2/04/2018

SINOPSIS Misty Episode 1 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Misty Episode 1 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: jTBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Misty Episode 1 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Misty Episode 1 Part 2

Wanita tua itu adalah ibu Hye Ran. Hye Ran mendesakm ibunya agar segera mengatakan apa tujuannya memanggilnya ke sini, sedangkan dia sangat sibuk mempersiapkan siaran. Ibunya malah bertanya apakah Hye Ran makan karbohidrat, karena wajahnya tampak negngkak.


Dia lalu beranjak dari ranjang dan memukuli bahu Hye Ran dan memarahinya.
“Kamu tidak melakukan perawatan wajah? Wanita gila. Nakal. Kamu pikir akan selamanya berusia 25 tahun? Tidak lama lagi, kamu akan berusia 30 tahun, lalu 40. Sudah ibu bilang kamu akan cepat tua jika kurang merawat wajah.”
“Ibu!”
“Kamu melakukannya dengan benar, bukan?”
“Melakukan apa?”
“Kontrasepsi. Jangan sampai kamu hamil. Atau hidupmu akan berakhir. Ini momen terpenting dalam hidupmu. Kamu tidak boleh jatuh karena memiliki anak. Hye Ran, kamu harus sukses dan tunjukkan kepada orang betapa suksesnya kamu, ya? Kamu mengerti maksud ibu, bukan?”
“Ibu, sadarlah.”


Ibunya lalu berlutut dan menggengam tangan Hye Ran, dia menyuruh Hye Ran agar diam, lalu berbicara baik-baik kepada putrinya.
“Jangan khawatir. Ibu akan menyimpan rahasiamu sampai mati. Kamu hanya perlu hidup seperti bunga yang indah. Hanya itu keinginan ibu.”


Hye Rang tercengang mendengar perkataan ibunya, dia tidak mengerti maksud ibunya.
“Apa maksud Ibu?”
“Diam. Diamlah. Putri ibu tidak tahu kalau ibu mengetahuinya.”


Di sebuah stasiun tv terpampang layar besar yang menampilkan Go Hye Ran sebagai pembawa berita “News Nine”.


Ketua Tim Woong bertanya kepada Reporter Kwak kemana Hye Ran, sampai sekarang dia belum datang. Reporter Kwak mengatakan Hye Ran datang terlambat karena ada urusan mendadak.
“Urusan mendadak apa? Ya, dia menang penghargaan hari ini. Dia merayakannya sendiri atau apa? Atau dia pergi menemui suaminya? Astaga, tidak bisa kupercaya.”
“Ayolah, ini hari bahagianya. Biarkan saja.”


Lalu Ketua Tim Kwak mulai menumpahkan keluhannya tentang Hye Ran.
“Hari bahagia apanya? Ada apa setelah cuaca cerah? Awan mendung akan tiba! Apa kamu tidak tahu itu? Sial. Dia menang bukan karena wajah cantiknya. Pak Jang berusaha membantu dia menyelesaikan kariernya dengan baik. Pokoknya, dia tidak boleh terlambat satu menit pun! Akan kulepas miknya jika dia terlambat!”


Dia berjalan sambil mengomel dan membawa naskah, tidak melihat Hye Ran berdiri memperhatikannya.


Ketua Tim merasa tidak enak, dia lalu menyerahkan selembar kertas. Dia mengatakan kalau Pak Jang ingin mengubah urutan berita utamanya. Hye Ran menanggapinya dengan sinis.
“Kami masih bisa memahamimu meskipun kamu berbicara pelan. Kenapa harus berteriak? Tidak baik jika tekanan darahmu naik. Bukan begitu?”


Hye Ran menuju mejanya yang berada di samping Reporter Kwak. Hanya Reporter Kwak yang sepertinya memperhatikan Hye Ran.
“Sejak kapan kamu mendengarkan?”
“Aku di sini sejak dia membahas kesimpulannya.”
“Kamu tidak apa-apa?”
“Kesimpulan selalu penting. Orang harus memiliki akhir yang indah. Sampai jumpa di studio.”


Hye Ran masuk ke ruang make up. Make up artist memberikan pakaian yang akan dipakai Hye Ran, dia berusaha mendapatkan pakaian itu dari departemen yang berbeda. Tapi Hye Ran menolaknya dan memilih pakaian lain.
“Pakai sesuatu yang cerah hari ini. Aku tampil semenarik mungkin.”


Tim sedang sibuk mempersiapkan siaran berita yang akan ditayangkan beberapa saat lagi. Hye Ran sudah masuk ke studio, make up artist masih menyelesaikan riasan Hye Ran.


Tim di ruang kontrol mengagumi kecantikan Hye Ran, bahwa penampilannya tidak pernah mengecewakan. Tapi Ketua Tim berpendapat lain, dia mengomentari pakaian Hye Ran melalui radio, dan ditanggapi dengan dingin oleh Hye Ran.
“Pewarta Goo. Pakaianmu hari ini agak mencolok. Kamu ingin membawakan berita atas melakukan peragaan busana?”
“Dae Woong, kamu tahu berita utamanya soal kasus pembunuhan, bukan?”
“Benar, memangnya kenapa?”
“Ini bukan saat yang tepat untuk membahas peragaan busana. Dua orang tewas.”
Wajah Ketua Tim Woong langsung berubah, nyalinya menciut.


