2/06/2018

SINOPSIS Misty Episode 1 PART 4

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Misty Episode 1 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: jTBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Misty Episode 1 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Misty Episode 2 Part 1

Hye Ran dan Tae Wook pulang dengan mobil yang berbeda. Hye Ran menunggu di luar beberapa saat setelah mobil suaminya masuk terlebih dahulu.


Hye Ran menyusul suaminya ke ruang kerjanya. Wajahnya tampak kesal.
“Tidak bisakah kamu menahannya? Haruskah kamu menunjukkannya? Aku tidak meminta hal besar. Kamu bisa saja mengabaikannya.”
Kang Tae Wook tidak menanggapi, dia lalu berjalan ke meja kerjanya.


Hye Ran makin kesal melihat sikap suaminya.
“Pembela publik? Keyakinan? Keadilan? Berhentilah bercanda. Kamu tidak cemas karena keluargamu kaya dan gajiku besar. Pikirmu kamu sangat hebat karena bisa pamer?”
Tae Wook masih tidak memperdulikan Hye Ran yang berkaca-kaca saat berbicara.
“Jangan konyol. Bagaimana kamu bisa membela orang jika tidak bisa memahami istrimu? Apa kamu tahu bagaimana aku hidup setiap hari dan menghadapi ibumu setiap kali dia berkunjung saat hari suburku?”


Kang Tae Wook akhirnya menoleh dan berbicara pada Hye Ran.
“Kalau begitu, menyerahlah. Kamu selalu mudah menyerah. Jadi, bayi dalam kandunganmu... Bayi kita yang berusaha lahir... Dahulu, kamu sangat kejam dan teguh pendirian. Tidak ada yang kuinginkan darimu. Jadi, jangan meminta apa pun dariku juga. Yang bisa kulakukan hanya menunggu sampai kamu tidak membutuhkanku lagi. Itu kewajibanku karena memilihmu. Tapi aku tidak akan melakukan apa-apa lagi.”
Ucapan Kang Tae Wook sangat melukai perasaan Hye Ran.


Hye Ran termenung memikirkan ucapapan suaminya.
“Aku sudah tidak sanggup.”


Hye Ran mengambil minum keras, lalu duduk meratapi kehidupannya.


Di rumah sakit, dokter dan perawat berlari dengan panik. Mereka lalu masuk ke kamar ibu Hye Ran dan memacu jantungnya.


Hye Ran yang tertidur di meja setelah cukup banyak menghabiskan minuman keras, menerima telepon dari reporter Kwak yang memberitahunya kalau Kevin Lee sedang menuju Korea.
“Aku memeriksa daftar penumpang. Dia akan tiba dua jam lagi. Ini jam sibuk. Gangneung dan Olimpiade, itu akan sangat sibuk. Kamu harus buru-buru sebelum seseorang mendatanginya.”
“Aku akan pergi sekarang.”


Hye Ran denga tergesa-gesa keluar dari kamarnya menuju pintu rumahnya tapi Tae Wook yang muncul dengan mendadak lalu menarik tangannya.


Kang Tae Wook berbicara dengan wajah yang sedih.
“Hye Ran. Ibumu... Ibumu kejang. Mereka sudah memberikan pernapasan buatan, tapi mereka ragu dia akan bertahan.”
Tapi Hye Ran hanya diam, jadi Tae Wook menarik tangan Hye Ran.
“Ayo. Hye Ran.”


Sekilas ucapan orang-orang di kantornya muncul di ingatan Hye Ran. Pak Jang yang mengatakan kalau pembawa berita di kantor mereka bukan hanya Hye Ran saja, dan banyak yang berbakat.
“Ini caramu berterima kasih kepadaku karena tidak memenangkan Han Ji Won?” ucap Pak Jang setelah dia menyerahkan program baru kepada Hye Ran.
Juga perkataan Han Ji Won “Tidak ada yang abadi. Bukan hanya kamu yang bisa mendapatkan posisi itu.”


Sekali lagi Tae Wook memanggil Hye Ran, dan membuatnya tersadar dari lamunannya.
“Aku... Aku tidak bisa pergi. Aku butuh bintang tamu ini untuk acaraku. Ibu tidak akan hidup kembali meskipun aku ke sana.”
“Hye Ran. Kamu akan bertindak sekejam apa? Kapan kamu akan berhenti?” Tae Wook tidak menyangka istrianya akan berbicara seperti itu.


Hye Ran menyetir dengan perasaan yang tidak menentu. Dia ingin datang ke rumah sakit, tapi juga dia tidak ingin karirnya hancur. Dia berhenti di persimpangan jalan yang menuju ke bandara, dia belum memutuskan untuk berbelok ke arah bandara atau tidak. Dia berhenti hingga menyebabkan kemacetan.


Kang Tae Wook datang ke rumah sakit seorang diri untuk melihat jenasah ibu mertuanya.


Hye Ran datang ke bandara dengan sempoyongan, akibat dia masih sedikit mabuk dan juga berbagai masalah yang dihadapinya. Dia berjalan dengan tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya, dan terbarak oleh seorang pria yang sedang berjalan.


Hye Ran yang terjatuh ditolong untuk berdiri oleh pria tersebut. Saat melihat wajah pria itu, Hye Ran kembali teringat dengan pria yang bermesaraan dengannya dalam imajinasinya.


Pria dalam imajinasi Hye Rang memiliki bekas luka di tangan, pria yang menolong Hye Ran juga memiliki bekas luka di tangannya. Semakin Hye Ran memandang pria itu, Hye Ran semakin teringat dengan pria dalam mimpinya.


Pria itu membuka kaca matanya, Hye Ran semakin tidak bisa berbuat apa-apa.


Kembali ke masa kini, saat Hye Ran sedang diinterogasi oleh detektif. Detektif itu menyerahkan dua lembar foto dan bertanya apakah Hye Ran mengenal orang-orang dalam foto itu. Hye Ran menjawab setiap pertanyaan dengan singkat.
“Kamu mengenal pria ini?”
“Dia pegolf profesional, Kevin Lee.”
“Bagaimana kamu bisa mengenalnya?”
“Aku yang membawakan wawancara eksklusif pertamanya.”
“Kamu tidak mengenal dia sebelum itu?”
“Ya.”
“Baiklah. Kalau begitu, kamu juga pasti tahu siapa ini. Kamu mengenalnya?”
“Itu Seo Eun Joo.”
“Bagaimana kamu bisa mengenalnya, Bu Go? Kalian teman dekat?”
“Tidak. Kami hanya teman sekelas. Aku tidak begitu mengenalnya.”
“Kapan kamu tahu mereka suami istri? Sebelum atau sesudah wawancara?”


Flashback lagi... Seorang wanita datang ke samping pria yang menabrak Hye Ran. Wanita itu terkejut saat melihat Hye Ran.
“Astaga. Kamu Hye Ran, bukan? Hye Ran. Dia teman SMA. Namanya Go Hye Ran. Dahulu kami sahabat. Sangat dekat dan tidak terpisahkan. Perkenalkan, Hye Ran. Ini suamiku.”
Hye Ran masih belum bisa mencerna semua yang dialaminya dalam waktu singkat itu.


“Halo. Aku suami Eun Joo. Kevin Lee.”
Kenyataan bahwa pria itu adalah Kevin Lee yang sedang dicarinya, dan Kevin Lee adalah suami temannya, dan juga Kevin Lee mirip dengan pria yang ada dalam imajinasi Hye Ran berbaur menjadi satu memberikan kejutan pada Hye Ran yang sedang tergoncang.
Advertisement


EmoticonEmoticon