2/02/2018

SINOPSIS Mother Episode 3 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 3 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 2 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 3 Part 2

Hye-na bertanya, sekarang mereka akan pergi kemana? Soo-jin bilang, mereka akan pergi ke rumah yang menjadi tempat tinggalnya ketika berusia 6 tahun. Hye-na bertanya lagi, “Memangnya rumah itu masih ada?” dan Soo-jin menjawab, “Mungkin saja.. karena tahun lalu, mereka masih mengirim surat padaku..”

Hye-na: “Siapa yang tinggal disana?”
Soo-jin: “Bu Clara..”


Sambil tersenyum Soo-jin bercerita, bahwa dari usia 6 hingga 8 tahun, dirinya tinggal disana bersama 15 anak lain dengan nasib yang tak jauh beda dengannya. 


Bu Clara menjadi wanita yang merawat mereka semua.. Masih teringat jelas, tubuhnya yang sangat gemuk yang membuat Soo-jin selalu merasa pengap setiap kali dipeluk olehnya. Dia selalu mengenakan pakaian lebar, yang membuat anak-anak sering bersembunyi dibalik rok-nya ketika bermain petak umpet, “Disana-lah, aku bisa mencium aroma sabun cuci dari pakaian yang baru dikeringkan..”


Bu Clara sangat menyayangi anak yang makannya banyak... sambil mengelus kepala mereka, dia selalu berkata: “Tumbuhlah dengan cepat, tumbuhlah dengan cepat, makan yang banyak dan tumbuhlah dengan cepat”


Kala itu,, Soo-jin kira Bu Clara ingin membuat mereka semua menjadi gemuk lalu menjualnya. Mendengar cerita itu, membuat Hye-na tertawa cekikikan~ 


Setelah beberapa saat berlalu, sekarang Soo-jin dan Hye-na telah sampai di tempat tujuannya. Akan tetapi, suasana disana sangatlah gelap dan hening, seakan tak ada tanda-tanda kehidupan.


Di depan gerbang, tertulis pemberitahuan bahwa lahan dan bangunan tersebut telah disita. Dengan menggunakan senter kecil yang selalu dia bawa, Hye-na menerangi plang bertuliskan ‘jung ye won’ (rumah dari cinta) yang merupakan nama dari tempat ini.


Memberanikan diri, Soo-jin mengajak Hye-na berjalan masuk.. Suasana di halaman, sangatlah berantakan. Banyak barang tua yang tersimpan berserakan. Hingga secara tiba-tiba, Hye-na berkata: “Aku melihat seberkas cahaya!”


Di kantor polisi, Detektif Chang-geun tengah menginterogasi Ja-young. Hal pertama yang ingin dipastikan adalah insiden bola baseball yang katanya sampai melukai telinga Hye-na cukup parah. 


Setelah mengecek CCTV, detektif Chang malah kebingungan. Sehari sebelum insiden itu ‘katanya’ terjadi, runtutuan kejadiannya seperti ini :

14.11 : Hye-na pulang sekolah 

14:48 : Hye-na pergi keluar lagi

19:16 : Hye-na pulang dengan ceria, seperti tak terjadi apapun padanya

19:27 : Jae-young pulang ke rumah

22.05 : Jae-young pergi keluar bersama dengan seorang pria


“Saya tidak melihat pria ini masuk ke rumahmu, berarti seharian itu dia memang berada disana. Kalian berdua tinggal bersama..” ungkap Detektif Chang, “Dia suka bermain baseball ‘kan...” tambahnya yang kemudian menunjukkan tayangan CCTV ketika Jae-young baru kembali ke rumah, sekitar pukul 1 pagi, “Bu, kemana anda pergi?” tanyanya, “Meskipun anda tak memberikan jawaban, kami akan mengetahuinya dengan mudah. Tapi jika anda mau menjawab, setidaknya anda bisa mempermudah pekerjaan kami..” tuturnya

“Aku pergi ke karaoke..” ucap Ja-young

“Hmm.. Putrimu terluka, dan kau masih bisa pergi ke karaoke..” komen detektif Chang


Besoknya, sekitar pukul 15.23.. terlihat Ja-young keluar bersama dengan Hye-na untuk pergi ke Rumah Sakit. Dari tayangan CCTV tersebut, jelas terlihat bahwa sehari sebelumnya, Hye-na pulang dalam kondisi yang masih baik-baik saja, tapi keluar dalam kondisi telinga yang telah terluka, “Menurut ibu sendiri bagaimana?”

