapmu seniorku. Jadi aku selalu melakukan apapun yang kau katakan. Kupikir pada akhirnya kau akan memperlakukanku sebagai seorang junior.”
Flashback..


Seung Ho meminta Nona La agar tidak memperlakukan Geu Rim dengan seenaknya. Tapi Nona La berkata kalau dia akan tetap menjadikan Geu Rim hanya sebagai asistennya saja. Seung Ho meminta Nona La agar mengajari Geu Rim dan membantunya mengembangkan kemampuannya, tapi tampaknya Nona La tidak mau. Nona La malah meminta Seung Ho saja yang mengajari Geu Rim.


Geu Rim ternyata ada disana dan mendengarkan pembicaraan mereka. Ia merasa sangat sedih.


Geu Rim lalu bertanya kenapa Nona la tidak pernah sekalipun mengajarinya. Nona La minum lagi dan tidak menjawab. Geu Rim tersenyum.


Geu Rim pulang naik bus sambil mendengarkan radio melalui earphone-nya. Ia lalu menyandarkan kepalanya ke jendela, memejamkan matanya, dan tersenyum.


Nona La yang masih berada di kedai berkata kalau dia sangat kesal karena Geu Rim tidak menangis. Sambil mabuk berat dia berkata, “Dia pura-pura kuat, pura-pura baik, aku tidak tahan.” Nona La ternyata berharap Geu Rim akan menangis dan berhenti dari pekerjaannya. Seung Ho berkata bahwa Nona La memiliki sifat yang buruk.


Mereka lalu mulai bertengkar dan menuduh satu sama lain tidak bisa menjaga janjinya. Dan ternyata mereka adalah mantan suami istri. Tapi Nona La malah mengatakan bahwa kata-kata yang diucapkan Seung Ho akan menjadi kalimat naskah yang bagus.


Nona La lalu mengambil ponselnya untuk mengetik naskah itu. Ia lalu menyusul Seung Ho yang pergi lebih dulu.


Keesokan harinya di galeri, Soo Ho sangat terkejut saat Nyonya Nam memintanya melakukan sesuatu dengan Tae Ri. “Para reporter akan hadir di pesta Tae Ri hari ini. Siapkan dirimu untuk difoto,” kata Nyonya Nam.


“Lupakan saja,” tolak Soo Ho lalu pergi. Pak Kim mengikutinya.


Tae Ri menemui Geu Rim dan memberikannya undangan untuk hadir dalam pestanya. Tae Ri juga mengatakan kalau ini adalah perayaan yang sangat penting. Tae Ri juga memberikan undangan yang sama pada Lee Gang. 


Lee Gang memberikan undangannya pada Hun Jung, lalu berjalan pergi. Hun Jung berterima kasih dan berkata pada Tae Ri bahwa dia akan datang.


Soo Ho bertanya pada Pak Kim sejak kapan dia tahu tentang rencana Nyonya Nam untuk dirinya dan Tae Ri. Pak Kim tidak menjawab. “Kau sudah lama menyukai Jin Tae Ri,” kata Soo Ho. Pak Kim berusaha menyangkal. “Sejak kapan kau tahu? Kau tidak bisa mengatakannya bukan? Kalau begitu jangan hentikan aku.”


Pak Kim menyusul Soo Ho sampai ke area parkir. Soo Ho meminta agar mereka berpisah saja. Soo Ho kesal karena selama ini yang Pak Kim lakukan hanyalah mengawasinya saja. Ia lalu naik ke mobilnyda pergoi.


Pak Kim terlihat sangat sedih.


Sambil menyetir, Soo Ho mengingat kejadian bertahun-tahun lalu.
Flashback..


Soo Ho baru pulang ke rumah dan melihat Pak Kim sedang berbicara dengan Nyonya Nam.


Pak Kim: “Hari ini, Soo Ho beberapa kali menghubungiku, tapi aku tidak mengangkatnya.”
Nyonya Nam: “Bagus. Terus laporkan semuanya padaku.”
Pak Kim: “Aku yakin dia akan marah tentang apa yang terjadi pada temannya hari ini.”


Soo Ho sangat sedih. Ia kemudian pergi dan berbuat seolah ia tidak mendengar pembicaraan itu.


Malam harinya, Tae Ri terlihat menyapa para tamu yang hadir. Ia bertanya apakah makanannya lezat dan berfoto bersama mereka. Ia kemudian melihat kesana kemari, lalu menghubungi seseorang dengan ponselnya.


