1/29/2018

SINOPSIS Mother Episode 2 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 2 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 2 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 2 Part 3

Bus akhirnya sampai di Incheon, Soo-jin dengan susah payah harus memangku Hye-na yang telah tertidur pulas. Dia pun mencoba membangunkannya, dengan berulangkali memanggil Hye-na dengan nama barunya yaitu Yoon-bok.


Tiba-tiba, wanita dari terminal berjalan menghampiri mereka. Dia bertanya, kemana mereka akan pergi lalu menwarakan tumpangan. Tanpa ragu sedikit pun, Soo-jin menolak tawaran tersebut, yang akhirnya membuat wanita itu berjalan pergi meninggalkannya.


Setelah berulangkali memanggil nama Yoon-bok tapi tak membuat Hye-na bangun, akhirnya dengan suara pelan Soo-jin berbisik: “Hye-na... Hye-na yaa... bangunlah, bantu ibu. Karena kalau kamu tidak bangun, kita tidak akan bisa pergi dari sini..”
Perlahan, Hye-na pun membuka matanya.  Segera mereka menuju jalan raya untuk mencari taksi, tapi sayangnya.. dalam kondisi cuaca seperti ini, banyak orang yang berebut mencari tumpangan pula.

Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti dihadapan mereka dan itu adalah mobil wanita tadi. Karena tak ada pilihan lain, dan Hye-na terlihat sangat mengantuk.. terpaksa Soo-jin setuju untuk iktu dalam mobil itu.


Menyadari bahwa Soo-jin tak memiliki tujuan pasti, wanita itu langsung menwarinya untuk menginap di guesthouse miliknya saja. Soo-jin sempat mengeluarkan kertas catatan, bertuliskan alamat penginapan yang hendak dia tuju, tetapi wanita itu bersikeras meminta Soo-jin untuk menginap di ditempat saja, “Lagipula.. dalam udara seperti ini, anda mau pergi kemana dengan memabwa anak kecil ini...” ujarnya


Di kantor polisi, Ja-young menjelaskan bahwa dirinya tengah bekerja ketika insiden yang menimpa Hye-na terjadi,
“Memangnya, anda terbiasa meninggalkan putri anda sendirian?” tanya Detektif Chang
“Sewaktu masih kecil, seharian aku bermain diluar meskipun ibuku ada dirumah. Begitulah caranya aku tumbuh..” jawab Ja-young, yang kemudian menuliskan nomor ponsel manajernya di kantor dan meminta detektif untuk menghubungi nomor tersebut jika ingin memastikan alibinya barusan
Selanjutnya, Detektif Chang bertanya, apakah Hye-na mengenal seseorang di pelabuhan ini?
“Tidak ada..” jawab Ja-yooung
“Lalu.. menurut anda, kenapa dia ada disana?”
“Entahlah..”


“Begini yaaa bu.. dari rumah anda untuk sampai ke tempat itu, butuh 35 menit jika orang dewasa jalan kaki, jika itu anak kecil mungkin membutuhkan waktu sekitar satu jam. Aku sendiri, punya 3 anak laki-laki yang berusia 12, 10 dan 17 tahun. Tapi.. jika aku membiarkan mereka berjalan kaki lebih dari 20 menit, setidaknya aku akan memberi mereka uang atau justru memarahi mereka. Jadi, bagaimana bisa anada membiarkannya berjalan selama itu seorang diri?  Dia baru kelas satu dan diluar suhunya mencapai minus lima derajat celcius...” papar Detektif Chan
“Hye-na memang begitu... dia mengejar kucing, sampai membuat bajunya robek dan digigit karena memberi mereka makanan. Bahkan, dia pernah pulang lebih dari 12 malam, hanya karena dia menghitung seluruh lampu yang ada di jalanan. Jadi, apayang harus kulakukan kalau faktanya dia memang seperti itu!!!” ujar Ja-young
“Bu! Putri anda, mungkin sudah mati saat ini! Jika tidak, mungkin saja dia masih menghitung kotak surat di jalanan, makanya kita harus menemukannya apapun yang terjadi!” tegas Detektif Chang, yang kemudian bertanya, “Siapa orang yang anda sms tadi? Kudengar ada pria yang tinggal bersama kalian?”
“Pria itu tak ada hubungannya dengan masalah ini..” sanggah Ja-young
“Bolehkah saya melihat ponsel anda?”
Ja-young diam, dia menjauh dan terlihat gugup. Tapi bersamaan dengan itu,, datanglah Seol-ak yang berlari menghampirinya dan bertingkah seolah-olah merasa khawatir.. dia memeluk Ja-young yang menangis, mengatakan kalau Hye-na hilang..


Kepada Detektif, Seol-ak menceritakan hubungannya dengan Ja-young, dia bilang dirinya sering menginap dirumah Ja-young karena ada pekerjaan didaerah sana. Lalu.. terkahir kali, dia bertemu dengan Hye-na tadi malam, mereka makan kimpab dan bermain petak umpet..


