2/23/2018

SINOPSIS Mother Episode 9 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 9 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 8 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 9 Part 2

Melihat Ja-young, spontan Hye-na mengucap kata: ‘ibu’, yang tentunya membuat Tae-mi, Tae-hoon, setra YI-jin keheranan.


Sejenak dia diam, lalu kemudian Hye-na berlati menuju barber shop. Ja-young mengikutinya, dia merangsak masuk kesana padalah kondisinya tengah ada Soo-jin dan Bu Nam.


Diruang bawah tak terlihat Hye-na, maka Ja-young berjalan menaiki tangga sambil terus berteriak memanggil Hye-na. Pada saat itu lah, Bu Nam bergegas mengunci lemari, tempat Hye-na sekarang tengah duduk bersembunyi.

Ja-young kesal karena  tak bisa meneukan Hye-na, di puan memarahi Soo-jin, “Jadi anda, orang yang berani mengambil Hye-na dariku! Kembalikan Hye-na padaku! Jika tidaak, maka aku akan melapor polisi!”


Hye-na yang mendengar pembicaraan mereka, terlihat ketakutan.. dia hanya duduk diam, sambil menutup telinganya.


Bu Nam mencoba untuk menenangkan Ja-young, namun Ja-young malah terlihat makin gelisah. Hingga akhirnya dia mengetahui bahwa Hye-na bersembunyi dalam lemari, dia menggedornya dan berteriak meminta Hye-na untuk keluar, “Hye-na yaa.. kamu tahu’kan, kalau ibu tak suka main petak umpet?”


Soo-jin mencoba menenangkannya, dan mengajaknya berbicara empat mata berdua saja. Namun Ja-young menolak, dan terus bertingkah tidak terkontrol.

“Kalau kamu terus berteriak, anak itu akan ketakutan dan tidak mau keluar!” tegas Bu Nam yang kemudidan menarik tangan Jayoung dan mengajaknya duduk untuk minum kopi hangat, supaya pikirannya lebih tenang.


Yi-jin pulang, dia lansgung meberitahukan yang sebenarnya pada ibunya. Young-shin kaget, tapi kemudian dia malah memarahi Yi-jin yang tak mengikuti Yoon-bok,

“Bu.. Aku sudah mencarinya ke sekeliling kompleks, tapi aku tak menemukannya..”

“Soo-jin bagaimana?”

“Ponselnya tidak aktif.. aku tak bisa menghubunginya..”

“Baiklah.. sekarang, kamu telpon Hyun-jin, Jae-bum ahjussi dan juga pengacara..”


Kelihatannya, sekarang Ja-young lebih tenang. Dari awalnya berteriak histeris kini justru menangis.. 

“Perempuan secantik-mu.. membesarkan anak itu sendirian, pastilah sulit..” ucap Bu Nam, “Ayahnya dimana? Bagaimana kamu berpisah dengan ayahnya anak itu?” 


Di RS bersalin, sesisi ruang rawat dipenuhi oleh kebahagiaan keluarga kecil yang baru menyambut kelahiran anak mereka. Ja-young pun awalnya merasakan hal yang sama.. apalagi, karena ayahna Hye-na berbadan tinggi dan wajahnya beggitu tampan.


“Aku sangat menyukainya, maka aku sangat bahagia ketika melahirkan Hye-na...”


Tapi kebahagiaan itu, hanya sesaat.. karena tiba-tiba, ayahnya Hye-na memberikan sebuah amplop berisi segepok uang, “Gunakan ini, untuk membeli pakaian, makanan dan juga popoknya..”


Tiba-tiba, Hye-na menangis keras. Ja-young bertanya, apa ayahnya Hye-na ingin menggendong putrinya? Namun pria itu, malah mundur satu langkah dan bertanya, “Kenapa anak ini sangat rewel?”

“Kalau saja Hye-na tak menangis seperti itu,... kalau saja Hye-na bersikap manis,.. akankah dia tetap meninggalkanku seperti itu? ” begitulah pertanyaan yang sering muncul di benak Ja-young


Ja-young hanya ingin hidup bahagia seperti yang lainnya. Tetapi, di usia mudanya, dia mesti membawa Hye-na yang begitu rewel, kemana pun dia bergi. Dan hal tersebu, membuatnya menjadi pusat perhatian orang-orang disekitarnya.. yang seakan mengusirnya karena Hye-na berisik~


Setelah Hye-na tumbuh menjadi seorang anak kecil, Hye-na tak lagi menenagis rewel.. namun tetap saja, Ja-young terganggu, oleh tingkah Hye-na yang teus memanggilnya, “Bu.. Bu.. Bu..”

