1/27/2018

SINOPSIS Mother Episode 1 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Mother Episode 1 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Mother Episode 1 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Mother Episode 2 Part 1

Keesokan harinya, ketika Soo-jin masuk kelas dia tak melihat Hye-na. Salah satu siswa memberitahunya, kalau Hye-na ketiduran di toilet. 


Ternyata, sekarang ini Hye-na telah berada di ruang UKS. Suster bilang, Hye-na kurang gizi, tetapi Ye-eun menemukan hal janggal.. dia melihat banyak bekas luka memar disekujur tubuhnya Hye-na, “Aku sangat khawatir pada anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua tunggal. Tapi, dia ini memang anak yang aneh. Apa pun yang terjadi padanya, dia tak pernah menangis. Anda juga mengira ada yang aneh dengannya ‘kan?”


Tak berkomentar apapun, Soo-jin masuk menemui Hye-na yang kini tengah berbaring. Hye-na sempat pura-pura tidur, tapi kemudian membuka matanya ketika mendengar suara Soo-jin, “Apakah bu Ye-eun sudah pergi?” tanyanya

“Ya..” jawab Soo-jin
Hye-na bangkit, lalu dia bercerita: “Bu Ye-eun itu aneh.. kubilang, aku tersandung saat menuruni tangga, tapi dia malah memotretku..”

“Dimana? Dia memotret bagian mana?” tanya Soo-jin yang hendak menyentuh Hye-na, namun Hye-na malah menghindarinya dan bertaanya balik, “Apa bu guru juga.. senang melihat luka orang lain?”

Untuk menjawabnya, Soo-jin memperlihatkan bekas luka di lututnya, lalu bercerita “Ibu juga tersandung saat menuruni tangga..”
“Apa itu sakit?”
“Sakit...”
“Apa ibu menangis?”
“Sedikit..”
Lalu dengan bangganya, Hye-na mengatakan: “Aku tidak menangis. Bu guru, pada saat seperti itu harusnya ibu memikirkan hal yang ibu sukai. Dengan begitu, bu guru akan berhenti menangis..”
“Begitu yaa..”
“Tapi, Bu Ye-eun itu benar-benar aneh. Dia terus bertanya, apa aku menyukai ibuku..”
“Terus, kamu jawab apa?”
“Kujawab, aku sangat menyukai ibuku.... tentunya”
“Begitu yaa..”
“Sekarang, bu guru sudah merasa lega?


Malam hari, di dapur yang gelap Hye-na mengambil sisa kuaci didalam toples. Dia memakannya, tapi sepertinya dia masih lapar. Selanjutnya, secara diam-diam, dia pun mengambil sebungkus chiki di meja dekat si pria yang masih saja main games. Hye-na kesulitan membuka bungkusnya, dia pun mencoba berbagai cara hingga menimbulkan sedikit kebisingan (suara krasak-krusuk)


Tiba-tiba, pria itu berjalan menghampirinya, “Apa yang pernah kubilang kalau ada anak-anak yang suka cari masalah?” tanyanya dengan tatapan menakutkan
“Tapi paman, kita tinggal di lantai satu..” jawab Hye-na


Keesokan harinya, Ye-eun ditemani Soo-jin mendatangi rumah Hye-na. Cukup lama mereka mengetuk pintu, tapi tak ada respon. Akhirnya, mereka pun berjalan pulang..


Tapi kebetulan, saat itu Hye-na bersama ibunya berjalan pulang. Spontan, Ye-eun langsung menghampiri mereka dan menyapanya, “Hari ini, Hye-na tidak masuk sekolah, jadi--”

“Aku sudah telpon pihak sekolah, memberitahukan kalau Hye-na sedang demam” jawab Ja-young (Go Sung Hee)

“Ya tapi..” belum sempat menyelesaikan kalimatnya, perhatian Ye-eun tertuju pada telinga Hye-na yang telah dibalut perban, “telingamu kenapa?” tanyanya panik


Spontan, Hye-na bersembunyi dibalik badan ibunya tapi setelah Ja-young menyuruhnya berbicara, Hye-na pun dengan lnacar bercerita kalau dia terluka karena terkena lembaran bola bisbol saat bermain di jalan dekat rumahnya. 

