2/09/2018

SINOPSIS Mother Episode 5 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 5 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 5 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 6 Part 1

Jin-hong mengahmprii Soo-jin, dia tersenyum dan bertanya apakah kali ini Young-shin pergi dengan alasan syuting tambahan?

“Tiidak.. dramanya sudah tamat. Dia pergi dengan alasan harus fitting baju..” jawab Soo-jin

Berikutnya, dia bertanya mengenai Yoon-bok, bagaimana kondisinya? Dan apakah obatnya masih diminum secara teratur?

“Iya.. kondisinya membaik. Batuknya berkurang, obatnya masih diminum dan sekarang dia sudah bisa bermain hingga bahkan berlari..” jawab Soo-jin


Jin-hong minta Soo-jin memberikan tiket konser miliknya, setelah itu dia mempersilahkannya untuk pergi. Dia menyadari, kalau Soo-jin datang kesini dengan terpaksa, “Ny.Cha belum tahu tentang Yoon-bok ‘kan? Dan kuyakin kamu sedang memikirkannya sekarang.. kamu ingin segera pulang untuk menemuinya.. pergilah, Yoon-bok pasti menunggumu..”


Sebelum Soo-jin pergi, Jin-hong mengatakan bahwa dirinya ingin memeriksa keadaan Yoon-bok, “Haruskah aku mengunjungi tempat tinggal kalian?”

“Hmmm.. itu agak...”

“Kalau begitu, di dekat sini ada kafe. Termui aku disana.. aku akan menunggu disana dan aku akan pergi kalau sekiranya kalian tak akan datang..”


Hye-na akhirnya memainkan kunci milih ahjumma.. dia membuka brankas yang isinya terdapat banyak kaset rekaman film dokementar aktris Cha Young-shin (ibu angkatnya Soo-jin)


Tanpa sepengetahuan ahjumma, Hye-na membawa kunci tersebut hingga ke dalam kamarnya...


Di kantor polisi, Detektif Chang melaporkan hasil penyelidikannya. Mereka telah mendapatkan pengakuan tersangka, namun sang atasan.. menyebut itu saja belum cukup. Kemungkinan besar, mereka harus membebaskan Ja-young, karena kurang bukti..

Dalam kasus seperti ini bukti yang paling penitng adalah korban. Jika memang Hye-na telah mati, mereka harus menemukan tubuhnya dan mengidentifikasi seberapa banyak dan seberapa parah luka di tubuhnya..


Byung-gook mengarsir buku catatan Hye-na dengan pensil warna. Kakak perempuannya duduk disampingnya kemudian melihat isi buku tersebut ...


Hye-na tengah bermain-main dengan barang milik Soo-jin. Gaun biru.. serta gembok sepeda.. Di dekatnya, ada sekumpulan kunci milik ahjumma.


Setelah dicoba satu demi satu, ada satu kunci yang berhasil membuka gembok tersebut *oow.. sudah kuduga..*


Pada waktu yang bersamaan, Seol-ak yang baru bangun tidur.. mendengar suara kakaknya Byung-gook yang tengah menyebutkan satu pes-satu tulisan dalam catatan itu. Dia terkejut, ketika mendengar kalimat yang dia rasa tak tertulis dalam catatan itu..

‘TK kidari.. kelas Ongdalsaem.. Lee Won Hae’


Soo-jin pulang. Dia hanya bisa menghela nafas, ketika melihat kamar yang berantakan, serta Hye-na yang telah tidur dengan mengenakan gaunnya.


Dia coba untuk memangku Hye-na ke kasur.. namun bertapa kagetnya dia, ketika melihat gaun Hye-na terikat pada gagang lemari dengan gembok sepeda miliknya..