Di tengah malam, Ja-young terpaksa bangun karena Hye-na memanggilnya seperti itu, “Tak bisakah kamu berhenti menganggaguku?! Aku benci mendengarmu memanggilku ibu selama seharian!” teriaknya, ang kemudian bertanya, Hye-na ingin apa?

“Aku lapar..” ucap Hye-na dengan suara kecilnya


“Rasanya sulit bagiku.. untuk menjadi ibu dari seorang anak. Maaf Hye-na.. aku rasa, aku rak akan menjadi ibu yang baik untukmu..” ungkap Ja-young dalam benaknya


Seorang diri, Ja-young duduk di dapur dan menghitung pil tidur satu demi satu. Dia berhenti, ketika melihat Hye-na telah berdiri dihadapannya..

“Para ibu yang memiliki pemikiran buruk setelah melahirkan anaknya, pasti sangat mengetahui betapa mengerikan tatapan anaknya..” ungkap Ja-young dalam benaknya


Ketika diatanya sedang apa berdri disana, Hye-na malah bertanya balika, “Ibu sedang apa?”

“Aku hanya menghitung, berapa banyak pil yang tersisa..”

“Aku ingin pergi ke toilet..”


Tapi kemudian, Hye-na bertanya lagi: “Andaikan.. ibu pergi jauh.. meninggal dan tak akan pernah kembali.. siapa yang akan menjemputku?”

“Kamu bertanya, siapa yang akan menjemputmu? ‘Kan ibu sudah bilang, sekarang hanya ada kita berdua. Kamu tak memiliki siapa pun, jika tak ada ibu. Jadi, kamu harus menjadi anak yang baik!”

“Memangnya.. aku.. anak yang nakal?”

Enggan menjawabnya, Ja-young pun meminta Hye-na untuk tidur saja karena hari sudah terlalu larut malam dan dirinya pun merasa pusing dan lelah.


Lalu, Hye-na bertanya lagi: “Kalau kepala ibu pusing, apa ibu ingin dibuatkan kopi latte?”


Dengan cekatan, Hye-na mendidihkan air kemudian membuatkan kopi latte hangat untuk ibunya yang hanya duduk memerhatikannya dengan wajah cemas..


Kembali ke ralita.. kita melihat Hye-na yang tengah tersenyum, ketika memngingat momen barusan. Dan Ja-younga, dia berdiri mencari gula dan kopi, “Hye-na ku sangat menyukai kopi latte buatanku..” ucapnya


Bu Nam menghampiri Ja-young, “Pasti sulit.. membesarkannya sendirian, tanpa bantuan siapa pun..” ucapnya

Ja-young tersenyum, “Ada satu orang.. satu orang yang membantuku..” ugkapnya


Di hari itu, tepatnya di supermarket.. Hye-na merengek ingin ke toilet. Namun Ja-young malah memarahinya, karena toilet ada di lantai bawah, sementara mereka telah dilantai atas dan membawa barang belanjaan yang berat, “Pergi saja sendiri! Atau tahan saja! Lagian, anak seusiamu ‘kok masih takut untuk pergi ke toilet sendiiran!”


Tiba-tiba, muncul Seol-ak yang membantu membawakan barang belanjaannya.. dia tersenyum, kemudian menawarkan diri untuk mengantar Hye-na pergi ke toilet.


“Dia memang bukan pira yang sepenuhnya baik.. tetapi dia tahu betul, hal apa yang dibutuhkan seroang wanita..” gumam Ja-young


Bahkan sempat ada masa.. ketika Hye-na bahagaia bersama Ja-young dan Seol-ak. Mereka bermain di taman hiburan, mencoba berbagai wahana..


Masih ingat isi catatan kecil Hye-na? Ternyata, kebanyakannya berisi hal yang dia lakukan pada hari itu.. salah satunya meniup balon.


“Untuk pertamanya kalianya sejak melahirkan Hye-na, aku bisa tersenyum dengan sangat bahagia. Aku mulai berpikira, alangkah baiknya, jika oppa merupakan ayahnya Hye-na..”


Kemballi ke realita, Ja-young telah membuatkan segelas kopi latte. Dia masih berusaha membujuk Hye-na untuk bersedia keluar dan menemuinya, “Hye-na yaa.. di hari ultahmu ibu janji, akan memanggang daging dan mengumpulkan teman-temanmu di rumah.... Kapanpun kamu pergi wisata sekolah, ibu tak akan lupa untuk membuatkanmu kimbap dan mengikat rambutmu di pagi hari.. Dan Ibu akan membelikan-mu Jjing yang baru.. Hye-na yaa... ayo kira kembali kerumah sekarang..”


