2/02/2018

SINOPSIS Mother Episode 3 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 3 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 3 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 4 Part 1

Detektif Chang mendatangi laboratorium tempat Soo-jin sebelumnya bekerja. Disana dia bertemu dengan Eun-chul dan langsung mengorek informasi tentang Soo-jin, dikaitkan dengan Hye-na..

Tetapi dengan tenang, Eun-chul tak hanya mengatakan bahwa Soo-jin tidak terlalu suka pada anak-anak. Detektif Chang lalu meminta pendapat Eun-chul tentang tingkah Hye-na, yaitu seorang anak kecil yang berjalan kaki sekitar se-jam pada suhu minus 5 derajat, yang berjalan seroang diri hanya untuk mengejar burung, apa itu hal yang wajar?


Eun-cul tersenyum, “Sewaktu kecil, aku bisa berjalan sejauh 5 kilometer hanya untuk melihat robot terbaru. Memang anda tak pernah melakukan hal semacam itu?” tanyanya

“Hmm.. baiklah. Tapi tolong segera hubungi saya jika anda berhasil menghubungi Soo-jin..” pinta detektif Chang


Eun-chul berjalan kembali ke ruangannya, dia membuka loker milik Soo-jin dan terlihat ring yang Soo-jin kumpulkan baru berjumlah 14, “Kamu bilang, tak akan pergis ebelum mengumpulkan 20 ring. Aku tahu bentul, bahwa kamu bukanlah ipe orang yang akan meninggalkan pekerjaannya dalam kondisi belum terselesaikan. Dan aku tahu, bahwa tugas yang kamu berikan padaku, bukanlah tugas mudah..”


Eun-chul mengirim e-mail pada Soo-jin, dia menceritakan mengenai kedatangan Detektif yang bertanya tentangnya.. lalu dia pun bercerita mengenai GPS yang sengaja dia pasang di truk milik Seol-ak,


Sesuai dugaan Bu Clara.. pagi ini, datang beberapa orang yang akan menjemputnya.ada sebuah mobil ambulance dan mobil sedan yang didalamnya terdapat seorang pria dan wanita yang merupakan keponakannya.


Melihat mereka, Bu Clara hanya berkata: “Maaf.. aku tak  akan melakukannya lagi.. aku ingin tinggal disini..”

“Bibi.. rumah ini bukan milikmu lagi.. aku akan membawamu ke temmpat yang lebih nyaman..”

“Aku adalan orang yang menanam seluruh pohon di tempat ini, aku mengecat semuanya.. dan membesarkan anak-anakkua disi. Jadi kenapa kau bilang, ini bukan rumahku?”

“Bi, kamu tak peru menderita lagi.. kita akan mengubah tempat ini menjadi rumah peginapan yang indah. Jadi jangan khawatir..”


Mendengar seluruh perkataan itu, justru membuat Bu Clara menangis.. dan itu membuat keponakannya mengeluh, “Kenapa? Kau membuatku seperti orang jahat..”

“Sudahlah.. lagipula, mengingat wajah orang saja dia tak bisa--”


Bebrapa pria masuk kedalam rumah untuk mengambil barang berharga yang tersisa. Soo-jin yang amsih ada dialam, segera mengajak Hye-na untuk menyiapkan barang-baranya dan mengikutinya, “Jangan bertanya apapun, cukup lihat dan dengarkan apa yang ibu katakan..”


Mereka bersembunyi di toilet..., bu Calara yang baru berjalan sampai di gerbang, tiba-tiba membalikan badannnya, kepada keponakannya dia bertanya: “Joo-young aaa.. anak-anakku dimana?”

“Kamu ini bicara apa?! Anak-anakmu telah tumbuh dewasa dan mereka tinggal ditempat berbeda!”

“Rasanya, baru kemarin aku mengganti popokmu dan memberimu makan..” ucapnya yang kemudian meminta izin untuk masuk kedalan rumahnya, “Ini yang terakhir kalinya, lagipula masih ada barangku yang tertinggal disana..”


Setelah mengambil barang yang sebelumnya dia bungkus, Bu Calara berjalan perlahan.. lalu berhenti di depan toilet tempat Hye-na dan Soo-jin bertermu. Dia tersenyum, lalu berkata: “Yoon-bok aa.. kamu adalah anakku yang terakhir. Jadi kumohon, jagalah ibumu dengan baik.. ”


Hye-na membuka pintunya sedikit, darisana dia pun bisa melihat wajah Bu Clara, yang melanjutkan cerita tentang ibunya, “Dulu.. ibumu merupakan gadis yang paling penakut diantara anak lainnya. Yang selalu bergidik ketakutan, karena tak bisa mempercayai orang lain. Tapi sekarang, ada kamu bersamanya, dan itu membuat Ibu merasa tenang. ...”