“Gendang telinganya hampir pecah, aku juga tak tahu, kenapa mereka bermain bisbol di jalan, bukannya di lapangan..” ungkap Ja-young

Dengan ragu Ye-eun lanjut berkata: “Ada luka lain disekujur tubuh Hye-na”
“Aku sudah tahu! Apa jangan-jangan, kaian datang kesini untuk bertanya apakah aku yang memukulnya?” tukas Ja-young


Memotong obrolan mereka, Hye-na berbicara mengatakan kalau dirinya memang sering terjatuh, “Kata dokter, anak yang sering jatuh itu karena pendengaran mereka bermasalah. Benar ‘kan bu?” ujarnya

Kemudian, Ye-eun lanjut bertanya: “Katanya ada seorang pria yang tinggal bersama kalian berdua--”
“Bu guru! Aku mencari nafkah dan membesarkan anakku sendirian! Aku berangkat kerja jam 10 pagi dan pulang jam 10 malam! Jadi apa yang harus kulakukan pada anakku? Apa aku harus mengunci pintu dan mengeurungnya dalam rumah?! Dan juga, apa perlu aku memberitahu kalian berdua, kalau aku seedang dekat dengan seorang pria atau tidak.. hanya karena kalian berdua itu adalah guru anakku?!” ungkap Ja-young dengan nada kesal


Secara tiba-tiba, Hye-na berlari dan menjatuhkan dirinya di tangga. Ye-eun panik, apalagi melihat lutut Hye-na sampai berdarah. Ketika Ja-young mengulurkan tangannya, Hye-na langsung meraihnya lalu ikut masuk kedalam rumah bersama dengannya. Tapi pandangan mata Hye-na, selalu tertuju pada Soo-jin, entah apa arti tatapan itu.. tapi seperti ada suatu hal yang ingin dia sampaikan--


“Anda melihatnya ‘kan? Dia berakting.. orang bilang, anak korban kekerasan biasanya melindungi orang tua mereka, apapun yang terjadi..” keluh Ye-eun yang langsung berjaan pergi


Sementara Soo-jin, dia melangkah perlahan.. sambil melirik rumah Hye-na dan tiba-tiba, dia melihat seorang pria yang tengah memerhatikannya dari dalam rumah.


Setelah apa yang dilihatnya barusan, Ye-eun tak bisa diam saja. Ditemani Soo-jin, dia melaporkan hal ini pada pihak yang berwenang. Secara runtut, dia menjelaskan sikap Hye-na dan ibunya, “100% aku yakin, kalau dia telah berbohong.. pasti ibunya yang menyuruh dia berbohong!” tegasnya

Tetapi, berdasarkan aturan yang berlaku mereka tak bisa ikut campur terlalu besar dalam urusan keluarga. Apabila, ‘korban’ dan anggota keluarga tak mengatakan apapun terkait KDRT maka, mereka tak berhak mengambil tindakan seenaknya. Adapaun yang bila dilakukan, diantaranya meminta pihak polisi untuk mendatangi rumahnya dan mesatikan apakah anak itu aman disana, mengawasinya selama 3 sampai enam bulan atau lebih.. dengan cara mengnjunig rumahnya sebulan sekali atau semacamnya.

Merasa kesal, kemudian Ye-uen menggerutu: “Bukankah seharusnya kita segera mengeluarkan anak ini dari rumah itu?! Selain tinggal dengan ibunya, ada pria lain yang tinggal bersama mereka!Tidakkah terpikirkan oleh anda, kalau gendang telinganya hampir rusak karena dipukuli ibunya?”

“Di Korea, otoritas orang tua dianggap cukup penting. Menurut hukum, kita tidak bisa menyelidiki rumah tersebut secara paksa. Maka sangat mustahil, jika kita mengeluarkan anak itu secara tiba-tiba..”


Di malam hari, dua orang polisi mendatangi rumah Hye-na. Setelah mengetuk pintu, keluarlah Ja-young, “Ada perlu apa?” tanyanya
“Apa benar ini rumahnya Kim Hye-na?”
“Iya, memang kenapa?”
“Kami menerima laporan, jadi kami ingin memastikannya paakah anak anda aman berada disini? Boleh kami masuk?”
“Tunggu sebentar” jawab Ja-young yang kemudian menutup pintunya.


