2/09/2018

SINOPSIS Mother Episode 5 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 5 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 4 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 5 Part 2

Diluar, langit telah berubah menjadi gelap. Dengan suaranya yang lembut Hye-na bertanya pada Soo-jin, “Ibu sudah tidur?”

“Belum..” jawab Soo-jin, “Tapi ibu tak mau pergi..” tambahnya

“Aku juga..” 

“Diluar pasti sangat dingin..” 

“Disini sangat hangat, kan..”


Kemudian, Hye-na bercerita mengenai dongeng Hansel dan Gretel yang mengisahkan dua orang anak yang berkeliaran di hutan, dan menemukan sebuah rumah dari makanan. Dia menganggap konndisinya sekarang, mirip dengan dongeng itu. Disekolah, anak-anak sangat gemar membaca bagian rumah dari makanan, hingga halaman tersebut hampir robek.


Soo-jin: “Hye-na yaa.. kamu tahu apa yang terjadi setelahnya? Mereka hampir meninggal.. karena rumah itu, adalah milik seorang penyihir..”

Hye-na: “Benarkah? Aku belum membaca sampai pada bagian itu..”

Soo-jin: “Penyihir, sengaja membuat rumah dari makanan.. supaya anak-anak datang kesana. Tapi mereka tidak meninggal.. mereka berhasil membunuh penyihir itu dan berlari kabur..”

Hye-na: “Rumahnya bagaimana? Mereka memakan semuanya?”

Soo-jin: “Kamu lapar?”


Hye-na: “Hmm.. iyaa..”
Soo-jin: “Kita harus membeli sesuatu untuk dimakan. Kamu harus makan, untuk bisa minum obat~”


Tiba-tiba, terndengar suara seseorang yang mengetuk pintu, yang terntunya mmebuat Hye-na kaget hingga memeluk Soo-jin dengan erat~


Detektif Chang menginterogasi Ja-young, dia menunjukkan CCTV di supermarket yang dengan sangat jelas, merekam momen ketika dia tengah menyenggol Hye-na dengan kereta belanjaan. 

Namun, Ja-young beralasan bahwa dia punya alasannya sendiri. Kondisinya memang sedang sangat sensitif, malam itu supermarket sudah mau tutup tapi Hye-na terus merengek ingin ke toilet, “Rekaman ini terlalu berlebihan, Hye-na tak terluka parah.. dia hanya lecet sedikit..”


Selanjutnya, diputarkan rekaman CCTV ketika Ja-young mendorong Hye-na di depan rumahnya. Kali ini, dia beralasan kalau Hye-na sangat rewel.. minta dibelikan kandang Jjing yang baru, padahal dirinya belum mendapatkan gaji...


Ternyata.. yang mengetuk pintu adalah ahjumma barber shop. Dia ingin menitipkan burungnya, serta memberikan makanan untuk mereka. Dia bilang, esok pagi diirnya harus pemakaman, takutnya tak sempat memebri makan burungnya..


Padahal.. nyatanya, ahjumma itu tak pergi kemana pun. Dia sempat diam di tangga, dan memerhatikan ke arah kamar tempat Soo-jin dan Hye-na berada.


Diruang interogasi, secara tiba-tiba... Ja-young mengakui kesalahannya. Dia bilang, dirinya sangat sering memukul Hye-na dengan barang apapun disekitarnya. Tapi dia membela Seol-ak, “Oppa selalu melindungi Hye-na juga diriku. Dan tak pernah ada orang lain yang bersikap sepertinya kepadanya kami..”


Seol-ak sendiri, tengah mengendari truk-nya.. dia melewati sebuah gerbang tol, dia membayar tiket, dan pada petugas wanita yang berjaga.. dia tersenyum lalu mengajaknya bertemu setelah perkejaannya selesai. Wanita itu bersikap datar, namun sepertinya dia sangat gugup..


Beberapa saaat kemudian, wanita yang ternyata tengah hamil itu.. menemui Seol-ak sambil membawakannya dua gelas kopi.

“Memangnya, kau boleh minum kopi?” 

“Bertemu dengan oppa, membuatku sangat gugup.. aku harus menenangkan diriku setidaknya dengan cara minum kopi..”


