2/18/2018

SINOPSIS Mother Episode 8 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 8 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 8 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 8 Part 3

Setelah Hye-na tidur, Soo-jin menerima sms dari Hyun-jin yang memintanya datang ke kamarnya sekarang, karena ada hal pening yang perlu dia bicarakan~


Dirumahnya, Yi-jin asyik makan ramen dan tak lama kemudian suaminya pulang. Dia pun menceritakan kekesalannya, yang serasa menjadi pembantu kakak serta putri dari kakaknya. Terlebih, sikap ibu yang terkesan menganggap Tae-mi dan Tae-hoon seperti anak tetangga yang tak penting keberadaannya.


Dengan santai, suaminya berkomentar.. bahwa itu semua bukanlah alasan yang membuat Yi-jin kesal.. karena pada dasarnya, kekesalan itu timbul dari rasa khawatir Yi-jin, yang takut jika anaknya Soo-jin menerima warisan yang otomatis membuat Yi-jin tak bisa menjadi presdir yayasan.


“Sebenarnya, aku tak yakin kalau dia adalah putri kandung kakakku..” ucap Yi-jin

“Kalau begitu, lihat saja Kartu Keluarganya..”

“Memangnya bisa?”

“Asalkan ada surat kuasa..”


Kepada Soo-jin, Hyun-jin menunjukkan selebaran yang terdapat foto Hye-na. Suasana sempat hening, hingga kemudian Hyun-jin, meminta Soo-jin untuk menjelaskan semuanya secara lengkap, jelas dan bisa dimengerti oleh seorang reporter sepertinya..


Ja-young telah menonotn film dokumenter Cha Young-shin, dan akhirnya dia menyadari alasan apa yang membuat Soo-jin sampai membawa pergi Hye-na darinya~


Setelah mendengar penjelasan Soo-jin, Hyun-jin mengeaskan bahwa tindakan kakanya ini adalah ‘penculikan’. Sebera baik pun niatanya, tetap saja.. ini namanya penculikan, “Harusnya, eonni tak pernah melakukan hal ini! Bagaimana kalau sampai eonni tertangkap? Terus ibu bagaimana? Suaminya Yi-jin eonni bagaimana? Dia’kan seorang jaksa dan pasti karirnya akan terpengaruh karena masalah ini! Dan aku.. aku kehilangan kesempatan untuk menulis artikel khusus!”

“Maaf, Hyun-jin aaa..”

“Permintaan maaf tak bisa mengubah apap pun, eonni! Aku sangat ingin menjadi seorang reporter, aku sangat menyukai pekerjaan ini. Tapi kalau orang tahu, apa yang sebnarnya terjadi.. bagaimana dengan kelanjutan karirku..” ungkap Hyun-jin


Menceritakan pertemuannya dengan ibu kandung Hye-a, Hyun-jin mengatakan bahwa Ja-young terlihat tidak bahagia dan merasa bersalah, “Eonni, kamu yakin.. bisa menjadi ibu yang lebih baik daripada dia? Kamu yakin, wanita itu tidak bisa menjadi ibu yang baik?” tanyanya

“Yoon-bok... telah mati waktu itu. Bagaimana bisa, wanita itu menjadi ibu yang bai, disaat putrinya telah meninggal?” jawab Soo-jin dengan mata yang berkaca-kaca

“Detektif tidak berpikir bahwa anak itu telah mati! Mereka mengira, seseorang telah memabwanya pergi! Mereka bilang, mereka masih melakukan investigasi! Kenapa kamu tidak melaporkan semua ini pada polis saja!” keluh Hyun-jin

“Aku sudah melakukannya!” tukas Soo-jin, “Tapi polisi tidak melakukan apa pun, sampai akhirnya Yoon-bok mati!”


Sejenak suasana hening, lalu Hyun-jin menyuruh Soo-jin untuk pergi saja.. secepat yang dia bisa, “Aku sudah memikirkannya dengan matang. Apakah aku harus, menyuruhmu menyerahkan diri, atau aku sendiri yang mealporkanmu ke polisi. Tai aku tak mengerti, mengapa aku tak bisa melakukannya! Jadi.. kabur lah sejauh yang kamu bisa.. jangan sampai tertangkap, bagaimana pun caranya.. kamu faham’kan?!”


Sekarang, Ja-young masih duduk di depan komputernya..dia mencaritahu, alamat rumah aktris Cha Young-shin lewat internet~


Kepada Young-shin, Jae-bum memperdengarkan rekaman pembicaraannya dengan sipir mengenai Bu Nam.. tetapi Young-shin tak terlihat bahagia. Dia malah mempertanyakan sikap Jae-bum yang masih mencari informasi, padahal telah diminta berhenti.


Jae-bum berasalan, bahwa mereka harus memberitahu Soo-jin yang sebenarnya. Karena Soo-jin berhak mengetahui, bahwa ingatannya tentang ibu kandungnya, tidak lah tepat.


Soo-jin menemui Jae-bum, dia bertanya mengenai passport yang dia minta. Jae-bum menolak untuk memberikannya karena tahu kalau Soo-jin akan pergi jauh, dan itu pasti memperburuk kondisi Young-shin.


“Bagaimana kalau yang terjadi malah sebaliknya.. justru dengan keberadaanku disini lah, yang pada akhirnya akan memperburuk keadaan?!” ungkap Soo-jin

“Soo-jin aaa.. ada apa? Kamu bisa menceirtakan semuanya padaku..” pinta Jae-bum

“Ahjussi.. pernahkah kamu berada dalam kejadaran polis?”


