2/16/2018

SINOPSIS Radio Romance Episode 6 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Radio Romance Episode 6 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Radio Romance Episode 6 Part 2

Soo Ho masuk ke dalam kelas untuk mencari Sang Goo dan mewawancarainya, karena Geu Rim butuh waktu satu jam untuk menulis naskah baru tentang kelulusan sekolah. Di dalam kelas ada 4 anak yang sedang mempersiapkan dekorasi kelulusan, mereka adalah anak-anak yang sebelum berlatih lagu perpisahan. Geu Rim bilang Sang Goo mirip dengan Soo Ho jadi mereka kemungkinan akan cocok.


Sang Goo masuk kelas dan menjadi marah saat melihat spanduk kelulusan. Ia mencopotnya dan mendorong seorang siswi yang berdiri paling dekat dengannya. Siswi tiu menangis, tapi Sang Goo tidak peduli dan pergi begitu saja.


Soo Ho menyusul Sang Goo dan Sang Goo mengangkat sebuah pot bunga dan menggertak bahwa dia akan melempar pot itu. Soo Ho diam saja.


“Apa kau tidak akan menghentikanku?” tanya Sang Goo heran. Soo Ho menyuruhnya melemparnya saja, tetapi Sang Goo ternyata tidak bisa melakukannya. Sang Goo berjalan pergi dan Soo Ho mengikutinya sampai ke sebuah rumah.


Sang Goo: “Apa maumu? Kenapa kau terus mengikutiku? Kau bersama dengan wanita berambut poodle kan?”
Soo Ho: “Kau benar-benar mirip dengan seseorang.”
Sang Goo: “Apa? Pergilah!”
Soo Ho “Apa kau berkata seperti itu juga pada temanmu? Apa kau menyuruhnya pergi seperti itu?”
Flashback..

Sambil menangis, Sang Goo menyuruh Gyo Min pergi saja ke Seoul.


Sang Goo bertanya bagaimana Soo Ho bisa mengetahuinya. Soo Ho bilang orang yang tidak ingin kembali maka tidak akan pernah kembali. Sang Goo menganggukkan kepalanya.


Tim penyiaran van sedang mempersiapkan peralatan untuk melakukan siaran langsung.


Matahari sudah tenggelam dan Geu Rim terlihat akan mencetak naskah yang baru saja dibuatnya. Selain menyiapkan peralatan di mobil, tim van juga menyiapkan peralatan di dalam kelas yang akan dijadikan booth siar.


Soo Ho lalu datang dan berkata bahwa Sang Goo seharusnya sudah datang lebih dulu. Dia kemudian berpikir kalau Sang Goo akan datang bersama gurunya. Soo Ho lalu mengembalikan buku catatan Geu Rim dan berkata kalau dia tidak bisa melakukan wawancaranya. Soo Ho lalu meminta Geu Rim menemaninya mempelajari naskahnya.


Manajer Kang ikut sibuk bersama Tim Lee Gang. Ia memastikan kalau Hun Jung sudah mempersiapkan daftar lagunya dengan baik.


Tiba-tiba ibu guru berlari masuk ke kelas dengan khawatir. Sambil menangis, ibu guru mengatakan bahwa Sang Goo menghilangnya. Sebelumnya Sang Goo meminta alamat Gyo Min di Seoul.


Geu Rim dan Soo Ho mencari Sang Goo di setiap sudut sekolah, namun tidak berhasil. Geu Rim bingung, karena ia membuat naskahnya berdasarkan kisah Sang Goo. Ia pikir mereka tidak akan bisa melakukannya siarannya dan akan menghubungi Lee Gang. “Tunggu,” cegah Soo Ho. “Biarkan aku mencarinya sebentar lagi.”


“Apa kau memberitahu Sang Goo tentang Gyong Min?” tanya Geu Rim. 


Soo Ho berhasil menemukan Sang Goo yang sedang duduk di pinggir jembatan sambil membawa lampu senter. Soo Ho lega karena sudah menemukan Sang Goo. Ia melihat Sang Goo terus menyalamatikan lampu senternya.


Soo Ho memperhatikannya dan ia mengingat bahwa dia juga sering menyalamatikan lampu ketika tidak bisa tidur. Soo Ho lalu menghampiri Sang Goo.


“Maafkan aku. Seharusnya aku tidak mengatakan apa yang kukatakan tadi. Tapi itu kenyataannya. Jangan menunggu orang yang tidak akan kembali. Tapi, ada orang yang ingin kembali, tapi tidak bisa melakukannya. Seseorang mengatakan ini padaku dulu sekali: Hanya karena kau tidak menangis, bukan berarti kau tidak sedih dan tersenyum bukan berarti kau bahagia. Kau masih kecil, lemah, dan muda. Jika kau terus menangis, kau akan berakhir sepertiku,” jelas Soo Ho.


