1/29/2018

SINOPSIS Mother Episode 2 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 2 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 2 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 3 Part 1

Dalam kondisi mata yang tertutup, Soo-jin dan Hye-na dibawa masuk kedalam ruangan yang menjadi tempat pembuatan passport illegal. Hal tersebut dilakukan, untuk menjaga kerahasiaan tempat ini.


Setelah sampai, mereka pun melepas ikatan yang menutup matanya. Disana telah ada dua orang pria, yang satu menyapa mereka dengan cukup ramah dan satu lagi yang bertugas untuk mengambil foto passport, memiliki sikap yang sangat ketus dan arogan.


Ketika menunggu Hye-na yang tengah difoto, Soo-jin mendengar pembicaraan Madam Ra yang membahas tentang seorang wanita Vietnam, yang katanya ‘kabur’ tapi belum kembali juga, “Aku punya firasat buruk. Padahal... aku telah mengambil bayinya dan mengejarnya hingga ke Mooryung...”

Si ahjussi yang mendengarnya malah tertawa, “Apa pentingnya uang..” ujarnya
“Untuk sebagian orang, urang lebih penting dibanding anaknya sendiri. Padahal dia tahu apa yang akan kulakukan pada anaknya..”
“Kau sudah menjualnya?”
“Anak laki-laki terjual dengan sangat cepat...”


Fotonya selesai, sekarang si ahjussi meminta bayarannya. Sangat sulit untuk Soo-jin memberikan uang dalam jumlah yang sangat besar itu, dia pun bertanya apa boleh dirinya menyerahkan uangnya setelah mendapatkan paaport-nya?
Tentu saja tidak boleh... Madam Ra yang berada disana mencoba untuk meyakinkan Soo-jin kalau mereka bukanlah penipu. Setelah bersedia menyerahkan uangnya, Soo-jin mengatakan kalau dirinya akan menunggu disini sampaipassport-nya selesai..


Melihat sikap Soo-jin, membuat ahjussi tukang foto geram.. dia menggebrak meja kemudian membentaknya, “Kau.. karena kau datang bersama madam makanya kau bisa melihatku! Jangan keras kepala dan turuti perintahnya!”
Soo-jin diberi sebuah ponsel lipat model jadul, mereka bilang akan segera menghubunginya ketika barangnya telah jadi.. Kemungkinan, satu atau dua jam lagi mereka akan memberitahukan tempat dimana Soo-jin bisa mengambil passport-nya.


Beberapa saat berlalu... kini Soo-jin tengah menumpangi bus menuju tempat yang tertera di SMS, yaitu ‘Stasiun Plaza Incheoon’. Tapi ternyata, setelah sampai sana dia akan menerima sms lin berupa tempat spesifik dimana passport itu disimpan. Bisa jadi loker penyimpanan, atau tas bellanja, atau yang lainnya. Lebih dari itu.. bisa saja, mereka meminta Yoo-jin untuk bulak-balik dari tempat satu ke tempat lainnya, “Mungkin terasa berat, tapi itu lebih baik daripada tertangkap..”


Setelah dengan gelisah menunggu cukup lama.. Soo-jin heran, karena tak ada sms lagi untuknya. Dia pun menelpon nomor tersebut, tai tak ada jawaban. Kemudian, dia menelpon Madam Ra.. tapi tak ada jawaban juga.

Tiba-tiba, terdengar suara Hye-na yang menangis.. Soo-jin panik, lalu bertanya: “Kenapa? Ada apa?”
“Aku sangat merindukan Jjing.. dia sangat suka roti kacang merah..” jawab Hye-na yang saat ini memang tengah memakan roti kacang merah


Sadar kalau waktu terus berjalan, Soo-jin bergegas meminta Hye-na untuk bersiap lalu membawanya pergi mendatangi penginapan Madam Ra. Tapi sesampainya disana, telah ada beberapa polisi yang merangsak masuk dan menyeret beberapa penghuni yang tinggal disana.


Berusaha bersikap tenang, Soo-jin berjalan pergi. Di pertengahan jalan, tak sengaja dia melihat mobil Madam Ra. Spontan, dia pun menghadangnya dan langsung menagih passportnya. Namun sesuai dugaan, passport itu belum (atau tidak) ada. 