Han Ji Won masuk ke studio, dan duduk di samping Hye Ran tapi Hye Ran tidak memperdulikannya. Dia tidak menyapa atau bahkan hanya menatapnya. Ketua Tim memberikan semangat kepada Ji Won dari ruang kontrol.
“Ji Won, jangan gugup dan lakukan yang terbaik. Aku akan mendukungmu.”


Siaran pun dimulai, Hye Ran membuka siaran itu dengan mengagumkan.
“Halo, Pemirsa. Ini "News Nine" Go Hye Ran. Seorang pria mengacungkan pisau di toko dekat Stasiun Gangnam. Menyebabkan dua warga tewas.”


Ibu Hye Ran mengagumi penampilan putrinya dari layar tv.
“Putriku tampak seperti bunga.”


Pengacara Kang juga melihat penampilan Hye Ran dari layar besar di jalan. Seorang rekannya mengomentarinya.
“Dia selalu tampil hebat. Kamu masih melihat istrimu dengan tatapan hangat.”


Han Ji Won selsai memberikan penjelasan mengenai berita yang dibawakan Hye Ran.
“Pelaku dan korban penyerangan seperti ini tidak memiliki dendam satu sama lain. Selain itu, wanita dan lansia kerap menjadi target. Maka kejadian ini sangat menarik perhatian.”
“Benar. Terima kasih atas penjelasan Anda. Bagus, bagus dan rapi. Lalu kebijakan apa yang cocok untuk mencegah hal seperti ini?”


Orang-orang di ruang kontrol terkejut dengan pertanyaan Hye Ran kepada Ji Won. Mereka menginstruksikan Hye Ran untuk berhenti, dan melanjutkan beritanya.
“Ada apa dengannya?”
“Ada berita penting. Hye Ran, lewatkan itu dan baca layarnya dahulu.”


Tapi Hye Ran makin menyudutkan Han Ji Won, dan membuatnya kesulitan menjawab.
“Saya yakin rencana mendetail untuk melindungi korban ke depannya lebih penting daripada sekadar memperhatikan. Reporter Han, apa Anda menyelidiki soal layanan bantuan untuk ini?”
“Dengan diperketatnya keamanan di gang-gang, pemerintah menyediakan fasilitas rumah aman bagi wanita.”
“Setahu saya, itu sudah dijalankan. Bukankah keefektifannya perlu dipertimbangkan kembali?”
“Belakangan, pemerintah memasang lebih banyak lampu jalan dan menunjuk tempat-tempat seperti toserba sebagai tempat berlindung sementara.”
“Tampaknya itu sudah dipertimbangkan sebelum kejadian tersebut juga. Penting untuk membuat penanggulangan mendasar. Apa Anda tidak menyelidiki bagian itu, Reporter Han?”


Selueruh tim makin kebingungan dengan apa yang dilakukan Hye Ran. Mereka melihat susunan acara tapi tidak ada topik seperti itu.


“Kamu tidak mendengarku?”
“Ya, sepertinya saya perlu menyelidikinya lebih jauh.”
“Benar. Jika sempat, lakukanlah penyelidikan mendalam soal kebijakan relevan dan penanggulangan mendasar. Sekian dari Reporter Han.”
Melihat Han Ji Won mati kutu, Hye Ran memangdang Han Ji Won dengan tatapan sinis dan kemudian melanjutkan membaca berita seperti tidak terjadi apa-apa. Dia membaca berita tentang Kevin Lee yang masuk ke US Kevin Lee bergabung dalam US Open untuk kali, dan langsung meraih juara.


Han Ji Won melihat Hye Ran dengan perasaan sakit hati, lalu beranjak dari kursinya dan keluar dari studio.


Pak Jang sedang memarahi Hye Rang karena perbuatannya pada Han Ji Won.
“Kamu senang membuat juniormu tampak bodoh?”
“Aku mengajukan pertanyaan mendetail mewakili pemirsa. Sebagai reporter, seharusnya dia menjawabnya.”
“Sikap agresif itu yang membuat orang menganggapmu angkuh.”
“Anggap saja itu nasihat mendidik dari senior.”
“Baik. Kali ini, kamu menang.”


Pak Jang lalu memberikan sebuah proposal proyek dokumenter manusia pada Hye Ran dan memintanya untuk membacanya. Hye Ran sepertinya terpukul melihat proposal itu.
“Pertaruhkan namamu dan sukseskan itu.”
“Bagaimana dengan "News Nine"?”
“Pewarta kami bukan hanya kamu. Banyak yang berbakat.”
“Anda sudah memiliki pilihan?”
“Saluran pesaing kita berhasil setelah mempekerjakan anak muda. Kalau begini, kita bisa kalah dari mereka.”
“Bagaimana jika penonton reguler kita memutuskan menonton saluran lain?”
“Kita tidak bisa selamanya bergantung kepada penonton reguler. Kita juga harus menarik konsumen baru.”
“'News Nine' Go Hye Ran sudah tayang tujuh tahun dengan penonton terbanyak saat ini dan reliabilitas tertinggi. Anda tahu aku meraih itu semua.”
“Apa itu semua berkat kamu? Kamu terlalu sombong. Ini caramu berterima kasih kepadaku karena tidak memenangkan Han Ji Won? Lupakan saja. Buat rencana mendetail untuk proyek ini sebelum rapat besok. Titik.”