Membuka salah satu ruangan yang gelap gulita, Ja-young menyalakan lampu lalu berteriak, ‘Kim Hye-na!’. Tiiba-tiba, dari sebuah koper yang tertutup rapat.. keluarlah Hye-na yang sepertinya baru terbangun dari tidurnya *oh nooo.. what happened?!?!?!?*


Salah satu polisi mempertanyakan penyebab telinga Hye-na diperban. Sama seperti tadi siang, Hye-na bercerita kalau dia terkena lemparan bola bisbol saat berjalan melewati orang-orang yang tengah bermain bisbol.

Polisi itu, lalu menunduk dan berkata: “Kamu anak yang baik ‘kan? Kau tidak boleh berbohong pada polisi, karena kamu akan memeriksa semua rekaman CCTV..”
“Apa yang anda lakukan? Anda sedang mengancam anakku!?” tukas Ja-young
“Ahh.. kami datang kemari karena menerima laopran, jadi kami perlu memastikan semuanya..” jawabnya. 

Sementara itu, seorang polisi yang menemani.. tak bertanya atau mengatakan apapun. Dari awal hingga akhir, dia terdiam memerhatikan ekspresi Hye-na dan Ja-young..


Ketika Hye-na tengah asyik memberi makan Jjing (nama hamster-nya), terdengarlah suara sang ibu yang berbicara dengan ‘paman mengerikan’ yang ternyata adalah kekasihnya, yang bernama Seol-ak (Soh Sok Gu). 


Ja-young meminta maaf, karena dirinya telah memiliki anak dan berterimakasih karena Seol-ak bisa menerimanya, “Tapi... tolong, aku butuh bantuanmu sekali saja. Jangan ganggu dia ‘ya... kalau banyak orang yang terus berdatangan seperti ini, aku yang susah. Jika kamu tak tahan dengan anak itu, apa aku harus memasukkannya ke panti asuhan saja? Aku akan melahirkan anakmu sebagai gantinya....”

Tak merespon dengan kata-kata, Seol-ak malah melempar bola bisbol yang tengah dimainkannya. Jelas terlihat kalau dia kesal dan marah, dia pun memilih berjalan pergi, mengabaikan Ja-young yang terus memohon maaf, “Jangan pergi.. kalau kamu pergi, aku harus bagaimana..” ucapnya pilu


Ja-young menangis sesegukan, Hye-na menghampirinya lalu perlahan menyentuh pundaknya dan berkata: “Ibu.. maafkan aku..”

Tanpa melihat wajahnya, Ja-young berkata: “Pergilah! Pergi! Pergilah kemanapun asalkan aku tak bisa melihatmu lagi!”


Mendengarnya, membuat Hye-na berjalan pergi.. lalu dia memasukkan hamster dan dirinya kedalam koper yang dia tutup sendiri. Dia pun bernyayi... hingga dirinya tertidur di malam hari ini...


Keesokan harinya, para guru mendiskusikan masalah Hye-na di rapat internal. Tetapi responnya sama saja.. mereka lagi-lagi berpgangan pada aturan yang bilang, kalau orang luar tak bisa terlalu banyak iut campur dalam urusan rumah tangga seseorang..


Ye-eun benar-benar kesal, tapi Soo-jin dengan tenang memintanya untuk mendengarkan apa yang dikatakan Hye-na.

“Tapi semua perkataannya bohong.. kurasa, ibunya telah mencuci orak anak itu! Dan kamu mau aku mendengarkan apa yang dia katakan?!”

“Hye-na bilang.. dia takut mengkhianati ibunya yang memiliki hubungan darah dengannya. Dia takut untuk bilang dia dipukul dan disiksa, dia malu mengatakan ini pada orang lain.. dia takut dibawa ke fasilitas yang penuh dengan orang asing. Kurasa, itu yang ingin dia katakan pada kita.. ” ungkap Soo-jin
“Lantas, berapa lama anda mau kita hanya diam saja?!”
“Daripada disebut diam saja---”
“Anda berbicara, seolah-olah ini permasalahan orang lain! Apakah anda tidak ingin menjadi guru? Karena menjadi seroang guru itu.. berarti anda harus bertanggung jawab, meskipun itu merepotkan...” tutur Ye-eun, “Anda pikir saya juga mau melakukan ini? Minggu depan saya akan menikah! Saya tak punya banyak waktu untuk pergi kesana-sini!” tambahnya


Pulang ke rumah, Soo-jin terduduk di sofa.. dia terdiam, mengingat seluruh perkataan serta tatapan Hye-na kepadanya. Kemudian, dia berjalan membuka laptopnya dan membaca e-mail balasan dari pusat laboratorium ornitologi di Islandia (tentu.. dia diterima disana)


Di sebuah ruang make-up artis, wanita glamor bernama Young--shin (Lee Hye Young) yang sebelumnya kita lihat di rumah sakit, tengah duduk didandani didepan cermin. Dia masih ditemani pria itu, namanya Jae-bum.. dia adalah asisten pribadinya.


