2/01/2018

SINOPSIS Radio Romance Episode 2 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Radio Romance Episode 2 BAGIAN 1


#2 – Dokter dan Pasien


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: KBS2
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Radio Romance Episode 1 Part 3

Setelah  saling bertatapan sejenak, Geu Rim lalu pergi dengan kaki terpincang. Soo Ho memperhatikan langkah Geu Rim.


Hari sudah malam, tapi Geu Rim masih ada di lokasi syuting sambil memegang kakinya yang masih terasa sakit. Kemudian Soo Ho datang dan mengulurkan tangannya.


Karena Geu Rim diam saja, Soo Ho menariknya tapi Geu Rim melepaskannya. Soo Ho bilang ia akan mengantar Geu Rim pulang, “Dunia drama membayar bantuan dunia radio. Dan jangan ikuti aku lagi. Oke? Aku tidak akan pernah siaran di radio.”


Geu Rim bilang ia akan pulang sendiri, walaupun harus sampai merangkak. Soo Ho melihat langkah Geu Rim yang masih pincang, lalu berinisiatif untuk menggotongnya. “Lepaskan aku! Aku bilang lepaskan aku!” teriak Geu Rim.


Soo Ho mendudukkannya di dalam mobil, lalu memasang sabuk pengamannya. Geu Rim melepaskan lagi sabuk pengamannya dan bertanya,“Kenapa kau sangat membenciku? Atau kau sangat membenci radio? Kenapa?” Menurut Soo Ho, ia tidak perlu memberitahu Geu Rim.


Soo Ho ingin menutup pintunya, tapi Geu Rim menahannya. Geu Rim mengungkit kejadian 4 tahun lalu saat Soo Ho menyandung kakinya. “Kau pikir aku bodoh? Kau mengatakan sesuatu untuk membuatku marah dan memulai pertengkaran denganku. Apa yang sudah kulakukan padamu? Apa masalahmu?” tanya Geu Rim bertubi-tubi.


Soo Ho tidak menjawab satupun pertanyaan Geu Rim. Ia mendorong Geu Rim ke kursi, memasangkan sabuk pengamannnya, menutup pintunya, lalu ia sendiri masuk dan memasang sabuk pengamannya. Geu Rim melepaskan lagi sabuk pengamannya, tapi Soo Ho sudah menjalankan mobilnya.


Dalam perjalanan, Geu Rim bertanya kemana mereka akan pergi. Ia minta diturunkan dan tidak mau dibawa ke rumah sakit. Lagi-lagi Soo Ho tidak menjawab.


Soo Ho menghentikan mobilnya tepat di depan rumah sekaligus restoran ibu Geu Rim. “Tunggu. Bagaimana kau tahu kalau aku tinggal disini?”


Soo Ho: “Keluar.”
Geu Rim: “Bagaimana kau tahu?”
Soo Ho: “Apa kau ingin aku menggendongmu lagi?”


Geu Rim mengalah. Ia turun tanpa berterima kasih dan langsung berjalan masuk. Soo Ho memperhatikannya dari kaca spion, baru kemudian ia pulang.


Sesampainya di depan rumah Soo Ho, manajernya menegurnya karena Soo Ho pergi tanpa pemberitahuan saat sedang proses syuting. Tapi Soo Ho tidak peduli dan masuk ke dalam rumah. Manajer mengikutinya.


Dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya, manajer bertanya apakah Soo Ho mengantarkan Geu Rim pulang. “Kau bisa pergi sekarang,” kata Soo Ho. Manajer bilang ia sudah mengurus masalah syuting, tapi ia heran karena sebelumnya Soo Ho tidak pernah bersikap seperti itu.


Soo Ho berkata, “Pak Kim, aku sudah bilang ‘kau boleh pergi’ sambil tersenyum.” Tiba-tiba terdengar suara bel. Mereka mengecek ke interkom.


Seorang pria nyeleneh berkata bahwa Soo Ho harus membuka pintunya. Manajer bilang ia akan membuat pria itu pergi. Tapi Soo Ho membuka pintu dan menyuruhnya manajernya pergi. Di luar, Pak Kim bertemu dengan pria itu.