“Kalau begitu, kembalikan uangku!” pinta Soo-jin
“Uang? Ke kantor polisi saja.. bilang kalau kamu ingin minta uangmu kembali!” jawab Madam Ra yang kemudian menyuruh Soo-jin dan Hye-na untuk masuk kedalam mobilnya saja karena mereka semua harus segera pergi supaya lolos dari kejaran polisi.


Sepanjang jalan, Madam Ra menggerutu menyalahkan si perempuan vietnam yang diduganya sebagai orang yang telah melaporkan mereka pada polisi, “Lihat saja, pokoknya aku akan mengambil kembali uangku!” ujarnya
“Kita mau kemana?” tanya Soo-jin
“Untuk sementara waktu, kita hatus bersembunyi di pulau lain..”


Sampai di parkiran dermaga, Madam Ra dan supirnya turun untuk membeli tiket dan menelpon seseorang. Dia meminta semuanya untuk diam dan menunggu didalam mobil..


Sesaat setelah mereka pergi, salah satu perempuan berwajah pucat yang duduk dibelakang Soo-jin, malah menyuruhnya untuk segera kabur, “Larilah sekarang juga, selagi badanmu masih baik-baik saja dan memiliki organ yang lengkap. Aku.. sudah tak memiliki kehidupan seperti manusia lainnya, jadi aku tak bisa pergi.. Kamu hanya kehilangan uangmu, lebih baik pergi sekarang juga karena setelah sampai di pulau itu, kamu tak akan bisa melarikan diri sebagai manusia seperti sekarang...anak itu masih sangat kecil, kasihan kalau hidupnya dikorbankan...”


Tanpa mengatakan apapun, Soo-jin bergegas membawa Hye-na berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Setelah dirasa cukup jauh, Soo-jin terduduk lemas dan dia mulai menangis..


Hye-na menyentuhnya, “Kamu menangis?” tanyanya
“Bisakah kamu tak mengatakan apapun padaku untuk kbeberapa saat saja?” pinta Soo-jin


Tak mengatakan apapun, Hye-na berjalan pergi.. dan ketika Soo-jin melihat sekitarnya, dia panik sekaligus gelisah karena Hye-na sudah tak ada didepan matanya.


Sontak, Soo-jin berlari sambil berteriak memanggil Hye-na. Dan syukurlah Hye-na langsung muncul dan berlari menghampirinya, “Sekarang sudah baik-baik saja?” tanyanya
“Maaf.. aku tidak marah padamu, tai aku marah pada diriku sendiri..” ucap Soo-jin
“Aku tahu.. anda sangat ingin pergi ke Islandia ‘kan? Andai aku tak ada disini, mungkin anda sudah berangkat kesana ‘kan?” tanya Hye-na


Soo-jin mengeluarkan sisa uang yang dimiliknya. Tidak banyak, tapi setidaknya masih cukup untuk beberapa hari kedepan, “Kita akan melangkah perlahan.. kita akan menemukan jalan, bagaimana pun caranya..”
“Aku sama sekali tak merasa takut, bu..” ucap Soo-jin
“Berarti, mulai sekarang aku yang harus menjadi seorang pemberani....”


Mengambil tas-nya, Soo-jin lalu menggandeng tangan Hye-na dan mengajaknya bergegas pergi. Tanpa dia sadari, sedari tadi.. langkah kecil Hye-na kesulitan untuk mengimbangi kececpatan berjalannya,
“Bisakah.. kita berjalan agak lambat..?” pinta Hye-na
“Ohh.. maaf..” ucap Soo-jin yang kemudian berjalan lebih lambat mengikuti irama langkah Hye-na


Di kantor polisi, Ye-eun menyerahkan barang bukti berupa beberapa foto luka memar di badan Hye-na yang pernah di potret olehnya, “Kejadian ini bukan sekedar insiden, tapi sebuah tindakan pembunuhan!” tegasnya, yang kemudian menceritakan segala hal yang telah dilakukannya, termasuk mendatangi Komisi Perlindungan Anak tapi tak ada yang menanggapinya dengan serius. Sekarang, Ye-eun harus pergi bulan madu, tapi setelah kembali.. dia pastikan untuk kembali kesini untuk menanyakan kelanjutan penanganan kasus ini.