Dengan tenang, Jae-young menjelaskan: “Dia terluka sehari sebelumnya. Awalnya kami kira hanya luka biasa saja, tapi ketika tebangun dari tidur, telinganya telah berdarah dan mengalami infeksi. Anda kira, saya tidak mengkhawatirkannya? Saya harus pergi kerja di pagi hari, tapi saya pulang cepat karena harus membawanya ke Rumah Sakit..”

Merasa tersudutkan, Jae-young berbalik mengomentari tingkah Detektif Chang yang seakan ‘sok-tahu’ akan segalanya, padahal rekaman CCTV itu terlalu jauh, hingga tak bisa memastikan kondisi Hye-na seperti apa.


Det. Chang: “Bu.. kalau begitu, beritahu kami.. dimana dan kapan Hye-na terkena lemparan bola baseball.. karena dengan itu, kami bisa mencari saksi mata, lalu ibu akan--”

Ja-young: “Ibu! Ibu! Berhenti memanggilku dengan sebuatn itu! Aku bukan ibumu! Aku yakin, anda pun memiliki anak, tapi apakah nyaman rasanya ketika seseorang terus memanggil anda dengan sebutan ‘ayah’, ketika berada di kantor polisi?!”

Menanggapinya dengan sedikit candaan, Detektif Chang berkata: “Hmm.. kalau ada yang memanggilku ayah, serasa mereka akan meminta uang padaku..”


Saat ini, Soo-jin dan Hye-na telah berjalan memasuki rumah. Sama seperti diluar, kondisi di dalam juga sangat mencekam. Mereka membuka salah satu pintu.. dan terlihat seorang wanita tua yang tengah memakan nasi dari rice-cooker..

Ketika melihat mereka, wanita itu langsung berkata: “Jangan bawa aku pergi.. kumohon, biarkanlah aku tinggal disini aku tak akan membuat masalah..”


Mata Soo-jin mulai berkaca-kaca, “Bu Clara..” panggilnya

Wanita tua itu mengangguk, dan dia kembali mengatakan bahwa dirinya tak akan membuat masalah. Ketika Soo-jin menyalakan lampu, wanita itu langsung berdiri dan mematikannya lagi, “Kamu tak boleh menyalakan lampu, karena orang-orang akan datang kesini jika mereka tahu kalau kita ada disini ”


Kembali ke kantor polisi, disana Detektif Chang melontarkan sebuah pertanyaan berupa kalimat pancingan, “Sepertinya, pacarmu senang baseball. Apa dia bermain baseball juga?”

Teringat obrolannya dengan Seol-ak, membuat Ja-young makin menyadari bahwa Detektif Chang memang menaruh curiga yang sangat bersar terhadapnya. Dia pun bertanya, “Anda menuduh oppa-ku melempar bola baseball pada Hye-na?”

“Aku tidak mengatakan hal itu, aku hanya ingin memperjelas keraguanku..”


Tiba-tiba, mata Ja-young berkaca-kaca.. dengan suaranya yang bergetar, dia berbohong.. menagtakan kalau selama ini, Seol-ak memperlakukan Hye-na dengan sangat baik melebihi apa yang telah dilakukan oleh ayah kandungnya Hye-na, “Tahun lalu.. dia sampai menggendong Hye-na dan berlalri membawanya ke Rumah Sakit karena Hye-na sakit..” tuturnya

Detektif Chang memberikannya sekotak tisuue, lalu berkata: “Ahjumoni, masih banyak hal yang perlu kita pastikan. Luka yang Hye-na dapat ketika jatuh dari tangga, terbakar kopi panas, lalu jatuh dari pohon.. dan aku akan memeriksa semuanya satu per-satu. Tapi anda menangis seperti ini,....”