Akhirnya, terdengar suara Hye-na yang minta dibukakan pintu lemarinya. Dengan ekspresi wajah yang begitu tenang.. Hye-na menghampiri ibunya..


Ja-young menarik tangannya pergi, tapi Hye-na menghentikan langkahnya untuk mengatakan, bahwa anak kecil tak akan tumbuh tinggi kalau minum kopi. Kemudia tentang Jiing, Hye-na bertanya apaah ibunya ingat.. apa yang dia katakan pada saat itu?


Hye-na duduk di depan kandang hamster, lalu Ja-young menghampirinya dan bertanya: “Kalau ibu membelikan satu untukmu, apakah kamu bersedia ditinggal sendirian?”


Beberapa saat kemudian, kita melihat Hye-na yang telah meiliki Jjing.. duduk disamping ibunya yang tengah sibuk merapikan pakaian kedalam koper. Kala itu, Ja-young dengan gembira, bercerita bahwa dirinya adakan bepergian dengan Seol-ak, “Momen ini sangat penting untuk ibu, bisa saja.. paman mengajak ibu menikah atau kamu akan punya seorang adik. Hanya 3 hari saja ‘kok, kamu tak apa ditinggal sendiiran’kan?”

Hye-na sedih.. namun dia mengangguk, mengiyakan pertanyaan ibunya, “Ibu pasti akan kembali’kan?” tanyanya

“Kamu takut ibu tak akan kembali?.. Karena sekarang ibu akan pergi, jadi antarkan ibu dengan senyumanmu yaa..”

Hye-na tersenyum, lalu Ja-young menyebutnya anak yang baik...


Dari sela-sela jendela, Hye-na melihat kepergian ibuna yang terlihat sangat bahagia sambil membawa kopernya, “Kuharap.. kami bisa masuk kedalam koper itu juga..” ucapnya


Beberapa hari kemudian, Hye-na berbicara dengan Ja-young via telpon. Mereka bertanya keadaan satu sama lain, hingga kemudian Ja-young mengungkapkan bahwa dirinya sangatttt bahagia, “Hye-na yaa.. kamu akan bahagia kalau ibu bahagia’kan?”

“Tentu saja, aku bahagia kalau ibu bahagia..” jawab Hye-na sambil menitikan air matanya, 


Tapi kemudian, Hye-na bertanya: “Bu.. apakah berarti, ibu tak bahagia ketika bersama denganku?”

Enggan menjawabnya,, Ja-young malah minta telponnya sampai disini saja. Alasannya, karena biaya telpon dari luar negeri itu mahal, dan dia akan menelpon di lain waktu lagi..

“Kapan?” tanya Hye-na

“Hmm.. mungkin.. besok..” jawab Ja-young dengan penuh ragu


Kembali pada realita, Hye-na mengatakan pada ibunya bahwa dia tak bisa membeli Jjing yang baru karena Jjjing telah meninggal.

“Kalau begitu kita beli hamster yang baru.. atau kita harus beli kucing saja? Bukannya kamu juga sangat suka kucing?” ujar Ja-young, “Yuk kita pulang.. ibu membutuhkanmu.. Paman juga menunggumu.. Kamu, ibu dan paman.. kita bisa kembali menjadi keluarga lagi.”


Dengan ekspresi yang sangat tenang, Hye-na mengatakan: “Bu.. Hye-na telah meninggal.. Hye-na tak bisa pulang kerumah lagi...”

“Kamu ini bicara apa, Hye-na.. Kamu ada disini, kamu adalah Hye-na..”

“Namaku Yoon-bok,.. Kim Yoon-bok.. aku tinggal bersama dengan ibuku, di rumah nenekku. Dan kami akan pergi ke tempat yang sangat jauh..”


“Jangan bercanda! Kamu adalah Hye-na, anak yang ibu lahirkan!” teriak Ja-young, yang kemudian perlahan mulai menangis dan bertanya: “Sebegitu bencinya’kah kamu pada ibu? Kamu marah karena ibu bahagia?”

“Aku tidak suka  atau pun benci pada ibu. karena sekarang, kamu bukan ibuku lagi.. entah, kamu bahagia atau pun tidak, aku tak peduli.. karena aku bukan putrimu lagi..” ungkap Hye-na yang seketika membuat Ja-young menangis terisak


Sejenak.. Ja-young terdiam, menatap Hye-na dan Soo-jin. Lalu kemudian dia berlari keluar, bahkan tanpa mengucap kata pamit sekali pun~
Advertisement


EmoticonEmoticon