Detektif Chang memuji kelengkapan berkas yang ditunjukkan Ye-eun padanya, lalu dia bercerita mengenai fakta bahwa kebanyakan detektif agak kurang suka menangani kasus semacam ini. Karena setelah bekerja keras, siang dan malam.... pada akhirnya, mereka harus menemukan si anak dalam kondisi yang mengenaskan. Tapi menurutnya, ada yang janggal dalam kasus ini. Karena badan korban belum ditemukan, maka korban masuk kedalam daftar orang hilang, “Aku berjanji untuk terus bekerj keras, sampai aku melihat Hye-na.. entah dalam kondisi hidup atau mati..”


Soo-jin dan Hye-na menumpangi kereta menuju Chooncheon. Dalam perjalanan, Soo-jin menceritakan sebuah dongen tentang kelinci dan induknya yang berhasil membuat Hye-na tertawa bahagia,


“Bu aku ingin melarikan diri..” ketika si kelinci mengatakan hal itu, induknya berkata “Aku akan mengejarmu kemana pun kamu pergi, karena kamu adalah anakkua yang lucu”


“Kalau begitu, aku akan menjadi ikan dan berenang sangat jauh..” ucap si kelinci, yang kemudian membuat induknya berkata, “Kalau kamu menjadi ikan, ibu akan menjadi nelayan dan menangkapmu..”


Berpindah ke rumah keluarga Young-shin, disana tengah saatnya untuk makan malam. Ada dua anak kecil yang berlarian, lalu duduk disamping Yi-jin. Tak lama kemudian, muncullah Jae-bum, “Nyonya.. maafkan saya karena hanya datang sendirian..”
Tiba-tiba, Young-shin berdiri dan berkata, “Hmm.. sepertinya, aku tidak nafsu makan..”. Setelah itu, dia pergi kelantai atas dan Jae-bum mengikutinya di belakang.


Jae-bum mengeluh kalau dirinya butuh istriahat, tetapi mendengar Young-shin yang menyinggung masalah penyakit kanker.. membuat Jae-bum menyerah, akhirnya dia setuju untuk segera berangkat ke Islandia demi mencari Soo-jin.


Melihat sikap ibunya, membuat Yi-jin makin curiga bahwa ada sesuatu yang tengah disembunyikan darinya. Dia pun membicarakan hal ini dengan adiknya yang bernama Hyun-jin (Go Bo-gyeol). Tetapi Hyun-jin tengah sibuk dan memintanya untuk membahas hal ini di lain waktu.


Ternyata, Hyun-jin berprofesi sebagai seorang reporter. Dia tengah melaporkan beberapa kasus pada atasannya. Yang pertama tentang penusukan di tempat judi, tapi semuanya telah terurus dengan lancar dan korban telah berada di rumah sakit. Kasus yang kedua, adalah mengenai hilangnya seorang anak di laut Mooryeong, sekarang sudah 48 jam sejak insiden terjadi tapi badannya belum dtemukan..
Atasannya bertanya: “Ada fotonya?”
“Tidak ada..” jawab Hyun-jin
“Kalau begitu, cari kasus yang lain lagi..”


Kembali kedalam kereta, Hye-na telah memejamkan matanya dan bersandar dalam pelukan Soo-jin. Tetapi dia belum tidur, dia malah bertanya: “Bu.. apakah ibunya ibu sering membacakan cerita sebelum tidur?”
“Iya..”
“Hmm.. apakah ibu merasa nyaman setelahnya?”
“Tidak.. justru aku merasa bersalah..”
“Kenapa?”
“Karena aku.. bukan anak kandung ibuku. Aku adalah anak angkat..”


Masa kecil disaat anak-anak tertawa dan bermain bersama, terlihat seorang gadis malah menyendiri di depan gerbang sebuah panti asuhan. Datanglah seorang wanita yang berlari menghampirinya, dia hendak memangkunya.. tapi ternyata, ada kunci yang mengikatkan badannya ke tiang gerbang.


Gadis itu menangis (kesakitan?).. beberapa saat kemudian ikatannya telah dilepas, dan wanita itu datang lagi sambil membawa sekotak wadah berisi kue. Melihat gadis kecill yang hanya diam, wanita itu memakan kue-nya sendirian.. dan ketika gadis itu meliriknya, barulah wanita itu memberikan kue tersebut untuknya..


Langit yang terang, kini berubah menjadi gelap, namun mereka masih duduk ditempat yang sama. Setelah sekian lama diam tak mengatakan apapun, akhirnya gadis itu memperkenalkan dirinya, “Namaku.. Nam Soo Jin..”
Wanita itu pun mengangguk.. tersenyum mendengarnya...
Advertisement


EmoticonEmoticon