2/02/2018

SINOPSIS Mother Episode 3 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 3 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 3 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 3 Part 3

Via telpon Jae-bum menyampaikan kabar bahwa dirinya telah sampai di Islandia, tapi dia belum mendapatkan informasi mengenai kedatangan Soo-jin kesana. Selanjutnya, dia akan mendatangi langsung pusat penelitian yang lokasinya lebih pelosok lagi, dia mengeluhkan hal ini pada Young-shin.. tapi Young-shin tak banyak berkomentar, dia hanya meminta Jae-bum untuk menyelesaikan tugasnya sesegera mungkin..


Di rumahnya, Yi-jin tengah mencba bebreapa gaun milik ibunya. Tak sengaja, dia meneukan sebuah amplop berisi laporan pemeriksaan radiologi milik ibunya.


Di kantor polisi, Detektif Chang melaporkan perkembangan proses investigasi terkait hilangnya Hye-na, dan dia pun menyinggung soal dugannya akan tindak kekerasaan terhadap anak. Namun atasannya, tak mau mengambil keputusan apapun apabila tak ada bukti kuat, dia malah meminta Detektif Chang untuk segera menyelesaikan kasus ini, karena diluar sana masyarakat tengah banyak mengkritik mereka..


Kritikan itu, terjadi setelah curhatan Ja-young menjadi viral dan mengundang banyak simpati dari netizen. Tentu saja, hal tersebut membuat Ja-young merasa puas.. seharian, dia duduk di depan komputer hanya untuk membaca satu per-satu komentar di postingannya.


Seol-ak yang baru bangun, tak mau berkomentar apapun.. dia bertanya, “Kita tak akan makan?”

“Oppa? Kamu lapar? Aku akan menyiapkan makanan untukmu..” jawab Ja-young


Sementara itu, Hye-na tengah belajar membaca ditemani Bu Clara. Kali ini, dia membaca buku dongeng berjudul ‘kelinci yang ingin melarikan diri’.. yang sebelumnya diceritakan oleh Soo-jin ketika mereka menumpangi kereta.


Soo-jin sendiri, tengah belanja di mini market. Disana, dia mendengar cerita bawah sekitar setahun yang lalu, Bu Clara dibawa ke panti oleh keponakannya. Mekipun telah pikun, sebenarnya Bu Clara masih kuat untuk merawat anak-anak.. tetapi, keponakannya ingin menjual lahan milik bu Clara... makanya dia bersikeras membuat Bu Clara pergi meninggalkan rumah bekas panti asuhan itu.


Ketika pulang, Soo-jin terkejut karena melihat Bu Clara dan Hye-na yang tengah memasak di dapur. Ternyata pada saat ini, Bu Clara tengah berada pada kondisi normalnya.. dia bahkan ingat semua hal yang terjadi semasa Soo-jin tinggal ditempat ini.


Dia menceritakan semuanya pada Hye-na, bagaimana sikap Soo-jin yang sangat rewel dan pemarah dan sering berbuat onar. Tapi suatu hari, tiba-tiba Soo-jin menjadi anak baik dan tak pernah mencari masalah lagi..

“Karena aku sadar, seberapa besar masalah yang kubuat.. ibuku tak akan pernah datang dan menjemputku ke tempat ini..” ungkap Soo-jin


Flashback.. 
Bu Cara menghampiri Soo-jin yang tengah duduk di depan gerbang, menatap ke arah yang sama seperti pertama kalinya dia datang kesini..


Soo-jin: “Aku tak ingin menjadi seorang ibu. apapun yang terjadi, aku tak akan pernah menjadi seornag ibu!”
Flashback end.. 


Ketika Soo-jin tengah mencuci piring, Bu Clara telah tertidur sementara Hye-na menonton siaran TV yang menayangkan berita mengenai dirinya. Disana, ada ibunya yang tengah diwawancara..


Jae-young: “Putriku, yang telah meninggal dengan cara menyedihkan.. masih menggingil kedinginan didasar lautan. Aku ingin segera mengambil mayatnya darisana dan mengadakan pemakaman yang layak untuknya..”


Soo-jin menghampiri Hye-na, “Yoon-bok aa...” panggilnya

Hye-na mematikan TV tersebut, lalu menjelaskan bahwa Bu Clara yang tadi ingin menonton. Soo-jin tak mempermasalahkan hal itu, dia malah berkata: “Kalau kamu ingin kembali pada ibumu, katakanlah sekarang juga. Tak apa..”


