1/29/2018

SINOPSIS Mother Episode 2 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 2 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 1 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 2 Part 2

Tangisan pilu Hye-na, berhasil membuat hati Soo-jin bergetar. Ketika Hye-na bertanya mengapa seorang anak tak bisa hidup tanpa ibunya? Soo-jin menjawab bisa, dan pasti bisa! Kemudian ketika Hye-na mengeluhkan sikap sang ibu yang telah membuangnya ke tempat sampah, Soo-jin menegaskan kalau kedepannya justru Hye-na yang akan membuang sang ibu dari kehidupannya. Karena sekarang, Soo-jin berjanji untuk membawa Hye-na pergi bersama dengannya, ke tempat yang sangat jauh.. yaitu Islandia yang berjarak sekitar 8000 kilometer jauhnya, 


“.. ini akan menjadi perjalanan yang sangat berat dan berbahaya, bahkan beresiko menimbulkan luka yang lebih menyakitkan untukmu. Tapi aku selalu penasaran, bagaimana rasanya menjadi burung yang bisa terbang melewati jarak yang begitu panjang. Dan apabila suatu hari nanti, aku bisa terbang sejauh merka.. akan seperti apa rasanya?...” - Soo Jin


Mempersiapkan kepergiannya, Soo-jin mengambil seluruh uang cash yang dimiliknya. Dia menjual mobilnya, lalu mengambil uang deposit rumahnya. Setelah itu, dia pun membeli beberapa pakaian serta sepatu untuk Hye-na.


Sebagai antisipasi, apabila rencana keberangkatannya ‘gagal’.. Soo-jin menuliskan sebuah surat untuk Bu Guru Ye-eun.. Disana, dia menyelipkan foto-foto bukti kekerasan yang dialami Hye-na, serta flashdisk bersisi rekaman suara pengakuan Hye-na.

...................
Untuk Ye-eun, sonsaeng-nim...
Kuharap aku tak sampai mengirimkan surat ini kepadamu, karena ketika aku mengirimkannya berarti rencanaku tak berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan, yaitu aku dan Hye-na tak bisa meninggalkan negara ini dengan selamat. 

Hal yang paling kutakutkan sekarang, bukankah dipenjara atas tuduhan penculikan. Tetapi, aku takut jika Hye-na harus kembali kepada ibunya dan pria itu akibat rencana kami yang gagal. 

Pria itu, lebih berbahaya dari apa yang kita pikirkan. Tolong lihatlah materi yang aku lampirkan dan bantu Hye-na supaya dia tidak kembali lagi ke rumahnya.

Aku percaya, tak akan ada orang lain yang melakukannya lebih baik dibandingkan bu guru. Aku tak akan marah, meskipun kamu melibatkan polisi dalam hal ini. Kumohon, uruslah semuanya dengan cara tepat. Karena anehnya, kurasa hanya bu guru satu-satunya orang yang bisa memahami perasaaku sekarang.

Kalau kita bertemu pada situasi yang berbeda, mungkin kita akan menjadi teman baik. Terimakasih,
...................


Sekilas, kita mendengar pengkuan Hye-na.. dia bilang ibunya beberapa kali memukul dan menendangnya, bahkan pernah sampai mendorongnya dari tangga. Sedikit meluruskan  cerita dari episode sebelumnya.. ternyata nama anak yang meninggal karena didorong dari lantai empat oleh Seol-ak bernama ‘Lee Won-hee’, bukan ‘Lee-hwan’


Keesokan harinya... dengan tenang, Hye-na merobek 2 lembar kertas dari buku catatan kebahagiannya. Yang pertama, yang bertuliskan ‘senyuman Bu Guru’ dan kedua yang bertuliskan nama ‘Lee Won Hee’.. dia merobeknya hingga menjadi serpihan kecil, kemudian membuangnya kedalam kloset.


Berikutnya, Hye-na menghampiri ibunya yang barusan memanggilnya. Ja-young tengah berdandan.. dia bersikap biasa saja, seakan tak terjadi apapun tempo hari. Dia bahkan memberikan segelas kopi latte untuk Hye-na, tetapi Hye-na hanya diam saja..


Kemudian, Ja-young menggenggam tangan Hye-na dan memakaikan eyeliner di matanya, “Kamu tahu.. ibu sangat menyukai paman. Kalau paman tak ada, ibu akan mati... maka dari itu, kamu harus menjadi gadis yang baik. Karena kalau paman sampai pergi karenamu, kamu pikir akan seperti apa perasaan ibu? Kamu akan bahagia kalau ibu bahagia ‘kan?”

Hye-na menjawabnya dengan sebuah anggukan, tapi Ja-young meminta Hye-na untuk mengatakannya,

“Aku akan bahagia, jika ibu bahagia” ucap Hye-na
“Baiklah, ibu mengerti. Sekarang kamu sudah cantik..” ujar Ja-young , yang kemudian mengeluarkan uang dari dompetnya, “Belilah hamster yang baru..”