Pak Kim: “Siapa kau?”
Pria: “Aku manajer Ji Soo Ho. Baiklah, permisi.”


Pak Kim terkejut, tapi ia tidak berkata apa-apa dan meninggalkan rumah Soo Ho.


Pria itu berkata bahwa seharusnya ia menjadi manajer Soo Ho. Soo Ho bertanya kenapa pria itu membawa banyak barang. “Aku akan tinggal disini,” jawab pria itu santai. “Aku masuk sekolah kedokter sebagai siswa teratas dan lulus dengan nilai terbaik.” Pria itu tahu kalau Soo Ho tidak akan mau menerima perawatan ataupun melakukan konsultasi. “Aku akan mengikutimu 24 jam sehari. Kau dalam masalah,” katanya sambil tertawa.  


Soo Ho berdecih saat pria itu berjalan seenaknya dan mencari makanan.


Di rumah, Geu Rim mengingat kembali kata-kata Soo Ho yang merendahkan dirinya saat berada di lift hotel. Dan juga ketika di lokasi syuting saat Soo Ho bertanya kenapa Geu Rim terus muncul di hadapannya. “Astaga, Ji Soo Ho itu…”


Keesokan harinya, Pak Kim melaporkan kepada Nyonya Nam tentang Geu Rim yang mendekati Soo Ho untuk menjadi DJ Radio dan Soo Ho yang melewatkan syuting iklannya karena mengantar Geu Rim pulang.


Nyonya Nam bilang Soo Ho tidak punya ponsel ataupun manajer, maka dari itu ia menyuruh Pak Kim untuk mengikuti Soo Ho. “Tapi kau terus mengecewakanku,” kata Nyonya Nam yang kemudian mendapat pesan dari ponselnya dari seorang bernama Jin Tae Ri. Nyonya Nam kemudian menyuruh Pak Kim pergi.


Dalam pesan itu, Tae Ri bertanya apakah sudah ada perkembangan kontrak dengan Soo Ho seperti yang mereka bicarakan sebelumnya. Tae Ri bilang ia sedang bersama reporter dan sangat ingin membicarakannya.


Tae Ri sendiri sebenarnya sedang berada di salon. Penata rambut tidak sengaja menarik rambut Tae Ri, lalu langsung meminta maaf dengan gugup.


“Apa ini? Nona Choi sudah menata rambutku selama bertahun-tahun. Ada yang bisa menjelaskan kenapa anak baru bisa menyentuh rambutku?” marah Tae Ri. Penata rambut berkata akan melakukannya dengan baik, tapi ternyata dia salah lagi. “Sudah kubilang untuk me manggil Nona Choi kesini.”


Kemudian seorang dengan gaun merah dan beberapa penata rambut berjalan di belakang Tae Ri. “Astaga, tae Ri,” sapa seorang wanita berambut panjang yang sepertinya adalah Nona Choi. Ia merasa tidak enak hati.


Tae Ri berpura-pura ramah dan menyapa wanita bergaun mereka, “Aku menonton drama jam 5 sore-mu.” Tapi wanita bergaun merah tidak membalas sapaannya dan langsung berlalu.


Tae Ri mengikuti wanita bergaun merah itu dan berkata bahwa dia seharusnya menyapa Tae RI yang merupakan seniornya. Tapi wanita itu masih tidak peduli, dan kembali berjalan.


Tae Ri berkata, “Hey, dengar! Kau mau menyapaku dengan baik atau kau ingin rambutmu ditarik dan melihat namamu di berita utama bersamaku?” Wanita itu akhirnya menundukkan kepalanya menyapa Tae Ri.


Tae Ri menyentuh rambut wanita itu dan mengancam kalau lain kali dia juga tidak menyapa Tae Ri, dia akan benar-benar menarik rambutnya. Wanita itu masih diam saja.


Masih dengan kaki terpincang, Geu Rim menemui Lee Gang. Lee Gang bertanya tentang kakinya tapi Geu Rim tidak memberitahu kejadian sebenarnya. Lee Gang lalu mengajak Geu Rim masuk ke ruangan di belakang mereka.