Dengan penerangan seadanya, Soo-jin menyiapkan makanan dan Hye-na menyiapkan peralatan makan. Kepada Bu Clara, Hye-na bercerita mengenai kehebatan ibunya dalam memasak Nasi Kari, omelete, donkatsu. Tak lupa, dia pun memperkenalkan dirinya, “Namamu Yoon Bok.. Kim Yoon Bok..”


Makanan pun telah siap, Bu Clara berdoa dengan khusyuk dan Hye-na mengikutinya. Sebelum makan, Hye-na bertanya: “Sebenarnya.. siapa, orang yang mengejar anda?”

“Yogurt...” jawab Bu Clara

“Apa mereka orang jahat?” tanya Hye-na


Bu Clara malah menjawab: “Yorisa.. Sanyangkun...” 

“Dia sedang bermain sambung kata.. kami selalu memainkannya sambil makan” ucap Soo-jin


Bu Clara mengucapkan kata lainnya, lalu dilanjut So-jin kemudian Hye-na. Permainan sederhana itu lah yang pada akhirnya, berhasil membuat mereka tertawa bahagia..


Sementara itu, di rumahnya.. Ja-young tengah sibuk menuliskan curhatan ‘palsu’-nya di Internet. Dia mengarang cerita, bahwa dirinya telah diinterogasi dan diancam oleh detektif yang memperlakukannya seperti seorang kriminal yang membuat anaknya menghilang, dan itu membuatnya tak bisa makan atau pun tidur dengan tenang. Selanjutnya, dia menyebut pihak kepolisian tak becus dalam melaksanakan tugasnya, karena sampai sekarang masih belum menemukan jasad anaknya.. lebih spesifiknya, dia sampai mengeluhkan sosok Detektif Chang yang terus memanggilnya dengan sebutan ‘ibu’ padahal jelas, dia lebih tua darinya..

Seol-ak yang tengah memainkan bola baseball-nya sambil berbaring di sofa, mengomentari kalimat terkahir: “Kenapa itu membuatmu merasa terganggu?”


“Orang-orang selalu memanggilku ‘haksaeng’ (pelajar) atau ‘agashi’ (nona) dan tak ada yang pernah menyebutku ‘eommoni’ (ibu) !” tegas Ja-young


Seol-ak: “Ah sudahlah, yang penting kau menceritakan bahwa merka belum bisa menemukan anakmu dan malah membuatmu terlihat seperti ibu yang tellah melakukan tindakan kriminal!”

Ja-young: “Oppa! Bisakah kau berhenti memaikan bola baseball itu?! Buang saja ke laut atau kemana pun!”


Pada waktu yang bersamaan, detektif Chang tengah mendengarkan penjelasan rekannya tentang catatan kriminal Seol-ak. Ternyata, sejak usianya masih belasan.. dia telah melakukan banyak tinadakan kriminal yang membuatnya berususan dengan kepolisian:

16 tahun : Terbukti melakukan tindak kekerasan, dihukum 9 bulan penjara

18 tahun : Membakar rumah, dihukum 1 tahun 3 bulan penjara

23 tahun : Melakukan kekerasan terhadap hewan, diberi hukuman berupa uang denda sebanyak 300.000 won


Sekarang usianya 31 tahun, dan dia tidak kedatapan melakukan kejahatan apapun lagi.. tetapi, Detektif Chang sangat yakin, bahwa Seol-ak belum berhenti bermain judi dan menyiksa orang yang lebih lemah darinya. Dilihat dari catatan, pada usia 16 tahun Seol-ak menyiksa nenek yang tinggal di lantai atas apartemennya, menggunakan  bola baseball hingga membuat tulang rusuk nenek itu patah. Kemudian mengenai kebakaran, disana tertulis, alasannya karena dia merasa penasaran.. dan terkain kekerasan pada binatang, ternyata Seol-ak melempar kucing kekasihnya dari lantai 15~


Dalam kamar, Bu Clara telah tidur dengan pulas bahkan hingga mendengkur. Tapi Hye-na masih bangun, dia pun bertanya pada Soo-jin: “Ibu.. kenapa orang yang sudah tua kehilangan ingatan mereka?”


