2/20/2018

SINOPSIS Cross Episode 6 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Cross Episode 6 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Cross Episode 5 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Cross Episode 6 Part 2

Tepat setelah telponnya diputus, dokter Son datang. Dia mengobrol dengan In-kyu dan kebetulan, pemikiran mereka sama. Maka atas namanya, dokter Son meminta petugas mendaftarkan Ji-young dalam layanan sosial yang bisa membantu program pengobatannya.


Ji-in memberikan ponsel milik ayahnya, lalu bertanya: “Ini maksudnya apa? Kenapa.. kau menyimpan kontak dokter Kang dengan sebutan ‘adeul’?”

“Dudukllah.. aku akan menjelaskan semuanya..” pinta dokter Go

“Apakah dia benar-benar putramu? Ayah punya wanita lain? Makanya ayah menceraikann ibu?” tanya Ji-in

“Bukan seperti itu..” ujar dokter Go

“Terus apa?!” tukas Ji-in


Dokter Go menjelaskan bahwa dirinya mengadopsi In-kyu serta adiknya yang sakit-sakitan, karena mereka tak lagi memiliki orangtua dan kala itu kondisinya sangat memprihatinkan, mereka bisa mati jika tidak dirawat olehnya.


“Ayah ini apa-apaan? Ayah mengasihani mereka, tapi tidak dengan kita (Ji-in dan ibunya) ? Aku pun sakit.. sangat sakit.. bahkan sampai aku bisa mati! Tapi dulu, apa yang ayah bilang padaku.. ayah hanya menyuruhku untuk pergi ke RS dan menjalani operasi!”
“Maaf.. aku tidak tahu, bahwa kala itu kondisimu benar-benar sakit..”

“Memang begitu.. karena keluarga ayah selalu menjadi prioritas terakhir. Kau tahu betul kondisi pasiennya, tapi tidak dengan keluargamu sendiri! Kalau itu, yang kubutuhkan bukan dokter tapi ayah.. aku butuh ayah yang berada disampingku, dan memberiku kekuatan..”


Ji-in bergegas pergi meninggalkan sang ayah begitu saja. Sepanjang melangkahkan kakinya, dia selalu teringat momen-momen ketika sang ayah terlihat lebih peduli pada In-kyu dibanding dirinya.


Dokter Son meminta In-kyu unuk mentraktirnya kopi, dan In-kyu setuju karena dia merasa perlu berterimakasih atas bantuannya tadi.


Tak sengaja, dokter Lee melihat mereka *jealousy alert*. Dia pun langsung menghampirinya.. dan bertaya, mengapa In-kyu ada disini pada jam ini?


Dokter Son meberikan jawaban, dia menjelaskan bahwa pasien yang diselamatkan In-kyu sekarang dirawat disini dan dia baru saja menjenguknya.

“Aku tahu.. karena kejadian itu, membuat dia terlambat sangat lama untuk melaksanakan oeprasinya!” ujar dokter Lee dengan ketus

“Oppa.. tapi’kan semuanya berjalan dengan lancar..” belas dokter Son


“Tak ada yang berjalan dengan lancar jika seesorang mealnggar aturan!” tegas dokter Lee

“Saya minta maaf..” ucap In-kyu


Tak mau suasana makin memanas, maka In-kyu segera pamit pergi.


Dokter Go termenung di ruangannya,kemudian dia membuka poselnya dan menelpon In-kyu untuk bertanya ada perlu apa menelponnya? In-kyu jawab tak ada apa pun dan hanya kepencet. Kemudian dokter Go bertanya, apakah In-kyu telah mempertimbangkan tawarannya untuk bekerja denganya?

“Tidak..” jawab In-kyu

“Aku tidak sedang bercanda. Kalau kau tak mau datang dengan sendiri, maka aku yang akan memaksamu..” tegas dokter Go yang lansgung menutup ponselnya


Ketika In-kyu berjalan pulang, Ji-in melihatnya. Dia pun bertanya-tanya, apakah berarti.. orang yang telah mengizinkan donor organ adiknya In-kyu adalah ayahnya sendiri?


Hyung-bum diminta meminum obatnya. Dihadapan sipir dia terlihat melakukannya, tapi ketika sipir pergi.. dia langsung memuntahkan obat tersebut dan melemparnya begitu saja.


In-kyu mempelajari strateginya.. dia telah memperhitungkan obat yang dia berikan pada Hyung-bum akan makin bereaksi dalam beberapa hari kedepan. Bukan hanya fisik, namun psikisnya pun akan terpengaruh.. jika obatnya terus dikonsumsi, bisa jadi bagian otak Hyung-bum terganggu hingga membuatnya tak akan mengingat siapa In-kyu sebenarnya.