Jae-bum menceritakan informasi yang dia dapat terkait Soo-jin, sayangnya mereka kehilangan jejak semenjak 3 tahun lalu.. dan terakhir, diketahui kalau Yoo-jin kuliah di Selandia Baru. Tanpa ragu, Young-shin meminta Jae-bum untuk berangkat ke Selandia Baru dan mencaritahu sendiri, dimanakah Soo-jin berada..

“Tapi noonim.. tempat itu sangat jauh dan aku tidak bisa bahasa Inggris..”

“Jae-bum aa.. 10 tahun kebelakang, sangat sulit untukku membiarkannya bebas berkeliaran, melakukan apa yang dia inginkan. Tapi sekarang, aku tak bisa membiarkannya abegitu apalagi kondisiku seperti ini.. Kumohon carilah dia..” pinta Young-shin


Tak sengaja, Yi-jin yang merupakan putri keduanya.. menguping pembicaraan mereka. Dia pun langsung bertanya, “Apa yang ibu bicarakan? Dan kenapa ibu ingin mencari Soo-jin eonni?”
“Nanti ibu beritahu.. ”
“Dia tak pernah menghubungi kita selama 10 tahun terakhir ini. Tapi ada yang tidak bisa ibu ceritakan padaku tapi ingin ibu ceritakan kepadanya?!”

“Meski tak bisa dihubungi, tapi dia adalah kakakmu.. tunggu saja, sampai kita menemukannya”


Soo-jin berangkat menuju tempatnya melihat migrasi burung. Bersamaan dengan itu, kita melihat Seol-ak yang baru pulang kerumah lalu masuk ke kamarnya Hye-na.


Dia menemukan Hye-na yang tenga tertidur di kolong meja. Dengan suaranya yang terdengar ‘mengerikan’, dia menyuruhnya bangun lalu memberikannya segulung kimbap, “makanlah” perintahnya


Hye-na mengambil kimbap itu, lalu Seol-ak menyuruhnya makan dengan cepat dan sambil menahan tawa dia berkata, “Menjjijikan.. sangat menjjijikan..”


Soo-jin makan bersama dengan Eun-chul, dia bercerita mengenai diterimanya dia di Islandia. Eun-chul memberinya ucapan selamat.. dia melihat TV yang tengah menayangkan drama yang dibintangi oleh ibunya Soo-jin, yaitu Young-shin lalu dia berkomentar: “Dulu aku seing membelikan makanan untukmu, karena kukira kamu berasa dari keluarga miskin..”

“Memang iya.. ”
“Tapi ibumu datang mencarimu daat kamu masih mahasiswa baru..”


“Ada banyak kasus, dimana ibunya kaya tapi ptrinya malah menjadi miskin..” jawab Soo-jin
“Makanlah yang banyak dan jangan kesepian..”
“Iya... tapi aku ini tidak kesepian...”
“Kamu sungguh tidak kesepian, bahkan sedikit pun? Tak pernahkah kamu menyukai seseorang dan ingin bersama dengan mereka? Atau marah pada seseorang karena kamu peduli padanya? Benar, tak pernah merasakan hal seperti itu???”


Ja-young pulang.. dia berjalan masuk dan melihat sebuah kresek hitam besar yang tergeletak di tengah rumah, “Ini apa?” tanyanyayang kemudian membuka kresek tersebut.


“Hah?!?!” teriaknya kaget, sementara Seol-ak malah tertawa.... ternyata, ada Hye-na dalam kresek itu. Dengan suara polosnya, Hye-na bercerita, “Kami main petak umpet, tapi aku tak bisa keluar dari sini...”

“Oppa! Ini menakutkan sekali! Bagaimana kalau ada orang yang datang dan melihatnya?” ujar Ja-young yang kemudian mengeluarkan uang dari dompetnya dan memberikannya pada Hye-na, “Sana mainlah diluar..”


Advertisement


EmoticonEmoticon