Dengan matanya yang mulai berkaca-kaca, Hye-na menggelengkan kepalanya. Kemudian, Soo-jin menceritakan pengalamannya.. dulu ketika datang ketempat ini, dirinya masih berusia 6 tahun, dia diikat didepan gerbang dan orang yang memandikannya bilang, kalau di tubuhnya terdapat banyak bekas luka, “Meskipun seperti itu.. aku tetap berharap untuk bertemu dengan ibuku. Jadi aku bisa mengerti, jika sekarang kamu ingin kembali pada ibumu--”

“Ibuku.. aku hanya ingin tahu, seberapa sedihnya dia jika aku meninggal. Hanya itu saja.. tapi ternyata ibuku, tak merasa sedih sedikit pun. Dia memang berharap jika aku memang telah mati..” ungkap Hye-na sambil meneteskan air matanya


Selanjutnya, Hye-na meminta Soo-jin untuk menggunting rambutnya, “Buatlah rambutku terlihat seperti rambut seroang pria..” dan Soo-jin melakukan hal tersebut.


Dihadapan patung bunda Maria, Soo-jin duduk dan bertanya-tanya: “Sanggupkah aku melindungi anak ini.. sanggupkah aku menjadi ibunya? Aku tak memiliki seorang ibu, bagaimana bisa aku menjadi seorang ibu?”


Tak lama kemudian, datanglah Bu Clara yang duduk disampingnya lalu berkata: “Kamu adalah seorang anak yang tak pernah menangis. Tapi aku menganggap, bahwa kamu tidak ingin menangis sampai ibumu datang menjemputmu. Hal itulah yang membuatku merasa sedih.. tapi tak apa, karena sekarang semuanya akan baik-baik saja..”

Soo-jin: “Aku tak tahu, apakah sekarang aku melakukan hal yang tepat? Kenapa aku memutuskan untuk menjadi anak dari anak itu?”

Bu Clara: “Ketika aku membiarkanmu diadopsi, aku mengutarakan doa yang sama di tempat ini. ‘Ya tuhan.. aku benar-benar tak tahu, apakah dengan membeiarkan Soo-jin pergi merupakan hal yang terbaik? Apak aku melakukan tindakan yang tepat?’ dan sekarang, kurasa aku telah melakukan hal yang tepat. Aku sangat bahagia, melihatmu telah menjadi seorang ibu. Aku memberkatimu, Soo-jin aaa..”


Perlahan, air mata Soo-jin mulai menetes.. dia ingin menceritakan hal yang sebenarnya tentang Hye-na.. tetappi Bu Clara hanya mengangguk lalu bekara: “Menjadi seorang ibu itu, memiliki resiko yang persis dengan penyakit mematikan. Tidak semua orang bisa menghadapi penyakit itu, sangat sulit untuk melakukannya.. tapi aku percaya, kalau kamu bisa melakukannya. Aku mengatakan ini, setelah melihat Yoon Bok.. dia gadis yang sangat berharga dan sangat menyayangi ibunya..”


Bu Clara mengatakan, bahwa sebentar lagi akan ada orang-orang yang datang kesini untuk menjemputnya. Mereka akan masuk mengenakan sepatu mereka dan mengacak-acak beberapa barang miliknya..


Hanya diterangi oleh cahaya lilin, Bu Clara membawa Soo-jin masuk kedalam sebuah ruang penyimpanan dimana terdapat begitu banyak kotak yang masih tertata dengan rapi. Dia mengambil salah satu kotak yang bertuliskan nama ‘Soo-jin’, “Aku ingin mengembalikannya kepadamu ketika kamu kembali kesini sebagai orang dewasa”


Soo-jin membuka kotak tersebut, yang isinya adalah barang yang dia kenakan dan dia bawa ketika datang ke tempat ini untuk pertama kalinya.


Bu Clara: “Hal yang menyedihkan ketika perlahan kamu kehilangan memorimu di usia tua. Tapi hal itu tak bisa dihindari, semuanya adalah bagian dari rencana Tuhan..”


Menyadari bahwa cepat atau lambat, akan ada yang menjemputnya ke tempat ini.. Maka bu Clara mempersiapkan diri, dia meminta bantuas Soo-jin untuk membakan seluruh kardus peninggalan anak-anak yang tertinggal disini, “Selamat tinggal... anak-anakku..”


Hye-na yang terbangun dari tidurnya, berjalan keluar.. dan mengampiri mereka, berdiri didepan perapian~


Seol-ak asyik bermain games di warnet... tetapi ingatan tentang Hye-na, membuatnya merasa kesal. Tiba-tiba dia marah sendiri hingga menghempaskan mouse yang tengah dipegangnya...