Dalam perjalanan pulang, Seol-ak menasihati Ja-young untuk berhati-hati dengan detektif tadi. Pokoknya, jika ditanya apapun.. lebih baik Ja-young diam dan menangis saja, “Jikadia bertanya tentangku, bilang saja bahwa aku mempelakukan Hye-na dengan baik seperti anakkua sendiri..” tambahnya
“Kenapa? Lagipula.. bukan kita yang membunuhnya..”
“Luka di tubuh Hye-na.. kalau mereka melihatnya, maka kita-lah orang pertama yang akan mereka curigai...” jawab Seol-ak yang kemudian menegaskan, “Aku tak ingin masuk penjara lagi!”


Sementara itu, sekarang Soo-jin tengah mendekap Hye-na sambil menyanyikannya lagu pengiring tidur..
“Tidakkah badanku ini terasa berat?” tanya Hye-na
“Tentu saja, badanmu berat..” jawab Soo-jin
“Lalu, kenapa bu guru terus mendekapku seperti ini?”
“Karena aku takut kehilanganmu. Aku harus mendekapmu erat untuk memastikan kamu tak akan pergi kemanapun..”
Hye-na tersenyum, “Hari ini sangat menyenangkan... Bolehkah aku membeli lagi buku catatan ‘kebahagiaan’-ku yang baru? Aku berusaha untuk mengingat segala hal yang membuatku bahagia mulai dari hari ini.. tapi itu sangat sulit..” ungkapnya
“Memang, hal apa saja yang kamu sukai?” tanya Soo-jin
“Tiket bus, kerang laut kecil, aroma Bu Guru, namaku Yoon Bok..” jawab Hye-na


Esok paginya, Eun-chul mendatangi apartemen Soo-jin, tapi tak menemukannya disana. Kemudian dia mendatangi alamat Hye-na yang sebelumnya dituliskan Soo-jin. Dia agak bingung sekaligus heran, karena melihat Ja-young dan Seol-ak yang baru pulang dengan membawa kopi ditangan mereka. Bagianya.. hal yang sangat kurang ‘etis’, ketika dalam situasi sereti ini.. ibu korban masih sempat membeli kopi pagi untuknya sendiri, “Soo-jin aa.. tugas apa yang kau berikan padaku..” gumamnya


Secara diam-diam.... Eun-chul turun dari mobilnya, lalu memasangkan chip GPS di truk milik Seol-ak.


Soo-jin dan Hye-na tengah menikmati sarapan mereka, tapi dua orang wanita berwajah pucat yang tengah menjemur pakaian, sempat mencuri perhatian Soo-jin.


Hingga muncullah si wanita pemilik penginapan ini (Karena belum tahu namanya, kita sebut saja Madam Ra). Dia bersikap sangat ramah.. Hye-na memuji masakannya yang enak, “Ibuku juga pandai memasak” ucapnya bangga

“Memasak apa?”
Lagi-lagi, Hye-na menyebutkan menu makanan dari Restoran Yoon-bok, tetapi Soo-jin memotong pembicaraan, hanya untuk mengatakan kalau dirinya akan membayar biaya penginapan serta makanan yang mereka dapatkan disini.


Keluarlah seorang wanita berwajah lesu, Madam Ra bertanya, “Mau berjemur diluar?”
“Iya..” jawabnya

Kepada Soo-jin, Madam Ra bercerita bahwa setiap orang yang menginap disini memiliki ceritanya masing-masing, “Kau tahu, membantu orang lain bukan hal besar.. tapi kurasa aku perlu melakukannya..”


“Bolehkah aku bermain diluar.... bu”  tanya Hye-na
“Hmm.. iyaa tentu saja.. tapi jangan lama-lama, Yoon-bok aaa..” jawab Soo-jin


Setelah Hye-na pergi, Madam Ra bertanya pada Soo-jin: “Mau pergi kemana? Butuh sesuatu seperti tiket pesawat atau tiket perahu? Ohiya.. ada juga yang namanya ‘tiket anonim’...”

“Apaan itu?”
“Kamu bisa menaiki perahu dari sini, kemudian pindah ke perahu lainnya. Jika kamu melakukannya, maka tak akan ada yang mengetahui kemana kamu pergi..”

“Apa mungkin.. ada cara supaya aku bisa mendapatkan passport? Passport untuk anak kecil?”


Sejenak, obrolan mereka terpotong karena muncul seorang pria yang menggendong balita tempo hari. Dia menghampri Madam Ra, lalu berjalan pergi. Setelah itu, Madam Ra bertanya pada Soo-jin, “Seberapa jauh kamu akan pergi? Sangat jelas terlihat, kalau gadis itu bukanlah anakmu..”


Dengant tenang, Yoo-jin menyanggah pertanyaan itu, “Anda salah.. dia adalah putriku dan kami akan pergi ke tempat yang sangat jauh..”