Obrolan mereka terpotong, karena datang YI-jin yang ingin bertanya dimana Soo-jin menyimpan stempelnya, “Aku membutuhkannya, untuk menge-cap formulir TK..”

“Di dalam loker, di kamarku..” jawab Soo-jin

“Sepertinya, kalian sedang membicarakan hal yang serius? Apa tentang warisan?” tanya Yi-jin

“Nanti.. kamu akan tahu dari pengacara..” tukas Jae-bum


Taemi mengajari Hye-na caranya membaca konsonan ganda di akhir kata. Meskippun tak mahir, tetapi dengan sabar dia  mengajari Hye-na yang sangat kritis dan bertanya segala hal yang tak dia mengerti.


Masuklah Yi-jin, yang langsung mengambil sempel dalam loker. Ternyata, dia menggunakannya untuk menge-cap surat kuasa~


Entah seberapa banyak yang diceritakan Soo-jin, tapi sekarang Jae-bum ahjussi telah meluluh dan bersedia untuk mengusakahan pembuatan passport itu secepatnya.

“Bagaimana caranya, kamu akan memberitahukan hal ini pada ibumu?”

“Nanti.. aku akan biara padanya sebelum makan malam..”


Ketika Soo-jin meninggalkan ruangan, Jae-bum memanggilnya dan berkata: “Mungkin, kamu tak akan pernah kembali.. jika kamu pergi sekarang. Jadi kurasa.. aku akan menyesal jika tak memberikan ini (Flashidsk)..”

“Itu apa?”

“Ini berisi rekaman suara tentang ibu kandungmu..”

“Sudah kubiang, aku tak igni memikirkannya lagi..”


Meskipun demikian, Jae-bum sengaja meletakkan FD itu di meja. Dengan harapan, suatu saat Soo-jin akan mendengarkan isinya.


Di waktu yang bersamaan, Yi-jin tengah berada di kantor pemerintahan untuk mencari tahu mengenai status Yoon-bok dalam kartu keluarga Soo-jin.


Di rumah, Young-shin duduk disamping Soo-jin.. dia menceritakan betapa bahagia dirinya ketika melihat Tae-mi bermain dengan Yoon-bok, seakan-akan dia adalah kakaknya.


Tetapi ketika Soo-jin mulai bercerita mengenai niatannya untuk pergi, ibunya malah tertidur dengan pulas bahkan sampai terdengar suara dengkurannya.


Yi-jin pulang, ketika Soo-jin tengah memerhatikan anak-anak bermain di halaman. Dia langsung, mencecar Soo-jin dengan pertanyaan mengenai Yoon-bok yang dia ketahui bukanlah anak kandungnya..


“Yi-jin aa.. eonni akan segera pergi. Maaf karena aku harus menitipkan ibu kepadamu lagi. Tapi ini lah, jalan hidup yang kupilih.. aku tahu, aku tak banyak membantu keluarga kita, dan malah menjadi beban dalam banyak hal. Aku pastikan, aku tak akan mengambil sepeser pun warisan di keluarga kita. Jadi, ambillah bagian ku dan dirikanlah yayasan yang besar...” ungkap Soo-jin


Mendengarnya, membuat Yi-jin agak lega.. awalnya dia kesal, sekarang dia malah bersikap baik, “Kalau ada yang eonni butuhkan, katakan saja padaku dan aku akan mengurusnya..”


Entah apa yang dicarinya atau diinginkannya, namun Seol-ak masih berkeliaran dalam panti.. bahkan, dia sampai membuat perapian disana..


Jae-bum berusaha semampunya untuk memungkinkan passport pesanan Soo-jin, bisa selesai dalam waktu secepatnya. Dia bahkan rela mengorbankan diri, menuruti keinginan boss gangster yang rada menyebalkan sekalgus membahayakan~


Ketika mengajarkan Hye-na caranya membaca, Soo-jin mengungkapkan niatannya untuk membawa Hye-na pergi dalam waktu dekat, “Kamu tidak usah tes masuk TK pun, tak apa..”

“Memangnya, kapan kita akan pergi bu?”

“Mungkin besok lusa..”


Mendengarnya, seketika membbuat Hye-na tertunduk sedih. Lantas, Soo-jin bertanya, “Kamu ingin ikut tes?”

“Aku telah belajar.. dan Tae-mi eonni bilang, dia akan datang untuk melihatku...” jawab Hye-na

“Kamu memanggil Tae-mi dengan sebutan ‘eonni’..?” tanya Soo-jin


“Ulang tahun Tae-mi eonni bulan Mei, dan aku bulan Desember. Kita bukan teman, tapi kita keluarga.. makanya Tae-mi memintaku untuk memanggilnya eonni..” jawab Hye-na, yang kemudian dengan bahagia mengatakan: “Aku tak pernah menyangka, akan memiliki keluarga besar seperti ini. Rasanya sangat menyenangkan karena punya banyak saudara.. jadi bisakah, kita tetap hidup seperti ini.. setidaknya sampai besok saja?”


Jae-bum menelpon Soo-jin, memberitahukan bahwa passportnya akan jadi sekitar 3 hari lagi. Tak lupa, dia pun bertnaya. Apakah Soo-jin, telah mendengarkan rekaman yang dia berikan?

Enggak menjawabnya, Soo-jin malah langsung menutup telponnya..
Advertisement


EmoticonEmoticon