Di kantor polisi, Detektif Chang telah berulang kali memutar video CCTV yang merekam gerak-gerik Hye-na sebelum dinyatakan menghilang di lautan. Dia tak bisa memahami.. alasan seorang anak kecil, berjalan kaki lebih dari satu jam, tanpa arah tujuan yang pasti. Salah satu rekannya, mengomentari tingkah Hye-na yang terlihat selalu menatap langit seakan tengah melihat Ufo atau hantu.

“Dia bahkan melambaikan tangannya, memang ada pesawat lewat diatasnya?”

“Bukan pesawat, tapi burung.. ada sekawanan burung yang tengah bermigrasi..”


Mendengar jawaban itu, spontan Detektif Chang memutar kembali rekaman kesaksian dari nelayan yang mengatakan bahwa Hye-na sempat berdiri di pesisir laut sambil mengepakkan tangannya seperti sayap seekor burung.


Untuk meminta mengkonfirmasinya lagi, Detektif Chang mendatangi nelayan tersebut. Disana dia mendapat cerita tambahan,.. selagi mengepakkan tangannya Hye-na berteriak mengatakan: “Kalian.. bawa aku juga..”


Dari hasil penyelidikan hari ini, rekan Detektif Chang menyimpulkan bahwa Hye-na tak tahan tinggal dengan ibu yang tak peduli padanya dan pria yang sosoknya sangat menakutkan. Pada hari itu, Hye-na tak ingin pulang ke rumah, makanya dia berkeliaran sendirian. Dia berjalan mengikuti burung sekitar sejam lamanya, dan langkahnya berakhir di laut ini, “Dia ingin ikut dengan burung-burng itu dan berkahir tejatuh ke lautan. Kurasa, itulah ceirta yang paling masuk akal..”

Detektif Chang tak berkomentar apapun, namun tatapan matanya menjelaskan bahwa cerita itu belum bisa menjawab seluruh pertanyaan yang ada di benaknya..


Mereka pun medatangi sekolah Hye-na, niatnya ingin berbicara dengan wali kelas. Tapi kepala sekolah mengatakan bahwa wali kelasnya sedang cuti hamil, ada pun guru pengganti yaitu Soo-jin.. telah mengundurkan diri, karena hendak melanjutkan karirnya di luar negeri, “Dia adalah seorang peneliti.. dia mempelajari burung..”

Sontak saja, jawaban itu membuat Detektif Chang tercengang kaget~


Berpindah ke tempat Soo-jin berada, disana mereka tengah sarapan sambil bermain sambung kata. Soo-jin bilang, mereka mesti membereskan barang-barangnya.. supaya bisa pergi kapan pun ketika mereka memang harus pergi. Permainan sambung kata berakhir di Bu Clara, dia menyebut kata ‘Gi-rin’ (artinya jerapah}.. sementara Hye-na yang ada pada giliran berikutnya, kebingungan untuk mencari kata yang berawal dari kata ‘rin..’


Mereka membereskan masing-masing barangnya, Hye-na bertanya, “Kita mau pergi kemana?”, Soo-jin menjawab kalau dirinya masih memikirkan hal itu. Kemudian Hy-ena bertanya lagi, “Bu Clara akan ikut bersama kita ‘kan?”


Soo-jin: “Kita ini sedang dalam pelarian” 

Hye-na: “Bu Clara bilang, dia pun sedang dalam pelarian..” 

Soo-jin: “Dia perlu dirawat oleh seseorang, seperti mereka yang tinggal dirumah sakit” 

Hye-na: “Aku bisa merawatnya.. Bu Clara bilang, dia tak mau pergi ke Rumah Sakit. Dia bilang, dia ingin tinggal dengan anaknya..” 


Soo-jin meirik Bu Clara lalu menatap Soo-jin dan mengatakan “Tidak..


“Bu Clara, merupakan seseorang yang sangat penting untuk ibu. Dia-lah orang yang berada disamping ibu, di masa-masa tersulit dalam hidup ibu. Dan ketika mengalami momen berat seperti ini, dia menjadi orang pertama yang ibu pikirkan. Tetapi sekarang, prioritas utama ibu.. adalah melarikan diri dengan selamat bersama denganmu. Bu Clara ingin melihat ibu berhasil menjagamu dengan seluruh tenaga yang ibu miliki..” unkap Soo-jin


Hye-na menangis, “Tapi bu.. aku tak bisa melakukannya. Aku tak sanggup memberitahu bu Clara, untuk merawat dirinya sendiri lalu meninggalkannya disini seorang diri.. Bagaimana caranya dia makan dan tidur sendirian? Bagiamana jika dia menganggap kita telah meninggalkannya?”
Advertisement


EmoticonEmoticon