Berusaha tenang, Soo-jin menncoba membukanya dengan tangan kosong. Namun tak sengaja, dia melihaat sebuah kunci di tangan Hye-na.. dengan tangan yang bergetar dia gunakan kunci tersebut, dan ternyata.. gemboknya berhasil terbuka~


Soo-jin membangunkan Hye-na, untuk bertanya.. kunci itu punyanya siapa? Dengan wajah yang sangat mengantuk, Hye-na menjawab kalau kunci itu miliknya ahjumma..


Seol-ak melihat buku catatan Hye-na.. ternyata arsiran pensil warna, membuat bekas tulisan dibelakang halaman yang dirobek, menjadi timbul dan terlihat kembali.

Selain tentang Lee Won Hae, dia pun membaca tulisan, ‘Hari pertama Bu Soo Jin tersenyum..’


Soo-jin menemui ahjumma dengan membawa gembok sepeda beserta kuncinya. Ketika melihatnya.. ahjumma terdiam kaget. Dia pun menyuruh pelanggannya yang baru dicukur setengah kepala, untuk pulang dan kembali esok hari, “Kamu tak usah membayar.. lain kali, bawa adikmu juga.. aku akan menggunting rambutnya gratis..”


Sekarang, hanya ada mereka berdua.. ahjumma memberikan segelas minuman, tangannya bergetar bahkan hampir membuat isi gelasnya tumpah.


Soo-jin menyodorkan gembok sepeda beserta kuncinya, “Bisakah anda membukakan kuncinya untukku?”

Ahjumma menggelenngkan kepalanya, lalu Soo-jin berkata: “Anda pernah berjanji padaku, anda akan membukanya.. anda akan datang dan membuka kuncinya untukku..”


Mata ahjumma mulai memerah dan berkaca-kaca, dengan tangannya yang bergetar... dia pun membukakan gembok tersebut, dihadapan Soo-jin..

Flaschback..


Mereka berjalan melewati toko sepeda, Soo-jin kecil bertanya apakah dirinya kaan dibelikan sepeda?

“Beli sepedanya lain kali. Sekarang ibu belum punya uang..”


Sebagai gantinya, dibeli-lah satu gembok sepeda berwarna biru. Ibu bilang, Soo-jin bisa menggunakannya, nanti ketika dia punya sepeda...
“Iya..” jawab Soo-jin dengan gembira

Flaschback end..


Soo-jin: “Anda bilang akan membelikanku sepeda..”

Ahjumma: “Kamu masih mengingatnya? Segala hal yang terjadi pada hari itu?”

Soo-jin: “Tidak.. akut tidak ingat.. aku tak mengingat apapun yang terjadi sebelum hari itu. Dokter bilang, itu adalah sistem pertahanan yang kubuat untuk melindungiku dari momen menyakitkan. Namun setiap kali muncul ingatan menyakitkan.. aku merasa takut..”

Ahjumma: “Maaf..”


Untuk menahan tangisnya, Soo-jin menggenggam mug disampingnya dengan sangat erat. Berulang kali dia menarik nafas kemudian mengungkapkan, bahwa dirinya tak pernah memikirkan ibu kandungnya sekali pun.. tak pernah menunggu kedatangannya.. dan tak pernah terpikir untuk bertemu dengannya, “Aku tak ingin menunjukkannya bagaimana aku hidup.. dan orang seperti apa aku ini..”


Namun pada akhirnya, emosi Soo-jin meluap tak tertahankan.. dia berteriak, membentak ibunya, “Kenapa?! Kenapa?! Kenapa kau membuka barber shop disini?! Hanya untuk dipanggil sebagai penyihir oleh seluruh anak-anak disekitar sini?!”


“Aku kecewa padamu!” teriak Soo-jin, yang tanpa sadar telah memecahkan mug yang digenggamnya hingga membuat telapak tangannya terluka dan keluar datah yanag cukup banyak..

Ahjumma tak kuasa menahan tangisnya, dia pnik namun tak bisa berbuat apa pun~


Tangan Soo-jin dibalut handuk, dia berkemas.. mebangunkan Hye-na dan mengajaknya pergi sekarang juga!