Ruangan itu tampak seperti gudang dan sangat berdebu. Geu Rim terus terbatuk. “Meja ini untukmu. Mejamu hilang karena kau dipecat,” kata Lee Gang. “Bukankah tempat ini bagus?”


Geu Rim: “Ya, tempat ini bagus, tapi…”
Lee Gang: “Bagaimana dengan Ji Soo Ho?”
Geu Rim: “Itu.. aku harus membicarakan padamu tentangnya. Ayo bicara di luar.”


DI luar, Geu Rim berkata bahwa dia sudah bertemu dengan Ji Soo Ho. Tapi menurutnya, Soo Ho tidak cocok untuk radio dan banyak calon DJ yang lebih baik daripadanya.


Lee Gang bertanya apakah Soo Ho menolak. “Bukan begitu maksudku. Oh, bagaimana dengan Oh Ji Soo? Dia sangat popiler akhir-akhir ini,” kata Geu Rim. Lee Gang mengulangi lagi pertanyaannya. “Ah.. kenapa harus Ji Soo Ho?” keluh Geu Rim.


Geu Rim bilang kalau Soo Ho itu benar-benar gila. Lee Gang menyuruh Geu Rim mendekat dan berbisik padanya, “Tidak apa-apa. Aku lebih gila.”


Lee Gang sudah tahu kalau Soo Ho akan memandang rendah mereka, menolak dan terihat tidak bersahabat dengan radio. Tapi menurutnya, karena itulah mereka harus mewujudkannya. “Aku punya satu alasan lagi, dan aku baru akan memberitahumu setelah kau berhasil merekrutnya,” kata Lee Gang.


Lee Gang meninggalkan Geu Rim yang kebingungan harus melakukan apa.


Geu Rim tampak memperhatikan majalah dinding dan mengambil fotonya yang sedang bersama ibunya dan suratnya yang ditujukan untuk seorang bernama Moon Sung Woo. “Kalau kau sudah dipecat, pergilah,” terdengar suara pria.


Geu Rim ada disana untuk menemui seorang pria yang sudah menjadi penyiar selama 30 tahun. Geu Rim meminta saran bagaimana untuk membujuk seseorang yang membenci radio. “Kau membuatku menjadi penulis. Kau tidak bisa mengabaikanku sekarang,” kata Geu Rim.


Pak Moon: “Jangan salahkan aku.”
Geu Rim: “Itu benar. Aku dan ibuku menjadi penggemarmu selama 10 tahun. Lihat. Aku bahkan mengirimkan lebih dari 100 kartu pos untuk acaramu. Aku belajar Bahasa Korea dan musik melalui acaramu. Aku bahkan mempelajari kehidupan dan menulis.”
Pak Moon: “Lalu kenapa kemampuan menulismu buruk?”


Geu Rim berdecih. Pak Moon lalu bertanya apa yang bisa ia lakukan untuk membantu Geu Rim merekrut Soo Ho. Geu Rim bilang Pak Moon berhasil meyakinkannya dan ibunya. Ia bertanya bagaimana caranya agar dapat meyakinkan Soo Ho.


Tapi kemudian Geu Rim menyadari bahwa ia tertarik pada radio bukan karena strategi, melainkan karena ketulusan. Ia tidak jadi meminta nasehat pada Pak Moon. “Aku pergi,” pamit Geu Rim. “Terima kasih. Aku cinta padamu.” Pak Moon hanya tertawa.


Nyonya Nam bertanya pada Soo Ho apakah ia masih belum menginginkan ponsel dan ia juga menawarkan seorang sekretaris. Tapi Soo Ho menolak keduanya. “Haruskah aku memecat Pak Kim juga. Aku mempekerjakannya, karena kau menginginkannya. Tapi kau membuatnya menjadi orang-orangan sawah.


Soo Ho  tidak menjawab. Nyonya Nam lalu mengajaknya bicara bisnis. Ia mengeluarkan sebuah proposal untuk film dokumenter.