Namun Hye-na diam saja.. dia tak mengambil uang itu, dan malah berjalan pergi tanpa mengatakan apapun..


Di Siang hari yang cerah ini.. sendirian Hye-na berdiri di pesisir laut.sambil memegang bulu putih yang dia temukan kemarin,.. beberapa saat dia berdiri disana sambil melambaikan tangannya hingga bulu itu pun terbang terbawa angin.


Seorang nelayan melihatnya, dia pun menyuruh Hye-na untuk segera pulang karena angin bertiup sangat kencang dan akan turun salju sebentar lagi. “Iya..” jawab Hye-na yang kemudian mengepakan tangannya bak sayap burung sambil menunjukkan senyuman indah di wajahnya.


Berpindah ke lokasi syuting, disana Young-shin menerima telpon dari Jae-bum yang baru saja pulang dari New Zealand. Mereka mendapatkan informasi bahwa ternyata.. selama ini Soo-jin telah berada di Korea. 


Sementara itu, di tempat kerjanya.. kita melihat Ja-young tengah menelpon Seol-ak yang tenyata akan pergi mengantar barang dan baru pulang, sekitar satu atau dua hari kemudian..


Kembali ke pesisir laut, kini hari sudah petang.. para nelayan berkumpul untuk sekedar menikmati ramen. Salah satu dari mereka bertanya: “Anak itu kemana?”
“Ah... tadi aku menyuruhnya pulang..”
“Lah.. barusan aku masih melihatnya berkeliaran disana..”


Sesuai dugaan, sekarang turun salju disertai angin kencang. Tapi tiba-tiba, kita melihat catatan kebahagiaan milik Hye-na yang tergeletak begitu saja di bebatuan dekat lautan. Salah seorang nelayan menemukan catatan itu, dia pun mencari-cari Hye-na.. tapi dia malah melihat sepatu milik Hye-na yang telah terombang-ambing di lautan~~~


Jae-bum sampai di apartemen tempat Soo-jin sebelumnya tinggal. Tapi sayang sekali, dia terlambat.. karena Soo-jin telah meninggalkan tempat tersebut...


Sekarang Soo-jin tengah berjalan pergi bersama dengan Hye-na. Ketika mereka menaiki bus, tak sengaja halmeoni melihat mereka--


Berikutnya, Soo-jin membeli dua tiket bus menuju Incheon dan memberikan salah satunya untuk Hye-na yang telihat sangat bahagia, karena terlihat senyuman manis yang tak pernah lepas dari wajahnya.


Sementara itu, di pesisir laut tempat terakhir kalinya Hye-na terlihat, banyak sekali polisi yang bertebaran untuk mencarinya (kejadian di awal episode 1). Salah satu diantara mereka, adalah detektif Chang-geun (Jo Han Chul) yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan kasus ini.


Sambil menunggu bus-nya tiba, Hye-na asyik bercengkara dengan seorang balita yang duudk disampingnya. Akan tetapi, Soo-jin segera menariknya dan memintanya untuk tidak menarik perhatian orang lain..
“Tapi ‘kan, balita belum bisa bicara..” ujar Hye-na 


Setelah melihat tas milik Hye-na, Ja-young tak mengatakan apapun tapi matanya berkaca-kaca.


Bersamaan dengan itu, berita mengenai hilangnya Hye-na langsung ditayangkan di televisi. Melihatnya, membuat Soo-jin makin gelisah.. terlebih, karena ada polisi yang beralu-lalang disekitarnya. Dia mengajak Hye-na pergi.. lalu wanita dan balita yang berada disampingnya pun ikutan pergi juga..


Karena cuaca yang tak mendukung, tim penyelamat tak sanggup melanjutkan pencarian Hye-na di malam ini. Detektif Chang meminta mreka untuk tetap mencari sebisanya, kemudian dia pergi untuk menemui Ja-young.. tetapi dari kejauhan, dia melihat Ja-young yang dengan tenangnya malah sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.


Dalam perjalanannya mengantar barang, mobill Seol-ak terhenti di lampu merah. Tak sengaja dia melirik kesamping, dan seakan melihat Hye-na yang tengah berada dalam bus disebelahnya.


Dan ternyata memang benar... Hye-na ada didalam bus tersebut. Tetapi, dengan sigap Soo-jin menutup tirai disampingnya dan berkata, “Jangan melihat keluar dan jangan memanggilku dengan sebutan bu Guru...”
“Ohiyaa..” ucap Hye-na sambil menutup mulutnya dengan tangannya


Seol-ak melihat ponselnya dan ada pesan masuk dari Ja-young yang isinya, ‘Sesuatu terjadi di rumah, jadi jangan dulu pulang untuk beberapa saat’. Tak mengerti maksudnya, dia pun menelpon Ja-young tapi tak diangkat dan Ja-young malah mengirim pesan menyuruhnya untuk mendengarkan bertia di radio.