Ahjumma sempat mengejar Hye-na, dia memberikan sebuah amplop, “Tolong berikan ini pada ibumu, yaa..” pintanya yang kemudian menyuruh Hye-na untuk bergegas pergi mengejar Soo-jin yang berjalan dengan langkah sangat cepat, tanpa menengok kebelakang sekali pun.


Seol-ak tengah mengisi bensin.. ada pesan masuk di ponselnya,,, dari Ja-young yang memberitahukan bahwa penyelidikannya telah selesai, dia meminta Seol-ak untuk segera pulang dan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja..


Langkah cepat Soo-jin, terhenti ketika Hye-na bertanya: “Kita mau kemana?”


Ditempatnya, ahjumma hanya bisa menangis.. menatap bekas darah Soo-jin yang masih berceceran di lantai..

Flashback..


Hari itu, Soo-jin diikat di depan gerbang panti. Dia pun bertanya,, kenapa dirinya dikunci dengan gembok sepeda?

“Akan agak lama.. sampai ibu kembali untuk menjemputmu. Tapi ibu tak bisa membiarkan seseorang mengambil Soo-jin, ketika ibu tak ada disini. Bahaya.. kalau kamu pergi dan ibu tak bisa menemukanmu..”


INSTAGRAM TABLOID SINOPSIS

Sambil tersenyum, Soo-jin mengatakan bahwa dirinya tak akan pergi kemana pun dan akan tetap menunggu disini.


Ibu memberikan Soo-jin sebungkus roti.. Soo-jin menganggap ibu akan menjemputnya ketika roti itu telah habis dimakannya. Maka dia pun memakannya dengan lahap..

“Makan pelan-pelan ‘nak..”

“Baiklah.. aku akan memakannya sengan sangatttttt lambat..”

Flashback end..


“Kamu.. orang yang disebut sebagai ibuku.. aku membuang banyak waktu, supaya aku bisa berhenti memikirkanmu dan supaya aku tak ingin menunggumu lagi..”


Soo-jin menghapus air matanya kemudian mengajak Hye-na pergi bersama dengannya~


Sambil menyetir.. Seol-ak terus mengingat pertemuan tak sengaja, dengan seorang anak yang mirip dengan Hye-na. Hingga akhirnya, dia pun tersadar.. bahwa kala itu Hye-na ditemani seseorang yang mirip dengan salah satu guru yang pernah datang ke rumahnya~


Jin-hong tersenyum, ketika melihat Soo-jin dan Hye-na berjalan menuju kafe tempatnya berada..


Tetapi, senyumannya sirna ketika melihat tangan Soo-jin yang dibalut handuk berlumuran darah. Dia pun memeriksanya, “Bagaimana ini bisa terjadi?” tanyanya

“Aku memecahkan gelas..”

“Ini mesti dijahit..”


Dengan suara yang terdengar begitu pasrah, Soo-jin minta bantuan Jin-hong untuk menjahitkan lukanya. Dia pun bertanya, apakah mereka bisa mengibap di tempatnya Jin-hong, malam ini?


Mendengarnya.. seteika membuat Jin-hong kaget hingga tak mampu berkomentar apapun~
Advertisement

6 komentar

Waaahhh jin hong oppa smg jd penyelamat bwt so jin dan hye na..

@Miranti saya malah berharap Jin Hong jadi bapaknya Hye-na ajaaaaaa 😊😊😊

Entah lah wali di kehidupan nyata so jin udah punya suami..tapi sama dokter ganteng ini cocok
.

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Entah lah wali di kehidupan nyata so jin udah punya suami..tapi sama dokter ganteng ini cocok
.

@Wati iyalah, Lee Bo Young udah punya om Jisung yang jauh lebih keren. Tapi di drama ini, berharap Hyena punya bapak kayak Jin-hong. Abisnya, sebel banget sama karakter Seol-ak, yg enggak tahu udah bunuh berapa banyak anak kecil 😭😭😭


EmoticonEmoticon