Nyonya Nam bilang, orang-orang itu ingin membuat film dokumenter tentang keluarganya. Seorang sutradara bernama Kim Sang Soo yang akan membuatnya dan JH Entertainment sendiri yang akan mengurus penempatan produk dan penjualannya.


Soo Ho tertawa dan bertanya haruskah mereka menjual diri mereka. Ibunya menjawab, “Tentu saja. Hanya berjalan dan bernapas, tapi kau bisa mendapatkan uang. Kau pasti tahu berapa yang bisa dihasilkan dalam setahun.”


Soo Ho bilang ia tidak akan melakukannya dan pergi. Nyonya Nam berkata bahwa meeka baru saja menghabiskan banyak uang untuk menghentikan artikel terbit tentang Soo Ho yang melewatkan satu jadwalnya.


Nyonya Nam lalu mengeluarkan sebuah syal. Ia bilang itu hadiah untuk ulang tahun Soo Ho bulan depan. Dan dia memberikannya sekarang, karena cuaca semakin dingin. Ia memasangkan syal itu dan Soo Ho diam saja.


“Putraku, bukankah aku sudah bilang padamu? Apapun yang kau lakukan dengan baik, dengan buruk, dan apa yang kau lakukan, bahkan bernapas, dapat membahayakanku,” kata Nyonya Nam.


Tatapan Soo Ho terlihat kosong dan tidak ada kehidupan di dalamnya. Nyonya Nam berkata lagi bahwa mereka akan rapat dengan sutradanya pekan depan, dan mereka akan mengikuti naskah seperti biasanya.


Setelah ibunya selesai bicara, Soo Ho melepaskan syalnya dan kembali berkata bahwa dia tidak akan melakukannya. “Aku rasa aku tidak bisa tersenyum di depan kamera di sekitarku selama 24 jam.” Ia menjatuhkan syalnya, lalu pergi.


Flashback..


Soo Ho kecil merayakan ulang tahun hanya bersama ibunya, karena ayahnya sedang syuting di luar negeri. Mereka tampak bahagia.


Nyonya Nam memberikan hadiah syal dan memasangkannya ke leher Soo Ho.


“Soo Ho, ada yang ingin ibu sampaikan untuk ulang tahunmu ini. Kau.. bukan anakku.”


Senyum Soo Ho menghilang seketika.


“Jadi, Apapun yang kau lakukan dengan baik, dengan buruk, dan apa yang kau lakukan, bahkan bernapas, pastikan itu tidak menggangguku. Kau akan melakukannya dengan baik, bukan?” ancam Nyonya Nam sambil tersenyum.


Soo Ho mengingat itu semua dan dia tidak bisa tidur. Ia membuka lacinya dan menemukan semua botol obatnya sudah kosong.


Soo Ho bangun dan pergi ke kamar dokter yang saat itu sedang mendengarkan musik dengan keras sambil menari. Soo Ho mematikan musiknya. “Hey, Dok, panggilnya.”


Dokter: “Ya, pasien.”
Soo Ho: “Berikan aku obat tidur.”
Dokter: “Ditolak. Jika kau melakukan konsultasi, aku akan membuatkan resepnya.”
Soo Ho: “Aku punya insomnia.”


Dokter menggelengkan kepalanya, ia bilang Soo Ho menderita depresi. Soo Ho bilang semua selebritis mengidapnya karena selalu syuting sampai larut malam dan memerankan karakter yang berbeda-beda.


“Pasien, apa kau menangis akhir-akhir ini? Berapa kali sudah kubilang? Aku hanya akan meresepkanmu obat jika kau menangis karena bahagia atau sedih,” kata sang dokter. “Kau selalu menunjukkan senyum palsu. Ini peringatan terakhirku. Tidak ada perawatan, tidak ada resep obat. Aku sungguh-sungguh.” Di dokter menyalakan musiknya dan mulai menari lagi.


Soo Ho pasrah dan pergi meninggalkan kamar si dokter.


Soo Ho kembali ke ranjangnya. Ia terus menyalakan dan mematikan lampu mejanya. Terus seperti itu, mungkin sampai ia bisa tertidur. [crstl]


Advertisement


EmoticonEmoticon