Di pagi hari para tahanan dikeluarkan dari sel dan diminta beraktifitas di lapangan. Hyung-bum mendekati anaknya dokter Baek, yakni Sung-ho. Sengaja.. dia memancing Sung-ho untuk mengaku.. namun Sung-ho terus berhasil berkilah menutupi fakta rahasia tentang dirinya. Namun hal itu tak menjadi masalah, karena Hyung-bum telah mengetahui yang sebenarnya.


Entah rencana apa yang ingin di jalankan, namun dia mengajak Seun-ho bernegosiasi. Dirinya akan memberikan banyak makanan manis, asalkan Sung-ho memberikan obat miliknya kepadanya.


Sung-ho menemui ayahnya untuk melakukan pemeriksaan rutin. Dia pun sempat memberikan sebuah gelas kerjinan yang dia buat sendiri, “Buan depan ketika aku bebas, kuharap kita bisa minum berasama ayah..”

“Kamu ini.. masih saja berpikir untuk minum alkohol!” keluh dokter Baek


Sung-ho hendak mengambi kembali gelasnya, namun dokter Baek menyuruhnya untuk menyimpannya sisitu saja. Kemudian, dokter Baek mempertanyakan makanan apa saja yang dikonsumsi Sung-ho hari ini? Kadrea kadar gula darahnya lebih tinggi daripada kemarin..

Sung-ho berbohong, dengan mengatakan dirinya hanya memakan makanan yang disediakan lapas. Dia malah minta obat lain, karena mengeluh kepalanya sering pusing.


“Ingat yaa.. jangan sampai kamu melewatkan obatmu. Karena akibatnya, kamu bisa pingsan seperti waktu itu...” tegas dokter Baek yang kemudian memberikan sekotak pil pereda nyeri kepala.


Gyu-sang melihat wajah Ji-in yang sedih, “Kamu baru saja menangis yaa?” tebaknya

“Dari mana anda tahu? Memangnya kelihatan jelas yaa?” tanya Ji-in

“Hmm.. tentunya..”


Jin-in menjelaskan bahwa dirinya bertengkar dengan ayahnya. Karena sang ayah, lebih memperdulikan orang lain dan pasiennya dibandingkan keluarganya sendiri.

“Kamu pun seperti itu..” 

“Iya’kah?”

“Memangnya, kamu memperlakukan ayahmu seperti kamu merawatku?”

“Hmm.. aku tak bisa memberikan perlakuan yang sama padanya~”

“Terus apa masalahnya..”

“Kakek tidak tahu, apa yang terjadi padaku kemarin..”

“Apa yang tidak kuketahui? Kuyakin, kalian bertengkar karena tidak memahami satu sama lain..”

“Bagaimana anda bbisa mengetahuinya?”

“Memang apa lagi yang menjadi alasan pertengkatan antara anggota keluarga? Mungkin kamu belum menyadarinya, tapi realita jauh lebih rumit daripada itu (sambil menunjuk TV yang tengah menayangkan drama adegan pertengkaran ibu-anak *btw, itu cuplikan drama Dear My Friends*)..”


Gyu-sang: “Jangan bertengkar dengan ayahmu.. karena ada sebagaian orang, yang bahkan tak bisa melihat wajah putrinya sendiri.. seperti aku..”


Dokter Go menjalani pemeriksaan dan hasil menunjukkan kondisinya makin parah, karena obat yang dia konsumsi tak begitu berfungsi untuk menekan gejala atau memperlambat penyebaran penyakitnya (belum dijelasin penyakitnya apa, pokoknya ada masalah di bagian otak yang membuat fungsi organ penghlihatan makin menurun)


“Haruskah aku berhenti dari pekerjaanku sekarang?” tanya dokter Go

“Untuk saat ini... mungkin, sebatas penghilatan yang tiba-tiba menjadi samar. Tapi siapa tahu, suatu saat anda akan mengalami kebutaan..” jelas dokter yang memeriksanya


Ketika berjalan di lorong, dokter Go berpapasan dengan Ji-in yang hanya melewatinya begitu saja..

“Ji-in aaa.. kamu masih marah?” 

“Ini bukanlah sesuatu yang bisa kulupakan begitu saja..”

“Baiklah, ayah mengerti.. tapi ayah mohon, jangan marah terlalu lama..”


Ji-in menatap ayahnya dan bertanya, apakah benar ayahnya merupakan orang yang telah memberikan perizinan untuk mendonorkan organ adiknya In-kyu?

“Iya..”

“Aku tak bisa mengerti jalan pikiranmu, ayah.. bagaimana bisa kamu melakukan hal itu. Sadarkah, betapa sakitnya perasaan anggota keluarga yang ditinggalkan?”

“Aku tahu.. dann jika harus mengulang waktu, aku akan tetap mengambil keputusan itu!”

“Ayah!”

“Karena hanya dengan cara itu, kedua pihak bisa bertahan hidup..”
Advertisement


EmoticonEmoticon