Wanita itu, mengungkapkan bahwa dirinya akan segera menikah dan calon suaminya tak mengetahui hal apapun tentang ‘Won-hee’, “Aku berharap, pernikahanku berjalan dengan lancar..”

“Kalau mau menikah, seharusnya kau punya tabungan..”

“Oppa, kamu butuh uang berapa?”

Seol-ak tersenyum, “Terserah kau saja..”

“3 juta won cukup?.. aku perlu membeli banyak hal.. kalau begitu, 5 juta bagaimana?”

“Heh, kau akan menikah, aku tak bisa melakukan apapun untukmu. Aku hanya akan membawa uangmu dan melarikan diri selamanya. Jadi pinjamkan mobilmu..”

“Kalau aku memberikan uan 5 juta won serta mobilku, apakah semuanya benar-benar berakhir diantara kita?”


Lagi-lagi Seol-ak tersenyum, “Kalau ingin bebas, kau harus menebak jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini... ‘Kenapa Won-hee meninggal? Putramu, Won-hee, kenapa dia mati?’...”

Dengan suara yang bergetar, wanita itu menjawab, “Won-hee bermain di balkon, ketika aku sedang bekerja dia memanjat ke atas, dan jatuh..”

“Itu hanyalah, apa yang akan kamu ceritakan pada orang lain. Tapi kamu harus menceritakan alasan yang sebenarnya padaku! Bahwa sebenarnya, kau memang menginginkan Won-hee untuk menghilang!”

“Tidak! Oppa yang melakukannya!”

“Karena aku tahu bagaimana perasaanmu! Kalau kau masih memiliki Won-hee, kau pikir kau bisa menikah seperti sekarang ini?”


Seol-ak akhirnya pergi dengan menggunakan mobil wanita itu, dan ternyata.. wanita  itu pun telah merekan seluruh pembicaraan mereka barusan~


Di pagi hari, Soo-jin melihat ahjumma barber shop yang tengah menyapu halaman. Dia menghampirnya untuk bertanya apakah kamar di rooftop akan disewakan? Kalau iya, uang sewanya berapa?

Tanpa berpikir lama, ahjumma menjawab “200 ribu won”

“Bukankah itu terlalu murah?” tanya Soo-jin

“Kalau tidak mau,.. yasudah.. karena jika aku menerima uang sewa yang banyak darimu, maka aku harus menurti segala permintaanmu. Aku tak suka melakukan hal semacam itu..” jawabnya


Soo-jin setuju, dia pun memberikan uang tersebut langsung secara cash..


Pada waktu yang bersamaan, Jin-hong mendatangi hotel tempat Soo-jin menginap. Dia mendapatkan info dari resepsionis, bahwa Soo-jin telah pergi..


Sekarang ini, Soo-jin tengah mengantar Young-shin untuk melakukan kemo di rumah Sakit. Ternyata, ini merupakan kali pertama.. Young-shin membawa seseorang untuk menemaninya..

“Kenapa? Padahal.. Jae-bum ahjussi dan Yi-jin sangat perhatian padamu..”

“Karena aku selalu menjaga harga diriku sebagai seroang aktris..”


Young-shin bercerita, kalau dirinya memiliki julukan ‘ratu es’ karena sifatnya yang sangat dingin. Dia tak pernah menunjukkan perasaannya kepada siapa pun. Dia tak pernah menangis dihadapan siapa pun, kecuali dihadapan kamera dan dihadapan Soo-jin..

Flashback..


Kala itu posisinya terbalik, Young-shin menyetir mobil.. membawa So-jin pergi dari panti. Sepanjang jalan.. Soo-jin hanya diam, dan diirnya bercerita tentang masalahnya..


Setahun lalu, Young-shin ditinggal suaminya yang berselingkuh dengan wanita lain. Hidupnya terpuruk.. dia terlibat dalam insiden tabrakan mobil ketika dirinya tengah mabuk. semua orang mengutuknya.. dan pihak agensi memintanya untuk ‘membersihkan image-nya’, maka dia pun menjadi volunteer di panti..


Tapi tak disangka, ternyata.. seminggu di panti menjadi momen yang snagat berharga baginya, dan itu semua terjadi karena Soo-jin, “Kurasa, aku tak akan takut pada hal apapun jika aku memliki putri sepertimu.. aku tipe orang yang terlalu takut jika harus hidup sendiiran..”