Hye-na tak kuasa menahan tangisnya, dia  hampir menyebut nama Bu Clara.. namun Soo-jin segera membekap bibirnya.


Bu Clara: “Soo-jin aaa.. terimakasih karena telah menjadi seorang ibu. Aku sangat bahagia karena masih sempat mendekap anakmu. Akan sangat bahagia rasanya, jika Tuhan membiarkanku selalu mengingat momen ini saja.. Fakta bahwa Soo-jin ku telah menjadi seorang ibu..”


Untuk terakhir kalinya, Bu Clara melirik suasana di sekelilingnya. Tiba-tiba, Hye-na menggelindingkan coneka miniatur yang dia ibaratkan sebagai ibunya saat berusia 6-8 tahun.. Bu Calra mengambilnya, dia tersenyum lalu memasukannya kedalam barang bawaannya,,


Akhirnya, Bu Clara pun pergi.. sementara Soo-jin bergegas membawa Hye-na meninggalkan tempat ini dengan mengendarai sepedanya...


Hye-na: “Ada satu hal yang mengganjal di pikiranku. Sebuah kata yang berawal dari kata ‘rin’ (lanjutan permainan sambung kata).. berikutnya adalah giliranku, tapi aku kebingungan dan tak bisa menjawabnya... sekarang aku baru mendapatkan jawabannya.. yaitu `rin-su`... suatu saat nanti aku harus mengatakannya pada Bu Clara...”


Sesampainya di terminal, Soo-jin membuka ponselnya dia sibuk melihat perkembangan berita mengenai Hye-na. Kemudian, dia membuka e-mail dari Eun-chul..


Segera, dia megajak Hye-na pergi ke minimarket. Hye-na membeli bu catatan kecilnya, sementara Soo-jin mengirim paket untuk Bu Ye-eun.


Hye-na bertanya, mengapa Soo-jin mengirim paket itu pada Bu Ye-eun? Soo-jin bilang, dari 1 banding 10.000 terdapat satu kemungkinan bahwa mereka akan gagal. Jadi dirinya meminta bantuan Bu Ye-eun..


“Kalau kegagalan 1 banding 10.000, berarti keberhasilan 9.999 banding 1, benar ‘kan?” tanya Hye-na


“Ya.. 9.999 dari 10.000 kesempatan, merupakan kesempatan kita untuk berhasil..” jawab Soo-jin dengan optimis

“Syukurlah..” ucap Hye-na


Yi-jin mendatangi seorang dokter, dia meminta penjelasan mengenai hasil pemeriksaan ibunya. Dia sangat kaget, ketika mengetahui bahwa kanker dalam tubuh ibunya telah menyebar, “Apa kondisi ibuku separah itu?”tanyanya dengan pebuh kegelisahan


Sekarang, Soo-jin dan Hye-na tengah berada dalam kereta api. Hye-na menjajarkan miniaur bonekanya, dimana salah satunya telah dia berikan untuk Bu Clara..


Hye-na: “Bu.. bagaimana ibu bertemu dengan ibu yang membesarkan ibu?”

Soo-jin: “Suatu malam, ibu sedang terbaring tidur.. ketika datang seorang anak baru..”


Flashback..
Anak yang baru datang, terus menangis tak henti-hentinya. Kebetulan, kasur Soo-jin berada di atasnya. Maka Soo-jin bertanya: “Kamu takut? Ingin aku tidur disampingmu?”


Setelah berbaring disampingnya, Soo-jin menceritakan seluruh pengalaman anak lain yang baru datang ke tempat ini, “Semuanya menangis, karena mereka ingin bertemu dengan ibu mereka. Ibunya Soo-jung sakit, ibunya Hyun-jung melarikan diri, ibunya Hyun-ji meninggal sewaktu melahirkan adiknya, Ji-young kehilangan ibunya, Ibunya Mi-young dibawa ke Rumah Sakit Jiwa, ibunya Young-seon.. dibunuh oleh ayahnya, dan ibuku.. merasa takut jika aku mengejarnya, makanya dia mengikatku di pohon depan lalu meninggalkanku begitu saja. Bagaimana caranya kamu datang kesini?”


Esok harinya, Soo-jin mengetahui kalau seseorang yang dia kira sebagai anak yang seusia dengannya.. ternyata merupakan seorang wanita yang telah dewasa. Mungkin usianya sekitar 32 atau 33 tahun, “Dia sangat cantik dan datang kesini sebagai volunteer..”