Pengacara Kang sedang bekerja hingga larut di kantornya, demi membayar sewa kantornya yang menunggak selama empat bulan. Dia sampai mempertaruhkan reputasinya dengan menangani kasus terdakwa Kam agar mendapatkan uang.
“Omong-omong, istrimu tidak mengomelimu? Kamu menjadi pembela publik, padahal dahulu kamu jaksa sukses. Kamu juga sering bekerja lembur. Dia tidak pernah mengeluhkan itu?”
“Tidak juga.”


Pengacara Kang menjawab pertanyaan rekannya itu dengan sambil lalu, tapi sebenarnya dia memikirkan pertanyaan rekannya itu.


Go Hye Ran berada di dalam taksi, dia teringat perkataan rekan-rekan kerjanya.
“Jika sehebat itu, serahkanlah kepadaku.” Ucap Han Ji Won.
Ketua Tim mengatakan Pak Jang lah yang membantunya menyelesaikan karirnya dengan baik. Bahkan Pak Jang sendiri mengatakan tv pesaing mempekerjakan anak muda.


Hye Ran tampak sangat lelah hingga akhirnya tertidur.


Dia memimpikan sedang bermesraan dengan seorang pria yang tidak tampak wajahnya.


Dia terbangun saat sopir taksi memanggilnya karena sudah sampai di tempat tujuan. Hye Ran terkejut dengan mimpinya sendiri, “Ada apa denganku? Apa hasrat seksualku tidak terpuaskan?”


Hye Ran masuk ke rumahnya dan berbaring di sofa, masih memikirkan mimpinya.


Hye Ran terperanjat karena melihat ibu mertuanya keluar dari sebuah ruangan.
“Kamu lupa soal pertemuan kita? Kenapa kamu datang terlambat?”
“Ya. Itu...”
“Ibu menaruh obat di dapur.”
“Baik.”
“Ibu sudah menyuruhmu menjaga tubuhmu tetap hangat agar hamil. Kamu sudah memastikan sesuai jadwal?”
Hye Ran lalu segera membenahi kemejanya agar menutupi dadanya.
“Tampaknya Tae Wook tidak ada masalah. Ibu penasaran apa masalahnya.” Ibu mertuanya lalu pergi dari rumahnya dan menolak saat Hye Ran akan mengantarnya.


Hye Ran duduk termenung memandang obat pemberian ibu mertuanya.


Saat suaminya datang, dia mempenuang obat ke dalam cangkir dan membawakannya untuk Pengacara Kang.
“Tadi Ibu kemari. Seakan-akan dia ke sini untuk meminta bunga harian. Hari seperti ini selalu cepat datang, ya?”
“Nanti saja.”
“Aku sudah memberikannya kepadamu. Aku sudah berusaha.”
Kwang Tae Wook menolak meminumnya dan langsung masuk ke ruang kerjanya.


Hae Ran memandang sekilas foto pernikahan mereka lalu kembali ke dapur.


Hae Ran membuang obat yang disiapkannya, lalu termenung memandang keluar jendela.


Kang Tae Wook diam memandang dinding ruang kerjanya, lalu dia menyalakan komputer dan meilhat foto Hae ran sebagai gambar latar belakang di komputernya. 


Hae Ran sedang berolahraga sambil menyaksikan berita. Dia berhenti saat ada tayangan berita tentang Kevin Lee. Reporter memberondong seorang pria dengan berbagai pertanyaan.
“Naskah di ponsel itu... Anda punya daftar tersangka? Dia ada di daftar? Menurutnya Anda menginginkan uang.”
“Maaf, Kevin Lee tidak akan melakukan wawancara dengan media mana pun. Kalian hanya bisa melihat dia di lapangan golf.”


Keesokan harinya, Pak Jang dan ketua Tim sedang berada di studio untuk menyaksikan Han Ji Won membawakan berita.


Setelah Han Ji Won selesai membacakan berita, Pak Jang mendekatinya
“Bagus. Kamu tampak hebat.”
Ketua Tim pun tampak senang, dia mengatakan aura muda Han Ji Won memenuhi layar.
“Dia berbeda dari Go Hye Ran, bukan?” tanya ketua Tim kepada Pak Jang.
“Kamu hanya senang. Panggil komite reorganisasi.”
“Baik, Pak.”
Ketua Tim pergi mengikuti Pak Jang, dia mengacungkan jempol ke arah Han Ji Won yang diam-diam juga tersenyum karena merasa senang.
Advertisement

1 komentar:

Chingu, daebak..
Aku penggemar blog tabloid sinopsis..
Sinopsis semua bagus..
Hwaiting..!!😁😁😁


EmoticonEmoticon