Sang Goo lalu berkata bahwa Gyo Min sudah berjanji padanya akan kembali dari Seoul sebelum hari kelulusan. “Dia memintaku untuk menunggunya. Dia sudah berjanji. Tapi aku menyuruhnya pergi. Aku bilang padanya aku tidak akan menunggu. Itulah yang aku katakan. Aku merasa dia tidak kembali karena aku menyuruhnya pergi. Itu sangat melukai hatiku. Haruskah aku menunggunya dibanding lulus ataukah aku bisa lulus?  Aku menunggunya untuk mendapatkan jawabannya,” kata Sang Goo.


Soo Ho lalu mengatakan Sang Goo dapat bicara di radio dan Gyo Min akan mendengarnya.


Geu Rim sudah hampir putus asa. Tapi kemudian Soo Ho yang datang bersama Sang Goo bertanya berapa lama lagi waktu siarannya. “10 menit lagi,” kata Geu Rim lalu bergegas menghubungi Lee Gang. “Pd-nim..”


Lee Gang menutup ponselnya, lalu meminta Hun Jung untuk bersiap-siap melakukan siaran.


Soo Ho melakukan tes mikrofonnya dan Sang Goo juga sudah siap di sampingnya.


Tepat jam 6 sore, musik siaran Radio Romance Ji Soo Ho terdengar.


Sang Goo bercerita bahwa dia mengirimkan sinyal dengan lampu senternya untuk Gyo Min sekitar 10.000 kali. “Aku memintanya agar segera kembali. Kita harus berpegangan tangan dan melakukannya bersama-sama. Sama seperti ketika kami menanam tanaman bersamadan ketika kami bermain bola bersama. Kita harus lulus bersama-sama juga.”


Sang Goo bilang ia ingin meminta maaf karena menyuruh Gyo Min pergi. Ia mulai menangis. “Aku sebenarnya tidak mau dia pergi.”


Selain keharuan yang dirasakan Tim Lee Gang, Drought dan satu asisten penulis lagi terlihat sedang sibuk menerima telepon dari pendengar dan juga kiriman pesan di website. Hun Jung juga sibuk membuka beberapa CD lagu.


Geu Rim menuliskan pesan bertuliskan ‘Apa kau punya pesan terakkhir?’. Soo Ho lalu membacakan pertanyaan itu untuk Sang Goo.


“Tolong bantu sekolah kami agar tetap berjalan. Aku tidak akan lulus. Jika aku tidak di sini dan sekolahnya hilang, temanku tidak akan tahu harus kembali kemana. Kami berjanji akan lulus bersama. Jika aku lulus sendirian, aku akan melanggar janji kami,” ucap Sang Goo.


Lee Gang terlihat sangat sedih.


Soo Ho lalu berkata bahwa akan ada lagu terakhir spesial bagi para pendengarnya. Kemudian 4 anak yang sebelumnya berlatih menyanyi masuk ke dalam kelas dan mulai bernyanyi.


Nyonya Nam juga ikut mendengarkan lagu itu.


Di studionya, Nona La mengacak-acak rambutnya stres, karena acara Geu Rim pasti mendapat banyak pendengar. Sedangkan Seung Ho terlihat ikut terharu dan hampir menangis.


Pak Kim dan Tae Ri yang masih dalam perjalanan menuju Seoul juga mendengarkan siaran radio Soo Ho.


Soo Ho tersenyum melihat anak-anak yang sedang bernyanyi, ia kemudian menatap Sang Goo.


Geu Rim kemudian menghampiri Soo Ho dan berkata bahwa untuk penutupnya nanti, Soo Ho tidak perlu mengikuti naskah. “Katakan saja apa yang kau inginkan,” kata Geu Rim. Soo Ho bingung, tapi Geu Rim bilang kali ini ia menulis naskahnya bersama-sama dengan Soo Ho. “Akan sangat hebat jika kau mengatakan apa yang kau inginkan,” kata Geu Rim lagi.


Soo Ho menatap Geu Rim yang sudah kembali ke tempat duduknya. Ia mengingat saat Geu Rim SMA berkata, “Aku pernah mendengar ini di radio. Hanya karena kau tidak menangis, bukan berarti kau tidak sedih dan tersenyum bukan berarti kau bahagia”.
Flashback..


Dulu Geu Rim mengucapkan kalimat itu sambil memeluk dan menepuk-nepuk punggung Soo Ho yang terlihat sedang sedih.


Soo Ho lalu jadi menggunakan kalimat itu sebagai penutup siarannya. Soo Ho juga berkata kalau seorang teman pernah mengatakan itu padanya.


Geu Rim terkejut mendengar Soo Ho mengucapkan kalimat itu.


Lee Gang sangat lega. Hun Jung kemudian mengajaknya bersalaman dan Lee Gang menyambutnya. Kemudian Drought memanggil Lee Gang dan mengatakan kalau ada yang aneh dengan komentar penggemar di website.


Komentar itu berbunyi ‘Ji Soo Ho adalah pembunuh!’.


Hun Jung lalu mengingat sesuatu. Ia mengambil beberapa kartu yang mereka dapatkan beberapa hari lalu dan memberikannya pada Lee Gang. Lee Gang membaca kartu yang ternyata bertuliskan ‘Ji Soo Ho adalah pembunuh!’