Wanita itu tinggal bersama mereka sekitar seminggu, setlah dia pergi.. tak lama kemudian dia datang kembali dan mengatakan ingin mengadopsi Soo-jin. Kala itu, Soo-jin menolak.. dia sampai memohon pada Bu Clara dan berjanji supaya diainya akan menjadi anak penurut yang menghabiskan seluruh makanannya..
Flashback. end...


Yi-jin berbicara dengan ibunya, dia menggerutu mengeluhkan sikap sang ibu yang tak menceritakan apapun kepadanya. “Memangnya aku salah apa? Aku selalu menuruti segala keinginan ibu! Berjalan, tertawa.. hingga suami pun, semuanya ibu yang pilihkan! Tapi kenapa, ibu hanya pedulu pada eonni? Apa kamu beerencana untuk memberitahukan hal ini, hanya kepadanya? Ibu pikir, eonni akan datang kesini jika dia tahu kalau ibu menderita penyakit kanker? Akulah yang akan merawat ibu.. samapi ibu tua dan merasa bosan melihatku! Orang yang akan merasa sedih adalah diriku!”


“Aku mengetahuinya, putriku...” ucap Young-shin yang kemudian memeluk Yi-jin, “Aku tahu, kalau kamu akan sedih seperti ini.. makanya aku tak mau memberitahumu..”


Yi-jin: “Apa ibu benar-benar akan meninggal?”

Young-shin: “Aku punya banyak pilihan... meninggal perlahan, dengan penuh rasa sakit sambil menghabiskan uangku. Atau melakukan apapun yang ingin kulakukan selama 6 bulan kedepan... atau juga, bisa meninggal secara tiba-tiba..”

Yi-jin: “Maksud ibu apa? Memangnya ada pilihan untuk meninggal!? Bagaimana pun caranya, Ibu harus bertanan sampai akhir! Masih ada  aku, anak-anakkku dan juga suamiku!”

Young-shin: “Hmm.. ibu akan memikirkannya lalu menjalani semuanya sesuai apa yang ibu inginkan..”

Yi-jin: “Satu-satunya orang yang tak pernah ibu marahi, hanyalah eonni..”


Setelah turun dari kereta, Soo-jin membawa Hye-na untuk menginap di sauna. Hye-na bertanya, “Bu, besok kita akan pergi kemana?”

“Ke tempat yang paling tidak ingin ibu datangi di dunia ini..” jawab Soo-jin


Esok harinya, mereka beralan melewati sebuah salon. Didalamnya ada seorang wanita yang tengah berdiri memerhatikan burung pelihaaannya.. Hye-na berlari menghampirinya, namun Soo-jin hanya berkata: “Tempat itni ternayta masih ada disini ternyata..”


Melihat Soo-jin, spontan membuat wanita itu seakan terkejut keheranan. Dia pun membalikan badan, berusaha menghindarinya.. tetapi Hye-na bilang, dia ingin memotong rambutnya disini..


Pada waktu yang bersamaan, kita melihat Ye-eun yang baru pulang ke apartemennya. Satpam yang berjaga disana, memberikan sebuah paket, sepertinya yang kemarin dikirim oleh Soo-jin..


Saat ini, Soo-jin tengah meneani Hye-na memotoong rambut. Suasananya sangat hening.. hingga kemudian, Soo-jin pamit pergi sebentar dan meminta Hye-na untuk menunggunya di taman saja, jika rambutnya selesai dipotong.

Tetapi wanita yang memotong rambut Hye-na berkomentar: “Kenapa kamu membiarkan anak kecil bermain diluar ketika udaranya sedingin ini.. Lebih baik, dia menonton TV disini sambil makan cemilan..”

“Memangnya ada cemilan apa?” tanya Hye-na


Sekotak wadah berisi banyak makanan ringan, membuat Hye-na meminta izin pada Soo-jin untuk menunggunya disini saja,

“Takutnya dia akan merepotkanmu..” ucap Soo-jin, 

Tak direspon oleh wanita itu, Soo-jin pun mengatakan bahwa dirinya akan menitipkan Hye-na disini untuk sebentar saja..

“Iya..” jawab wanita itu


Young-shin tengah menelpon Jae-bum untuk mencaritahu informasi terbaru mengenai Soo-jin. 


Namun tiba-tiba.. pintu ruangannya terbuka dan masuklah Soo-jin. Spontan, Young-shin meminta Jae-bum untuk segera pulang menggunakan penerbangan berikutnya, “Soo-jin.. baru saja datang kesini...” ujarnya yang kemudian menutup telponnya

Advertisement


EmoticonEmoticon