Soo Ho masih berada di kamarnya. Ia berusaha menghubungi Geur Rim, tapi tidak tersambung.


Tae Ri ternyata menghubungi Geu Rim dan bertanya kapan Geu Rim akan datang. Geu Rim mengatakan kalau ia tidak bisa datang. Tae Ri berbohong, “Aku tidak akan memotong kuenya sampai kau datang. Aku tidak punya banyak teman, jadi kau harus datang.” Geu Rim merasa tidak enak dan berkata kalau ia akan mampir sebentar disana.


Soo Ho masih berusaha menghubungi Geu Rim, tapi masih tidak dijawab. Ia lalu menulis pesan, “Song Geu Rim, Penulis Song, Dimana kau? Kenapa tidak mengangkat teleponnya? Dimana kau? Apa kau ada di studio?” Soo Ho mengomel karena Geu Rim tidak juga membaca pesannya, padahal dulu Geu Rim sangat ingin Soo Ho menjadi DJ-nya.


Tae Ri terlihat menikmati pestanya, tapi ia buru-buru meninggalkan teman-temannya ketika melihat kedatangan Tae Ri. Ia menyapanya dan berkata bahwa Soo Ho juga akan segera datang. “Kau pasti mengenalnya dengan baik, karena kalian bekerja bersama,” kata Tae Ri.


Geu Rim: “Ji Soo Ho? Dia juga akan datang?”
Tae Ri: “Ya. Kenapa? Apa ada masalah?”
Geu Rim: “Tidak, tidak. Tentu tidak.”


Kemudian ponsel Geu Rim berdering. Tae Ri melihatnya. “Apa Soo Ho membeli ponsel?” tanya Tae Ri. Geu Rim buru-buru menyimpan ponselnya ke dalam tas.


Soo Ho masih menunggu balasan pesan dari Geu Rim. Tiba-tiba ia menerima telepon dari nomor tidak dikenal. Peneleponnya ternyata adalah Tae Ri yang menanyakan kapan Soo Ho akan datang. Soo Ho bertanya darimana Tae Ri mendapatkan nomornya.


Tae Ri melihat ke arah Geu Rim yang sedang menikmati makanannya. “Aku punya caraku sendiri,” kata Tae Ri sambil tersenyum. “Para reporter ada disini. Cepatlah datang.” Soo Ho bilang mudah untuk datang kesana, tapi akan sulit setelahnya. “Kenapa kau pikir aku tidak bisa mengatasinya?” Soo Ho bilang ia tidak akan datang. “Penulismu ada disini.”


Tae Ri bertanya pada Geu Rim apakah Soo Ho suka membicarakannya. Dia bahkan berbohong kalau Soo Ho bercerita banyak tentang Geu Rim padanya. Ponsel Geu Rim berdering lagi, tapi Tae Ri berusaha mengalihkan perhatiannya dengan mengatakan bahwa Soo Ho akan segera datang dan meminta Geu Rim menunggu.


Tae Ri lalu mendekat pada Geu Rim dan berkata, “Kau adalah orang pertama yang kuberitahu. Sebenarnya, aku dan Soo Ho sedang berkencan. Ssst..” Geu Rim terkejut, lalu permisi ke toilet.


Geu Rim berjalan sambil menatap ponselnya yang terus berdering. Tiba-tiba Soo Ho datang dan langsung mengomel karena Geu Rim-lah yang menyuruhnya membeli ponsel, tapi Geu Rim malah tidak menjawab teleponnya. “Jawablah, apa yang kau lakukan?” kata Soo Ho.


Geu Rim lalu menjawab teleponnya. Soo Ho berkata, “Jangan pernah mengabaikan teleponku lagi. Ikutlah denganku. Ada yang perlu kukatakan padamu.” Geu Rim berjalan mengikutinya.


Soo Ho: “Ada sesuatu yang sudah lama ingin kukatakan padamu. Aku ingin melakukannya sekarang. Ini juga yang ingin kukatakan malam itu.”
Geu Rim: “Apa itu?”
Soo Ho: “Aku menyukaimu.”


Geu Rim terkejut. Soo Ho mengulangi perkataannya, “Aku… menyukaimu.”


Advertisement

1 komentar:

Daebak..... Lanjut min


EmoticonEmoticon