Young-shin mengatakan, kalau Soo-jin hanya perlu menganggap driinya sebagai presdir perusahaannya, “Aku akan berusaha sebisaku untuk membuat hidupmu bahagia, nyaman dan tentram. Aku akan berada di pihakmu, apapun yang terjadi”

Flashback end..


Masih menggunakan perumpamaan yang sama, namun Soo-jin membalikkan posisinya, “Aku akan selalu mengantarmu ke RS, sampai aku pergi meninggalkan Korea. Dengan syarat, kita harus menghormati kehidupan satu sama lain. Jika melakukannya.. mungkin perlahan, kita bisa menjadi semakin dekat..”


Mendengarnya, membuat Young-shin tertawa, “Baiklah..” ucapnya, yang kemudian menuturkan bahwa sikap Soo-jin sekarang banyak berubah, bahkan terlihat seperti seorang ibu untuknya~


Selagi ahjumma memotong rambut pelanggannya, Hye-na menirunya dengan cara menggunting kertas lipat. Ternyata sebelumnya, Hye-na mengungkapkan keinginannya di masa depan untuk bekerja seperti ahjumma itu. Alasannya sangat sederhana, “Gunting rambut sangat sangat indah, suaranya sangat nyaman untuk didengar.. dan ahjumma terlihat sangat keren ketika tengah bekerja. Seluruh pria tak bisa melawanmu..”

“Yoon-bok aa.. kamu tak perlu menjadi sepertiku di masa depan. Karena kamu bisa melakukannya sekarang..”


“Semua pemotong rambut, memulai karirnya dengan menyapu potongan rambut di lantai.. ”


“Dan yang paling penting, adalah mencuci rambut orang lain dengan cara yang benar..”


Di rumah sakit, Yoo-jin hampir menangis ketika mendengar pemaparan dokter yang menjelaskan bahwa kanker dalam tubuh ibunya telah menyebar. Namun Young-shin bersikap sangat santai, dia malah meminta dokternya untuk tak mengatakan hal semacam itu dihadapan putrinya yang belum berpengalaman sepertinya.


Dokter heran, ketika mengetahui kalau Young-shin akhirnya mau di kemo, “Apa yang membuatmu berubah pikiran?” tanyanya


“Aku tak takut pada kematian. Karena aku bisa melakukannya dengan caraku, seperti hal lainnya yang biasa kulakukan. Kurasa pak Dokter tak memahaminya, karena anda adalah seorang pria. Namun, ketika menjadi seorang ibu.. artinya kamu tak bisa meninggalkan anakmu dan pergi begitu saja. Aku punya tiga orang anak dan semuanya telah beranjak dewasa. Tapi hanya dia (Soo-jin), yang masih sama seperti dulu, setidaknya dalam hatiku..”


Setelah menerima suntikan obat kemo, perlahan Young-shin kehilangan kekuatannya. Soo-jin menyarankan, supaya ibunya itu beristirahat dan pensiun dari karirnya sebgai seorang aktris. 


Dengan lemas, Young-shin malah tertawa dan mengatakan kalau dirinya tak kuasa menahan sakit fisik, padahal masih kuat jika harus menghadapi sakit hati..


Tiba-tiba, Young-shin merasa mual dan langsung muntahh-muntah. Soo-jin tak bisa melakukan appaun, karena itu adalah efek samping kemo.. dia hanya bisa mengelus-elus pundak ibunya dengan raut wajah yang begitu mengkhawatirkannya.


Di dapur, Hye-na bertanya pada ahjumma, siapa nama burung perliharannya?

“Hmm..nama? Dulu aku memberinya nama, tapi sekarang aku sudah lupa namanya siapa..”

“Memangnya, burung-burung ini akan mengenalimu jika tidak dipanggil dengan namanya? Aku selalu merasa menjadi ankanya ibuku, ketika dia memanggil namaku..”


Ahjumma itu tersenyum, lalu memuji nama Yoon-bok yang terdengar sangat indah. Yoon-bok mengangguk bahagia, dia pun meminta izin, apakah dirinya boleh memberi makan burung-burung ini?

“Iya.. silahkan, mulai dari sekarang.. Yoon-bok yang akan bertanggung jawab untuk memberi makan mereka..
Advertisement


EmoticonEmoticon