Mendengar kabar hilangnya Hye-na, membuat Seol-ak keheranan. Dia pun melirik keesamping, namun ternyata bus itu telah melaju pergi. Di waktu yang bersamaan, Eun-chul juga mendengar berita ini.. mendengar nama Hye-na membuatnya teringat pesan dari Soo-jin. Dia pun segera menghubungi Soo-jin, tapi ponselnya tak aktif lagi...


Demi mempercepat proses pencarian, Detektif Chang meminta izin Ja-young untuk menunjukkan foto Hye-na pada tayangan berita di televisi.
“Bukankah anda mencarinya yang tenggelam di laut?” tanya Ja-young
“Kalau dia jatuh ke laut, seharusnya sekarang dia telah ditemukan dalam kondisi meninggal. Tapi masih ada kesempatan 1 banding 1000, kalau ternyata dia hilang atau diculik oleh seseorang. Apabila kita tak berhasil menemukannya dalam waktu 48 jam, maka semakin kecil kesempatan kita untuk menemukannya. Jika kita melaporkannya sebagai orang hilang, dan menayangkan fotonya di televisi maka orang-orang akan lebih mudah untuk menemukannya dan si penculik akan kesulitan untuk kabur...” papar Detektif Chang
“Tidak..” tukas Ja-young, “Hye-na.. adalah gadis yang pemalu dan aku tak bisa hidup dengan melihat wajah Hye-na terpampang dimana-mana dan dicibarakan oleh semua orang...” tambahnya


Tiba-tiba, datanglah Ye-eun ditemani oleh suaminya dalam kondisi yang masih mengenakan pakaian adat pernikahannya. Dengan panik, Ye-eun bertanya pada Detektif Chang, “Apa anda sudah mencaritahu apa yang yang dilakukan ibunya Hye-na saat insiden terjadi?”
“Apa?”
Tak hanya itu, Ye-eun juag bercerita menganai keberadaan seorang pria yang tinggal di rumah Hye-na, “Kumohon, caritahu juga apa yang dilakukan pria itu saat insiden ini terjadi..” pintanya
“Sayang.. tenanglah, seharunya kita pergi bulan madu..” ujar sang suami
“Pada kondisi seperti ini, mana bisa aku tenang!” tukas Ye-eun


Dalam bus, Soo-jin mengatakan bahwa Hye-na harus berganti nama, “Karena, Hye-na aalah anak yang hilang di laut..” ujarnya yang kemudian bertanya, “Apakah ada nama yang kamu sukai?”
“Hmm... Yoon-bok..” jawab Hye-na, “Ada seseorang yang bernama Yoon Bok, dan di tempatnya dia menjual nasi kari, omlete, donkatsu, yang bisa dimakannya setiap hari” jelasnya
“Jadi, kamu ingin dipanggil Yoon-bok? Baiklah...”
“Coba panggil namaku..”
“Yoon-bok aaaa.. Kim Yoon-bok..” ucap Soo-jin yang kemudian membuat Hye-na tertawa bahagia


Selanjutnya, Soo-jin meminta Hye-na untuk memanggilnya dengan sebutan ‘ibu’. Mendengarnya, membuat Hye-na bertanya: “Apa sekarang.. Bu Guru adalah ibuku?”
“Meskipun sekarang, aku telah memanggilmu Yoon-bok.. tak secara langsung membuatmu berubah menjadi Yoon-bok. Aku yakin, kamu akan menjadi Yoon-bok secara perlahan.. dan aku pun yakin, aku tak akan bisa menjadi ibunya Yoon-bok dalam waktu singkat. Untuk itu, aku akan berusaha untuk menjadi ibunya sedit demi sedikit.. maka suatu hari nanti, sepenuhnya kamu akan menjadi Yoon-bok dan aku akan menjadi ibunya Yoo-bok..” papat Soo-jin
Hye-na tersenyum, lalu berkata: “Tapi, aku akan memanggilmu dengan sebutan ‘ibu’ di lain waktu, dan bukan sekarang.... Tak masalah ‘kan?”
“Iya.. tapi, jangan memanggilku dengan sebutan ‘Bu Guru’. Karena tak boleh ada satu pun orang yang mencurigadi kita..” pinta Soo-jin


Dan tak jauh dari tempat mereka duduk, terlihat wanita yang tadi berada disampingnya saat berada di terminal. Dia hanya diam.. tak mengatakan apapun, entah dia mendengar obrolan Soo-jin dengan Hye-na atau tidak, tapi ekspresinya sangat mencurigakan sekaligus misterius...
Advertisement


EmoticonEmoticon