Madam Ra tertawa, “Aigooo.. mungkin karena terlalu lama hidup membersakan anakku tanpa seorang ayah, jadi tebakanku salah..” ujarnya


Setelah itu, dia menelpon seseorang dan bertanya apakah mereka bisa menyediakan passport untuk anak kecil, tapi sebelumnya dia mengatakan pada Soo-jin bahwa setelah dipesan, tidak bisa dibatalkan dan jika ada masalah maka mereka tak ingin disangkutpautkan. 

Katanya, mereka bisa menyediakan passport itu.. tapi karena termasuk barang langka, mereka ingin sesuatu yang sangat besar..

“Besar? Maksudmu satu juta dolar?” tebak Soo-jin


Detekif Chang meminta kesaksian polisi yang pernah bertugas untuk mendatangi rumah Hye-na. Yang satu, menceritakan semuanya sesuai apa yang terjadi.. bagaimana Hye-na mengelak seluruh dugaan perilaku kekerasan dan mengatakan kalau dirinya tak berbohong. Tapi polisi yang satu lagi.. dengan jujur mengatakan bahwa pada malam itu, dia melihat gelagat aneh, “Kurasa mereka berbohong, anak itu dan ibunya.. mereka terlihat tidak bahagia... sejak mendengar berita hilangnya anak itu, aku terus berpikir, seharusnya apa yang bisa kulakukan kala itu.. aku memiliki firasat buruk, setiap kali melewati rumah mereka dan ternyata sekarang terjadia hal seperti ini..”

“Apa maksudmu? Kamu telah menduga kalau hal semacam ini akan terjadi?! Lagipula, bukan ibunya yang mendorong anak itu kelaut... itu hanyalah sebuah insiden, memangnya kamu tak pernah dipukuli ibumu sendiri!” komen pak polisi


Menanggapi perdebatan itu, Detektif Chang menegaskan bahwa mereka harus benar-benar memastikan apa yang sebenarnya telah terjadi. Bahkan dia menyuruh mereka untuk memastikan waktu dan rekaman CCTV ketika Hye-na terluka karena terkena lemparan bola bisbol dan jatuh dari tangga, “Pokoknya.. mau ditemukan hidup atau mati.. jika terbukti ada kekerasan, maka aku akan mengajukan surat penahanan!”


Dirumah, Ja-young menelpon manajer-nya untuk izin tidak masuk kerja selama seminggu kedepan. Setelah itu, dia mengeluhkan dirinya yang tak memiliki satu pun pakiaan hitam yang bisa dikenakan *berkabung ceritanya*

Tiba-tiba, Seol-ak bertanya padanya: “Bagaimana.... kalau ternyata, Hye-na tidak mati?”
“Kenapa kamu seperti ini juga? Memangnya Hye-na ada dimana sekarang? Detektif itu hanya mengatakan omong kosong.. lagipula, kalau pun Hye-na tersesat, dia tahu nomor telpon dan alamat rumah ini!” tutur Ja-youong
“Kurasa aku melihatnya...” tukas Seol-ak
“Siapa? Hye-na?”
“Hmm..”
“Tidak mungkin.. lanta, kenapa kamu tak mengatakannya pada polisi?”
“Karena aku sendiri tak yakin...”
“Kapan? Dimana?”
“Saat kamu mengirim sms padaku kemarin, di bus antarkota yang lewat disebelahku..”
“Oppa.. aku juga sering mengalami hal seperti itu. Setelah ibuku meninggal, aku sering melihat seseorang yang mirip dengannya di jalanan...”
“Kamu lebih senang kalau Hye-na ternyata benar-benar mati?”


Mendengar pertanyaan itu, spontan membuat  Ja-young menatapnya   tajam lalu bertanya: “Bagiamana bisa kamu mengatakan hal seperti itu?”

Seol-lak bertanya balik, “Akankah kamu merasa bahagia kalau dia tak akan kembali lagi kesini?”
“Memangnya, dimatamu tak terlihat kesedihan di wajahku? Kurasa, kepalaku hampir meledak sekarang! Aku sangat takut.. dan membenci diiriku sendiri, karena kurasa dia mati karenaku!”
“Hmm.. kalau begitu, kita berbeda. Sekarang, akan lebih baik jika Hye-na mati..”
“Bagaimana kalau ternyata, dia belum mati?”
“Akan jadi masalah.. yang sangat besar..”


Jae-bum mendatangi Eun-chul di kantornya. Dia mencari Soo-jin, tapi sayangnya Eun-chul juga tak bisa menghubunginya.. lagipula, dia tahu, kalau Soo-jin tak mau keberadaanya diketahui oleh keluarganya,

Tetapi Jae-bum menyinggung perihal penyakit yang diderita uleh Young-shin, “Beliau sakit keras.. dan menolak melakukan operasi sebelum bertemu dengan Soo-jin..”

Mendengar itu, seketika membuat Eun-chul akhirnya bersedia memberitahukan informasi mengenai keberangkatan Soo-jin ke Islandia~~~
Advertisement


EmoticonEmoticon