Dokter tampak sedang bicara pada seseorang. Ia berkata bahwa pasiennya akan menjalani hubungan tidka terduga dan dia sangat penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia kemudian tertawa senang. “Ah, aku sangat penasaran. Bagaimana denganmu? Hahaha...”


Setelah melambaikan tangannya pada tim van yang pergi lebih dulu, Sang Goo bertanya pada Geu Rim kemana Soo Ho pergi. Geu Rim menduga kalau Soo Ho ada di toilet. Geu Irm lalu bertanya sejak kapan Sang Goo dan Soo Ho menjadi dekat.


Geu Rim: “Apa rahasianya?”
Sang Goo: “Paman bilang dia sama denganku. Paman tidak mau seseorang pergi. Paman juga menyuruh seseorang pergi darinya. Kau tahu siapa itu.”
Geu Rim: “Tidak.”
Sang Goo: “Mereka yang tidak ingin kembali, tidak akan pernah kembali. Itulah yang dia katakan. Dia pasti menunggu seseorang juga.”


“Dan juga..” omongan Sang goo berhenti karena Soo Ho sudah datang dan memegang kepalanya sambil tersenyum. Soo Ho menyuruh Sang Goo pulang.


Geu Rim memeluk Sang Goo dan berkata, “Aku sudah memberikan nomorku bukan? Hubungi aku jika kau datang ke Seoul.” Soo Ho kemudian menyalami tangan Sang Goo dan memberikan selamat kepada Sang Goo atas kelulusannya.


Sang Goo lalu bertanya dimana sebaiknya dia menggantung piagam kelulusannya dan bertanya dimana Soo Ho menyimpan miliknya. “Aku tidak punya,” jawab Soo Ho. Geu Rim terkejut.


Piagam kelulusan Soo Ho ternyata tersimpan di tempat penyimpanan abu Woo Ji Woo, temannya yang meninggal karena kecelakaan.


Pak Kim juga terlihat ada di depan loker abu Ji Woo.


Bukannya pulang, Geu Rim malah pergi ke lapangan yang sudah tertutup salju. Soo Ho mengikutinya.


Geu Rim lalu tersenyum senang dan balik berjalan menuju Soo Ho dan memeluknya.


“Aku sangat bahagia,” kata Geu Rim lalu melepaskan pelukannya. Soo Ho terkejut.


“Aku bermimpi akan melakukan ini dengan langkah kecil. Kau membaca naskahku. Aku baru saja mengambil langkah pertama dalam mimpiku. Ini stempel pertamaku dalam radio. Soo Ho, terima kasih banyak. Ah , aku penasaran atas sesuatu,” kata Geu Rim.


Soo Ho: “Apa itu?”
Geu Rim: “Tentang kalimat penutupmu tadi. Itu quote favoritku. Darimana kau mendengarnya? Kau rasa kita punya kesamaan, bukan?”
Flashback..


Soo Ho memperhatikan Geu RIm yang sedang berjalan memakai penutup mata dan tongkat bantu jalan. Geu Rim hampir jatuh dan Soo Ho terlihat khawatir. Ketika Geu Rim benar-benar akan jatuh, Soo Ho menolongnya.


Mereka semakin dekat dan mulai mendengarkan radio bersama-sama.. Namun masih dalam keadaan mata Geu Rim yang tertutup.


Saat Geu Rim membuka penutup matanya dan tertidur, Soo Ho memperhatikannya sambil tersenyum.


“Ketika aku masih kecil, aku menderita demam selama tiga hari. Tapi orang tuaku tidak tahu. Bukankah ini lucu?”  tanya Soo Ho sambil tertawa sedih.


“Sama sekali tidak lucu,” kata Geu Rim. “Kenapa kau tertawa ketika itu tidak lucu?”


Geu Rim lalu memeluk Soo Ho dan menepuk-nepuk punggungnya. “Kapanpun aku sakit, ibuku akan menepuk punggungku seperti ini. Ini membuat hatiku meleleh. Aku tidak merasa sakit lagi, setelah ibuku melakukan ini,” kata Geu Rim.  Dan saat itulah Geu Rim untuk pertama kalinya berkata tentang quote yang didengarnya dari radio kepada Soo Ho. “Hanya karena kau tidak menangis, bukan berarti kau tidak sedih dan tersenyum bukan berarti kau bahagia.”


“Song Geu Rim, tidakkah kau mengingatku?” tanya Soo Ho. Geu Rim tidak menjawab.


Soo Ho lalu menggunakan tangannya untuk menutup mata Geu Rim kemudian menciumnya.


Dulu Soo Ho juga pernah mencium Geu Rim dengan kondisi mata tertutup. [crstl]


Advertisement

1 komentar:

Curiga sma si dokter kyaknya dia jga bgian dri msa lalunya ji soo ho, kmungkinan dia jga tman skolahnya..


EmoticonEmoticon