Tak langsung menjawab pertanyaan itu, Soo-jin malah bercerita mengenai pengalamannya selama tinggal ditempat ini. Dulu.. banyak sekali relawan dan guru yang datang, tapi tetap saja yang merawat seluruh anak disini adalah Bu Clara. Meskipun demikiran, rumah yang besar nni... selalu bersih dan terawat, aromanya pun wangi, “Kurasa, dia terlalu lelah.. makanya dia kehilangan segala memorinya yang membuatnya kembali seperti seorang anak kecil lagi..” 


Tiba-tiba terdengar suara aneh yang membuat Hye-na menduga bahwa ada orang diluar sana. Soo-jin bertanya, suara apa? Apakah suara yang terdengar seperti ‘dugu.. dugu..’? Ternyata itu adalah suara burung, yang sering disebut ‘burung dugu...’ (dugu artinya siapa)

Soo-jin menjealskan, bahwa pada musim dingin... berung dugu selalu menangis dan suaranya tersengar seperti itu, “Dulu.. ketika pertama kali mendengarnya, aku pun merasa sangat takut. Ingin aku berbaring disampingmu?”


Hye-na mengangguk, lalu Soo-jin pindah berbaring disampingnya, kemudian bercerita.. bahwa seluruh anak yang datang pertama kali ke tempat ini, pasati mereka ketakutan dan meraka akan tidur sekauusr dengan 3 hingga 4 orang.

“Apa pertamanya, ibu juga ketakutan?” tanya Hye-na
“Tidak, Yoon Bok-aaa.. Ibu selalu merasa ketakutan di setiap waktu..” jawab Soo-jin


Keesokan paginya, Soo-jin memerhatikan Hye-na yang tengah asyik bermain bersama dengan Bu Clara. Bagaikan anak kecil, mereka tertawa hanya karena memainkan sebuah miniatur boneka dan masak-masakan. Hye-na mengurutkan boneka itu dari yang terkecil hingga yang terbesar.. dia menaruh priring berisi batu dan kelerang yang ceritanya adalah makanan. 


Selanjutnya, Soo-jin melihat rak berkas usang.. dan ternyata, masih tersimpan berkas tentangnya disana, ‘Nam Soo Jin, datang pada tanggal 9 November 1986’. Di dalamnya, tertulis kronologis bagaimana Bu Clara menemukan Soo-jin:


..... Pagi itu, aku melihat keluar jendela seperti ada seekor anjing besar yang terikat di depan rumah. Aku pergi keluar untuk melihatnya, dan ternyata itu adalah seorang gadis kecil yang kelihatannya baru berusia 6 tahun .....


..... sepertinya, gadis itu telah duduk disana cukup lama. Karena terlihat jelas, bahwa dia telah beberapa kali kencing disana, dalam posisinya yang seperti itu. Aku bergegas memeluknya, tapi dia terikat oleh sebuah tali pengunci sepeda. Karena terburu-buru, aku berniat untuk merobek pakaiannya tapi anak itu menolaknya .....


..... seorang ahjussi membantu membukakan gembok pada tali tersebut. Tapi setelahnya, anak itu tetap duduk di tempatnya, tak mau pergi kemana pun. Makanya, aku masuk dan mengambilkannya sedikit kue beras .....


..... anak itu, tetap duduk disana dan melihat ke satu arah, hingga langit berubah gelap. Dan pada saat itulah, dengan suaranya yang mungil, dia memperkenalkan dirinya padaku .....
Advertisement


EmoticonEmoticon